(Un)Broken Vows (Part 2)

psx_20160522_023936.jpg

 

“DO NOT COPY AND/OR  REPOST WITHOUT PERMISSION”

 

“Apa maksudmu, Nana? Di sana adalah tempatmu, dan aku tidak pernah tidur pisah ranjang dengan istriku!”
Istri? Siwon masih menganggap Nana adalah istrinya? Nana memijat pelipisnya. Dia pusing dengan semua ini.
“Siwon-ssi, kita sudah berpisah selama dua tahun. Apa kau masih merasa kita adalah suami istri? Jujur, aku merasa tidak selayaknya kita tidur bersama,”
“Kau menolakku, Nana? Kau ingin bercerai denganku? Apakah itu maksudmu?” serang Siwon. Nana diam. Bibirnya bergetar.
Siwon meraih lengan kiri Nana dan menarik ujung lengan pakaian Nana ke atas, dan tampaklah sebuah tattoo yang terukir di lengannya.
“If i am the lion king, then you’re the queen. Selamanya Nana, selama gambar ini masih terukir di kulitmu!”

Nana meringis merasakan rasa sakit karena Siwon meremas tangannya keras. Mustahil! Sampai kapanpun Nana tidak akan bisa menghapus tattoo itu. Bisa mungkin, dengan melukai dirinya sendiri. Namun, jika Nana melakukannya, artinya dia sudah mengkhianati familia, dan Nana tau pasti apa ganjaran yang akan ia terima. Kalimat itu adalah sumpah, yang tertulis di keabadian.
Siwon melepaskan cengkeramannya di lengan Nana tanpa melepaskan tatapannya dari Nana. “Geurae, kau bisa tidur di sini atau dimana pun kau mau. Tetapi barang-barangmu tetap di kamar kita. Kau juga melakukan aktivitasmu seperti biasa di kamar kita. Aku ingin kau menyesuaikan diri kembali, bukan membiasakanmu berpisah denganku,” ujar Siwon, datar dan dingin.
“Ini… Ini konyol…” jawab Nana, pelan dan bergetar.
“Heuh, jangan menghabiskan tenagamu, Nana. Kau tau persis, tidak ada gunanya mendebatku,” ujar Siwon, seraya mengeluarkan ponsel dari sakunya dan melangkah keluar.

_oOo_

Sepeninggal Siwon, Nana ke kamar mereka. Nana melihat baju-bajunya masih tersimpan rapi, mulai dari gaun, kemeja, celana, kaos, piyama, bahkan barang-barang pribadi lainnya masih tersimpan rapi dan dalam kondisi yang bagus. Nana mengambil sehelai kaos lengan panjang, celana jeans, dan setelan undies kemudian berjalan ke kamar mandi. Handuk Nana terlipat rapi dan jubah mandinya tergantung di dalam lemari kamar mandi. Nana menuju ke wastafel. Seperangkat toiletries-nya, Chanel Coco Mademoiselle, dari shower gel hingga body cream, sudah tersedia. Bahkan masih tersegel. Nana mengambil body cream dan mengecek tanggal produksinya. Masih baru. Nana menghela nafas. Hatinya berdesir. Tidak ada yang berubah sama sekali. Semua barang miliknya tersimpan dengan baik dan rapi, sama persis saat Nana masih tinggal di sana. Seolah-olah Nana memang masih tinggal di sana.
Nana meletakkan body cream-nya ke tempat semula. Kemudian ia membuka blouse yang dikenakannya. Ia melihat bayangan tubuhnya di cermin, dan perhatiannya tertuju pada tattoo yang terukir di lengan kirinya. Lebih tepatnya, pada saat ia harus merelakan tubuhnya dirajah, demi mengikat janjinya kepada familia.
_oOo_

Flashback…

Seminggu setelah pernikahan mereka, Siwon dan Nana berkunjung ke rumah orang tua Siwon. Setelah makan siang, Tuan Choi mengajak Siwon dan Nana menuju ke sebuah gedung di bagian belakang rumah mereka. Begitu membuka pintu utama, dua sepupu Siwon, Choi Soohyuk dan Choi Hyeonsu, sudah menunggu. Mereka pun langsung menuju sebuah ruangan yang berada di ujung lorong sebelah kanan pintu utama. Nana benar-benar penasaran. Ia melirik Siwon, namun lelaki itu melihat lurus ke depan. Ketika mereka tiba dan membuka pintu ruangan, Nana tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya. Pemandangan di depannya benar-benar membuat ia meringis. Ada belasan lelaki muda yang sedang men-tattoo tubuhnya. Dari tempatnya berdiri ia bisa melihat darah yang keluar dari bekas tusukan jarum tinta.
“Nana, sekarang, kita akan mengukuhkan identitasmu sebagai anggota familia. Darahmu adalah darah kami. Keselamatanmu adalah tanggung jawab kami. Begitu pun sebaliknya. Dengan ini Nak, kau mengikat janjimu kepada kami, keluarga kita, dan Choi Siwon, suamimu,” jelas Tuan Choi. Nana menelan ludah. Haruskah aku melakukan ini?
“Aboenim, aku mengerti, tetapi…”
“Jangan khawatir, sepupuku! Kau bisa memilih gambar yang paling kecil jika kau takut,” Ujar Hyeonsu, sepupu perempuan Siwon, seraya tersenyum tipis. Mereka memang bebas memilih gambar tatto yg mereka inginkan dari seluruh motif tatto khas Re Rosso.
Nana diam lalu melirik suaminya. Ia berharap Siwon mau menyelamatkannya. Nana juga meremas jas Siwon pelan, memberikan isyarat atas permohonannya. Siwon menoleh pada Nana. Tanpa melepas pandangannya, Siwon berkata, “Nana akan melakukannya.” Jawaban yang Siwon lontarkan dengan tegas benar-benar di luar dugaan.
“Siwon-ssi…” bisik Nana pada Siwon. Namun Siwon tak bergeming.
“Sekarang aku harap kalian bisa meninggalkan kami,” lanjut lelaki itu. Tuan Choi dan sepupu Siwon pun pergi. Siwon juga mengusir seluruh orang yang ada di sana, kecuali Chenko, artist tattoo kepercayaannya. Setelah semua orang pergi, Siwon menarik tangan Nana pelan, mengisyaratkan wanita itu untuk mengikutinya, menuju ranjang yang paling rapi dan bersih, belum digunakan. Nana pun menurut.
“Siwon-ssi…” Nana memanggil Siwon, ingin menyatakan ketakutannya. Namun Siwon malah mengecup bibir Nana.
“Akan sedikit sakit, tapi Kau pasti bisa,” ujar lelaki itu. Siwon kemudian menunjukkan sebuah katalog berisi kumpulan gambar tattoo yang menjadi ciri khas capo atau pimpinan utama mereka, yang tentu akan menjadi pilihan Siwon dan Nana. Nana menyerahkannya kepada Siwon, membiarkan lelaki itu memilihkan gambar untuknya. Siwon menatap Nana beberapa saat, kemudian menutup katalog yang berada di tangannya, lalu berbisik kepada Chenko. Chenko mengangguk, kemudian menyiapkan alat-alatnya. Siwon duduk di depan Nana.
“Chenko akan men-tattoo lengan kirimu, Nana,” Nana mengangguk lalu mengulurkan lengan kirinya kepada Chenko.
Nana tersentak dan meringis ketika Chenko mulai menusuk jarum di kulitnya. Melihat itu, Siwon pun menarik Nana ke dalam pelukannya. Memeluknya hingga Chenko menyelesaikan tugasnya, mengukir janji antara Nana, Siwon, dan Re Rosso.
_oOo_

“Nyonya, makanan sudah siap. Tuan muda menunggu Nyonya untuk makan bersama,” ujar Bibi Jung begitu Nana membuka pintu kamar Shian.
“Oh, geurae,” jawab Nana, singkat. Ia lalu mengikuti Bibi Jung bersama Shian yang berada di dalam gendongannya. Saat turun Nana melihat Siwon berdiri di samping meja makan, sedang menelfon. Nana berjalan melewatinya menuju dapur, tanpa mengucap sepatah kata pun pada suaminya itu. Namun, Nana bisa merasakan tatapan Siwon yang mengawasinya.
“Bibi, tolong katakan padanya, jangan menungguku. Aku akan membuat makanan untuk Shian dulu. Sekarang waktunya Shian makan,” pesan Nana pada wanita paruh baya yang sudah lama bekerja pada keluarga Choi. Bibi Jung menatap Nana ragu, namun ia segera berbalik dan menyampaikan pesan Nana pada Siwon.
Nana berbalik, melihat Bibi Jung yang berbicara pada Siwon. Namun, pandangannya malah bertemu dengan tatapan tajam Siwon, begitu Bibi Jung menyampaikan pesannya. Tanpa berkata apapun, Siwon menarik kursi lalu duduk, dan menyantap makan malamnya tanpa bersuara.

_oOo_

Pukul 1 malam. Siwon datang dan menemukan penthouse-nya sudah gelap. Seperti biasa. Namun, kali ini berbeda. Nana malam ini ada di rumahnya. Bersama Shian, anaknya, anak mereka. Siwon ke dapur dan mengambil segelas air putih.
Nana. Shian.
Setelah dua tahun mereka menghilang tanpa kabar, kini akhirnya Siwon bisa membawa mereka kembali. Namun kini masalahnya, Siwon tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Jangan tanya tentang perasaannya. Jika boleh jujur, perasaannya sekarang gundah, tidak bisa ia jelaskan. Ah, lagipula itu tidak penting. Ia tidak pernah menghiraukan perasaannya. Namun kini, perasaan untuk melihat Nana dan Shian sangat mendominasi.
Siwon meletakkan gelas kosongnya di meja lalu bergegas ke kamar Shian. Perlahan, ia membuka pintu kemudian menutupnya. Cahaya temaram menyambutnya. Siwon mengedarkan pandangan dan menemukan istrinya tidur di sofa bed, sedangkan Shian tidur di dalam box-nya. Siwon berjalan menuju box Shian.
Ia tercekat melihat Shian yang sedang tidur pulas. Nafasnya teratur. Wajahnya damai. Shian, anaknya. Saat melihat Shian pertama kali, Siwon sudah merasakan perasaan berbeda, seperti ada ikatan antara ia dan Shian. Seperti mereka sudah kenal dalam waktu yang lama. Ditambah lagi, wajah Shian yang merupakan perpaduan antara wajahnya dan Nana. Matanya mewarisi Siwon, dagu dan hidungnya seperti Nana. Namun, ia memiliki senyumnya sendiri, sebuah senyuman yang khas.
Siwon mengulurkan tangannya, menyentuh pipi lembut Shian pelan. Kemudian membelai punggungnya, merasakan dengan jelas tarikan nafas dan detak jantung buah hatinya. Hatinya bergetar. Perasaan membuncah di dadanya. Namun, pada waktu bersamaan, rasa bersalah juga menghujam hatinya. Dulu, ia sempat berpikiran untuk… Siwon memejamkan mata, mengusir kenangan kelam itu. Siwon membenarkan selimut Shian lalu bangkit, berjalan mendekati Nana.
Im Nana. Wanita yang dibawa oleh Tuan Choi untuknya.
Tuan Choi menceritakan tentang Nana saat Tuan Choi akan menghadiri acara wisuda Nana. “Dia cantik, lembut, dan berbeda. Kau akan menyadarinya ketika kau bertemu dengannya.” Kalimat Tuan Choi masih jelas dalam ingatannya. Beberapa minggu kemudian, Tuan Choi membuktikan ucapannya.
Saat itu, Siwon memang tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun. Ia juga tidak pernah memikirkan tentang pernikahan. Ia pikir pernikahan dengan Nana adalah salah satu cara untuk melanjutkan keturunan untuk mewariskan bisnis mereka. Ia hanya ingin wanita yang penurut dan tidak mengganggu bisnisnya. Namun, Nana berbeda. Dibalik kecantikan dan kelembutannya, Siwon melihat kehidupan. Sorot matanya memancarkan ketulusan. Setelah mereka menikah, Nana memberinya perhatian yang selama ini belum pernah Siwon dapatkan. Perhatian dan ketulusan seorang wanita kepada lelakinya, yang membuat Siwon tanpa sadar terbiasa dengan semua itu. Dan ketika wanita itu pergi, Siwon merasa kehidupan itu pun pergi. Hidupnya menjadi kering kerontang, jauh lebih buruk daripada sebelum Nana datang.
Siwon memperhatikan wajah Nana yang sedang terlelap. Tubuhnya dan pipinya yang sedikit lebih kurus tidak mengurangi kecantikannya. Namun, garis-garis kelelahan di wajahnya bisa terlihat jelas. Jika saja dulu…
Tidak! Tidak ada gunanya mengingat masa lalu. Sekarang, Nana sudah berada di sini, bersamanya. Aku tidak akan mengulangi kesalahanku, Nana, dengan membiarkanmu lepas dari genggamanku, batinnya.
Siwon mengeluarkan kotak cincin dari dalam saku jasnya, kemudian membukanya. Siwon mengeluarkan cincin itu, memutarnya sebentar, lalu melihat jari Nana. Awalnya, ia ingin memakaikan kembali cincin pernikahan mereka itu di jari Nana, namun ia urungkan. Siwon meletakkan kembali cincin itu ke dalam kotak, menutupnya, lalu meletakkannya sofa bed, sejajar dengan wajah Nana. Ia pun berbalik lalu menuju kamarnya.
_oOo_

Keesokan harinya, Nana turun melewati jam sarapan karena sengaja menghindari Siwon. Saat Nana turun, ia melihat sarapan belum tersentuh di meja. Ia bergegas ke dapur untuk mengambil minum. Namun, saat ia berbalik Siwon sedang berjalan menuju meja makan. Tanpa Nana ketahui, saat ia sedang turun, Jung Mina—anak Bibi Jung yang juga bekerja kepada mereka— bergegas memberitahu bahwa ia sudah turun kepada Choi Siwon. Saat Nana berjalan menuju kamar, Siwon menahan lengannya.
“Duduk,” ujar lelaki itu, singkat. Nana menghela nafas lalu berbalik, menuruti Siwon. Akhirnya mereka berdua sarapan dalam diam.
Sekitar 15 menit kemudian, Nana sudah selesai makan.
“Kau belum memakai cincin pernikahan kita,” ujar Siwon, saat Nana akan bangkit dari duduk. Otomatis, Nana menghentikan gerakannya.
“Cincin? Aku sudah mengatakan kepadamu…”
“Aku sudah membawanya kembali, Nana! Aku meletakkannya di dekat kau tidur,” potong Siwon. Nana menatap Siwon bingung. Saat bangun tidur tadi, ia memang tidak memperhatikan sekitarnya. Ia juga belum membereskan kembali sofa bed-nya, karena Shian bangun dan merengek.
“Jung Mina!” Siwon memanggil Mina. Dalam hitungan detik, wanita itu sudah berada di hadapan mereka.
“Ambilkan kotak cincin di kamar Shian,” perintahnya. Mina bergegas naik kemudian kembali membawa kotak cincin berwarna merah di tangannya, lalu menyerahkannya kepada Siwon.
Siwon membuka kotak itu dan mengeluarkan sebuah cincin. Nana menatap cincin itu bingung. Cincin pernikahannya. Sama persis. Nana tidak tahu apakah Siwon membuat kembali cincin itu atau ia berhasil mendapatkan kembali cincin Nana yang kini sudah tidak tahu dimana.
Siwon meraih tangan kiri Nana lalu menyematkan cincin itu di jari manisnya.
“Jangan pernah melepaskannya lagi,” ujar Siwon, penuh peringatan.

_oOo_

Nana membuka kulkas dengan sebelah tangannya yang bebas. Tidak usah ditanya, Nana bisa menemukan berbagai makanan di dalam kulkas Siwon. Nana melihat dari atas ke bawah, mencari makanan yang kira-kira cocok untuk Shian. Akhirnya, Nana mengeluarkan ikan salmon segar dan mash potato, kemudian meletakkannya di meja. Nana menoleh ke sekelilingnya, mencari tempat untuk Shian. Ia tidak mungkin memasak sambil menggendong Shian.
“Biar aku yang menggendongnya,” Nana segera menoleh ke asal suara, memastikan pendengarannya tidak salah. Benar, Siwon sudah berdiri di sampingnya, tidak tahu dari mana dia datang, dan mengapa siang-siang begini dia berada di rumah. Nana menatap Siwon bingung, seakan tidak percaya.
“Nana, biar aku menggendong Shian selama kau menyiapkan makanannya,” ulang Siwon. Nana menoleh pada Shian yang juga sedang menatap Siwon.
“Ayo,” ujar Siwon lembut, seraya mengulurkan kedua tangannya dan tersenyum kaku pada Shian. Shian menoleh pada Nana, seolah meminta persetujuan. Nana tersenyum pada Shian. Shian kembali melihat Siwon. Entah apa yang dirasakan dan dipikirkannya, Shian akhirnya mengulurkan tangannya pada Siwon, memberikan izin pada lelaki itu untuk menggendongnya.
Nana tertegun melihat pemandangan di depannya. Melihat Shian mengulurkan tangannya kepada Siwon dan Siwon meraih tubuh mungil Shian, menimbulkan perasaan yang tidak bisa ia lukiskan dengan kata-kata.

_oOo_

Siwon meraih tubuh mungil Shian dan meletakkannya ke dalam dekapannya. Seketika, senyumnya merekah. Ada perasaan hangat merasakan tubuh mungil Shian di dalam pelukannya. Merasakan detak jantung Shian dan gerakan kecilnya. Sejenak, Siwon hanya diam, merasakan sensasi baru yang menjalarinya.
“Dudu?” suara Shian seakan menyadarkan Siwon. Siwon mengerutkan kening, tidak mengerti maksud Shian. Siwon menoleh pada Nana, dan menemukan ekspresi wajah Nana yang sulit diartikan.
“Dudu?” ujar Shian kembali seraya menepuk dada Siwon dengan kepalan tangan mungilnya, menarik perhatian Siwon kembali padanya.
“Nugu, dia bertanya siapa dirimu,” ujar Nana, menerjemahkan perkataan anaknya. Siwon mengerjap, kemudian menatap Shian.
“Papa,” jawab Siwon, dengan kelembutan yang ia miliki.
“Paapa?” ulang Shian.
Siwon mengangguk, “Ne, Papa!” ujarnya, lalu menoleh pada Nana. “Wae?” tanya Siwon, melihat Nana yang berkaca-kaca.
Nana menggeleng, “Gwaenchana,” jawabnya pelan, lalu menoleh ke depan.
“Dia memanggilmu Mama, bukan? Jadi dia memanggilku Papa,” ujar Siwon dengan nada ceria. Intonasi yang sangat jarang Nana dengar.
“Aku akan membawanya ke depan,” lanjut lelaki itu, seraya membawa Shian ke ruang tamu.

_oOo_

Nana membawa nampan berisi makanan untuk Shian dan segelas air putih ke ruang tamu. Pemandangan di depannya membuat kening Nana berkerut. Televisi menyala menayangkan film kartun namun tidak ada yang menontonnya. Shian duduk di atas karpet cashmere, asyik memukul dan melemparkan bantal-bantal sofa yang Siwon turunkan. Sedangkan Ayahnya, hanya duduk dan memperhatikan gerak-gerik Shian, dengan senyuman yang tak lepas dari wajahnya.
Nana berdeham, menarik perhatian mereka. Siwon menoleh. “Wah, makanan sudah datang!” seru Siwon lalu meraih tubuh Shian dan memangkunya. Nana mendekat lalu duduk di depan Siwon.
“Jalmokgeusseumnida!” ujar Nana. “Aaa…” lanjutnya, meminta Shian membuka mulutnya. Shian menggeleng.
“Shian, kalau kau tidak makan, nanti sakit perut. Makanlah walau sedikit, ne?” rayu Nana. Shian tetap menggeleng, lalu mencoba bangkit dari pangkuan Siwon.
“Shian, ayo makan! Mama sudah memasak untukmu. Nanti kau bisa bermain kalau kau sudah makan,” Siwon ikut berbicara. Nana menatap Siwon sejenak.
“Shian?” ujar Nana.
“Shian, besok Papa akan memberikanmu mainan. Tapi kau harus makan.” Shian mengangkat kepalanya, melihat Siwon. Lalu menunduk, seperti sedang berpikir. Lalu ia mengangguk dan membuka mulutnya.
“Anak yang baik!” gumam Siwon, lalu mencium puncak kepala Shian dengan gaya kasual, seakan ia terbiasa melakukannya. Namun berbeda dengan Nana. Aksi Siwon itu tanpa sadar membuat matanya berkaca-kaca.
“Apa dia selalu sulit makan seperti ini?” tanya Siwon.
Nana menggeleng. “Terkadang,” jawabnya, seraya kembali menyuapi Shian. Siwon mengangguk.
“Geundae, siapa yang membantumu ketika kau menyiapkan makanan untuknya?” tanya Siwon lagi.
“Eum, Bibi Park atau Haneul biasanya membantuku,” jawab Nana. Namun, mendengar nama lelaki lain membantu istrinya saat menyiapkan makanan untuk anaknya, membuat rahang Siwon mengeras. Namun, ia cukup waras untuk tidak menyulut ketegangan di dalam kondisi mereka saat ini. Siwon akhirnya hanya mengangguk.
“Nana, mengapa ia memanggilmu Mama? Bukan Eomma atau yang lain?”
“Heum, aku mengajarinya memanggilku Eomma, tapi ia malah memanggilku Mama. Mungkin lebih mudah baginya,” Siwon mengangguk mendengar penjelasan Nana.
“Nah, sudah selesai,” ujar Nana lalu membersihkan mulut, pipi, dan dagu Shian dengan tissue. Lalu ia mengulurkan tangannya, untuk menggendong Shian. Shian langsung menyambutnya. Nana perlahan berdiri, lalu mengambil nampan berisi mangkuk dan gelas kosong untuk ia bawa ke dapur. Namun Siwon mencegahnya.
“Biarkan saja, ada Mina yang akan membersihkannya,” Nana mengerutkan kening. Ya, beginilah Siwon. Tidak usah bersusah payah untuk membereskan sesuatu.
Nana mengangguk lalu berbalik.
“Nana!” panggil Siwon.
“Kalau kau menyiapkan makanan untuk Shian lagi, panggil aku. Aku bisa membantumu,” lanjutnya. Nana mengangguk, lalu berbalik.
“Nana!” panggil Siwon lagi. Nana berhenti kemudian berbalik lagi.
“Aku boleh main bersamanya lagi, kan?” tanya Siwon, pelan. Nana mengamati Siwon. Baru sekarang Siwon meminta izin padanya. Meminta izin untuk bermain bersama Shian, anaknya. Biasanya ia melakukan apapun yang ia mau.
Nana menunduk, melihat Shian sejenak, lalu menoleh kepada Siwon.
“Tentu. Kau Papa-nya,” ujarnya, lalu bergegas kembali ke kamar Shian, dengan mata berkaca-kaca.

_oOo_

Anyyeong Pembaca Setia Nawon!!!
Apa kabar? Gimana part 2 dari (Un)Broken Vows ini? Suka ga sama ceritanya? Soalnya disini author ingin membawa karakter baru Siwon dan Nana… Please, kasih komentar yaa, biar Author bisa nulis lebih baik lagi.

Oh iya, mana nih Tim Nana?
Tim Siwon?
Tim Shian?

Hahaaa… Author suka banget nih sama Shian, gegara cakep anaknya. Jadi pengen peluk Papa-nya, *ups*! Peluk Mama-nya *Ups*! Peluk dan cium Shiaaaaan….!!!

Eotte? Eotte?
Ditunggu komentarnyaa yaaa readers ku tercintaa… :* :* :*

Advertisements

20 thoughts on “(Un)Broken Vows (Part 2)

  1. akhirnya updatr juga~ Mmm ada bagusnya ya siwon,nana, sama shian tinggal bareng, semoga cinta nana ama siwon muncul/? Kembali setelah mereka tinggal satu atap, seneng juga liat shian yg udah mulai deket ama siwon, nana ngalah aja yaa~ aku timnya siwon 😘hehe 😀
    Sejauh ini aku suka part ini, semangat ka!^^

  2. akhir y muncul jg nih lanjutan y ..
    seneng sih liat status nawon jd org tua.
    bagus moment y tapi sangat d sayangkan cerita y agak pendek mnurutku.
    udah gitu prcakapan nawon moment romantis y pendek .
    klo bisa alur cerita prcakapan nawon agak banyak y. dan posting y jgn lama”. ya minim dlm 1 minggu ada ff baru.
    maaf y aku cuma bisa ngasih masukan. bukan menjelekan.
    gak mungkin dong aku baca nih ff klo aku gak suka.
    Aku tuh nunggu ini ff lama bgt.
    semangat ya bikin cerita NaWon.
    jgn lama posting y…
    nanti penggemar y pada lari dan lupa sm nih ff Nawon.
    Love u thor and keep writing hehe

  3. Iya, akhirnya muncul juga ffnya perjuangan menunggu ini author. Barusan aku baca nya di awet2 karena ceritanya pendek2 terus.Hehe. maaf
    Aku penasaran kenapa mereka bisa menikah padahal gak ada Cinta, apa karena nana bayar hutang Budi sama bapak nya siwon,? Sekarang cerita nya bukan hanya mereka berdua, ada sudut pandang yg lain. Iya bener author jagn lama2 posting kelanjutan cerita, ntar pada kabur, tapi keep spirit ya. Fighting

  4. Pas buka ini blog ternyata diubah ya min backroundnya, Bagus min suka suka.
    Shiannya berapa tahun sih min lucu banget gtu. wkwkwk
    Belum ngerti sama familia, apaan tuh ? maksudnya kenapa harus pake acara tatto segala ?
    Next min 🙂

  5. Thank you author buat update-annya. Tampilan blognya baru ya? Bagus👍. Walaupun siwon kesannya dingin dan cuek tp kayanya dia sayang banget sama nana dan shian. Aplg pas berdua shian, sweet banget

  6. yeay,,, akhirnya publish juga,,
    mnurut qw ini kurang panjang unn,, hehehe,,
    smoga nana bisa maaf.in siwon,, n smoga siwon gk ngulangi perbuatannya di masa lalu,,
    di tunggu kak part 3 ny,,,
    jgan lama” yy,, hehe,,,
    semangat ,,,

  7. Aaaaaargggggghhhhh cute bnget shian nyaaaa

    Jd canggung bnget ya mereka
    Q milih siwon
    Tp dgn. Catatan mereka harus bersama besarrin shiann

  8. Suka banget sama karakter siwonnya hmm siwon, biking greget yakk kkkk bust ngungkapin perasaan yg sesungguhnya terkadang memang Susan sekali 😂 keep fighting thorr🙌🙌🙌

  9. Baru tau ada nawon couple kkkk~ feel nyaa dpt bgt kak mereka berdua suka deh sama ff ini aplg mereka udh punya baby^^
    Semoga sikap siwon ke nana bakalan lebih baik dari sebelumnya kalau mafia serem ya wkwk tapi klu mafia nya siwon pasti bakalan luluh hatinya klu deket nana:)
    Next chapter jgn lamalama ya kak penasaran shian nyaa main sama siwon lg kek gimana 🙂
    Tapi BWM jgn dilupain atuh hehe
    Aku new readers disini kak salam kenal yaa :))

  10. akhirnya di post juga aku udah nunggu dari kemaren kapan author post un broken vow part 2 nya, dan akhirnya di post juga 😀

    sejauh ini aku suka sama jalan ceritanya. siwon yg pengen deket sama shian dan nana dan berusaha agar berbaikan lagi sama nana…

    tapi ff nya kurang panjangggg huhu 😥 😀

    panjangin lagi ya thor ceritanya 😀 di tunggu part 3nya

  11. Keren kak. Tambah bikin penasaran. Rupanya nana dari kalangan orang biasa2 aja, dikirain sama kayak siwon karna ada tato-nya. Ngeri juga jadi nana, gak bisa lari dari siwon. Shian-nya juga lucu, cuma kurang kata2 anak bayinya kak. Cerita terlalu sedikit kak, jadi penasaran dg kelanjutannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s