(Un) Broken Vows (Part 4)


“Kau berbohong, kan? Tidak mungkin ada lelaki lain, Nana!” Dengan mudahnya, Siwon membaca sikap diam Nana. “Sekarang, katakan padaku! Mengapa kau ingin bercerai denganku?”

“Kau tidak perlu tahu!”

“AKU HARUS TAHU!” Siwon berteriak. “JAWAB AKU, NANA! AKU TIDAK AKAN MEMBIARKANMU PERGI SEBELUM MENJAWAB…”

“KARENA AKU TIDAK INGIN MELIHAT ANAKKU SETIAP DETIK HARUS BERTARUH NYAWA SEPERTIMU!”

_oOo_

Seakan diguyur air es, Siwon terpaku di tempatnya. Ia melepaskan cengkeramannya di bahu Nana lalu mundur selangkah. Pandangannya tidak lepas dari Nana yang menundukkan kepala. Tubuh wanita itu merosot perlahan, meringuk, lalu terisak dengan memeluk lututnya. Siwon mengepalkan kedua tangannya, lalu menarik nafas tajam. “Tidak, Nana! Tidak bisa!” ujar Siwon dengan suara parau. Detik berikutnya ia melangkah menuju walk in closet, melewati Nana yang semakin terisak, dan menutup pintu keras.

_oOo_


Bercerai? Darimana Nana mendapatkan ide gila itu? Argh!

Siwon meninju dinding walk in closetnya. Emosinya memuncak. Ia sama sekali tidak menyangka Nana akan mengajukan cerai dengannya. Apalagi setelah belakangan ini hubungan mereka —bisa dikatakan— membaik. Namun, yang lebih menohok lagi adalah alasan Nana.

“KARENA AKU TIDAK INGIN MELIHAT ANAKKU SETIAP DETIK HARUS BERTARUH NYAWA SEPERTIMU!”

Bukk!

Siwon kembali meninju dinding. Apakah Nana pikir, Siwon punya pilihan?

_oOo_
Klek.

Nana tersentak ketika mendengar pintu terbuka. Refleks, ia menengadah ke arah pintu walk in closet, dan nampaklah sosok suaminya mengenakan celana jins dan kaos hitam. Dengan pandangannya yang kabur akibat air mata, Nana masih bisa melihat tubuh lelaki itu menegang. Namun, beberapa detik berikutnya, ia berjalan melewati Nana, menuju pintu. Sesaat sebelum membuka pintu, ia terdiam, dan berkata dengan jelas dan tegas, “Keputusanku sudah bulat, Nana. Jangan pernah membicarakan ini lagi!”. Lalu, menghilang di balik pintu.

_oOo_

“Tuan muda?” ujar Jeong Suk, antara menyapa dan kaget, melihat Siwon tiba-tiba muncul di basecamp mereka. Dulu, memang Siwon terbiasa muncul kapan saja dan dimana saja. Namun, sejak Nana kembali bersama Shian, hampir tidak pernah Siwon datang ke basecamp pada malam hari—setidaknya, sebelum tengah malam—, kecuali dalam keadaan darurat.

“Siapkan pistolku di ruang latihan, sekarang!” ujar Siwon tanpa basa basi. Jeongsuk mengangguk lalu melaksanakan perintah Siwon.

Siwon berjalan menuju ruang kerjanya, membuka refrigerator, lalu mengambil sekaleng bir dingin, dan meminumnya. Setelah itu, ia membawa beberapa kaleng bir menuju ruang latihan. Ternyata, di sana Jeongsuk dan beberapa anak buahnya sudah menunggu.

Siwon meletakkan bir yang dibawanya di meja, lalu mengambil pistol yang sudah disiapkan.

“Yang lain pergi, kecuali Jeongsuk!” titah Siwon, seraya mengisi pistolnya dengan peluru. Tanpa menunggu lama, seluruh anak buahnya pergi, kecuali Jeongsuk. Lelaki itu tetap berdiri di tempatnya seraya memperhatikan Siwon.

Dorr dorr dorr!

Tanpa mengenakan kaca mata pelindung dan penutup telinga, Siwon menembak sasaran berkali-kali, dengan tepat, hingga titik sasaran yang terbuat dari lempengan logam itu berlubang membara.

Siwon membuka kaleng bir berikutnya, kembali mengisi peluru, dan menembak ke titik sasaran berikutnya. Begitu terus, berkali-kali. Hebatnya, walaupun kadar alkohol di tubuhnya bertambah, bidikannya tetap akurat.

Jeongsuk memperhatikan Siwon dalam diam. Mereka tumbuh besar bersama sejak kecil, dan Jeongsuk lima tahun lebih tua darinya. Siwon tidak akan seperti ini jika tidak ada yang mengganggu pikirannya. Selama hidupnya, ini adalah kali ketiga Siwon seperti ini. Pertama, saat Nana menghilang dan mereka gagal menemukannya. Kedua, saat Tuan Choi meninggal. Ketiga, hari ini. Prediksi Jeongsuk, hal ini berkaitan dengan Nana. Karena, Siwon tidak memiliki masalah dengan keluarganya. Sedangkan masalah pekerjaan, sesulit apapun, tidak pernah membuat Siwon segusar ini.

Dorr!

Siwon menembakkan peluru terakhirnya. Ia meletakkan pistolnya lalu mengambil dua kaleng bir. Siwon berjalan mendekati Jeongsuk.

“Kau memang penonton setia, Hyeong!” ujar Siwon, menggunakan sapaan yang selalu ia gunakan ketika berdua. Ia menyodorkan kaleng bir, dan Jeongsuk mengambilnya. Bersamaan, mereka membuka kaleng bir lalu meminumnya.

“Jadi, ada apa kali ini, Siwon-ah?” tanya Jeongsuk.

Siwon membeku sejenak, lalu menoleh kepada Jeongsuk. Dari cara Jeongsuk memandangnya, Siwon sudah tahu bahwa lelaki itu bisa merasakan ada yang tidak beres dalam diri Siwon.

Siwon menggeleng. “Bukan hal yang besar, Hyeong,” ujar Siwon, menghela nafas, lalu kembali meminum birnya.

“Tentang Nana?” tembak Jeongsuk. Refleks, Siwon menoleh. Jeongsuk tersenyum kecil seraya mendengus. “Sudah ku duga,” imbuhnya.

Siwon menyeringai.

“Ada apa dengannya? Dia tidak kabur lagi, kan?” Siwon tertawa kosong mendengar pertanyaan Jeongsuk. Jika Nana kabur, pasti sekarang mereka tidak akan berada di basecamp.

“Dia ingin bercerai,” jawab Siwon, singkat.

“Lalu?”

“Kau tentu tahu jawabanku, Hyeong,”

“Heumh,” Jeongsuk menyeringai. Tentu. Siwon tidak pernah melepas apa yang menjadi miliknya.

“Geurae Hyeong, aku pergi.” Ujar Siwon seraya berbalik dan berjalan menuju pintu.

“Siwon-ah, aku ingin bertanya padamu,” ujar Jeongsuk.

Siwon berhenti lalu berbalik, “Apa?”

“Kau mencintai Nana, bukan?”

Siwon diam. Wajahnya mengeras. “Aku pergi!” ujar Siwon seraya berbalik, tanpa memberikan jawaban atas pertanyaan Jeongsuk.

_oOo_

Nana menghabiskan sarapannya dalam diam. Pagi-pagi buta, Siwon sudah pergi dan melewatkan sarapan. Sejujurnya, Nana merasa lega. Ia tidak tahu apa yang mesti ia lakukan jika bertemu langsung dengan pria itu setelah apa yang terjadi semalam.

Nana benar-benar masih kesal dan marah kepada Siwon. Namun, ia juga takut menghadapi amarah Siwon. Ayolah, siapa yang tidak takut kepada lelaki yang menjadi kepala mafia? Meskipun lelaki itu adalah suamimu? Tetapi tekad Nana sudah bulat. Jika cara ini tidak berhasil, pasti ada cara lain.

Tenang, Nana… Tenang! Setiap ada kemauan, pasti ada jalan!, batin Nana, menyemangati dirinya sendiri.

Nana pun menyelesaikan sarapannya lalu kembali ke kamarnya.

_oOo_

“Bibi, aku dan Shian akan ke rumah sakit, untuk pemeriksaan bulanannya,” ujar Nana seraya turun dari tangga.

“Apakah Nyonya sudah memberitahu Tuan?” jawab Bibi Jung.

Nana terpaku. “Eoh, tentu.. Tentu..” jawab Nana, berbohong. Jika ia menjawab belum, pasti Bibi Jung akan menghubungi Siwon, dan saat ini Nana tidak mau berurusan dengan lelaki itu. Lagipula, mereka hanya pergi sebentar.

“Eoh, baiklah Nyonya. Apakah ada yang perlu saya siapkan?”

“Ah, tidak usah! Aku sudah menyiapkan semuanya. Aku pergi dulu,”

“Ye, hati-hati, Nyonya!”

_oOo_
Pertengkaran Siwon dengan Nana semalam benar-benar berdampak buruk pada suasana hati Siwon. Walaupun semalam ia sempat melampiaskan amarahnya dengan menembak, namun itu hanya sementara. Entah sudah berapa banyak anak buahnya hari ini yang menjadi sasaran amarahnya.

Amarah itu kembali membara ketika mengingat betapa Nana bersikeras ingin bercerai dengan Siwon, serta alasan wanita itu ingin bercerai dengannya. Memang, Siwon bisa memaksa Nana untuk tetap tinggal bersamanya. Tapi, bagaimana dengan masa depan Shian?

Akhirnya, atas saran, tidak, paksaan dari Jeongsuk, Siwon akhirnya pulang lebih awal. Siwon menyadari bahwa apa yang tadi dikatakan Jeongsuk benar. Ia tidak boleh bertindak emosional di depan anak buahnya, karena menunjukkan emosi di depan orang lain akan membuat kita terlihat lemah. Musuh akan tahu apa kelemahan kita, lalu memanfaatkannya.

Ketika tiba di penthouse, Siwon tidak merasakan tanda-tanda keberadaan Shian dan Nana. Siwon pun mencari mereka ke kamar, namun tidak ada. Hal itu sontak membuat Siwon gusar. Ia pun buru-buru mencari Bibi Jung.

“Bibi Jung, kemana Nana dan Shian?” tanya Siwon, cepat.

“Tadi Nyonya mengatakan akan ke rumah sakit, untuk  pemeriksaan bulanan Shian. Apakah Tuan belum tahu? Tadi Nyonya mengatakan sudah memberitahu Tuan.”

Siwon mendengus. “Sudah berapa lama mereka pergi?”

“Sekitar dua jam yang lalu.”

“Sial!” Siwon langsung mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi Jeongsuk, seraya melangkah menuju lift penthouse.

“TEMUKAN MEREKA SECEPATNYA!”

_oOo_
“Terima kasih Dokter! Kami pamit dulu,” Nana berpamitan kepada dokter anak  yang sudah selesai memeriksa Shian.

“Ah ye. Sampai jumpa!” jawab sang dokter, ramah.

Nana pun berjalan ke arah pintu keluar ruang praktik sang dokter, bersama Shian dalam gendongannya. Seorang suster, yang membantu sang dokter, membukakan pintu untuk Nana. Nana tersenyum, mengucapkan terima kasih, lalu keluar.

“Omo!” Nana tersentak kaget ketika tiba-tiba sebuah tangan kekar mencengkeram sikunya. Refleks, Nana pun menoleh dan mendapati wajah suaminya yang mengeras, menahan emosi. “Siwon-ssi..” gumam Nana. Siwon menatap Nana tajam.

“Papaaaa!” Shian tiba-tiba bersorak melihat ayahnya. Siwon, yang awalnya ingin langsung memarahi Nana, mengurungkan niat. Shian mengangkat kedua tangannya ke arah Siwon, meminta Siwon menggendongnya. Siwon menghela nafas, lalu meraih tubuh Shian. Ia mendekap tubuh Shian, memegang bagian belakang kepala Shian, dan meletakkan kepala Shian di bahunya. Kemudian, Siwon mencium kepala Shian selama beberapa saat.

“Ayo!” ujar Siwon kepada Nana, beberapa saat kemudian.

_oOo_

“Jung Mina, bawa Shian ke kamarnya!” adalah kalimat pertama Siwon begitu mereka tiba di penthouse.

“Biar aku saja yang…” Kalimat Nana terhenti melihat Siwon yang menatap tajam ke arahnya.

“Mina!” ujar Siwon, sekali lagi. Jung Mina pun langsung mendekati Nana. Dengan hati-hati, Nana menyerahkan tubuh Shian yang sedang tertidur kepada Mina.

Setelah Jung Mina pergi bersama Shian, Siwon kembali berkata kepada Nana. “Ikut aku!” ujarnya, lalu berjalan ke ruang kerjanya. Nana menghela nafas. Setelah diam seribu bahasa selama perjalanan tadi, kinilah sang bom waktu itu meledak. Entah perang seperti apa yang akan dihadapinya sebentar lagi. Apapun itu, Nana bertekad untuk menang.

_oOo_

Siwon membuka pintu ruang kerjanya, menunggu Nana masuk, lalu menutupnya. Ia membiarkan Nana berjalan ke tengah-tengah ruangan, berdiri beberapa meter dari tempatnya berdiri.

“Jadi, kau harus mengurungku di sini, untuk memarahiku hanya karena tidak memberitahumu bahwa kami ke rumah sakit?” Nana memulai dengan sinis, seraya berbalik dan melipat kedua tangannya di dada.

“Hanya? Kau mengatakan hanya? Nana, apakah kau lupa dengan peraturan kita? Keamanan adalah nomor satu!” Siwon menjawab dengan nada tinggi.

“Keamanan? Ya Tuhan! Aku hanya ke rumah sakit! Hanya sebentar!” Nana menjawab tak kalah sengit.

Siwon maju beberapa langkah hingga berada tepat di depan Nana, seraya berkata, “Nana! Ini bukan masalah kemana kau pergi dan berapa lama! Tapi kau tidak memberitahu kami! Kau tidak memberitahuku! Kita tidak tahu apa yang akan terjadi! Dan kau! Apakah kau tahu aku harus mengerahkan banyak anak buahku untuk mencarimu?!”

“JIKA AKU MALAH MENYUSAHKANMU, MENGAPA KAU MASIH MENAHANKU? AKU SUDAH MEMINTAMU UNTUK MENCERAIKANKU, BUKAN?”

“KARENA AKU MASIH MENGHARAPKAN KEHADIRANMU, NANA! KETIKA ABEOJI MENINGGAL, KAU SATU-SATUNYA ORANG YANG AKU TUNGGU DAN KU HARAPKAN BERADA DISISIKU!”

Nana terhenyak mendengar jawaban Siwon. Benar. Setahun setelah kepergiannya, Nana mendengar bahwa Tuan Choi meninggal dunia. Di depan publik, Keluarga Choi memang terkenal sebagai pengusaha. Mereka memang memiliki saham di beberapa perusahaan besar, namun di baliknya adalah bisnis mafia. Dan karena mereka memiliki kekuasaan, tidak ada yang berani mengusik mereka. Walaupun sudah mengetahui berita duka tersebut, Nana tidak berani menampakkan diri.

“Apakah kembali padaku sangat menyiksamu, sehingga kau lebih memilih menghadapi ancaman dan bahaya di luar sana?” ujar Siwon, terluka.

Air mata Nana tiba-tiba mengalir. “Siwon-ssi…” Nana memanggil Siwon dengan suara parau. Namun Siwon mengangkat tangan kanannya, meminta Nana berhenti.

“Tiga bulan, Nana. Kita jalani semua, pernikahan kita, seperti dulu, selama tiga bulan. Setelah itu, aku ikuti keputusanmu,” ujar Siwon, lalu berbalik dan pergi.

Nana menatap kepergian Siwon dengan air mata yang masih mengalir di pipinya. Tertatih, ia meraih kursi terdekat untuk menopang tubuhnya. Lututnya lemas. Dadanya sesak. Mengapa mendengar Siwon menyetujui perceraian ini terasa menyakitkan? Batin Nana, seraya meremas dada, walaupun ia tahu hal itu tidak akan meredakan rasa sakitnya.

_oOo_

Siwon menyalakan shower, lalu air pun memancar, menghujaninya. Ia mengacak rambutnya frustrasi.

Tiga bulan.

Siwon hanya memiliki waktu tiga bulan. Sebenarnya, waktu yang ia berikan adalah karena ia tidak siap untuk hilangan Nana sekarang. Bukan sekarang, tapi selamanya. Jiwa terdalam Siwon masih ingin memperjuangkan Nana. Banyak sekali hal yang masih ingin ia lakukan bersama Nana dan Shian. Siwon sadar, sejak pernikahan mereka, Siwon tidak pernah memperlakukan Nana dengan baik. Maksudnya, walaupun mereka suami istri, skinship, dan tidur bersama, Siwon tidak pernah menunjukkan perasaannya kepada Nana. Selama ini ia memang terbiasa hidup sendiri dan tidak terbawa perasaan. Siwon yakin, jika ia menunjukkan perasaannya, dalam bentuk apapun itu, sama dengan menunjukkan kelemahannya sendiri. Namun, kini ia hanya memiliki waktu selama tiga bulan bersama Nana.

Siwon menghela nafas dalam. Menenangkan hati dan pikirannya.

Baiklah, Nana. Dalam tiga bulan ini, aku akan melakukan apa yang seharusnya aku lakukan sejak dulu. Lebih jauh lagi, membuatmu bertahan bersamaku. Aku berjanji.

_oOo_

Nana menatap Shian yang tidur dengan damai di pelukannya. Kesempatan itu sudah datang. Ia hanya perlu menunggu selama tiga bulan, dan mereka akan terlepas dari Siwon dan dunianya. Walaupun Nana sempat merasakan rasa sakit dan sesak saat Siwon menyetujui perceraian mereka, kini ia sudah bisa berpikir jernih. Bukankah ini yang dia inginkan sejak dulu? Ketika kesempatan itu datang, tentu tak akan ia sia-siakan. Yang perlu ia lakukan hanya membulatkan tekad dan mengeraskan hatinya.

“Tunggulah, Sayang! Sebentar lagi kita akan bebas,” gumam Nana kepada Shian yang terlelap, lalu mencium kening Shian.
To be Continued…

Dear readers,

Apa kabar???

Gimana part ini? *penasaran, tapi takut dimarahin reader juga.. hahaha…

Ditunggu komentarnya, ya!

Oh ya, Author ingin mengucapkan terima kasih buat reader yang setia memberikan komentar di setiap seri Nawon, ada Hwang Risma,  Choi_girl, Choi407, shfly3424arista, Adinda, Far_Aiden, dan reader yang lain… Jeongmal Gomapseumnida *bow*

Ditunggu komentarnya, ya!

Advertisements

21 thoughts on “(Un) Broken Vows (Part 4)

  1. Wajar aja ya nana ragu n khawatir ama anakny shian….
    Kepala mafia
    Tp kan klw emg siwon berjanji akan kasih pengawasan n keamanan tinggi
    Ya udh percaya aj
    Toh siwon jg pengusaha

    Pikirkan jg resiko yg didapat saat ga terikat atau bebas dr siwon
    Gmn klw ad musuh yg sadar n ngincar kalian

    Kan gawat !!!
    Cm ad dikit bnget dialog n adegan shian
    Tp ttp aj ya cute bnget sumpah

    Yey ad q jg disebutin
    Gomapta chingu
    Q lebih berterima kasih diizinin baca cerita2 kamu

  2. Hayoloh nanaaaa, siwonnya setuju ngikutin keputusan nana setelah 3 bulan 😂😭 semoga di rentang waktu itu siwon bisa membuat nana bertahan disisinya 😳 kalo engga ya~ sama aku aja won/? 😘😄wkwkwk
    Semangat terusss kaa buat part selanjutnyaaa!^^

  3. Wah, selama 3 Bulan bakalan siapa ya, yg nunjukin mereka saling nyaman, satu sama lain… Penasaran nih author, terus kekhawatiran nana juga ke shian secara tidak langsung dia takut siwon mati pas kejadian kali ya… kalau bisa tahun depan lanjut ff nya gak lama2 ya author. Hihihi.

  4. Aku tuh setiap baca ff kaka selalu kurang melulu, apa karna kaka lagi bikin pendek atau akunya yg maruk pengen nambah terus 😂.

    “KARENA AKU MASIH MENGHARAPKAN KEHADIRANMU, NANA! KETIKA ABEOJI MENINGGAL, KAU SATU-SATUNYA ORANG YANG AKU TUNGGU DAN KU HARAPKAN BERADA DISISIKU!”

    “Apakah kembali padaku sangat menyiksamu, sehingga kau lebih memilih menghadapi ancaman dan bahaya di luar sana?” ujar Siwon, terluka.

    Sedih banget siwon sampe ngomong kaya gini tapi nana nya tetep egois. Aku si ga nyalahin nana dengan keputusannya ingin cerai dari siwon. Tapi yg aku liat siwon jg terbebani sama jabatannya, karna jabatannya bakal jauhin siwon sama nana dan shian. Dan kayanya siwon udah memendam perasaan ke nana udah lama, cuma dia nya aja yg ga mw ngasih tau perasaannya.

    Thank you loh ka nama aku di sebut hihi
    Oia partnya shian banyakin lagi ya ka 😁

  5. Ya ammppuunn… jangan cerai ddoonngg… aayyoollaahhh…. pplleeaassee buat Nana bertahan sama Siwon 😂 kasih kesempatan buat Siwon.. yah yah yah 😄

  6. Rupanya siwon mencintai nana, tapi karna egonya siwon tidak dapat menunjukkan perasaannya.
    Mudah”an saja selama 3 bln, nana berubah pikiran untuk tidak bercerai dg siwon.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s