Be With Me (Part 6)

20150308_1_1

“Aku lelah, aku tidak mau membahasnya. Jangan pernah membahas ini lagi,” potong Siwon dingin, seraya berlalu melewati Nana.
“Geurae! Aku akan terus menemui Eomoni sebelum kau menjelaskan apa alasanmu melarangku berinteraksi dengannya!”
“NANA!!!” Nana tersentak dan dengan refleks menjatuhkan piring yang ada di tangannya. Nafasnya tersengal karena kaget, tidak menyangka Siwon berteriak padanya. Nana mundur beberapa langkah dengan memegang dadanya yang masih berdebar, kemudian berhenti di samping sofa. Ia bertumpu pada sofa dengan sebelah tangannya yang bebas. Beberapa kali ia menarik nafas untuk menenangkannya.


Siwon terpaku di tempatnya melihat reaksi Nana, tidak menyangka reaksinya akan seperti itu. Ia tidak bermaksud berteriak pada istrinya itu, hanya saja ia tidak bisa menahan dirinya ketika melihat Nana begitu gigih mendekati ibunya, dan segala ketakutan Siwon pun langsung menyerangnya. Tidak! Ia tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi!
Siwon masih berdiri di tempatnya. Pandangannya tidak lepas dari Nana. Istrinya itu masih berdiri dengan tubuh gemetar dan bertumpu pada sandaran sofa. Siwon mengambil beberapa langkah besar, mendekati Nana, lalu menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Tidak ada penolakan, namun Nana juga tidak menyambut pelukan itu. Ia hanya diam di dalam pelukan Siwon.
“Sayang, kau baik-baik saja?” tanya Siwon, sarat kekhawatiran.
Nana tidak menjawab. Siwon mengangkat wajah Nana dengan sebelah tangannya.
“Nana?!” Seru Siwon khawatir melihat tatapan Nana yang terlihat bingung dan ketakutan. Nana menunduk dan meletakkan kepalanya di dada Siwon. Ia melingkarkan tangan kanannya ke pinggang Siwon, memeluknya dengan erat, seolah mencari tumpuan, sedangkan tangan kirinya meremas bagian depan jas Siwon seraya memejamkan matanya erat.
“Nana??” tanya Siwon khawatir, namun tidak merubah posisinya.
“Chamkanman,” gumam Nana pelan. Siwon menghela nafas lalu mengeratkan pelukannya, dan memberikan Nana waktu memulihkan kondisinya.
_oOo_

Setelah beberapa saat, Nana perlahan melonggarkan pelukannya.
“Nana, gwaenchana?” Nana mengangguk lemah.
“Aku akan membawamu ke atas,” lanjut Siwon. Tanpa menunggu persetujuan Nana, Siwon mengangkat tubuh istrinya itu dan membawanya ke kamar mereka. Siwon pun menurunkan tubuh Nana perlahan, membaringkannya di ranjang. Siwon pun duduk di samping tubuh Nana, sehingga mereka berhadapan.
“Sayang, kau baik-baik saja? Apa yang terjadi padamu, eo?” tanya Siwon lembut, namun sarat kekhawatiran.
“Gwaenchana. Tadi… penyakit vertigo-ku kambuh,” jawab Nana pelan.
“Vertigo?” Nana mengangguk. Siwon menghembuskan nafas kasar lalu meraih Nana ke dalam pelukannya.
“Maafkan aku, Sayang. Seharusnya aku tidak berlaku kasar padamu. Seharusnya aku lebih berhati-hati,” bisik Siwon, tulus.
“Gwaenchana, Oppa…”
“Mianhae…” lanjut Siwon lalu mencium puncak kepala Nana lalu melepaskan pelukannya.
“Maafkan aku juga, Oppa, seharusnya aku bisa bicara baik-baik denganmu,” jawab Nana seraya menangkup wajah Siwon dengan sebelah tanganya.
“Gwaenchana. Sekarang Kau harus istirahat. Jangan melakukan apapun sampai makan malam siap!”
Nana tersenyum, “Tidak Oppa, aku harus menyiapkan makan malam untukmu. Aku…”
“Nana…” potong Siwon penuh peringatan.
“Baiklah. Tapi, aku punya satu permintaan padamu,”
“Permintaan? Apa?”
“Eummm… tolong jelaskan padaku mengapa kau tidak ingin aku dan Eomoni saling berinteraksi? Kau ingin kami saling menjauh?” Siwon menatap Nana tajam. Ia tidak menyangka Nana masih menanyakan masalah ini setelah apa yang terjadi barusan.
“Oppa, jebal…!” mohon Nana pada Siwon, seraya menggenggam tangan suaminya itu. Siwon menghela nafas lalu menatap lurus ke depan.
“Dia mengalami depresi berat sejak kematian hyung dan aboeji. Dia pernah melukai dirinya sendiri, bahkan orang lain, terutama orang yang baru dia kenal. Dia juga suka mengatakan hal-hal yang aneh. Banyak orang yang mempercayai apa yang dia katakan, karena mereka menganggap itu berasal dari alam bawah sadarnya, dan apa yang berasal dari bawah sadar, itulah yang sebenarnya terjadi. Aku hanya tidak mau kau terluka dan… mempercayai apa yang dia katakan,” jelas Siwon. Nana hanya diam mendengarkan penjelasan Siwon. Beberapa saat kemudian, Nana mengusap pundak Siwon, kemudian berkata, “Tenang saja, Oppa, aku tidak akan langsung mempercayai apa yang orang katakan tentangmu. Aku akan mengonfirmasinya dulu kepadamu. Aku adalah istrimu, aku percaya padamu, dan ku harap kau juga mempercayaiku.”
Siwon menghela nafas lalu berbalik ke arah Nana. Ia menangkup wajah Nana dengan sebelah tangannya dan menatap kedua mata indah istrinya itu. Siwon pun lalu mencium kening Nana, lama dan penuh perasaan.
_oOo_
Maaf Oppa, aku tidak bisa makan siang denganmu karena harus menjemput tamu dari Prancis di bandara. Mianhae..

Ne..

Nana menutup telfonnya setelah mengabari Siwon bahwa hari ini ia tidak bisa menemani Siwon makan siang karena ia harus menjemput Fabio Dunn, salah seorang panitia fashion show yang akan mensupervisi persiapannya. Hari ini, Nana harus menjemputnya, karena Soyoung harus meeting dengan vendor yang akan bekerja sama dengan butik mereka. Alhasil, Nana harus menjemput Fabio Dunn sendiri dan mengantarkannya ke hotel tempat lelaki itu menginap selama beberapa minggu ke depan.
Nana berjalan menuju terminal kedatangan dengan membawa selembar poster tertuliskan nama Fabio Dunn. Sebelumnya mereka memang sudah melakukan e-conference, namun Nana tidak yakin bisa mengenali Mr. Dunn di antara kerumunan orang dan dia ingin Mr. Dunn mudah menemukannya.
Setelah beberapa saat menunggu, sesosok pria asing nampak berjalan ke arahnya dengan pasti. Sesosok lelaki tinggi, mengenakan celana jins, kemeja berwarna biru, dan jaket kulit berwarna coklat tua dengan rambut coklat pendek rapi, hidung mancung, kulitnya sedikit gelap karena terbakar matahari, Nana menyipitkan mata, mencoba mengenali pria itu.
“Mr. Dunn?” Sapa Nana, sekaligus memastikan. Pria itu tersenyum lebar dan mengulurkan tangan.
“Yes. You must be Miss Nana Im. You look georgous as the last time I saw you in our conference. It’s nice to meet you in person.” Lelaki itu masih memanggilnya dengan sebutan Miss Nana Im. Ya, saat Nana mendaftarkan event ini ia masih belum menikah, dan Nana juga belum memperbarui informasi pribadinya.
“Thank you, Mr. Dunn. It’s also my pleasure to meet you and have a change to work together. By the way, should we go now?”
“Yeah, of course!”
_oOo_

“Jika kau bertanya asalku, aku tidak bisa menjawabnya dengan pasti. Aku memang tinggal di Paris untuk saat ini, tapi ketika bosan, aku akan pindah ke tempat lain dan mencari hal baru yang menarik dan menantang. Orang tuaku juga berdarah campuran. So, i’m not sure when you asked me about that, Miss Im,” jawab Fabio ketika Nana menanyakan darimana lelaki itu berasal. Nana mengangguk.
“So, now tell me something about yourself. I saw a ring across your finger. Are you married?”
“Oh, yeah! I was married few weeks ago. His name is Choi Siwon, ah, Siwon Choi,”
“Oh, I see. So, now i suppose to call you Mrs. Choi?”
Nana tertawa kecil.
“No, just call me Nana, if you will,”
“Of course not, if you call me just Fabian, too.”
“Okay, then,”
“Good. By the way, what is he doing?” Nana menoleh ke arah Fabian, menanyakan maksud pertanyaannya.
“Your husband,”
“Oh, he’s a bussinessman,”
“Eum, he must be busy,”
“Yeah, most of time,” Fabio mengangguk mendengar jawaban Nana.
“By the way, are we talking about my husband now?” tanya Nana, ringan.
“I just want to know who’s the lucky guy who could have such a gorgeous woman like you,”
Nana tertawa kecil. “I’ll make sure to introduce him to you,”
“I’m waiting for it!”
_oOo_

“Jadi kau menjemput lelaki itu sendirian? Menyetir mobil sendiri? Dan mobil itu adalah mobil Soyoung? Dan kau membohongiku?” tanya Siwon tenang namun dingin, dan berhasil membuat bulu kuduk Nana berdiri.
Nana menghela nafas, perlahan menatap suaminya yang masih menatapnya intens.
Ketika makan malam tadi, Nana menceritakan pertemuannya dengan Fabio Dunn, apa yang mereka bicarakan, memuji Fabio yang easy-going, dan mengajak Siwon untuk mau bertemu dengannya. Awalnya, Siwon menyimak cerita Nana dengan antusias, seantusias wanita itu ketika bercerita. Namun, ketika Nana tidak sengaja menceritakan bahwa ia menjemput Fabian sendiri, ekspresi laki-laki itu berubah. Nana terus bercerita tanpa menyadari perubahan Siwon. Baru ketika mereka selesai makan, Siwon langsung mengajaknya ke kamar, dan di sinilah mereka sekarang, Siwon menatap Nana yang berdiri sekitar dua meter di depannya dengan intens, berbicara dengan tenang namun dingin, membuat Nana merasa seperti anak kecil yang tertangkap basah mencuri permen di toko.
“Oppa, aku melakukannya karena tidak ada yang bisa aku ajak. Soyoung harus meeting dengan vendor, jadi aku tidak bisa mengajaknya,”
“Kau bisa menelfon sopir Nana kita, Nana. Kau juga bisa meminta Soyoung menggantikanmu, dan kau menggantikannya,”
Nana menghela nafas lagi, mencoba mendinginkan hatinya yang mulai panas.
“Oppa, tadi aku terburu-buru dan tidak mungkin menelfon sopir karena jika aku menunggunya, pasti aku akan terlambat. Aku juga tidak bisa menggantikan Soyoung karena dia ini adalah jobdesk-nya, dia yang meng-handle dari awal, jadi hanya dia yang mengerti.” Jelas Nana, namun ekspresi Siwon tetap dingin.
“Tapi Nana…”
“Oppa, apa yang kau masalahkan? Aku tidak melakukan kesalahan apapun! Mengapa kau bersikap seolah aku membuat kesalahan yang besar? Aku tidak melakukan apapun dengan Fabio, jika itu yang kau takutkan!” potong Nana tajam, dan berhasil membuat Siwon tersentak.
Ia lelah dengan sikap Siwon. Lelaki itu seakan selalu takut dengan apa yang Nana lakukan. Ia sangat mengontrol Nana seakan Nana akan menghilang begitu ia hilang dari pengawasannya.
“Seakan melakukan kesalahan? Kau memang melakukannya, Nana! Kau membohongiku! Kau mengatakan kau pergi bersama Soyoung!’ Balas Siwon dengan kasar.
“Kau selalu seperti ini! Kau selalu ingin aku di bawah kontrolmu! Kau tidak mempercayaiku, istrimu sendiri!” Nana menjawab keras dengan suara bergetar, menahan air mata yang kini siap mengalir di wajahnya. Bukan pertengkarannya dengan Siwon yang membuatnya sakit, tapi fakta bahwa Siwon tidak mempercayainya.
“Shit!” umpat Siwon seraya meraih Nana ke dalam pelukannya.
“Kau mengendarai mobil Soyoung, Nana, dan aku tidak tahu keadaan mobil itu, apakah mobil itu aman untukmu atau tidak. Kau menyetir sendiri, sedangkan kemarin malam vertigomu kambuh. Dan fikiran mengenai hal-hal buruk yang bisa menimpamu membuatku takut, Nana,” ujar Siwon, mulai lembut. Nana mengangkat wajahnya, menatap Siwon. Sebuah kenyataan menghadirkan sebuah aliran hangat di hatinya.
“Do you worry about me?” tanya Nana, polos.
“Worry? I’m bloody terrified, wife!” Nana tersenyum mendengar jawaban Siwon. Hatinya luluh. Siwon bukan marah padanya. Bukan tidak mempercayainya. Tetapi, lelaki itu mengkhawatirkannya. Ia takut hal-hal buruk terjadi padanya.
Nana membalas pelukan Siwon dan meletakkan kepalanya di dada Siwon, lalu berbisik, “Mianhae, Oppa!”
Siwon membelai punggung Nana dan mencium puncak kepalanya dengan lembut.
_oOo_

“Fukuoka? Sore ini?”

“Aku akan menyelesaikannya dengan cepat, Oppa, jadi aku bisa menyiapkan kebutuhanmu,”

“Aku tahu! Tapi aku ingin bertemu suamiku dulu sebelum dia pergi selama beberapa hari,”

“Eo..”
Flip.
Nana menghela nafas. Setelah meeting bersama Fabio, ia berencana memperkenalkannya kepada Siwon, dan kemudian makan malam bersama. Namun, sepertinya ia harus menundanya. Siwon baru saja menelfonnya dan mengatakan bahwa sore ini dia akan berangkat ke Jepang dan akan menginap di sana selama seminggu.
“Hei, anything wrong?” suara Fabio tiba-tiba menyadarkannya.
Nana menggeleng. “Nope.”
“Are you sure? You look suddenly… different,”
“Eum, my husband is going to Japan and staying there for a week,”
“A week?” Nana mengangguk.
“Well, I have to go home early to pack his bag and attend him, if you don’t mind,”
“Of course not! You can go whenever you want, and meet him. So, he will has no worries leaving you here. I can wait,”
“Oh really?”
“Yeah, for sure. You can go now,”
“Oh, thank you very much, Fabio!” Ujar Nana, lalu bergegas ke ruangannya untuk mengambil tasnya. Fabio mengangguk dan tersenyum penuh arti.
“I can wait for you, Nana. You’re worth the wait!”
_oOo_

Fabio masuk ke ruang meeting dengan menggenggam sebotol wine di tangan kanannya dan dua buah gelas ditangannya yang lain. Ia berhenti di ujung meja, –sekitar setengah meter dari tempat Nana berdiri–, dan menatap Nana yang sedang berdiri, sedangkan badannya condong ke meja, tengah sibuk memeriksa bahan yang akan ia gunakan untuk salah satu bahan rancangannya. Jika dihitung, hari ini adalah hari keempat Nana ditinggal oleh Siwon, suaminya, dan selama ini Fabio sudah mendekati Nana dengan cara yang halus. Jujur saja, sejak pertama Fabio melihat Nana, ia sudah menginginkan wanita ini. Namun, melihat sebuah cincin melingkar di jari manisnya, ia sedikit ragu. Melihat bahwa Nana sangat jarang bertemu suaminya yang sibuk,– menurut penilaian Fabio –, seakan membuka kesempatan kembali untuk menggoda Nana. Nana adalah wanita yang polos, ia mudah tersipu hanya dengan pujian kecil, dan wanita itu terlihat nyaman bersamanya, dan sekarang adalah kesempatannya untuk mendapatkan Nana, seperti keinginannya selama ini.
“Kau terlihat lelah, minumlah sedikit!” ujar Fabio seraya membuka botol wine lalu menuangkannya ke dalam gelas, kemudian memberikannya kepada Nana.
Nana menoleh dan terdiam sejenak, kemudian mengambil gelas lalu berterima kasih.
“Bagaimana, kau sudah mendapatkan bahan yang cocok?”
“Ya, beberapa. Tinggal sedikit lagi.”
“Kau bekerja keras akhir-akhir ini. Kau seharusnya bisa lebih santai. Jangan merusak kecantikanmu dengan bekerja terlalu keras,”
“Heum, ya, sepertinya.” Nana menjawab singkat lalu menggerakkan lehernya untuk merelakskan ototnya.
“Aku bisa membuatmu lebih santai,” ujar Fabio seraya mendekati Nana lalu berdiri di belakangnya.
“Maksudmu?”
Fabio tidak menjawab. Ia memegang kedua pundak Nana dan memijatnya perlahan.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Nana lagi. Jujur, ia merasa sedikit relaks mendapat pijatan di pundaknya, namun ia merasa ini tidak seharusnya dilakukan oleh Fabio, lelaki yang baru ia kenal dan tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya.
“Santai saja, Sayang! Aku bisa membuatmu relaks dan merasa jauh lebih baik,” Fabio berhenti sejenak, lalu melingkarkan tangannya di pinggang Nana. “… jauh lebih baik dari suamimu, yang sering meninggalkanmu,”
Tubuh Nana menegang. Ia paham maksud Fabio. Ia pun memberontak, berusaha melepaskan diri dari pelukan pria itu. Ia menarik tangan Fabio dari pinggangnya seraya bergerak, namun nihil, Fabio jauh lebih kuat darinya. Fabio tertawa melihat usaha Nana.
“Tidak usah berpura-pura menolakku, Sayang! Aku tau kau tertarik padaku!”
“Lepaskan!” teriak Nana seraya memberontak. Fabio hanya tertawa puas.
Nana diam. Ia sadar ia tidak bisa melawan kekuatan Fabio yang secara fisik jauh lebih besar darinya.
“Fabio, aku menghormatimu sebagai rekan kerjaku, dan selama beberapa waktu ke depan, kita memiliki proyek yang harus kita selesaikan bersama. Jika kau melepaskanku sekarang, aku akan melupakan kejadian ini dan kita bisa bekerja sama seperti biasa,”
“Jika tidak?”
“Jika tidak, aku akan…” Nana terdiam. Apa yang bisa ia lakukan? Sekarang sudah larut malam. Semua karyawannya sudah pulang, termasuk Soyoung. Ia juga tidak bersama bodyguard atau sopir, karena ia merasa tidak tega membuat orang lain menunggunya pulang larut malam, walaupun itu adalah pekerjaan mereka.
Fabio tertawa puas. Ia membalikkan tubuh Nana. Ia mengangkat wajah Nana dengan tangan kanannya, memaksa wanita itu menatapnya.
“Apa yang akan kau lakukan Nana? Hanya ada kau dan aku disini,”
“Aku akan melaporkanmu atas apa yang sudah kau lakukan! Kau akan…” Fabio menyeringai mendengar jawaban Nana.
“Hanya melaporkanku? Dengar! Kau membutuhkanku untuk karirmu di Paris. Aku yang menilai pekerjaanmu dan memberikan rekomendasi untuk langkahmu selanjutnya. Jika kau bersikap baik padaku, aku tentu bisa menjamin kau lolos ke tahap selanjutnya!”
Nana membelalak. Emosinya memuncak! Lelaki ini sudah sangat merendahkannya. Ia mengira Nana akan menjual kehormatannya demi sebuah show di Paris? Tidak akan! Tidak akan pernah!
“Lepaskan! Kau tidak akan pernah mendapatkan apa yang kau inginkan!” ujar Nana, memberontak. Fabio tertawa keras lalu mendorong tubuh Nana sehingga tubuh Nana menabrak meja.
“Jadi ini yang kau pilih? You’ll see, woman!” Fabio merunduk, berusaha mencium Nana. Namun Nana terus memberontak dan berteriak meminta tolong. Ia berharap siapapun bisa mendengarnya, dan bayanyan Siwon hadir di benaknya.
Siwon, suaminya.
Kini ia merasa sangat menyesal tidak menuruti semua perkataan Siwon. Siwon yang selalu mengingatkannya untuk tidak pergi sendiri.
Kreeet.
“Toloong!” teriak Nana histeris ketika Fabio menyobek blazernya.
“Teriak saja, Nana! Tidak ada yang mendengarmu!” Nana menangis dan terus memberontak.
“Toloong! Lepaskan! Siwoon Oppa!” Nana sangat putus asa. Ia berharap keajaiban datang. Ia berharap ada yang bisa menyelamatkannya. Ia berharap Siwon datang. Siwon! Ia membutuhkannya!
“Toloong! Tidak! Opppaaa! Tolong aku!”
“Siwon? Kau konyol! Dia tidak akan datang!”
Braaakkk! Pintu terbuka dan dalam hitungan detik Nana terbebas dari Fabio, sedangkan lelaki itu kini menjadi sasaran serangan membabi buta seorang lelaki berkemeja putih, Choi Siwon.
Nana berdiri dan mencelos melihat Siwon yang menyerang Fabio dengan membabi buta. Wajahnya dan matanya gelap, fokus, seperti predator kelaparan yang baru mendapatkan mangsanya. Sungguh, ia tidak menyangka Siwon bisa sebuas ini.
“Oppa, hentikan! Oppa!” teriak Nana histeris. Fabio bisa mati dalam hitungan menit jika Siwon terus menyerangnya seperti itu. Siwon memukuli wajah perut, dan seluruh anggota tubuh Fabio yang bisa dipukulinya. Fabio terus merunduk, antara kesakitan dan berusaha menghindari Siwon. Namun Siwon seakan gelap mata. Ia tidak mendengarkan teriakan Nana, dan ia bahkan tidak melepaskan Fabio sedetik pun!
Ketika Fabio pasrah dan tidak berkutik, Siwon melepaskannya sejenak. Ia mengedarkan pandangannya, kemudian tertuju pada satu benda di meja. Siwon melepas cengkeramannya di kemeja Fabio, membuat lelaki itu jatuh ke lantai. Dengan langkah lebar, Siwon berjalan menuju meja dan meraih botol wine, membenturkannya ke meja hingga ujung botol wine itu pecah, dan menyisakan bagian botol yang tajam di tangannya.
Siwon menatap tajam Fabio yang tengah tersungkur di lantai, dan darah mulai berceceran di dekat lelaki itu. Dengan langkah tegap dan pasti Siwon kembali mendekati Fabio. Menyadari bahaya yang mengancamnya, Fabio berusaha menghindar dengan menyeret tubuhnya, namun itu usaha yang tidak berguna.
“Ini yang pantas kau dapatkan ketika kau menyentuh milikku!” ujar Siwon tajam, dingin, dan penuh amarah. Siwon mengangkat botol wine pecah yang ada di tangannya dan…
“Oppa! Hentikan!” Nana tiba-tiba memeluknya.
Siwon terpaku.
“Oppa, geumanhae! Jebal!” ujar Nana. Siwon menunduk dan melihat Nana, istrinya terisak di pelukannya. Siwon tersentak, seakan baru mendapatkan kesadarannya kembali. Ia melihat Fabio yang terkapar di depannya, kemudian pada istrinya yang tengah memeluknya dari samping.
“Tuan, apa yang…” Junho tiba-tiba datang. Pertanyaannya terhenti melihat pemandangan di depannya. Siwon menoleh kepada Junho, dan menatapnya sejenak. Ia menggerakkan wajahnya ke arah Fabio, mengisyaratkan Junho untuk mengambil alih semuanya.
Siwon beralih kepada Nana. Ia membenarkan blazer Nana, kemudian berjalan dengan mendekapnya erat. Nana memberanikan diri mengangkat wajahnya, menatap wajah Siwon. Pria itu menatap lurus ke depan. Walaupun tidak segelap ekspresinya tadi, Nana tidak bisa mengatakan sekarang Siwon lebih tenang.
Ketika mereka memasuki butik, Siwon berhenti sejenak kemudian meraih jaket terdekat yang bisa ia jangkau, kemudian membuka blazer Nana yang sudah robek dengan yang baru. Seperti sebelumnya, Siwon mendekap Nana dan berjalan menuju mobil mereka yang terparkir di depan pintu. Ia membukakan pintu untuk Nana, Nana pun masuk, kemudian ia masuk dan mempertahankan posisinya kembali, mendekap Nana. Siwon mengisyaratkan sopirnya untuk jalan, tanpa menunggu Junho. Tanpa harus menerima instruksi apapun darinya, Junho sudah tahu apa yang mesti ia lakukan. Sekarang ia hanya ingin segera sampai di rumah, bersama Nana, istrinya.

To Be Continued

 

Annyeong Readers!

Maaf sudah buat readers nunggu lama.

terima kasih banyak buat readerss yang sudah setia menunggu series Siwon Nana. maaf bangt yaa author lama banget ga publish

terima kasih juga atas doa dan dukungan readers untuk kelancaran studi author. alhamdulillah, author sudah lulus, dan wisuda bulan desember ini. author juga sudah dapet kerja. 🙂

Setia terus yaa sama Nawon, jebal! mskipun kerja, author akan tetap nulis series nawon kok. kemarin haitusnya lama karena memang lagi banyak banget yang harus dikerjain. kalau sekarang sudah lumayan. hehee… 🙂 ternyata kerja ga sesibuk kuliah, yaa… 😉

 

Happy reading, Readers tercintakuuu…

ditunggu komennya, yaahh 😉 :*

Advertisements

30 thoughts on “Be With Me (Part 6)

  1. Untung aja
    Ya ampun untung siwon dtg

    Pdhl rncana siwon seminggu

    Kirain td nana mau dibuat mabuk

    Gila tu fabio nya

    Tp untung banget dech……..
    Blm di apa2in n udh ketangkapp basah

    Pnasaran pov siwon

    Gk papa lama

    Aku jg ngerasainnya

    Soalny skrrg aku jg kuliah smbil kerja

  2. Selamat ya author, udah lulus and udah kerja pula. Artinya chapter berikutnya ga selama sebelumnya kan? hehehehehe. Untung siwon keburu dtg nyelamatin Nana ya? Tp bukannya Siwon lg di Jepang ya? Atau ga jadi krn feelingnya kuat?

  3. Wah , akhir nya bisa juga baca kelanjutan FF ini , jujur , aku selalu kunjungi blog eon buat liat kelanjutan ff ini , aku kira gak di lanjutin lg , hehehe
    btw selamat buat graduation nya Desember nanti eon , tetap semangat yah eon buat berkarya slalu utk nulis Ff 🙂

  4. Akhirnyaa dilanjutin juga nih ff kalau bisa part 7 nya yah thor:p

    penasaran sama siwon pov,untung aja siwon dtg klu gk nana…………….

    Oyaa aku juga suka baca semua ff nawon di wp punya author nyampek beulang-ulang 😀

    Dan selamat ya thor sebentar lagi jadi sarjana:)

  5. Akhirnyaa dilanjutin juga nih ff kalau bisa part 7 nya yah thor:p

    penasaran sama siwon pov,untung aja siwon dtg klu gk nana…………….

    Oyaa aku juga suka baca semua ff nawon di wp punya author nyampek beulang-ulang 😀

    Dan selamat ya thor sebentar lagi jadi sarjana:) sukses selalu:)

  6. Syukur dech siwon datang tpt wktu…….ksian nana….hmhmhm mlht suaminy sangar kyk gtu….wah jadi k’inget scene sasuke dpluk sakura hehehe

    Slmt ye kax dh wisuda plus dpt krj lge…..

  7. Akhirnya update juga eon.
    Hah! Makin penasaran nih..siwon bisa datang tepat waktu gitu, kayak punya ikatan batin ma Nana..

    Selamat kak..dah wisuda nih, dah kerja pula.

  8. siwon jujur atau enggak tuh tentang eomma nya ??? masih bingung sih aku nya ,,,
    untung keburu ke tahunan tuh si fabio ,,
    NEXT THORR ,,,

  9. Aduh deg2 gan bacanya. Ceritanya Gak terduga chingu. Wah keajaiban author memang yg terbaik. Kayanya setelah insiden ini nana gak bakalan di izinin kerja lagi dah sama siwon. Tapi aku suka2 walaupun nunggu nya bisa ampe jamuran. Tapi tetap semangat chingu. Selamat ya..atas kelulusan nya terus dapet langsung kerja lagi. Semoga ilmunya bermanfaat. Faighthing.. kiss2 and hug

  10. Akhirnya dipost juga ff selanjutnya hehehe. Thor sebenernya disini aku masih bingung karakter siwon yg sebenernya itu gimana dan yg disembunyiin sama dia itu apa,trus soal ibunya juga aku masih bingung. Semoga nanti lama2 semuanya terungkap ya:)

  11. Untung aja siwon cepet dateng, kalo engga nana udah habis tu ama fabio.
    Tapi siwon bakal marah ga ya ama nana abis kejadian ini?
    Tapi siwon makin lama makin posesif bgt sama nana.

    Wahh brarti bakal cepet dong update next storynya 🙂

  12. Aku baru tahu kalo part 6 nya udah di post sejak lama. Untung Siwon dateng tepat waktu tapi ngeri juga sih liat Siwon marahnya kayak gitu. Next thor. 🙂 Oh ya, congrats ya thor udah lulus dan udah dapet kerja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s