(Un) Broken Vows (Part 5)

— DO NOT COPY WITHOUT PERMISSION!!!—

 
Denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring adalah satu-satunya suara yang terdengar. Sudah lima menit yang lalu sejak Siwon dan Nana memulai sarapan mereka. Namun, tidak ada satupun yang membuka pembicaraan. Hal ini tidak lain karena pertengkaran mereka semalam.

“Bagaimana hasil check up Shian kemarin?” tanya Siwon, akhirnya.

Nana terdiam sejenak, lalu menjawab, “Pertumbuhan dan perkembangannya bagus. Hanya saja, dokter menyarankanku untuk membuat sendiri snack untuk Shian sebagai pengganti  snack kemasan. Atau menggantinya dengan buah,”

Siwon mengangguk, lalu kembali bertanya, “Geurae. Oh iya, apakah Shian alergi terhadap makanan tertentu?”

“Ya. Dia alergi kerang dan udang.” Siwon mengangguk seraya tersenyum tipis. Tidak seharusnya ia merasa senang mengetahui Shian alergi terhadap makanan tertentu. Artinya, mereka harus ekstra perhatian terhadap makanan-makanan yang dimakan Shian. Namun kenyataannya, Siwon merasa senang karena Shian alergi dua makanan itu, sama sepertinya. Siwon bangga karena Shian mewarisi sifatnya.

“Nana, golongan darah Shian apa?” Nana menoleh kepada Siwon, keningnya berkerut. Belakangan ini, sebelum pertengkaran mereka tepatnya, mereka memang sering mengobrol tentang Shian. Namun, mengapa baru sekarang Siwon menanyakan golongan darah Shian?

“AB. Golongan darahnya AB.” Jawab Nana, singkat.

Siwon nampak berpikir sebentar lalu tersenyum lebar. Golongan darahnya AB. Gabungan antara golongan darahnya, B, dan golongan darah Nana, yaitu A. Sekali lagi, Siwon merasa bangga. Di dalam tubuh Shian mengalir darah mereka berdua. Bukan sekedar kiasan, namun secara harfiah!

“Ada apa?” tanya Nana, penasaran.

Siwon menggeleng. “Tidak. Tidak ada apa-apa.”

Nana tidak mengejar lebih jauh. Ia pun meletakkan sendok dan garpunya di atas piringnya yang sudah kosong. Lalu meminum jus jeruk. “Aku sudah selesai,” ujarnya, lalu bangkit. Namun, Siwon menahan pergelangan tangannya. Nana berhenti lalu menoleh.

“Nana, aku minta maaf atas apa yang terjadi selama ini. Namun, aku serius dengan apa yang ku katakan semalam.” Siwon bangkit lalu berdiri di depan Nana. Ia memegang kedua pundak Nana, lalu menatapnya.

“Maafkan aku, Nana. Dan tolong beri kita kesempatan kedua. Setidaknya tiga bulan ke depan. Tanpa amarah dan kebencian. Tanpa kau menahan dirimu dan Shian dariku. Setelah itu, jika kau memang ingin pergi, aku tidak akan menghalangimu lagi.”

Nana menatap wajah Siwon. Amarah? Kebencian? Apakah itu yang Nana lakukan selama ini? Menunjukkan amarah dan kebencian kepada Siwon? Bukankah sebaliknya? Siwon yang selama ini marah dan benci kepada Nana? Bukankah Siwon yang jelas-jelas mengatakan bahwa ia membawa Nana hanya karena Shian membutuhkan Nana? Yang selama ini Nana lakukan hanyalah menjaga Shian, dirinya dan, hatinya!

“Nana? Sekali ini saja, Nana… Kita mulai dari awal lagi, eum? Aku mohon! Untuk kita dan Shian!” Bisik Siwon. Benar, berbisik! Karena wajah Siwon hanya berada beberapa senti di depannya. Nana menunduk dan memejamkan mata. Wajah, tatapan, dan suara Siwon menunjukkan kesungguhan. Selain itu, setelah berpisah selama dua tahun, namun segalanya tentang Siwon—sentuhan, suara, dan jarak yang sangat dekat—selalu membawa efek ini kepadanya. Efek yang membuat jantung Nana berdegub kencang, lututnya lemas, dan tubuhnya serasa teraliri listrik dan hidup.

“Nana?”

Nana mengangguk. “Baiklah. Baik, kita coba,” jawab Nana akhirnya.

Siwon tersenyum lalu mengecup kening Nana beberapa saat. “Terima kasih, Sayang!” ujarnya. Saat Siwon akan menarik Nana ke pelukannya, Nana tiba-tiba mundur.

“Aku, aku harus melihat Shian! Sepertinya dia sudah bangun,” ujarnya, lalu bergegas menaiki tangga.
_oOo_
Nana menutup pintu begitu ia tiba di kamar, lalu bersandar di daun pintu. Ia meletakkan tangannya di dadanya yang berdebar. Sudah sangat lama ia merasakan jantungnya berdebar kencang seperti ini, dan penyebabnya tak lain adalah Siwon.

Sejak awal pertemuan mereka, Nana mengakui, ia benar-benar terpesona kepada calon suaminya itu. Dengan wajahnya yang terukir sempurna, tubuh yang tinggi dan tegap, pundak yang lebar, dan semuanya. Ia saat itu hidup sebatang kara, dan ia merasa Siwon bisa melindungi dan menjaganya. Oleh karenanya, Nana pun mau menerima lamaran Tuan Choi. Walaupun Nana juga merasakan bagian dalam dirinya yang merasa takut melihat ketegasan dan tatapan Siwon yang intens.

Setelah mereka menikah, Siwon memperlakukannya dengan baik. Ia menghormati Nana. Segalanya berjalan dengan baik di antara mereka. Tidak pernah ada pertengkaran yang berarti. Namun, semuanya berubah saat Nana memberitahukan tentang kehamilannya. Saat itu Nana melihat sisi lain Siwon yang selama ini seakan tersembunyi.

Kini, saat Siwon meminta kesempatan lagi padanya, dengan kesungguhan yang terlihat jelas dari tatapannya, Nana merasa bingung. Ada bagian di hatinya yang merasa berteriak senang karena ia bisa kembali bersama Siwon. Namun, ada bagian lain yang merasa takut. Takut untuk jatuh dan terluka lagi. Dan Shian. Jika Nana kembali bersama Siwon, bagaimana dengan masa depan Shian?
_oOo_
“Apa? Nana Eonni sudah kembali? Bersama anakmu?” tanya Jiwon, adik perempuan Siwon, begitu keluarga dan anak buah Siwon pergi meninggalkan ruangan, meninggalkan Siwon bersama Ibu dan adik perempuan Siwon.

Siwon memang sengaja menyembunyikan kembalinya Nana selama beberapa waktu, untuk melihat kondisi. Sekarang, Siwon memberitahu ibunya, adiknya, dan seluruh keluarganya yang lain. Dengan ini, berarti Siwon kembali mengukuhkan Nana sebagai istrinya, istri seorang pemimpin tertinggi familia, yang akan dihormati meskipun sebelumnya Nana sempat pergi darinya.

“Siapa namanya? Laki-laki?”

“Ya, namanya Shian. Kalau kau mau, kau bisa datang dan main dengannya.”

“Tentu. Oh iya, mainan apa yang harus aku bawakan untuknya?” tanya Jiwon, antusias dan penuh semangat.

Siwon tersenyum. “Sebaiknya kau tidak membawa mainan. Kau tahu, Nana menegurku karena membelikan mainan yang sangat banyak untuk Shian.”

“Oh geurae. Kalau begitu, bagaimana dengan makanan?”

“Kau bisa membawa makanan apa saja. Asalkan tidak mengandung kerang dan udang. Shian alergi pada dua makanan itu,”

“Kerang dan udang? Wah, bagaimana bisa dia punya alergi makanan yang sama denganmu? Daebak!”

Siwon tertawa kecil. “Ah iya, Nana juga mengurangi snack kemasan untuk Shian.”

Jiwon juga tertawa melihat cahaya di mata Siwon ketika membicarakan keluarga kecilnya itu. “Oke Oppa! Noted!”

“Siwon-ah, ajaklah Nana dan Shian ke sini!” Sambung Ibu Siwon.

“Tentu Eomma, aku akan membicarakannya dengan Nana.”

 

_oOo_
Siwon baru saja tiba ketika mendengar tangisan Shian yang terdengar sangat keras. Siwon pun bergegas ke kamar Shian.

“Ada apa?” tanya Siwon kepada Nana yang sedang menenangkan Shian di dalam gendongannya.

“Shian ingin minum susu tapi…” Nana menatap Siwon sejenak, lalu kembali menatap Shian. “… ASI-ku tidak keluar,” lanjutnya pelan.

Siwon terdiam sesaat, lalu berkata “Susu formula?”

“Shian tidak terlalu suka susu formula, karena aku membiasakannya dengan ASI. Tapi sekarang tidak ada pilihan lain.”

“Baiklah. Kemari, biar ku coba menenangkannya,” ujar Siwon seraya mengulurkan kedua tangannya.

Nana memberikan Shian kepada Siwon dan sebotol susu formula. Siwon lalu membawa Shian menuju balkon.

_oOo_
Nana menyusul Siwon dan Shian beberapa waktu kemudian. Ia mendekat kemudian duduk di samping Siwon. Ia melihat Shian yang sudah terlelap di pangkuan Siwon. Nana sebenarnya heran, bagaimana Siwon bisa mengambil hati Shian dengan begitu cepat?

“Jadi, kau selalu memberikannya ASI sejak dia lahir?” tanya Siwon, memecah keheningan.

“Tentu. Walaupun aku kesulitan waktu itu, namun aku memberikan yang terbaik untuknya. Jangan khawatir, aku tidak mungkin menelantarkan anakmu!”

Siwon menatap Nana dengan tatapan “Aku lelah, Nana, jangan memulai lagi!”

Nana menghela nafas. “ASI memang bagus untuk anak-anak. Selain itu, ASI jauh lebih hemat dari pada susu formula. Kau tahu, aku merawatnya sampai berusia 3 bulan, baru aku bisa menitipkannya kepada Bibi untuk bekerja.”

“Tiga bulan? Bukankah Shian masih minum ASI?”

“Benar, aku menyimpannya di kulkas, lalu menghangatkannya saat akan diminum.”

Siwon menunduk dan mencium kepala Shian. Lehernya tercekat. Ia merasa sangat bersalah karena Nana harus melalui semua itu sendiri. Tidak bisa ia bayangkan bagaimana Nana harus melewati masa kehamilannya, bekerja keras untuk mencari uang, melahirkan dan mengurus Shian… Karena keegoisan dan amarah Siwon, Nana harus melewati banyak kesulitan itu sendiri. Padahal, ia bisa dengan mudah memberikan segalanya kepada Nana!
_oOo_
“Annyeong, Eonni!” Suara ceria yang sangat familiar langsung menyambut ketika Nana membuka pintu penthouse-nya.

“Jiwon?”

Jiwon tersenyum lebar dan langsung memeluk Nana. “Aigoo… Bogoshipeo, Eonni!”

Nana tersenyum, lalu balas memeluk Jiwon. “Nado. Ayo masuk!” jawab Nana. Jiwon pun menurut.

“Dia pasti Shian, kan?” seru Jiwon kepada Nana begitu melihat Shian berdiri tidak jauh di belakang Nana. Jiwon bergegas mendekati Shian. “Shian-ah, annyeong!” sapa Jiwon.

Shian melihat menatap Jiwon bingung. Ia mundur lalu bergegas mendekati Nana dengan langkah tertatih-nya. Nana tertawa kecil.

“Aigoo! Imo membawa makanan untukmu!” Ujar Jiwon, mendekati Shian seraya menunjukkan paperbag yang dibawanya. Shian menatapnya sebentar, lalu menarik baju Nana.

Nana tertawa kecil. Ia meraih tubuh Shian dan menggendongnya. Ia mengangkat sebelah tangan Shian dan melambaikannya ke arah Jiwon. “Annyeong Imo!” ujar Nana. Shian menatap Jiwon sebentar lalu menenggelamkan wajahnya di dada Nana. Nana tertawa. “Dia memang pemalu saat masih pertama bertemu. Beri dia waktu sebentar. Jika sudah akrab, kau harus siap-siap jika dia tidak bisa lepas darimu!”

“Hahaha… Araseo Eonni!”

“Kau pasti belum makan siang, kan? Ayo kita makan!” ujar Nana.

Jiwon mengangguk dan mengikuti Nana. “Eoh, aku membawa makanan untuk Eonni dan Shian. Untuk Shian, aku pastikan tidak mengandung kerang dan udang, dan bahan tambahan makanan.”

“Eoh, geurae? Bagaimana kau tau Shian alergi kerang dan udang?”

“Tentu! Oppa sudah menjelaskan tentang makanan Shian. Oppa juga melarangku membawa mainan, jika aku ingin selamat darimu!”

“Mwo? Dia berkata begitu padamu?”

“Hahaha.. Tidak seperti itu Eonni. Oppa hanya mengatakan bahwa kau menegur Oppa karena membelikan mainan yang sangat banyak untuk Shian. Eonni adalah orang pertama yang berani menegur Oppa, ya, selain Eomma dan Abeoji.”

“Aigoo.. Bukan seperti itu! Aku tidak masalah jika dia membelikan Shian mainan. Namun yang dia belikan saat itu sangat banyak! Kau tahu, Oppa-mu sangat gemar menghambur-hamburkan uang untuk hal yang tidak perlu!”

“Hahahahaa…!” Jiwon pun tertawa geli mendengar omelan Nana.

_oOo_
Klik…

Siwon membuka pintu dan sedikit terkejut melihat seseorang tidur di ranjangnya. Siwon menyipitkan mata dan memperhatikan dengan seksama. Bukan seseorang, tapi dua orang. Yup! Nana dan Shian yang sedang tidur saling berhadapan. Siwon menutup pintu dengan hati-hati lalu berjalan menuju ranjang.

Siwon menuju sisi yang berlawanan dengan Nana, lalu duduk. Shian menggeliat pelan merasakan ranjang yang bergerak. “Shhhhtt…” bisik Siwon pelan seraya menepuk pantat Shian, menenangkannya. Shian pun kembali terlelap.

Siwon tersenyum melihat pemandangan di depan. Tidak ada yang terasa lebih sempurna dari pemandangan ini. Nana dan Shian, istri dan anaknya, tidur di ranjangnya. Ranjang Siwon. Tempat di mana mereka seharusnya berada.

Siwon perlahan bangkit lalu menyelimuti mereka berdua. Setelah itu, ia pun menuju kamar mandi.
_oOo_
“Kau mau kemana?” tanya Siwon begitu keluar dari kamar mandi dan melihat Nana sedang mengangkat tubuh Shian dengan perlahan.

Nana menoleh. “Eoh, kembali ke kamar. Maaf, tadi Shian minta main di sini, setelah itu kami tertidur,” jelas Nana, seraya mengangkat tubuh Shian dengan hati-hati. Shian melenguh tidak setuju, namun matanya tetap terpejam.

“Gwaenchana, Nana. Kalian tidur di sini saja,” cegah Siwon. Nana menatap Siwon sejenak, lalu membenarkan posisi Shian di dekapannya.

“Lalu kau? Tidak apa, kami kembali ke kamar,” jawab Nana, lalu pergi sebelum Siwon sempat menjawab lagi.

Siwon menghela nafas dan menatap punggung Nana dengan tatapan frustasi.
_oOo_
Siwon kembali menenggak vodka untuk yang ke sekian kali. Tatapannya lurus ke depan menatap pemandangan malam kota Seoul, kota yang sudah dikuasainya. Bukan hanya Seoul, Siwon bahkan sudah menguasai Korea dan jaringan negara-negara di sekitarnya. Namun dengan segala kekuasaan itu tidak berarti baginya kini. Hanya karena seorang wanita, Nana. Istrinya yang sudah tiga tahun ia nikahi, menghilang selama dua tahun, dan kini ia bersikeras untuk pergi. Dan ironisnya, ini semua karena salah Siwon sendiri.

Saat ayahnya meminta Siwon menikahi Nana, Siwon sama sekali tidak menyangka pernikahan mereka akan seperti ini. Lebih tepatnya, ia tidak menyangka Nana akan sekeras ini. Nana yang ia kenal dulu adalah wanita yang lembut dan penuh perhatian. Siwon masih ingat saat istrinya itu histeris dan panik, pertama kalinya melihat Siwon pulang dengan pakaian berlumuran darah. Ia ingat Nana membantunya membersihkan bekas darah di tubuhnya dengan tangan gemetar. Ia ingat bagaimana Nana memastikan Siwon tidak terluka sedikit pun. Namun, saat melihat memar di lengan dan rusuknya, Nana pun tidak dapat menahan air mata. Hingga akhirnya, Siwon mencium bibir lembut Nana yang—saat itu juga gemetar— untuk menenangkannya.

Dan Siwon, lebih tidak menyangka lagi dirinya akan se-terikat ini kepada Nana. Selama ini Siwon tidak ambil pusing kepada siapa pun yang tidak patuh padanya. Siapa pun orang itu, jika ia tidak patuh pada Siwon, Boom!, orang itu akan musnah. Namun mengapa berbeda jika orang itu adalah Nana? Apa yang terjadi padanya? Apa yang telah Nana lakukan padanya?
_oOo_

Deg. Deg. Deg.

Walaupun sudah menarik nafas berkali-kali, Nana tetap tidak bisa menenangkan hatinya. Pagi tadi, Siwon tiba-tiba mengajak Nana untuk makan siang di rumah orang tuanya. Ini konyol. Nana hanya sedang menuju rumah orang tua Siwon, bukan menuju medan perang. Namun, setelah menghilang selama dua tahun, wajar saja jika Nana merasa takut, bukan?

“Ayo!” suara Siwon yang baru saja mengeluarkan Shian dari jok belakang mobil, menyadarkannya. Nana mengangguk.

Siwon memperhatikan raut wajah Nana. “Wae? Kau takut?” Nana tidak menjawab. Siwon meletakkan tangan kirinya yang bebas di pinggang Nana. “Keokjeonghajima. Eomma dan yang lain sudah lama ingin bertemu kalian,” ujar Siwon, menenangkan.

Nana mengangguk lalu berjalan mengikuti Siwon.
_oOo_
“Annyeong haseyo, Eomoni!” sapa Nana kepada ibu mertuanya.

“Nana-ya! Apa kabar? Ini pasti Shian!” Belum sempat Nana menjawab pertanyaan Nyonya Choi, perhatian ibu mertuanya itu sudah fokus pada Shian.

Nyonya Choi mendekati Shian lalu mengulur tangannya, mengajak dan merayu Shian agar mau ia gendong. Setelah beberapa saat dirayu dan dibujuk, baik oleh Nyonya Choi dan Nana, akhirnya Shian mengulurkan tangannya ke arah Nyonya Choi.

“Aigoo, kau lucu sekali! Berapa umurnya sekarang Nana?”

“Sekarang sudah satu tahun, Eomoni.”

“Eoh, geurae? Apakah dia sudah bisa berjalan?”

“Iya, Eomoni, meski masih sedikit terhuyung.”

“Eoh, gwaenchana. Biasanya kalau dia bisa jalan lebih dulu, memang perlu waktu lebih lama untuk lancar berbicara. Begitu pun sebaliknya. Jika ia bisa berbicara dulu, maka ia butuh waktu lebih lama untuk belajar jalan. Siwon pun begitu. Dulu dia bisa jalan saat usia setahun, tapi baru lancar bicara saat satu tahun setengah atau lebih.”

Nana melirik Siwon saat mendengar cerita Nyonya Choi. Siwon kecil, apakah ia memiliki alis tebal seperti sekarang? Apakah lesung pipi Siwon sudah terlihat sejak kecil? Apakah Siwon kecil mirip dengan Shian? Apakah sikap keras kepala dan dominan Siwon sudah terlihat sejak kecil? Nana tersenyum sendiri karena sosok Siwon kecil yang sedang ia bayangkan.

Siwon mengerutkan kening melihat Nana. “Wae?” tanya Siwon tanpa suara. Nana tersenyum lalu menggeleng.

“Ayo masuk! Makan siang pasti sudah siap!”
_oOo_

“Nana, duduk di sini,” ujar Siwon, saat Nana akan menarik kursi di bagian tengah. Siwon menarik kursi di untuk Nana, kursi di sisi kanan Siwon. Kursi Siwon berada di ujung meja. Kursi itu khusus untuk capo alias pemimpin mereka. Sedangkan kursi Nana adalah kursi khusus untuk istri sang capo. Nana diam ragu. Sebelumnya, kursi itu adalah kursi Nyonya Choi. Walaupun hanya kursi, namun menunjukkan hierarki mereka di dalam familia.

Nana menatap Nyonya Choi. Nyonya Choi tersenyum lalu mengangguk. Nana pun akhirnya duduk.

“Eomma, biar Shian bersamaku!” ujar Jiwon, memecahkan kesunyian. Nyonya Choi pun memberikan Shian kepada Jiwon. Jiwon meminta Bibi Kwon untuk membawakan makanan untuk Shian.

Nyonya Choi mengambil piring besar berisi sushi salmon dan meletakkan beberapa potong ke piring Nana dan Siwon. Nana tersenyum lebar dan mengucapkan terima kasih. Sushi adalah makanan favoritnya. Namun, sudah lama sekali ia tidak makan sushi. Tepatnya sejak ia kabur. Karena harganya mahal, sedangkan ia harus menyimpan uang untuk kebutuhan sehari-hari dan keperluan Shian.

Nana mengambil mangkok berisi wasabi dan meletakkan satu sendok di piringnya. Ia meletakkan kembali mangkok berisi wasabi tanpa menawari Siwon. Ia tahu, Siwon pasti menolaknya. Siwon tidak tahan makanan pedas. Ya, setiap manusia pasti punya kelemahan. Dan di antara kehebatan seorang Choi Siwon, kepala mafia yang bisa melakukan apa saja, kelemahannya adalah makanan pedas. Mungkin satu-satunya kompetisi yang bisa ia menangkan dari Choi Siwon adalah kompetisi makan pedas.

“Nana…”

“Ye Eomoni?”

“Kapan kalian akan pindah ke sini?” Nana mengerutkan kening mendengar pertanyaan ibu mertuanya.

“Pindah kesini?” tanya Nana.

“Ya. Siwon sekarang sudah menjadi capo. Capo dan keluarganya akan tinggal di rumah ini. Itu adalah tradisi sekaligus peraturan yang sudah ada sejak dulu,” jelas Nyonya Choi.

“Eum, tentang itu… aku…” Nana bingung. Siwon tidak pernah membicarakan ini sebelumnya. Lagipula, tiga bulan lagi ia dan Shian akan pergi, kan?

“Eomma, kami masih belum membicarakannya. Kami masih nyaman tinggal di penthouse,” ujar Siwon, menyelamatkannya.

“Eoh, geurae. Tapi, di sini lebih aman. Penjagaannya ketat. Eomma hanya tidak mau ada hal yang tidak diinginkan terjadi pada kalian. Terutama Shian,” jawab Nyonya Choi.

Nana menelan ludah. Apakah Nyonya Choi bermaksud mengingatkan tentang kaburnya Nana? Apakah Nyonya Choi tahu akan perjanjian antara dirinya dan Siwon?

_oOo_
“Wah, Shian pasti akan tumbuh dengan baik jika Nyonya selalu membuatkannya makanan seperti itu,” puji Bibi Jung.

Nana tersenyum. “Tentu Bi… Sekarang ia sudah berhenti minum ASI, jadi aku… benar-benar harus memperhatikan… makanannya…” jawab Nana seraya menghaluskan labu kuning untuk sarapan Shian.

Bibi Jung yang sedang mencincang daging, juga untuk sarapan Shian, mengangguk setuju.  “Makanan untuk anak-anak memang… Nyonya! Anda kenapa?” tanya Bibi Jung melihat Nana menekan perutnya seraya memejamkan mata. Wajah Nana juga terlihat sangat pucat.

“Nyonya!” Bibi Jung mendekat saat melihat Nana terhuyung.

“Tidak apa-apa Bi. Aku ke kamar dulu sebentar.” Nana mencuci kedua tangannya lalu berjalan pelan menuju tangga. Saat melewati meja makan, Nana berhenti sebentar memegang sandaran kursi, menyangga tubuhnya yang terasa lemas.

“Nyonya…” Bibi Jung menyusul Nana. “Nyonya, duduklah!” Bibi Jung menarik kursi dan menuntun Nana untuk duduk.

“Apakah Anda kuat untuk berjalan?” Nana menggeleng. Sekujur tubuhnya tiba-tiba terasa lemas. Kepalanya pening. Perutnya terasa panas dan perih, serta rasa mual yang sampai ke kerongkongannya.

“Kalau saya bantu, apakah Nyonya bisa?” Nana diam sejenak lalu mengangguk. Nana perlahan bangkit, namun tubuhnya langsung lunglai, dan Bibi Jung tentu tidak bisa menahan. Bibi Jung kembali membantu Nana untuk duduk.

“Saya panggilkan Tuan?”

Nana menggeleng. “Tunggu sebentar saja,” jawabnya, lirih.

Bibi Jung menggeleng. “Tolong tunggu sebentar Nyonya, saya panggilkan Tuan,” ujar Bibi Jung, lalu pergi sebelum Nana sempat protes.

Selang tak berapa lama kemudian, Nana mendengar langkah kaki Siwon yang tergesa. Tidak, tapi berlari.

Begitu berada di depan Nana, Siwon membungkuk. Ia menangkup wajah Nana dengan tangan kanannya. “Nana, kau kenapa?” tanyanya, cemas.

Nana menggeleng. Ia sendiri juga tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya.

Siwon langsung meletakkan tangannya di bawah lutut dan punggung Nana, lalu mengangkat tubuh istrinya itu.

Nana menyandarkan kepalanya di dada Siwon. Ia dapat merasakan langkah tergesa Siwon. Namun, beberapa detik kemudian, semuanya berubah gelap. Hitam.

_oOo_
To be continued…

Annyeong Haseyo, readers…

Mianhae lama ga muncul.

Mungkin reader sudah bosan cek WP ini tiap hari tapi ga update-update.

Mungkin reader sudah bosan dengan segala alasan author yang lama ga nulis.

Jujur, Author sempat stuck dan ingin mengabaikan WP ini. Tapi setiap buka WP dan lihat masih banyak yang berkunjung, bahkan banyak yang search Unbroken Vow 5, akhirnya Author bangkit.

Sekarang, author tidak mau mengumbar janji. Tapi akan author buktikan dengan aksi. Setidaknya, author akan update 2 minggu sekali (semoga bisa tiap minggu). Jadi yuk ajak sodara-sodara, sebangsa setanah air, yang juga cinta Siwon cinta Nana, buat baca FF disini lagi!

Yang utama lagi, author tunggu komentar-komentarnya reader semua! Biar author tahu, banyak sekali yang menunggu kisah mereka. Biar author semangat. Biar Author tahu, author ga sia-sia nulis FF Nawon ini!

Jujur, author sedih lihat komentar-komentar yang makin sedikit. Namun kemudian author sadar, ini karena salah author yang ga rajin update. Tapi, mau gimana lagi ya? Author ga bisa nulis kalo masih belum oke alur ceritanya. Daripada ceritanya amburadul, author ga puas, reader ga puas, jadi author hold dulu… harap maklum ya readerku tersayang….
Ditunggu komentarnya cintakuhh.. XOXO

Advertisements

43 thoughts on “(Un) Broken Vows (Part 5)

  1. Huhuhu aku senang banget pas dpt notif di email kl ada update-an dr cerita ini, gomawo author! Aku ga tega tiap liat siwon terluka krn penolakan nana :(. Eh, nana knp tuh? Hamil kah? Tp kan mereka maaih dingin hubungannya hahahaha. Selalu ditunggu updatenya, thor!

  2. Aduhhhhhh
    Shian pasti cute bnget gemesin
    Dibayangin aja lucu bnget
    Ap lg klw ditambah visual hehehe

    Nana knp
    Keracunan atau hamil lagi

  3. Hampir tiap hari ngecek WP ini nungguin Unbroken vowsnya…. Akhirnya di-update juga 😂
    Udah kangen ma couple ini. Tp kurang feelnya eon. Nana kok kayak orang hamil ya, hamil atau sakit???
    Ditunggu part selanjutnya eon😁😁

  4. Nana mau punya anak lagi, jangan-jangan ? Nunggun part siwon berantem gtu ¤_¤ Eh udah jadi capo ya, lupaa jadi anak buah duku ya yang berantem. wkwkwk

  5. Akhirnya keluar 😄 jujur, tadi kaget pas liat Unbroken Vows nya update. Seneng banget. Udah tunggu lama dan beberapa kali cek website. Ditunggu banget chapter selanjutnya.. Penasaran 😆
    Juga tungguin part Nana yang ga terlalu jaga jarak sama Siwon. Greget sendiri soalnya😅

    Figthing, Kak!

  6. Akhirnya muncul juga
    Maaf ya baru komen,sebenernya mau komen di part 1,tp selalu gagal(faktor gaptek)salam kenal ya😃

  7. Akhirnya muncul juga
    Maaf ya baru komen,sebenernya mau komen di part 1,tp selalu gagal(faktor gaptek)salam kenal ya

  8. Iya lama nih author ngilangnya,,, mendep terus,… Semangat donk author aku nunggu terus nih kelanjutan cerita nya… Semangat terus yaaa…
    Nana kenapa tuh, hamil lagi ya? Nooooo. Apa kena penyakit nih….

  9. Horeeee akhirnya di update jg tiap hari liat wp ini nungguin Broken Vow part 5😍😍. Maaciwww kaka author😂😂

    Sedih liatnya kalo mereka ber2 tersiksa. Mungkin komunikasi mereka yg kurang (jelas nana pergi selama 2 thn). Nana kenapa sakit kalo hamil masa si bukannya mereka saling dingin sikap nya

  10. Nana kok pengen banget pisah sama siwon ? Kalau nana gak betah sama siwon, siwon buat aku aja ya. Shian anak cowok kok pemalu ih? Uh lucuuu. Ini nana kenapa?
    Semangat ya kaka

  11. aku suka banget ff ini setiap hari diplototin eehhh akhornya publist juga seennneeeennngg banget..ceritanya bagus, tp jgn smp pisah ya

  12. semangat ya sis nulisnya…aku pkknya nunggu terus kelanjutannya, krn critanya leren banget aku suka kalo bisa tiap semgg publis hehehe habis penasaran….yg jelas aku penggenar cauple ini

  13. hanya satu kata keren critanya…boleh usul ga kak…jangan kelamaan publis nya masalahnya aku penasaran banget…semoga nana ma siwon ga pisah ya walaupun nana bersikeras minta cerai jngan yah…kasihan shian dia anak yg lucu dan tentu pasti ganteng hehehe

  14. Cerita yang semakin bikin penasaran utk baca dan baca lagi…..semangat dong kami selalu setia menunggu kelanjutan ceritanya yah…percaya ga aku sdh 3 baca ini berulang2 habis ceritanya membuat seolah2 aku yg jd nana nya disini…okeh ditunggu kelanjutannya

  15. Halo kak aku new reader di blok kakak lo.hehe salam kenal ya kak and ijin baca.wkwkwk
    Sory sebelumnya krn baru ikut komen di pert 5 ini.hehe
    Awal baca dr part 1 udh suka soalnya jarang kan siwon jd mafia,seringnya dia itu jd org alim,pengusaha sukses gitu deh.wkwkwk
    Tp bdw si nana sakit apa?gak sakit yg aneh” kan?

  16. Kayaknya nana masih trauma dg siwon, makanya dia agak menjaga jarak dg siwon. Tapi, lama-kelamaan nana pasti akan merasa nyaman dg siwon.

    Nana kenapa ya? Kenapa gejalanya mirip wanita hamil? Atau jangan” nana hamil?

    Ditunggu kelanjutannya kak 😀

  17. Nana kenapa? Sakitkah? Jangan2 ada hubungannya sama ASI nya yg engga keluar. Semoga hubungan mereka bisa baik lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s