(Un) Broken Vows (Part 3)

Ding.

Bunyi lift pribadi yang langsung terhubung ke penthouse memanggil perhatian Nana yang sedang menyuapi Shian buah naga, di ruang tamu. Sosok yang tidak asing lagi pun muncul. Jo Jungseok, tangan kanan Siwon, datang membawa box besar yang penuh mainan. Kening Nana berkerut. Melihat Nana, Jungseok sedikit menundukkan kepala, memberi hormat.

“Selamat sore, Nyonya! Tuan menyuruh saya untuk mengantarkan ini, untuk Tuan Muda,” ujar Jungseok, merujuk pada Shian.


Tuan Muda? Jadi sekarang Shian menjadi tuan muda?
“Eoh, geurae,” Nana menjawab singkat. Jungseok kembali menunduk sebentar lalu naik ke kamar Shian untuk meletakkan box mainannya. Sepeninggal lelaki itu, Nana memanggil Mina, meminta wanita itu merapikan mainan yang dibawakan oleh Jungseok. Tak lama kemudian, Jungseok turun, menunduk ketika lewat di depan Nana.

“Mohon maaf jika saya mengganggu kenyamanan Nyonya. Saya akan kembali 3 kali lagi untuk membawa box mainan untuk Tuan Muda,” ujar Jungseok.

“Tiga kali lagi?” gumam Nana, takjub. Siwon membelikan Shian mainan sebanyak 4 box besar?

“Benar, Nyonya,”

“Eoh, geurae.” Jungseok membungkuk kemudian berjalan ke arah lift.

_oOo_
Nana membulatkan mata begitu ia masuk ke kamar Shian, mendapati anaknya duduk di lantai beralaskan karpet cashmere, dikelilingi oleh banyak sekali mainan. Namun, perhatian Shian tidak tertuju pada mainan di sekelilingnya, melainkan pada ayahnya, Siwon.

“Ini?” ujar lelaki itu, seraya mengangkat sebuah mainan ekskavator berwarna kuning cerah, menunjukkannya kepada Shian.

“Ne! Ne! Ne!” Shian berteriak girang seraya mengangkat kedua tangannya.

Nana mendesah seraya menatap Siwon, tersangka utama yang telah membuat kekacauan di kamar Shian. Siwon menoleh kepada Nana, menyadari kehadiran wanita itu.

“Hai!” sapanya ringan, seraya berjalan mendekati Shian, lalu duduk di depan Shian, memberikan Shian mainan yang dimintanya.

Nana mendekat lalu duduk di samping Shian. Ia memperhatikan Siwon yang sedang memutar kunci mainan untuk membuat mainan itu berjalan.

“Sudah lamakah kau datang? Tidak biasanya kau sudah di rumah.” Ujar Nana, membuka percakapan.

Siwon menatap Nana sekilas, lalu menjawab, “Eoh, lumayan. Saat kau mandi.”

Nana mengangguk lalu kembali terdiam.

“Andeeh…” suara Shian memecahkan keheningan ketika ia menolak mainan yang Siwon berikan.

“Kau mau yang mana lagi?” tanya Siwon, antusias. Shian menunjuk sebuah boneka jerapah besar, setinggi 50 cm. Siwon mengangguk lalu menjangkau boneka yang ditunjuk Shian.

“Dia cepat bosan, ya?” ujar Siwon, seraya melirik Nana. Nana tersenyum kaku, mengiyakan.

“Siwon-ssi, sebenarnya, kau tidak perlu memberikan Shian mainan sebanyak ini,” ujar Nana, mengungkapkan hal sedari tadi ingin dikatakannya.

Siwon mengerutkan kening, “Wae?”

“Eum, Shian masih belum membutuhkan itu semua. Itu semua terlalu banyak. Lagipula, Shian tidak terbiasa dengan mainan sebanyak itu,” jawab Nana.

Siwon mengangguk kecil, “Aku…hanya ingin menepati janjiku membelikannya mainan kemarin. Lagipula, tidak salah kan memanjakan anakku sendiri?” jawab Siwon seraya menatap Nana. Karena itu, ia dapat menangkap perubahan ekspresi Nana ketika ia mengucapkan kalimat terakhirnya.

Aku tidak ingin Shian terbiasa dimanja olehmu. Karena aku tidak ingin ia terluka ketika kita tidak bersama lagi, batin Nana.

“Mamaaa… mamaaa…” Shian tiba-tiba naik ke pangkuan Nana lalu menarik-narik kerah baju Nana.

“Ssssst…” Ujar  Nana seraya memeluk Shian, lalu meletakkannya di pangkuannya. Saat ia akan membuka kancing blouse-nya, ia menoleh pada Siwon. Mengerti maksud Nana, Siwon pun bangkit dengan berat hati.

_oOo_
Siwon merebahkan diri di ranjangnya, lalu meraih remote yang terletak di nakas, kemudian menyalakan layar LCD di sudut ruangan. Setelah layar menyala, nampaklah pemandangan kamar di sampingnya, Shian yang sedang tidur pulas di box-nya, dan Nana yang juga sedang tertidur pulas di sofabed-nya. Siwon menghela nafas. Setiap melihat Shian dan Nana, ada perasaan sesak di dadanya. Perasaan asing yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Namun, di saat yang bersamaan, muncul sebuah rasa damai, yang belum pernah ia temukan di mana pun.

Siwon tiba-tiba siaga melihat Shian yang bergerak gelisah. Siwon pun bergegas ke kamar Shian. Siwon kemudian meraih tubuh Shian, bermaksud menenangkannya, agar tidak membangunkan Nana. Namun yang terjadi malah sebaliknya, Shian mulai merengek lalu menangis.

“Ada apa?” tanya Nana dengan suara serak, yang tiba-tiba sudah berada di samping Siwon.

“Molla, tadi dia bergerak-gerak gelisah, lalu menangis,” jawab Siwon. Nana mengerutkan kening lalu menarik karet popok Shian. Ia pun tersenyum ketika mengetahui penyebab Shian rewel.

“Popoknya penuh,” ujar Nana, menjawab pertanyaan Siwon yang tak terucap. Nana pun mengambil tubuh Shian dari Siwon dengan hati-hati, lalu merebahkan Shian di atas baby tafel. Siwon pun mengikuti.

Nana membuka popok Shian, lalu tersenyum geli melihat Siwon mengernyit, mencium aroma tidak sedap dari popok Shian. Namun, lelaki itu tidak berkomentar apapun, hanya memperhatikan gerakan Nana yang cekatan membersihkan tubuh Shian.

“Biar aku yang memasangnya,” ujar Siwon, ketika Nana akan memasang popok baru.

“Kau bisa?” tanya Nana.

“Tentu,” jawab Siwon, percaya diri. Nana pun mempersilakan Siwon.

Siwon menggantikan posisi Nana. Ia meraih powder puff, namun saat ia akan menepukkannya ke paha atas Shian, Nana menutup “adik” Shian dengan tisu.

“Kenapa kau menutupnya?” tanya Siwon, antara protes dan heran. Sebelum Nana menjawab, tiba-tiba cairan hangat membasahi tissu itu.

“Oo..” gumam Siwon, takjub, setelah mendapatkan jawabannya. “Kau menyelamatkanku, Nana,” lanjutnya, lalu tersenyum. Nana tertawa geli membayangkan apa yang akan terjadi jika saja ia tidak menutupnya dengan tissu. Benar, jika Nana tidak melakukannya, pasti sekarang pakaian Siwon sudah basah oleh air kencing Shian.

_oOo_
Seminggu telah berlalu sejak Nana kembali tinggal bersama Siwon. Walaupun hubungan Nana dan Siwon masih kaku, namun Siwon dan Shian terlihat semakin dekat. Siwon selalu menyempatkan waktu setiap hari untuk bermain bersama Shian. Seperti saat ini, untuk pertama kalinya, Siwon memandikan Shian.

“Jja!” Ujar Siwon ketika keluar dari kamar mandi.

“Aigoo…!” Nana menggelengkan kepala melihat Siwon yang basah kuyup seraya membawa Shian yang berada dalam dekapannya. Kondisi Shian juga mengenaskan. Seluruh tubuhnya terbungkus handuk, hanya sedikit bagian wajahnya yang terlihat. Nana segera mengambil alih Shian dari Siwon. Membiarkan seorang batita berdua saja bersama sang ayah memang bukan keputusan yang bijak. Nana sudah membuktikannya berulang kali.

“Kenapa, Nana? Mengapa kau menatapku seperti itu?” ujar Siwon.

Nana menggeleng, lalu membelakangi Siwon, melangkah ke sofa bed, dimana ia sudah menyiapkan pakaian ganti dan perlengkapan Shian. “Baru sekarang aku tahu Shian bisa memandikan orang dewasa,” ujar Nana seraya berjalan, bermaksud menyindir Siwon. Namun Siwon malah tertawa lalu berjalan mendekati Nana, tanpa wanita itu sadari.

Siwon mengacak puncak rambut Nana, lalu berkata, “Aku masih belajar,” kemudian mengecup puncak kepala Nana. Dengan langkah ringan, Siwon pun berjalan meninggalkannya, menuju kamar. Meninggalkan Nana yang berdiri mematung, sampai akhirnya gerakan Shian menyadarkannya.

_oOo_
Siwon berjalan menuju kamar mandi seraya tersenyum kecil, teringat sindiran Nana barusan. Nana memang beberapa kali menyindir Siwon, terutama ketika ada perilaku Siwon yang tidak ia suka. Dulu, Siwon pernah pulang dengan kemeja yang penuh noda darah. Saat Nana mengambil kemejanya untuk dibuang, Nana dengan ringannya berkata, “Coba saja kau kurangi hobimu menembak, kita pasti bisa menghemat ratusan ribu Won. Daripada terus-menerus membeli kemeja baru.”

Siwon saat itu melongo setelah mendengar ucapan Nana. Baru sekarang ada yang berani menegurnya seperti itu. Sebenarnya, itu bukan perkara uang yang Siwon gunakan untuk membeli kemeja. Tentu, secara materi mereka tidak pernah kekurangan. Namun, secara halus Nana meminta Siwon untuk mengurangi korban-nya.

_oOo_
“Aigooo…” seru Nana ketika melihat Siwon dan Shian tertidur di sofa bed kamar Shian. Baru Nana tinggal selama sekitar setengah jam untuk membereskan makan malam Shian, sekarang mereka sudah tertidur pulas dengan posisi tidur yang menggelikan. Bayangkan saja, Siwon berbaring telentang dan Shian tidur dalam posisi menelungkup di dadanya. Tangan Shian terulur ke atas, tepat di hidung mancung ayahnya.

Dengan hati-hati, Nana mengangkat tubuh Shian untuk ia pindahkan ke dalam box bayinya kemudian menyelimutinya. Nana memandang wajah Shian yang tengah terlelap. Bibirnya bergerak seperti sedang menghisap sesuatu. Beberapa detik kemudian, Shian mengucek matanya, lalu kembali tenang.

“Dia lucu, kan?” suara serak Siwon yang baru terbangun dari tidurnya tiba-tiba terdengar. Nana menoleh dan mendapati Siwon sudah berada di tepat belakangnya.

Siwon meletakkan tangan kirinya di pinggir box Shian, sedangkan tangan kanannya di punggung bawah Nana. Nana membeku, merasakan sentuhan Siwon. Siwon pun menyadarinya.

“Ne,” jawab Nana singkat, lalu kembali melihat Shian.

“Dia sangat menggemaskan! Kau sangat beruntung bisa melihat setiap perkembangannya,” ujar Siwon.

“Siwon-ssi,” jawab Nana cepat seraya menoleh kepada Siwon. Keningnya berkerut melihat ekspresi Siwon yang tak terbaca.

“Siwon-ssi, aku tidak…”

“Sudahlah, itu sudah lewat bukan?” potong Siwon, sebelum Nana melanjutkan kalimatnya. Siwon seakan bisa menyadari kemana arah pembicaraan ini. Dan ia tahu pasti, nantinya akan berujung pada pertengkaran mereka, lagi.

Siwon menangkup pipi Nana dengan tangan kirinya, mengarahkan wajah Nana sehingga Nana tidak bisa menghindari tatapannya. “Semua sudah lewat, Nana. Yang terpenting adalah sekarang,”

“Sekarang? Maksudmu?”

Siwon tidak menjawab pertanyaan Nana dengan kata-kata, melainkan dengan ciumannya. Hal yang sangat ingin ia lakukan, sejak pertama kali ia kembali melihat Nana.

_oOo_

Siwon perlahan melepaskan ciumannya ketika merasakan Nana yang mulai kehabisan napas. Pandangannya tetap terpaku pada Nana, sedangkan Nana menunduk, menghindari tatapan Siwon. Nana melangkah mundur, melepaskan diri dari dekapan Siwon.

“Tidak. Ini seharusnya…”

“Seharusnya apa, Nana? Seharusnya tidak terjadi?” potong Siwon, sedikit keras. Seakan tersinggung dengan ucapan Nana. Nana terdiam dan menunduk.

“Siwon-ssi, sekarang sudah malam. Sudah waktunya kau kembali ke kamarmu,” ujar Nana pelan dan gugup.

Siwon mendengus lalu berbalik dan berjalan menuju pintu. Namun, sebelum ia membuka pintu, ia berbalik lalu menatap Nana tajam. “Aku tidak akan meminta maaf karena mencium istriku sendiri!” ujarnya, jelas, lalu menghilang di balik pintu.

_oOo_
“Pertama, bidik sasarannya,” Siwon mengarahkan tangan mungil Shian yang sedang menggenggam pistol mainan ke sebuah boneka jerapah. Saat ini mereka sedang bermain berdua di ruang tamu. Walaupun semalam ia dan Nana sempat tegang, namun Siwon tidak melewatkan kesempatannya untuk bermain bersama Shian. Ia selalu meluangkan waktunya setiap hari untuk bersama Shian. Walaupun hanya satu atau dua jam.

“Setelah itu, tembak! Ya! Dor dor dor!” Siwon menggoyangkan tangan Shian seolah mereka sedang menembak sang boneka jerapah.

“Apa yang kau lakukan?” Tiba-tiba suara Nana menghentikan gerakan Siwon. Siwon menoleh dan mendapati raut marah di wajah Nana. Nana tiba-tiba berjalan mendekat dan mengambil Shian dari pangkuan Siwon.

“Nana, ada apa?” tanya Siwon, bingung, seraya berdiri.

Nana menatap Siwon tajam.

“Nana, ada apa?”

Nana membuka bibirnya, seolah ingin menjawab, namun tidak jadi. Nana hanya menggeleng.

“Sekarang waktunya Shian tidur,” jawab Nana, asal.

“Tidur? Nana, ini masih sore!” Nana tidak menghiraukan Siwon. Ia bergegas membawa Shian ke kamar. Walau demikian, ia merinding merasakan tatapan Siwon yang terus mengikutinya.

_oOo_
Nana menatap Shian yang sedang asyik bermain sendiri. Pikirannya menerawang, mengingat seluruh kenangannya sejak bertemu dan menikah dengan Siwon. Hari-hari berat dimana ia harus berusaha keras menerima kehidupan Siwon dan keluarganya. Jantung yang berdebar keras ketika Siwon harus pergi tiba-tiba karena urusan yang mendesak. Kekhawatiran yang amat sangat melihat Siwon pulang dengan darah yang memenuhi pakaiannya. Serta detik-detik dimana Nana terus berdoa akan keselamatan suaminya itu. Walaupun terlihat tenang, namun dalam hati kecil Nana, ia merasa sangat tersiksa. Tidak tenang.

Nana menyeka air mata yang tiba-tiba mengalir dari sudut matanya.

Shian. Anak pertamanya. Bahkan, bisa jadi ia anak semata wayangnya.

Ketika ia dewasa nanti, Shian akan mengalami hal yang sama seperti yang dialami oleh ayahnya. Tentu saja! Shian adalah pewaris Siwon!

Nana menggelengkan kepala. Tidak! Tidak boleh! Ibu manapun tidak akan membiarkan anaknya menggali kuburannya sendiri!

Nana meraih tubuh Shian lalu memeluknya erat.

“Mamaa? Wee?” tanya Shian polos.

Air mata langsung mengalir deras di pipi Nana. Ia mendekap Shian erat di dadanya.

“Mama akan melindungimu, Sayang! Mama berjanji!”
_oOo_
Siwon menyambirkan handuk di bahunya lalu keluar dari kamar mandi. Ia sempat kaget mendapati Nana sedang duduk di ranjangnya. Nampak jelas Nana memang sedang menunggunya. Karena wanita itu langsung menoleh begitu mendengar pintu kamar mandi yang terbuka.

“Siwon-ssi, aku ingin bicara denganmu,” ujar Nana, membuka pembicaraan.

“Mwo? Katakan saja,” ujar Siwon, seraya berjalan ke arah walk-in closet.

Nana menelan ludah, lalu berkata dengan lantang, “Aku ingin bercerai denganmu!”

Kalimat Nana sukses menghentikan langkah Siwon. Namun, detik berikutnya ia kembali berjalan, seolah tidak mendengar apa.

“Siwon-ssi!” panggil Nana, seraya mendekati Siwon dengan langkah cepat.

Siwon berhenti lalu menoleh dengan malas. Ia meletakkan kedua tangan di pinggang lalu berkata, “Apakah kau tidak memiliki cara lain untuk menarik perhatianku, heuh?”

“Menarik perhatianmu? Siwon-ssi, aku serius! Aku benar-benar ingin mengajukan cerai denganmu!”

Siwon menatap Nana tajam. “Tidak. Tidak akan pernah!” jawab Siwon, pelan namun tegas.

Nana menarik nafas, lalu balas menatap Siwon, dengan seluruh keberanian yang ia miliki. “Baiklah. Kalau begitu aku yang akan mengajukan cerai ke pengadilan.” Jawabnya, lalu berjalan melewati Siwon. Namun, Siwon menarik lengan Nana ketika wanita itu lewat di depannya.

“Kau mengancamku?”

“Mengancam? Tidak! Aku mengatakan apa yang aku mau. Aku memiliki hak untuk mengajukan cerai. Jika kau tidak mau, maka aku yang akan mengajukan ke pengadilan. Kau tinggal datang dan menandatangani suratnya.”

“Kau pikir semudah itu?” Nana meringis merasakan cengkeraman Siwon di lengannya yang menguat. Namun ia tidak gentar. Sekarang, atau tidak sama sekali.

“Aku tahu, menghadapimu tidak akan mudah. Tapi aku akan memperjuangkannya!”

“Nana! Mengapa kau sangat ingin bercerai denganku?” Siwon mengguncang bahu Nana.

“Kau tidak perlu tahu!” Nana menjawab acuh.

“Jawab pertanyaanku!”

“Lepaskan aku! Kau menyakitiku!” Nana berteriak. Seakan sadar, Siwon langsung melepaskan Nana. Nana pun berbalik untuk meninggalkan Siwon.

“Apa ada lelaki lain?” langkah Nana terhenti mendengar pertanyaan Siwon. Ia pun menoleh.

“Kalau iya, kenapa?” Seakan kehilangan akal, Siwon langsung mendorong tubuh Nana ke dinding dan mengurungnya.

“Tatap mataku, Nana!” perintah Siwon. Nana diam. “Tatap mataku, Nana!” ulang Siwon seraya mengangkat wajah Nana dengan tangan kanannya. Mau tak mau, Nana pun menurut. “Benarkah ada lelaki lain?”

Nana menatap kedua mata Siwon. Mata yang memerah penuh amarah. Ingin sekali rasanya ia mengiyakan tuduhan Siwon, mungkin saja dengan begitu Siwon akan langsung menceraikannya. Namun, lidahnya kelu.

“Kau berbohong, kan? Tidak mungkin ada lelaki lain, Nana!” Dengan mudahnya, Siwon membaca sikap diam Nana. “Sekarang, katakan padaku! Mengapa kau ingin bercerai denganku?”

“Kau tidak perlu tahu!”

“AKU HARUS TAHU!” Siwon berteriak. “JAWAB AKU, NANA! AKU TIDAK AKAN MEMBIARKANMU PERGI SEBELUM MENJAWAB…”

“KARENA AKU TIDAK INGIN MELIHAT ANAKKU SETIAP DETIK HARUS BERTARUH NYAWA SEPERTIMU!”
_oOo_

To be continued…
Annyeong readers!

Mian menunggu lamaaaaaaaaaaaaaaaaaa sekali untuk part 3 nya ini… mungkin sebagian besar reader sudah lupa dengan ceritanya, hehee… 😄
Mohon maaf juga ya kalau part yang ini masih sedikit juga. Karena memang sudah semestinya sampai disini, hehee… 😂

Untuk yang menanyakan Be With Me, mian yaa.. reader lagi stuck nih.. ga tau mau mulai dari mana buat ngelanjutinnya.. jadi kita enjoy sama UBV dulu yaa… pasti diselesaikan kok nanti BWMnyaa..😆

Oh iya, untuk part ini, gimana pendapat readers????;)

Ini pertama kalinya Author nulis tentang mafia. Jadi rada bingung juga sih… Author butuh komentar nih dari reader. Biar Author bisa nulis lebih baik lagi.. kan kalo tulisannya bagus, reader akan semakin seneng, kan? Hehehee… ditunggu yaa readerku tercintaah… 😘😘

Advertisements

17 thoughts on “(Un) Broken Vows (Part 3)

  1. Waahhh seneng bgt liat siwon yg udah mulai bantuin nana ngurus shian, eeeehh tetep aja mereka berantem lagi, kan sebenernya apa yg ditakutin nana bisa di omongin baik2 sama siwon, ga langsung minta cerai gitu aja, aku ngerasa kasian sama siwon 😂 nana-nya berusaha pergi mulu dari dia
    Semangat ya ka!~ ditunggu part selanjutnya^^

    1. Aigooo… Pagi bener buka blog nyaa.. 😂😂😂 seneng banget deeh habis begadang semalem buat ngupload ini, pagi2 buka udah ada yg komen… Jeongmal gomawo nee..
      Terima kasih sudah setia menunggu kisah mereka di blog ini… 😘😘😘

  2. Kok jd sedih baca part ini. Di saat siwon berusaha mendekatkan diri ke nana dan shian, justru nana yg ttp jaga jarak. Nananya ga bisa ya jgn terlalu dingin gitu ke siwon? Sebenernya siwon dan nana saling cinta ga ya?

    1. Annyeong, chingu… Jeongmal gomawo yaa sudah setia dengan kisah mereka, meskipun authornya sempat hilang di telan bumi… 😂
      Wah, kok update dan tau sih kalo ini sudah di publish? Langsung baca gitu?

      Heum… Penasaran yaa sama perasaan mereka? Nana dingin yaa sama Siwon? Enaknya Nana atau Siwon nya yang dingin?? Hehee..

      1. Klw q
        Udhlah apapun resikonya
        Klw kita cinta….. ap lg udh suami istri dan dikaruniai anak
        Ya udh ikut suami aj n siap mendampingi….Apapun resikonya

        Ap lg klw lakinya si siwon
        Wkwk

  3. seneng dengan kebersamaan siwon dan shian><
    siwon jg mau belajar cara ngurusin shian. Tapi kenapa sikap nana dingin gitu ke siwon? padahal siwon udah baik" aja.

    next chap nya jangan lama" ya ka 🙂

  4. Karna rasa takut nana kalau anaknya akan sama seperti siwon, jadinya dia selalu minta cerai ke siwon. Tapi, kenapa siwon tidak mau mengabulkan permintaan nana? Apa karna siwon mencintai nana? Tapi, kayaknya sikap siwon ke nana biasa” aja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s