Be With Me (Part 8)

20150308_1_1

“Untukmu,” lanjutnya, seraya menyerahkan keranjang bunganya pada Nana. Nana menerimanya dengan senyuman bahagia.
“Terima kasih Oppa,” jawab Nana lalu berjinjit mencium pipi Siwon. Siwon tersenyum lalu menatap wajah Nana yang juga sedang menatapnya.
Tiba-tiba, tubuh Siwon membeku melihat tatapan Nana padanya. Sebuah kenyataan menghantamnya. Kenyataan yang membuatnya bahagia, namun pada waktu bersamaan menorehkan luka di hatinya.

_oOo_

“Oppa, waegeurae?” tanya Nana ketika melihat Siwon diam saja, namun raut wajahnya berubah gelap. Siwon hanya menggeleng, lalu mengecup dahi Nana.
“Makan malamnya sudah siap?” tanya Siwon, mengalihkan pembicaraan Nana. Nana mengangguk semangat, lalu menggandeng tangan Siwon ke ruang makan.
“Duduklah. Kali ini Bibi memasak cumi….” Nana menyuruh Siwon duduk, sedangkan ia membuka penutup hidangan seraya menjelaskan satu persatu hidangan yang ada di depannya. Namun, tidak satupun yang masuk dalam telinga Siwon. Lelaki itu terus memperhatikan gerak-gerik Nana dengan pandangan pilu.
Kau mengatakan kau mencintaiku, Nana… benarkah? Apa cinta itu? Mengapa kau bisa mengatakan bahwa kau… mencintaiku? Apa aku pantas menerima cintamu? Apa yang kau harapkan sebagai balasan atas perasaanmu? Apakah aku pantas mendapatkan perasaan tulus itu darimu, sedangkan aku tidak tahu apa itu cinta? Apakah kau masih akan bersikap seperti ini padaku ketika kau tau aku tidak bisa memberikan apa-apa padamu? Apakah dia akan pergi dari sisiku? Tidak, Nana! Apapun yang terjadi, kau harus tetap disampingku. Aku tidak peduli tentang apapun, kecuali satu, kau milikkku, dan tidak akan pernah lepas dari genggamanku!
Tiba-tiba Siwon bangkit lalu meraih pinggang Nana, membalikkan tubuhnya hingga menghadap Siwon. Nana terhenyak kaget. Nana baru membuka mulut untuk protes, namun ia urungkan melihat keseriusan di wajah Siwon.
“Nana, kau mencintaiku kan?” tanya Siwon dengan suara jelas seraya menatap Nana dalam.
“Tentu. Aku sudah mengatakannya, bukan?” jawab Nana.
“Kau tidak akan meninggalkanku, kan? Apapun yang terjadi?” Nana mengerutkan kening mendengar pertanyaan Siwon.
“Oppa, apa yang terjadi? Mengapa kau…”
“Jawab Nana!” Nana sedikit kaget ketika Siwon memotong kalimatnya dengan tegas. Nana tersenyum lalu merangkum wajah suaminya dengan kedua tangannya, kemudian membalas tatapan Siwon lembut.
“Tidak Oppa. Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku tidak akan pergi dari sisimu, kecuali kau menginginkanku pergi.”
Siwon menggeleng. “Tidak Nana. Aku tidak mungkin membiarkanmu pergi. Kau harus berjanji, kau akan selalu disisiku, dan tidak akan pergi meninggalkanku, apapun yang terjadi. Kau janji?”
Nana mengangguk. “Ya. Aku berjanji,”
Siwon menghela nafas lega. “Gomawo,” bisiknya, lalu mencium istrinya, mengikat janji di antara mereka berdua.
_oOo_
Nana menatap lampu kota di malam hari yang jauh di sana dengan tatapan kosong. Pikirannya menerawang, mengingat sikap Siwon tadi. Apakah mungkin Siwon merasa insecure setelah tragedi yang menimpa Nana? Apakah itu alasan Siwon memastikan perasaan Nana padanya dan membuat Nana berjanji untuk tidak meninggalkannya? Jika memang karena tragedi malam itu, bukankah mestinya Nana yang melakukan hal itu? Memastikan perasaan suaminya tidak berubah padanya dan meminta lelaki itu untuk tidak meninggalkannya, bukan? Nana menggeleng.
“Aku tidak perlu mencari-cari alasan mengapa Oppa seperti itu. Yang penting, aku harus meyakinkannya, bahwa aku benar-benar mencintainya dan tidak akan meninggalkannya,” batin Nana.
_oOo_
“Bagaimana? Enak?” tanya Nana pada Siwon begitu suaminya itu mencicipi makanan yang ia bawakan. Saat ini mereka sedang makan siang bersama di kantor Siwon. Nana sengaja menyempatkan waktu untuk makan siang bersama Siwon di antara kesibukannya bekerja, mengurusi beberapa hal yang terpaksa tertunda akibat beberapa hari ia tidak masuk. Setelah membujuk Siwon beberapa kali untuk mengizinkannya bekerja, akhirnya suaminya itu pun memberikan izin, tentu saja disertai seperangkat peraturan, diantaranya harus selalu ditemani sopir dan seorang pengawal terlatih. Nana dengan mudah menyetujui persyaratan Siwon, karena ia sedang berusaha keras mengembalikan kepercayaan Siwon padanya.
“Ya. Kau memang sangat pintar memilih makanan,” puji Siwon. Nana tersenyum kecil. Sedikit rasa menyesal terbersit di hatinya. Seandainya saja aku membawa masakanku sendiri, batinnya. Ia mengerti Siwon bermaksud memujinya, namun Nana ingin memberikan segalanya semaksimal mungkin untuk suaminya.
Nana menatap suaminya yang sedang menikmati makanannya. “Ehm, ngomong-ngomong, hari ini Oppa pulang jam berapa?”
“Eum, seperti biasa. Aku tidak mau lembur lagi malam ini.”
Nana mengangguk. “Kau ingin makan malam apa? Aku akan memasakannya,”
Siwon mengunyah makanannya seraya berpikir. Sejenak kemudian ia menggeleng. “Tidak ada. Apa saja yang kau masak, akan aku makan,” jawab Siwon seraya tersenyum. Awalnya, Nana ingin memaksa Siwon menjawab dengan spesifik. Namun, ia urungkan melihat Siwon yang fokus melahap makanannya. Nana tertawa kecil melihat Siwon yang makan dengan lahap, seolah tidak makan selama dua hari.
“Oppa, kau mau menambah makanannya?” tanya Nana. Siwon menatap Nana heran. Nana tertawa kecil menyadari maksud tatapan Siwon. “Kau makan sangat lahap. Kalau Oppa ingin menambah makanan, Oppa bisa mengambil punyaku,” jelas Nana.
Siwon tersenyum. “Sayang, nafsu makanku meroket karena istriku yang cantik tetapi sibuk membawakanku makanan yang lezat dan menemaniku makan siang. Ini kesempatan yang langka, bukan?” Nana tertawa mendengar jawaban Siwon. Siwon bermaksud menggodanya. Namun, gayanya yang kaku dan kalimatnya terdengar aneh. Suaminya memang bukan tipe lelaki penggoda yang terbiasa mengatakan kata-kata manis. Namun entah mengapa, inilah yang membuat Nana jatuh cinta. Siwon menunjukkan perasaannya dengan sikap, bukan kata-kata.
“Wae? Mengapa kau tertawa?” tanya Siwon heran.
“Aku senang karena suamiku yang tampan tetapi kaku, baru saja menggodaku,” jawab Nana lalu mengedipkan matanya, balas menggoda Siwon. Siwon menghela nafas. Sebuah perasaan asing membuncah di dadanya. Ia tidak dapat berkata-kata, hanya menatap Nana gemas.
_oOo_
“Lalu, kapan dia dijadwalkan untuk kesana?”
“Nyonya Besar sudah bisa pergi mulai besok lusa, Tuan,”
“Baguslah. Semakin cepat, semakin bagus. Kau boleh pergi sekarang,”
Nana tetap berdiri di depan pintu ruang kerja Siwon walaupun mendengar Junho melangkah keluar ruangan. Tangannya mencengkeram erat mug berisi susu hangat yang ia bawakan untuk Siwon.
Pintu yang awalnya hanya terbuka sedikit pun bergerak melebar. Junho tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya melihat Nana sudah berdiri di depannya. Ia pun segera membungkuk. Nana mengangguk lalu bergeser, memberi jalan untuk Junho. Junho pun seger pergi, meninggalkan Nana yang tengah menatap Siwon tajam.
“Sayang, sejak kapan kau disana?” tanya Siwon tenang. Walaupun sempat kaget, seperti biasa, ia bisa langsung mengontrolnya. Nana berjalan mendekati Siwon tanpa melepas pandangannya. Tepat sebelum Nana tiba di depannya, ponsel Siwon berdering. Siwon mengecek id penelfon, lalu menjawabnya.
Nana meletakkan mug yang ia bawa di depan Siwon, lalu menatap Siwon. Amarah nampak jelas di matanya. “Kita bicarakan di kamar!” ujar Nana tegas, kemudian berbalik. Siwon menatap punggung Nana yang menjauh kemudian menghilang dibalik pintu. Ia pun menghela nafas. Perang dunia ketiga pun dimulai.
_oOo_
Siwon membuka pintu kamar dan melihat istrinya duduk bersandar pada headboard ranjang. Siwon berjalan mendekat, lalu duduk di depan Nana.
“Apa yang kau lakukan pada Eomoni?” tanya Nana membuka percakapan.
“Apa maksudmu, Nana?”
“Kau tau maksudku, Oppa. Kau ingin membawa Eomoni pergi, bukan? Katakan, kemana kau akan membawa Eomoni? Apa yang akan kau lakukan padanya?”
Siwon mengerutkan keningnya. Cepat atau lambat, Nana pasti akan mengetahui rencananya. Tetapi Siwon ingin menyusun penjelasan dulu kepada Nana, alasan ibunya tidak tinggal di rumah lagi. Dan pastinya, ia tidak ingin bertengkar dengan Nana.
“Eomma akan di bawa ke Gyeongsang dan menempati villa di sana,” jawab Siwon singkat.
“Mwo? Bersama siapa Eomoni tinggal di sana? Mengapa Eomoni harus tinggal di sana?”
“Ada perawat yang akan merawat dan menemaninya. Aku melakukannya untuk kebaikan kita semua. Aku tidak ingin dia mencelakaimu,”
“Mencelakaiku? Oppa, itu alasan yang mustahil! Jangankan mencelakaiku, selama ini Eomoni selalu menjauhiku. Dia langsung pergi begitu melihatku. Mana mungkin Eomoni mencelakaiku, eoh?”
Aku tidak ingin ia mengatakan yang sebenarnya padamu, Nana! Aku tidak ingin kau mempercayainya lalu meninggalkanku! Teriak Siwon dalam hatinya. Namun, sebisa mungkin ia mengontrol diri.
“Keputusanku sudah bulat, Nana. Eomma akan berangkat besok lusa,” jawab Siwon, menutup perdebatan mereka, lalu bangkit dan berjalan menuju kamar mandi.
“Berikan aku alasan yang masuk akal, Oppa, baru aku akan membiarkan Eomoni pergi,” ujar Nana seraya bangkit. Siwon berhenti lalu menghela nafas.
“Apa hanya karena kau menganggapnya berbahaya lalu kau menyingkirkan Eomma?”
Siwon meletakkan kedua tangannya di pinggang, lalu menunduk.
Nana menatap punggung Siwon. Bahu lelaki itu bergerak karena berusaha mengendalikan diri. “Apakah kau juga akan menyingkirkanku jika kau menganggapku berbahaya, walaupun kau tidak punya bukti dan alasan yang jelas?”
Siwon langsung membalikkan badan mendengar kalimat terakhir Nana. lelaki itu menatap istrinya tajam, “Nana!”
“Kau tau, kau membuatku takut kau akan menyingkirkanku seperti ini, Oppa. Kau membuatku berpikir untuk pergi, sebelum kau menyingkirkanku seperti kau menyingkirkan Eomoni, ibumu sendiri!” Ujar Nana dengan suara bergetar menahan tangis. Detik berikutnya, Nana berjalan melewati Siwon menuju ke kamar mandi. Nana pun menutup lalu mengunci pintu kamar mandi.
Siwon terpaku di tempatnya mendengar apa yang baru saja Nana katakan. Ia ingin menahan Nana ketika wanita itu melewatinya, namun badannya kaku. Seluruh saraf tubuhnya seakan mati. Ketakutan itu kini datang lagi. Ketakutan itu kini melumpuhkannya lagi.
_oOo_

Nana mengeringkan wajahnya dengan handuk. Walaupun matanya masih sembab, setidaknya hatinya mulai tenang. Konfrontasinya dengan Siwon menguras banyak tenaga dan emosinya. Rasa penasaran, rasa kasihan, dan rasa sayangnya pada Ibu Siwon membuat Nana terbakar emosi begitu mendengar rencana Siwon.
Nana menggantung handuk yang sudah ia pakai lalu membuka pintu dan… deg!
Hatinya mencelos melihat pemandangan di depannya!
Siwon berlutut di depan kamar mandi dengan menundukkan kepala!
“Oppa! Apa yang kau lakukan?” seru Nana. Nana menunduk lalu memegang bahu Siwon, menarik tubuhnya untuk berdiri.
“Bangun Oppa! Mengapa kau berlutut seperti ini?” Siwon tidak bergerak. Usaha Nana menarik tubuh Siwon pun nihil. Tenaga Nana tidak ada apa-apanya dibandingkan Siwon.
“Oppa…”
“Jangan tinggalkan aku, Nana! Kau sudah berjanji kau tidak akan meninggalkanku! Jangan tinggalkan aku, Nana!” Gerakan Nana terhenti. Nana terpaku mendengar suara Siwon yang bergetar dan serak. Nana langsung berlutut di depan Siwon lalu mengangkat wajah suaminya dengan kedua tangannya.
“Oppa…” ujar Nana pelan melihat air mata di wajah Siwon. Siwon menangis! Suaminya yang keras dan tangguh menangis! Ini pertama kalinya Nana melihat Siwon menangis, dan hal ini berhasil menorehkan kepiluan di hatinya.
“Aku berjanji akan melakukan apapun untukmu Nana, asalkan kau tidak meninggalkanku! Aku bisa gila jika kau pergi Nana! Tidak, jangan pergi! Aku akan menceritakan semuanya, Nana! Aku berjanji! Tapi kau tidak boleh pergi!”
Nana perlahan menarik Siwon ke pelukannya, meletakkan kepala Siwon di bahunya. “Aku tidak akan pergi, Oppa! Aku sudah berjanji padamu, dan aku akan menepatinya,” bisik Nana di telinga Siwon, pelan namun jelas. Siwon lalu melingkarkan tangannya di pinggang Nana dan memeluk istrinya itu dengan erat.
_oOo_
Siwon duduk bersandar pada headboard ranjang. Wajahnya menunduk, tangannya melingkari kedua lututnya yang tertekuk di depan dada. Nana duduk di sampingnya dengan sabar, menunggu lelaki itu bercerita.
“Aku bukan pembunuh, Nana! Aku tidak pernah membunuh siapapun!” Kalimat pertama Siwon berhasil membuat Nana terkejut dan takut. Ia berusaha mengendalikan emosinya dan melawan rasa takutnya. Berdua saja dengan seorang lelaki yang emosinya sedang tidak stabil dan lelaki itu jauh lebih kuat darinya, tentu saja sangat berbahaya. Namun Nana percaya, Siwon tidak akan menyakitinya.
Nana memegang bahu Siwon dan meremasnya lembut. “Aku percaya padamu, Oppa, sekarang ceritakan pelan-pelan,” ujar Nana. Siwon menoleh dan menatap Nana selama beberapa detik, kemudian menunduk kembali. Hati Nana seakan diremas melihat kerentanan Siwon.
“Sejak kecil Appa selalu bersikap berbeda padaku. Ia selalu mengabaikanku dan menghukumku ketika aku berbuat salah, padahal itu hanya kesalahan kecil. Berbeda dengan Hyung. Appa sangat menyayangi Hyung. Ia selalu bersikap baik padanya dan menuruti apapun yang Hyung inginkan. Eomma, walaupun ia tahu sikap Appa padaku, Eomma tetap diam saja, tidak mencoba membelaku atau melakukan sesuatu.
“Namun Hyung sangat baik padaku. Hanya dia yang peduli padaku. Dia selalu memberikan apa yang aku butuhkan, yang tidak bisa aku dapatkan dari Eomma ataupun Appa. Hyung juga sangat melindungiku. Aku sangat menghormati Hyung-ku. Aku juga menjadi sangat tergantung padanya. Aku tidak memiliki teman-teman sama sekali karena aku selalu mengikuti Hyung. Aku hanya percaya padanya.”
“Ketika aku SMP, ada segerombolan iljin dari SMA yang mengangguku. Mereka tau aku berasal dari keluarga kaya dan tau aku selalu menyendiri. Mereka selalu menekanku dan mengancamku. Aku harus selalu memberi mereka uang. Jika tidak mereka akan memukuliku dan mem-bully-ku. Aku tidak pernah mengatakan ini pada siapa pun, karena aku tau orang tuaku tidak akan menanggapinya. Aku juga tidak mengatakan pada Hyung, karean aku ingin Hyung juga percaya padaku, bahwa aku juga bisa mengurus masalahku sendiri. Sampai suatu hari…”
Siwon menghentikan kalimatnya sejenak. Ia menunduk semakin dalam. Rahangnya mengeras. Tubuhnya gemetar. Nana memandang Siwon dengan berkaca-kaca. Ia tahu ini sangat sulit bagi Siwon. Namun, sekarang adalah waktunya Siwon membuka lukanya. Setelah ini, Nana berjanji akan mencari cara untuk mengobati luka Siwon, suaminya.
“Suatu hari, ketika pulang sekolah mereka kembali mencegatku dan membawaku ke gudang yang berada agak jauh dari sekolah. Saat itu, aku sudah lelah menghadapi mereka, jadi aku melawan. Namun, mereka memukuliku dan mengancamku dengan pisau. Aku tidak bisa apa-apa. Mereka menahan kedua tanganku dan memukuliku. Saat itu, tiba-tiba Hyung datang karena temannya melihatku sedang diganggu. Hyung langsung melawan mereka. Namun kami kalah jumlah, Hyung dan aku babak belur.
“Mereka mengaduk-ngaduk tas kami, kemudian mereka menemukan ponsel Hyung yang sedang merekam suara kejadian tadi. Mereka marah. Mereka menendang dada Hyung dan mengeroyoknya. Saat itu aku bingung. Jika aku melerai mereka, mereka akan menyerangku. Jadi, saat itu aku lari diam-diam. Aku meninggalkan Hyung untuk mencari pertolongan. Namun, saat aku kembali semuanya sudah… semuanya sudah terlambat. Hyung meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit karena pendarahan di bagian dalam tubuhnya.”
“Sejak itu, semua menyalahkan aku, Nana! Mereka mengatakan aku yang membunuh Hyung! Karena aku! Karena aku meninggalkannya!”
Siwon meremas rambutnya dengan kedua tangannya. Tubuhnya bergetar hebat. Nana membelai pundak dan punggung Siwon dengan lembut. Tanpa Siwon ketahui, kini air mata Nana sudah mengalir di pipinya.
“Setelah itu semua, semua semakin parah. Appa sering mabuk, kemudian memukuliku, melampiaskan amarahnya padaku. Sedangkan Eomma hanya diam menyaksikan perilaku Appa. Eomma juga terus menerus menyalahkanku, mengatakan aku penyebab semua kekacauan ini. Hingga akhirnya, beberapa bulan kemudian aku tau, aku bukan… Aku bukan anak biologis dari Appa. Aku anak hasil perselingkuhan Eomma,”
Nana membelalak. Apa aku tidak salah dengar? Siwon Oppa bukan anak…
“Benar Nana, aku bukan anak keluarga Choi! Aku bukan Choi Siwon. Aku tidak tahu siapa ayahku yang sebenarnya,” lanjut Siwon, seakan mengerti pertanyaan Nana.
“Kemudian, aku memutuskan untuk ke Amerika dan menyelesaikan sekolahku di sana. Aku tau, jika aku terus disini, aku bisa mati perlahan-lahan, Nana! Aku ingin sedikit bernafas dan pergi dari ruangan sempit dan gelap yang selama ini menyiksaku. Aku berjuang menata hidupku kembali di sana. Aku mengunjungi psikiater untuk menyembuhkan traumaku. Aku berusaha keras mengendalikan diriku, Nana. Aku berusaha keras untuk tetap hidup.
“Setelah menyelesaikan kuliah dan terapiku, aku kembali pulang. Saat itu, kondisi Appa sudah sakit keras. Depresi Eomma pun semakin parah ketika Appa meninggal. Sejak itu, aku mengendalikan segalanya, Nana. Aku tidak mau masa laluku merusak apa yang ku miliki. Masa lalu yang nyaris membunuhku. Aku ingin menguburnya, Nana! Aku tidak ingin sampai kau mengetahui segalanya kemudian meninggalkanku! Aku melakukan semua ini untuk melindungimu! Melindungi pernikahan kita!”
“Oppa, lihat aku!” potong Nana. Namun Siwon tidak begerak. Nana menggeser duduknya hingga berada di depan Siwon lalu mengangkat wajah Siwon dengan kedua tangannya.
“Oppa, tatap aku!” ujar Nana lembut. Perlahan, Siwon mengangkat pandangannya. Nana menunggu hingga Siwon benar-benar menatapnya.
“Oppa, aku tidak akan meninggalkanmu. Walaupun kau sering over protektif padaku, walaupun aku terkejut mendengar ceritamu, tetapi semuanya tidak mengubah apapun. Aku mencintaimu, Oppa! Setelah mendengar ceritamu, aku semakin bangga padamu! Kau bisa melewatinya semuanya sendiri. Kau bisa bangkit. Kau hanya perlu memberikan sedikit kepercayaanmu pada orang lain. Jangan memendam semuanya sendiri. Sekarang, aku sudah mendengar semuanya. Aku percaya kau tidak akan menyakitiku. Aku juga percaya kau akan menjagaku dan keluarga kita, dan aku sudah berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu. Percayalah padaku! Apa kau percaya padaku, Oppa?”
Siwon menatap kedua mata Nana yang memancarkan ketulusan. Ketulusan itulah yang selama ini menjadi lentera dalam kehidupan Siwon yang kelam. Dan Siwon yang selama ini hidup dalam kegelapan tidak ingin melepas lentera itu. Bagaimana mungkin seseorang yang selalu hidup dalam kegelapan akan melepaskan sebuah lentera yang berada di tangannya?
Siwon mengangguk yakin. Tidak pernah ia seyakin ini sebelumnya. “Ne, aku percaya padamu,” jawab Siwon, pelan namun jelas. Nana tersenyum lalu mencium kening Siwon, kedua pipinya, lalu berakhir di bibir lembut suaminya itu.
_oOo_

To Be Continued…
Hallllooooooo readers setiaku! Readers kesayanganku!
Gimana yang part ini???
Sudah terjawabkah rasa penasarannya?
Ditunggu komennya ya!

Advertisements

30 thoughts on “Be With Me (Part 8)

  1. Ohh jadi begini toh masa lalu siwon, kedua orang tuanya nyalahin siwon gara2 hyungnya meninggal, gimana siwon ga trauma 😒 semoga siwon cepet2 bales perasaan cinta nana dan sadar kalo sebenernya dia juga cinta ama nana tapi ketutup sama rasa masa lalunya/? Aja, semangat buat part selanjutnya kaa 😊

  2. Kasian siwon masa lalunya menyedihkan gitu. Nana udah blg kalo dia cinta siwon tp siwonnya blm pernah blg kl dia jg cinta ya?

  3. kasihan siwon hidup dg bayang masa lalu,sebenarnya siwonnya cinta ga ke nana? ok ditunggu part selanjutnya tapi ga pake lama yah wkwkwk #maksa.com

  4. Oh….jdi siwon punya trauma masa kecil dibalik sikapnya yg dingin…eonni bikin nana hamil dong..pengen liat siwon yg protektif ama nana…😄

  5. Ya ampunnnnn

    Keras bngettt khidupannya
    Anak dr hasil seligkuh juga

    Nana please bntu won
    Di part inii cm sdikit scene romance ya ??

    Tp ppuas udh terKuak

  6. Ibunya kok gak tanggung jawab gitu, Siwon kan anak kandungnya.
    Trauma Siwon jadi kebawa ke sikapnya. Suka bgt ama Nana, dapat menguatkan dan mencintai Siwon apa adanya.
    Jadi makin greget ma couple ini…tambahin scene romancenya eon, kurang banyak,
    Selalu merindukan BWM..hehehhe. Ditunggu partisipasinya selanjutnya kak.

  7. Halooo kak… udah lama banget ga baca labjutan ff ini. Eh taunya las td iseng buka udah ada lanjutannya sampe part 8 hehe..

    Jadi karena itu siwon jd agak aneh kek gini :/ kasian juga ya siwon waktu kecil gak dianggep sama appa omma nya ㅠㅠ
    Cerita ff ini masih panjabg ataukah sudah hampir mendejati ending kak? Pengen baca ff NaWon yg ceritanya si Siwon itu nappeun namja dan Nana jd gadis sederhana yg polos. Semoga di next ff kakak ada karakternya NaWon yg aku pengenin di atas huehehehe

    1. Halloooo… Mian ya kalau lama.. At least, ga sampe menunggu berbulan2 kan yg ini? Hehee…

      Iyaa… Bwm ini sudah mendekati ending. Tapi tenang aja, author udah nyiapin penggantinya, kok 😁

      Oya, ada ide cerita ga? Kalau ada di share doong… 🙏🏻

      Btw, nawon juga ada di ig loh! Ayo difollow juga. Ada banyak bukti kalau nawon itu real! Ga percaya? Cek ig nya yaa… 🙏🏻

  8. Yang puuuuuaaaaaannnnjjjjaaaaanggggggggggg.
    right! ahaahhahaha itu pan yg dimaksud komen yg panjang kak? kkkkk

  9. Yang puuuuuaaaaaannnnjjjjaaaaanggggggggggg.
    right! ahaahhahaha itu pan yg dimaksud komen yg panjang kak? kkkkk

    #JanganLupaFollowAkunIG nya yah #bow

  10. aigoo ternyata begitu masa lalunya siwon…
    gimana siwon ga trauma org di pukulin terus sama appanya…
    semoga siwon cepet sadar ama perasaannya ke nana dan semoga ada little choi :3

  11. author ayo dong di post lanjutan cepter nya hiks hiks terlalu lama menunggu ini penasaran banget please thor yang baik hati dan tidak sombong rajin menabung pula hihihi -_- 😀

  12. Aigoo..aku lupa udh ketinggalan ff ini dr part 2 terakhir aku baca. Dan bahkan sampe lupa username comment aku:(
    Jd itu toh penyebab siwon jd org misterius. Trs jd gmn nih? Emg skrg tinggal siwon-nana- ibu siwon? Gaada cast lain?
    Ditunggu pokonyaaa

  13. ADUH …… KEMANA AJA NI AUTHOR…
    saya slalu tunggu ni blog NaWon.
    wah pokk y saya gak bisa nunggu lama lg …
    saya slalu nunggu ni blog ..
    meskipun saya sifany dan nawon shipper.
    tp yg jlas wonpa hrs married d antara mreka .
    mau sama nana atau tiffany .
    pokok y hrs d antara mreka (maksa)
    Yadah smangat buat nulis ff yg slanjut y yahh …
    saranghae ♥♡

  14. Walau bukan anak kandung seharusnya orang tua siwon tetap bisa berlaku adil. Kasian nasib siwon kecil. Dan kenapa juga ibunya tidak bisa melindungi anaknya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s