Be with Me (Part 2)

20150308_1_1

“Nana, Kau belum tidur?”  Im Nana yang sedang membaca majalah dengan bersandar pada headboard ranjang mengangkat kepalanya, dan melihat Eommanya sedang berdiri di pintu.

“Oh,  ada apa Eomma?”  Nyonya Im berjalan mendekat lalu duduk di depan putri semata wayangnya itu.

“Apa yang sedang kau lakukan?”

“Eum, hanya mencari referensi untuk desain terbaru. Ada apa? Mengapa Eomma menemuiku malam-malam begini?”

“Eum, sebenarnya ada yang ingin Eomma bicarakan denganmu,” Nana mengerutkan keningnya.

“Ada yang melamarmu, Sayang, ” ujar Nyonya Im, to the point.

“Melamarku?” pekik Nana, kaget.

“Ya, Choi Siwon, Direktur Choi Grup, ”

Choi Grup? Ah ya, sebuah perusahaan besar dan ternama di Korea.

“Mengapa… mengapa ia melamarku?”

Eomma tidak tahu secara pasti, namun Appamu sudah menerimanya,”

“Apa?  Bagaimana bisa Appa menerima lamaran itu tanpa bertanya padaku?”

“Ia adalah lelaki yang baik dan bertanggung jawab, Sayang, ”

“Apakah Eomma mengenalnya? Bagaimana bisa  Eomma berkata begitu?”

“Hanya orang-orang yang luar biasa dan bertanggung jawab bisa memegang jabatan sebagai seorang direktur perusahaan multinasional, Sayang…”

“Tapi Eomma…”

“Sayang, Appamu telah menyetujuinya. ia adalah orang yang baik, cerdas, dan tampan. Kami yakin kau tidak akan kecewa.”

Nana menghela nafas melihat kesungguhan di wajah Eommanya. Ini bukan sebuah bahan untuk didiskusikan, tapi ini adalah perintah, dan Nana tidak bisa membantah. Sebagai seorang wanita yang dibesarkan dalam keluarga konservatif, Nana tidak dibenarkan untuk membantah atau menolak apa yang telah ditentukan atau diputuskan oleh orang tua dan keluarganya, terutama masalah pernikahan, seperti yang terjadi pada orang tuanya dulu. Bahkan, ketika dia belum mengenal lelaki yang melamarnya itu, sama sekali!

_oOo_

“Apa? Choi Siwon?”

Nana mengangguk. Park Sooyoung, rekan kerja sekaligus sahabatnya sejak kuliah dulu, menatapnya tak percaya. Ia baru saja tiba, dan Nana langsung menariknya ke ruang kerjanya yang tertutup dan menceritakan perihal lamaran dari sang direktur Choi Grup.

“Dan kau menerimanya?” Nana kembali mengangguk.

“Aish, jinjja! Mengapa kau tidak menolaknya? Atau paling tidak memikirkannya terlebih dahulu, oh?” Nana mendesah melihat reaksi Sooyoung yang menurutnya sedikit berlebihan.

“Aku sudah mencoba mengatakannya, tapi Appa sudah terlanjur menerima lamaran itu, dan aku tidak bisa menolaknya. Apalagi Eomma mengatakan bahwa aku tidak akan kecewa, lelaki itu adalah lelaki yang baik…” Sooyoung menggelengkan kepalanya menyadari kepolosan sahabatnya itu. Bisa-bisanya ia menerima begitu saja keputusan orang tuanya tanpa mengetahui apapun mengenai lelaki itu?

“Kau sudah pernah bertemu dengannya?” Nana menggeleng.

“Im Nana, tidakkah kau mengetahui berita yang beredar tentang lelaki itu di luar sana, oh?” Nana mengerutkan keningnya.

“Berita apa?”

“Berita bahwa… Choi Siwon adalah seorang… Gay!” Nana membulatkan matanya dan mulutnya menganga, terkejut atas pernyataan Sooyoung. Ia begidik ngeri ketika bayangan mengenai pasangan gay di klab itu terlintas di benaknya.

“Benarkah?” tanya Nana, memastikan. Sooyoung mengangguk pasti.

“Ia tidak pernah terlihat keluar atau berkencan dengan seorang wanita.”

“Darimana kau mendapatkan berita ini?”

Sooyoung tersenyum tipis. “Dulu kedatangannya dari Amerika menjadi topik hangat dalam pembicaraan para wanita, dan mereka mulai mencari tau informasi mengenai lelaki itu, ya, kau taulah…” Sooyoung mengangkat bahunya ketika kalimatnya selesai.

Nana menghela nafas. Ia memang tidak memiliki kesempatan untuk berkumpul untuk sekedar bergosip atau hang out dengan wanita seumurannya. Dunianya hanya antara sekolah, rumah, dan tempat kerja. Jadi, bisa dipahami jika ia tidak begitu mengetahui masalah seperti itu.

“Jangan khawatir, Sooyoung-ah! Kau mengenalku, dan aku tidak akan membiarkan pernikahanku, masa depanku, berada di tangan yang salah. Aku akan melakukan sesuatu, pasti!”

_oOo_

Siwon mengetuk-ngetukkan jemarinya dengan di meja. Kurang dari 10 menit lagi ia akan menemui calon mertua dan calon istrinya, untuk membicarakan sebuah pernikahan, yang hanya merupakan bagian strategi bisnisnya. Terdengar jahat memang. Untuk menebusnya, ia akan memberikan yang terbaik untuk pelaksanaan rencana pernikahan ini. Yah, untuk menghormati keluarga Im dan tentu saja menjaga nama baiknya sebagai direktur sebuah perusahaan besar. Untuk itulah, kini ia memesan sebuah ruang dinner di salah satu restoran di Cheongdam-dong. Sebuah ruangan bergaya klasik, yang di dominasi warna cokelat kayu dan putih. Dalam ruangan ini terdapat sebuah meja makan berbentuk persegi panjang , berada di depan  pintu masuk, dengan enam buah kursi, tiga buah di sebelah kanan, di dekat pintu masuk, dan tiga buah lagi di seberangnya, saling berhadapan.  Ia duduk di kursi di bagian kiri tengah, tempat yang di peruntukkan untuk sang tuan rumah.

“Selamat malam, Tuan Muda!” Siwon mengangkat wajahnya dan menoleh ke pintu, dan melihat Paman Kim, orang yang telah bekerja kepada keluarganya puluhan tahun. Siwon memintanya untuk menjadi walinya untuk melamar wanita itu secara resmi malam ini.

“Oh, Paman Kim, masuklah, aku sudah menunggumu dari tadi,” ia melangkah mendekat dan duduk di samping Siwon setelah ia mempersilakannya masuk.

“Maaf Tuan Muda, mengapa Nyonya Besar tidak ikut dalam makan malam ini?” Heh, Eomma?  Siwon hanya tersenyum kecut menanggapi pertanyaan Paman Kim.

Tok tok tok.

Suara ketukan pintu membebaskannya dari kewajiban menjawab pertanyaan Paman Kim. Detik berikutnya seorang pelayan masuk dan memberitahu bahwa tamu yang mereka tunggu sudah datang. Siwon mengangguk, mengisyaratkan untuk mempersilakan mereka masuk. Pelayan itu pun mempersilakan tamu tersebut masuk. Siwon dan Paman Kim berdiri menyambutnya.

“Selamat malam, apa kabar Tuan Im?” sapa Paman Kim pada Im Kyungho, calon mertuanya.

“Baik-baik saja. Bagaimana dengan Anda?”

Ketika mereka saling bertukar salam, Siwon melirik pada wanita muda yang berdiri di samping Eommanya. Ia tersenyum simpul ketika wanita itu terlihat kaget ketika pertama kali melihatnya. Ia menyapukan pandangan dari atas ke bawah, mengamati wanita itu. Gaun panjang berwarna krem dengan vest bulu berwarna senada sangat pas membungkus tubuhnya yang ramping dan tinggi, ya kira-kira 170-an cm. Kulitnya yang seputih susu terlihat halus dan lembut. Sebuah headband mutiara melingkar di kepalanya, di depan rambutnya yang disanggul rapi, dan wajahnya terlihat cantik dengan sapuan make-up minimalis.

Setelah saling bertukar salam dan menanyakan kabar masing-masing, Paman Kim mempersilakan keluarga Im untuk duduk. Tuan Im duduk berhadapan dengan Paman Kim, Nyonya Im duduk di tengah, Im Nana duduk di samping Eommanya, berhadapan dengan Siwon.

“Mohon maaf, Eomma tidak bisa menghadiri makan malam ini karena kondisi kesehatannya yang kurang baik.” Siwon menjelaskan. Nyonya Im tersenyum menanggapinya.

“Ah, tidak apa-apa. Tolong sampaikan salam Kami pada beliau, semoga beliau lekas sembuh.”

“Baik, akan Saya sampaikan.”

“Oya, Kalian belum berkenalan secara resmi bukan?”

“Ah,ya. Perkenalkan, Saya Choi Siwon, seorang pekerja di Choi Grup.” Siwon memperkenalkan diri, lalu melirik sekilas pada Im Nana. Wanita itu sedang memperhatikannya. Ya!

“Hahaha, jangan terlalu merendah! Kau memang seorang pekerja, tapi yang menjabat sebagai direktur…” Siwon hanya tersenyum sopan menanggapi komentar calon mertuanya.

“Im Nana, sekarang perkenalkan dirimu, Sayang…” Nyonya Im menyuruh Im Nana untuk mengenalkan diri. Ia tersenyum sedikit kaku.

“Perkenalkan, Saya Im Nana. Senang bertemu dengan Anda.” Nana memperkenalkan diri tanpa menatap Siwon langsung, terlihat antara sungkan, malu atau apapun, yang jelas, tidak suka bukan salah satunya. Ya, Siwon yakin itu!

“Begitu pula denganku, Im Nana-ssi,” Siwon menjawab sembari menatapnya. Nana menoleh pada Siwon. Sesaat pandangan mereka bertemu, namun detik berikutnya Nana menunduk, pipinya merona.

Benar, dia cantik, seperti foto-fotonya yang Siwon dapat dari Junho. Tetapi melihatnya secara langsung jauh lebih menyenangkan. Ia memiliki mata yang bening, hidung yang lancip, bibir tipis yang proporsional, dan dagu berbentuk persegi. Mungkin bagi sebagian besar wanita akan mengubah bentuk dagu seperti itu menjadi bentuk V-line yang saat ini banyak digandrungi, dengan operasi plastik tentu saja, namun  ia terlihat sangat cocok dengan bentuk dagu itu, dan malah terlihat unik dan menarik. Suara wanita itu ketika berbicara terdengar tulus dan lembut, dan ketika ia tersenyum, senyuman itu seakan menyebar rata ke seluruh wajahnya, matanya juga ikut menyipit membentuk eye-smile yang cantik.

_oOo_

“Nana, ceritakan padaku bagaimana makan malam kalian semalam?” Sooyoung segera memberondongnya dengan pertanyaan singkat namun menuntut jawaban panjang lebar begitu Nana menginjakkan kaki di butik. Nana meliriknya, mengisyaratkan untuk tidak berisik, mengingat di butik itu juga ada beberapa karyawan yang tengah membersihkan dan merapikan butik. Sooyoung mendengus namun tetap mengekor Nana ke ruangan kerjanya di bagian belakang ruang display.

“Im Nana, tolong ceritakan padaku bagaimana makan malam kalian semalam!” kata Sooyoung, begitu mereka tiba di ruangannya. Ya Tuhan! Ia benar-benar memburuku!

Aigo Park Sooyoung, tidakkah kau bersabar sebentar, oh? Aku baru saja tiba…”

“Maaf Nona Im, tetapi aku memang sudah tidak bisa bersabar lagi… Aku sudah menahan diri untuk tidak menelfonmu semalam, jadi kau harus memakluminya kali ini…” Nana menghela nafas dan menarik kursi kerja lalu duduk. Sooyoung ikut menarik kursi di depanku dan bersiap menjadi pendengar yang baik.

“Ya, seperti makan malam biasa, perkenalan, lalu membahas pernikahan…”

“Pernikahan? Secepat itu?” Nana mengangguk.

“Ya, Choi Siwon meminta agar sebaiknya pernikahan ini dilaksanakan secepatnya.”

“Tanpa pertunangan? Dan kau setuju?” Nana diam.

“Im Nana, kau tidak tau apa-apa mengenai dia tetapi kau menerima lamarannya begitu saja?”

“Aku tidak memiliki alasan untuk menolaknya…” Oh Tuhan, wanita mana yang bisa menolak seorang lelaki sempurna seperti Choi Siwon? Selain menjadi seorang eksekutif muda yang sukses, ia juga memiliki penampilan bak model. Ia memiliki postur tubuh yang tinggi tegap, sekitar 180-an cm, memiliki dada yang bidang dan bahu yang lebar. Wajahnya juga memiliki garis yang tegas, hidung lancipnya, alisnya, rahangnya, semua merupakan mahakarya yang sempurna. Ditambah lagi dengan pancaran kharisma dan wibawanya, menjadi sebuah kombinasi yang pas, seolah-olah ia adalah Max St. Albans, sang Marquess of Rotherstone dalam novel My Wicked Marquess, sebuah novel berlatar Inggris klasik karya Gaelen Foley, salah satu penulis favoritnya. Ya Tuhan, Nana berani bertaruh, dengan segala kesempurnaan yang ia miliki ini, ia dapat memikat wanita manapun dalam sekali lirik. Dan parahnya, Nana termasuk salah satu dari wanita itu.

“Tapi Im Nana, kau masih belum mengenalnya! Bagaimana kalau ia itu bukan pria baik? Bagaimana kalau ia adalah lelaki hidung belang? Atau… Bagaimana jika lelaki itu seorang… gay?” Nana tersenyum tipis. Nana mengakui, sahabatnya itu memang terkadang berlebihan. Ia dengan mudahnya percaya pada berita yang belum pasti.

“Park Sooyoung, orang tuaku sudah menerima lamaran itu sebelum mereka mengatakannya padaku… Katakan, apakah aku masih berkuasa menolaknya, oh?” Sooyoung menatapnya nanar. Nana yakin, ini bagian dari rasa prihatinnya padanya. Sejak kecil keluarga Nana telah menanamkan padanya untuk senantiasa mematuhi apa yang dikatakan oleh orang tuanya.

Sooyoung meraih tangan Nana dan menggenggam. Ya Tuhan! ia memulai dramanya lagi! “Maafkan aku Nana, aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk padamu, aku ingin kau mendapatkan yang terbaik…”

Nana membalas genggaman tangan Sooyoung dan tersenyum lembut. Ia tahu, Sooyoung sangat peduli padanya, dan memang seperti ini caranya menunjukkan perhatiannya. Sooyoung memang sangat ekspresif. “Jangan khawatir, aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku juga percaya pada pilihan Eomma dan Appa. Lagipula, jika ia adalah seorang gay, mana mungkin ia melamarku? Dan yang terpenting, aku masih belum menemukan bukti nyata bahwa lelaki itu gay…” ujar Nana, lalu tertawa renyah.

“Kau… menyukainya?” Nana terdiam. Ia tidak tahu perasaannya pada Siwon dengan pasti. Tetapi ia merasa ada rasa yang berbeda ketika bertemu dengannya. Seakan ada berbagai macam larutan kimia berwarna-warni, bereaksi menjadi satu, menghasilkan warna yang baru, dan menghasilkan gelembung yang meletup-letup.

“Aku tidak tahu,” Nana menjawab singkat.

Sooyoung menghela nafas. Tanpa menjawabnya secara eksplisit ia sudah bisa menebak perasaan Nana. Di satu sisi, Nana menyukai lelaki itu. Sooyoung dapat melihat dari cara bicaranya dan ekspresinya ketika membicarakannya. Nana tidak pernah menyebut namanya secara langsung, hanya menggunakan kata ganti orang ketiga. Jika pernah, dia terlihat malu-malu dan kaku ketika mengucapkannya. Dan ekspresinya, Ya Tuhan! Matanya berbinar dan senyuman yang terlukis di wajahnya adalah sebuah senyuman tulus, yang mengerutkan sudut matanya. Tetapi, jika Sooyoung mulai mengingatkan pada kemungkinan buruk mengenai lelaki itu, wajahnya berubah muram. Di sisi lain, orang tua Nana sudah menerima lamaran itu, dan Sooyoung yakin, Nana tidak akan berani menolak. Tidak akan! Nana adalah seorang anak yang selalu menuruti apapun yang dikatakan orang tuanya, dan sikap Nana itu seringkali membuat Sooyoung kesal sekaligus kasihan. Baiklah, kalau begitu fix, mereka akan menikah!

“Eum, ngomong-ngomong, kapan kalian akan menikah?”

“Sebulan lagi,”

“Apa?” Sooyoung memekik dan membulatkan matanya.

“Ya Tuhan! Jangan bereaksi berlebihan!”

“Sebulan lagi? Aigoo Im Nana… Bagaimana mungkin aku tidak terkejut mendengar berita besar ini…” Nana hanya tersenyum, lagi! Jangankan Sooyoung, Ia saja terkejut mengetahui lelaki itu meminta pernikahan ini dilaksanakan secepatnya.

“Tunggu, kau menikah dalam waktu dekat? Lalu bagaimana rencanamu untuk memperjuangkan masa depanmu itu?”

“Eum, aku akan melakukannya, pasti,”

“Apa yang akan kau lakukan dengan waktu pernikahan yang sudah dekat?”

Nana mengerutkan keningnya. “Aku harus mengenalinya, kepribadiannya, kehidupannya, ya, untuk saat ini hanya itu yang masih terlintas di pikiranku,”

“Hanya itu? Lalu apa yang akan kau lakukan jika ternyata dia tidak sesuai apa yang kau harapkan?” Wajah Nana muram, seperti yang sudah ia katakan tadi.

“Aku belum tahu. Paling tidak, aku masih memiliki waktu sampai pernikahan kami dilaksanakan,”

Sooyoung menghela nafas. “Baiklah, sekarang katakan padaku apa yang bisa aku bantu untuk mempersiapkan pernikahanmu!”

“Terima kasih atas niat baikmu, Sahabatku. Tetapi, pihak Choi Siwon  dan keluarga besarku sudah menangani semuanya…”

“Eum, baiklah… Tetapi jika kau butuh sesuatu, katakan saja padaku! Aku siap membantumu!”

Algeutseumnida, Agasshi!”

“Baiklah, kalau begitu, aku pergi dulu…” Nana mengangguk. Pandangannya  mengikuti Sooyoung yang bergerak bangkit lalu menghilang di balik pintu ruang kerja.

­_oOo_

Siwon mengurangi kecepatan mobil yang dikendarainya dan memperhatikan nama-nama toko yang berjejer di sisi kiri jalan, yang berjejer sepanjang Garosu-gil, Sinsa-dong. Ia terlihat sedikit kesulitan karena banyaknya orang hilir mudik di trotoar yang dihiasi pohon ginkgo di setiap sisi jalan, dari Sinsa-dong sampai Apgujeong-dong. Ya, apalagi ini hari libur, dan cuaca yang cerah pada pertengahan musim semi seakan mendukung para pejalan kaki tersebut untuk menjelajahi setiap sudut di daerah itu. Sinsa-dong Garosu-gil memang merupakan salah satu pusat fashion di Gangnam. Selain merk-merk asing terkenal yang memberikan informasi mengenai tren terbaru dunia, daerah ini juga menyajikan pilihan unik dan fresh dari para desainer muda.

I-Style.

Siwon memarkirkan mobilnya dan bergegas keluar. Di antara langkahnya menuju pintu masuk, ia memperhatikan desain butik itu sekilas. Sebuah butik dengan desain semi-modern, pintu masuk kaca dorong di bagian tengah, diapit oleh dinding kaca bertuliskan I-Style  berwarna putih dengan ukuran cukup besar. Dengan pencahayaan kuning-jingga yang pas membuat suasana di dalam butik terlihat terang, jelas, hangat, dan nyaman.

“Selamat… Selamat datang! Ada yang bisa kami bantu?” suara gugup seorang pramuniaga menyambut Siwon ketika lelaki itu baru menjejakkan kakinya di dalam butik. Wanita muda itu tidak bisa menyembunyikan rasa terpesonanya pada sosok lelaki di depannya ini. Seorang lelaki dengan tubuh tinggi tegap, ukiran wajah yang sempurna, potongan rambut yang rapi, mengenakan celana jeans, kaos polo berwarna abu-abu, dengan coat berwarna coklat tua yang terbuka.

“Ya, bisakah Aku bertemu Im Nana?” ujar Siwon, pelan tapi tegas, khas seorang direktur.

“Oh, Nona Im? Mari… Mari Saya antar,” Pramuniaga itu berjalan di depan Siwon menuju ruang Nana yang berada di belakang ruang display. Ya Tuhan, bahkan pramuniaga itu lupa untuk menanyakan pada Nana apakah akan menemui tamu tersebut atau tidak!

Pramuniaga itu mengetuk pintu ruangan kerja Nana, sedangkan Siwon bisa melihat dengan jelas wanita itu sedang memerikasa berkas yang ditunjukkan seorang karyawannya. Ruangan kerja Im Nana berupa sebuah ruangan kecil dibatasi oleh dinding kaca berwarna agak gelap, namun apa yang terjadi di dalam bisa terlihat jelas dari luar.

“Maaf Nona, ada seorang tamu yang ingin menemui Anda,” Nana menoleh dan dapat melihat Choi Siwon yang berdiri di belakang pramuniaga itu.  Ia bangkit, tersenyum dan mengangguk, mengisyaratkan wanita itu untuk pergi.

_oOo_

“Selamat datang, Choi Siwon-ssi, silakan masuk!” Nana menyambutnya ramah.

“Maaf, aku harus menyelesaikan sedikit pekerjaanku dulu. Apa kau bisa menunggu sebentar?”

“Tentu,”

“Terima kasih. Oh ya, silakan duduk, Kau mau minum apa?”

“Tidak usah, terima kasih!” Siwon menyertakan senyumannya, menolak tawaran Nana dengan sopan, lalu duduk di sofa, di tempat dimana Ia bisa melihat Nana dengan jelas.

“Maaf, aku tidak akan lama,” Siwon mengangguk. Nana duduk dan kembali melanjutkan pekerjaannya.

Dari sini, Siwon bisa memperhatikan dengan seksama setiap gerak-gerik Nana, bagaimana ia mendengarkan dengan seksama penjelasan dari karyawannya. Keningnya berkerut ketika mendengar sesuatu yang sepertinya tidak sesuai dengan harapannya, dan menggigit bibir bawahnya ketika berkonsentrasi memeriksa berkas di tangannya. ia menggelengkan kepala pelan ketika menemukan beberapa kesalahan, lalu menjelaskan dengan rinci dan sabar kepada karyawan itu. Di akhir pembicaraan mereka, ia memberikan senyuman dan mengucapkan terima kasih, sebagai bentuk apresiasi untuk sang karyawan. Di usianya yang bisa dibilang muda, lima tahun lebih muda dari Siwon, ia terlihat dewasa.

“Sudah selesai?”

“Ya, kita berangkat sekarang?” Siwon mengangguk. Nana mengenakan blazer putih yang tadinya tersampir di sandaran kursi, lalu mengeluarkan rambutnya yang tertutup blazer dan merapikannya. Ia meraih tas di meja kerjanya, dan  Siwon mempersilakannya untuk berjalan di depan,  tanpa ragu, Nana pun menurut.

Siwon menjaga jarak yang cukup antara mereka, cukup untuk berjalan, dan cukup untuk memperhatikan Nana secara keseluruhan. Pakaian Nana yang mungkin akan terlihat old fashioned, dengan kaos turtle neck yang menutupi setengah lehernya dengan motif garis vertikal hitam dan putih, rok pensil high-waisted selutut berwarna biru cerah, blazer tanpa kerah berwarna putih dengan stiletto berwarna senada, namun tidak dengan Nana, semuanya terlihat pas dikenakan olehnya. Dari gaya berpakaiannya yang sopan dan tertutup dan cara berjalannya yang anggun dan berwibawa, menunjukkan bahwa ia seorang wanita terhormat, layaknya pada lady bangsawan Inggris.

“Sooyoung-ah!” Nana memanggil temannya yang tengah berbincang dengan seorang wanita muda di samping display blazer.

“Nana, kau mau kemana?” tanya Sooyoung seraya berjalan mendekat.

“Dia?” lanjutnya lagi, melirik pada Siwon yang berdiri di belakang Nana.

“Perkenalkan, Choi Siwon,” tanpa diminta, Siwon memperkenalkan diri.

“Ah, ya, perkenalkan, Park Sooyoung, sahabat Nana. Nana sudah sedikit bercerita mengenai Anda.”

“Benarkah?”

“Ah, tidak, ini tidak seperti yang Anda pikir…” jawab Nana, gugup.

“Kalian akan berkencan?” tanya Sooyoung, polos. Refleks, bibir Nana terbuka dan pipinya memerah. Ia kaget dan malu, tidak menyangka temannya itu akan bertanya terang-terangan seperti itu. Siwon hanya terdiam, menunggu, penasaran dengan jawaban yang akan dilontarkan Nana.

“Ah, tidak kami hanya akan… mengurus pernikahan. Sooyoung-ah, kami pergi dulu.” Nana bergegas berjalan keluar, dengan Siwon yang mengikutinya.

­_oOo_

Dari        : Park Sooyoung

Untuk     : Im Nana

Gila, ia jauh lebih tampan dari yang aku bayangkan!

Selama ini aku hanya mendengar desas-desus tentangnya,

belum pernah bisa melihatnya secara langsung.

Kau tau, sekarang para pengunjung dan karyawan sibuk membicarakan kalian!

Tapi sepertinya ia… sedikit dingin…

Well, apapun yang terjadi, nikmati kencan kalian 😉

Ya Tuhan, Park Sooyoung! Seperti biasa, ia suka bersikap agak berlebihan. Buktinya, baru beberapa langkah Nana keluar dari butik, ia telah mengiriminya pesan.

“Sekarang jam makan siang, kau mau makan dulu?” tanya Siwon, begitu mereka berada di dalam mobil Audi TT Coupe hitamnya.

“Sebenarnya aku sudah memakan bekal makan siangku, tapi jika kau ingin makan siang dulu, tidak apa-apa, aku akan menunggu…”

“Bekal makan siang? Apa kau selalu membawa bekal?”

“Tidak juga. Hanya saja, karena hari ini kita memiliki rencana ke Wedding Organizer, jadi aku membawa bekal. Menurutku, akan lebih efisien dan agar tidak membuatmu terlalu lama menunggu…” Siwon mengangguk. Satu poin lagi untuk Im Nana. Biasanya seorang wanita jika akan pergi, katakanlah berkencan, melewati jam makan siang, akan dengan sengaja meninggalkan makan siangnya agar bisa makan bersama dengan pasangannya. Tapi Im Nana, dia malah lebih memikirkan efisiensi.

Geurae, kalau begitu, kita langsung ke sana saja…”

“Kau tidak makan?”

“Tidak,” Nana menatapnya tidak enak.

“Aku masih belum lapar,” lanjutnya. Nana mengangguk.

Siwon mengarahkan mobilnya lurus ke Dosan-daero 13-gil, lalu belok kiri menembus jalan raya Dosan yang cukup padat.

“Kau ingin memutar lagu?” tawar Siwon. Suaranya sejenak mengusir suara hening di antara mereka.

“Boleh…” jawab Nana, singkat.

“Silakan, pilih saja yang kau suka.” Nana mengangguk dan mulai memilih lagu di I-Pod-nya, yang tersambung dengan speaker di mobil. Vanilla Twilight, sebuah lagu romantis yang ringan, menjadi pilihan Nana. Lagu itu mengalun indah dengan suara lembut nan khas sang penyanyi, Owl City.

“Pilihan yang bagus,” ujar Siwon, singkat, lalu kembali berkonsentrasi pada jalanan di depannya. Ia mengemudi dengan kecepatan sedang, berhenti karena lampu merah di Dosan-daero Junction. Sebelum mereka melewati Horim Art Center, Siwon berbelok ke kiri, ke Dosan-daero 45-gil. Beberapa menit kemudian, Siwon memarkir mobilnya di sebuah bangunan putih, bergaya minimalis, terlihat sederhana dan nyaman. LYJ Organizer, nama itu tertulis jelas di dinding kaca samping pintu masuk. Mereka keluar dari mobil dan berjalan bersama memasuki ruangan yang di dominasi warna putih itu.

Wedding Organizer ini adalah  milik sahabatku,” jelas Siwon. Kemudian mereka berjalan bersama menuju meja receptionist.

“Permisi, apakah kami bisa menemui Lee Young Jae? Kami sudah membuat janji dengannya,”

“Ya? Ah… Iya, Tuan Lee…” wanita itu menjawab dengan gagap. Nana mengerutkan kening memperhatikan wanita itu. Ya Tuhan, jangan katakan jika wanita itu terpesona pada Choi Siwon!

“Maaf, atas nama siapa?” lanjut receptionist itu, dengan tatapan yang tidak lepas dari Siwon. Nana memutar matanya. Ia merasa tidak suka melihat cara wanita itu melihat dan berbicara dengan Choi Siwon. Sangat jelas bahwa wanita itu terpesona pada Choi Siwon.

“Choi Siwon,” receptionist itu terlihat melakukan sesuatu dengan komputernya, lalu mempersilakan mereka menemui Lee Young Jae.

“Ayo, kita ke ruangan Young Jae!” ujar Siwon diiringi dengan senyum khasnya. Ya Tuhan! Melihat senyuman Siwon padanya membuatnya merasa ada ribuan kupu-kupu berterbangan di perutnya!

“Ah, ya…” jawabnya tergagap. Detik berikutnya, ia harus berusaha keras berjalan dengan normal ketika tangan Siwon melingkar di pundaknya.

_oOo_

“Young Jae Hyeong!” Siwon langsung memeluk erat Youngjae, dan Youngjae menyambutnya tak kalah antusias. Nana hanya berdiri di depan pintu masuk, melongo melihat adegan itu. Lelaki itu adalah lelaki di klab waktu itu.

“Apa kabarmu, Hyeong?”

“Aku baik-baik saja, Siwon-ah. Kau? Tiba-tiba saja kau memberiku kabar mengejutkan bahwa kau akan menikah?” ujar Young Jae, sembari mengedipkan matanya cepat.

Siwon terdiam, lalu tersenyum tipis.

“Kami memang memutuskannya sangat cepat, Hyeong. Kenalkan, calon istriku,” Siwon menunjuk Nana yang berdiri mematung di depan pintu masuk ruangan itu.

“Perkenalkan, Im Nana. Senang bertemu dengan Anda,” Nana memperkenalkan diri dengan sopan, walaupun merasa tidak nyaman.

“Wah, kau sangat cantik, Nana-ssi. Pantas saja kau berhasil mencuri hati seorang Choi Siwon. Kau tahu, ia amat pemilih, dan ku akui, kau membuatku cemburu,” Oh Tuhan! Jika saja Im Nana bisa mencerna kalimat Young Jae, maka ia bisa memahami bahwa itu adalah pujian baginya. Sayangnya, ia malah menggarisbawahi kalimat kau membuatku cemburu! Oh Tuhan! Tidak masuk akal!

“Ah ya, Aku Lee Youngjae. Aku sahabat teman lama Siwon, sejak ia masih sekolah menengah, sampai akhirnya kami kuliah di Amerika. Oh ya, silakan duduk!”

Apa? Mereka kuliah bersama di Amerika?

_oOo_

Nana memperhatikan album berisi gambar-gambar konsep pesta pernikahan yang ditunjukkan oleh Young Jae. Ia menggigit bibirnya tanpa sadar, sepertinya sebuah kebiasaannya jika sedang fokus pada sesuatu.

“Jangan mengigit bibirmu,” Siwon menyentuh halus dagu Nana dengan gemas. Nana tersentak lalu menoleh pada Siwon yang duduk di sampingnya. Siwon tersenyum. Astaga, wajahnya malah merona! Im Nana, kau benar-benar!

“Kau suka yang mana?” tanya Siwon.

“Menurutmu?” Nana balik bertanya dengan suara pelan.

“Terserah padamu, aku percaya pada pilihanmu,” jawab Siwon, dengan pandangan tak terlepas dari Nana. Nana menghela nafas.

“Aku… Entahlah, aku bingung,” jawab Nana jujur. Siwon tersenyum.

“Kau suka konsep bagaimana?” Siwon bertanya dengan sabar. Astaga! Ini pertama kalinya Siwon sabar menghadapi seseorang. Biasanya ia langsung menunjukkan apa yang ia inginkan dengan kalimat yang singkat, padat, dan jelas.

“Eum, Inggris klasik, mungkin…” Nana menjawab dengan ragu.

Hyeong, kau punya?” Siwon menoleh pada Young Jae Hyeong.

“Wah, sepertinya ada yang baru saja kembali dari surga,” ujar Young Jae dengan menggerakkan sebelah alisnya. Nana dan Siwon menatap Young Jae bingung. Namun detik berikutnya, Siwon sadar apa yang dimaksud Young Jae.

Hyeong!” tegur Siwon pelan, dengan mengangkat sebelah alisnya. Young Jae terkekeh. “Ada beberapa, lihatlah!” kata Young Jae lalu menunjukkan beberapa foto di album lain.

“Bagaimana?” tanya Siwon.

“Aku suka ini, sederhana tapi menarik,” Nana menunjuk sebuah halaman yang berisi foto-foto sampel.

“Baik, kita pakai yang ini,” Siwon menjawab dengan mantab.

_oOo_

Setelah mengunjungi wedding organizer dan memesan baju pengantin,  Siwon mengajaknya makan di Cola Mercato, Seruso-gil. Sebuah restoran pasta yang tidak hanya menyajikan makanan lezat, namun suasana yang hangat, tenang, dan nyaman.

“Siwon-ssi, bolehkah aku meminta sesuatu kepadamu?” tanya Nana, begitu pelayan yang mencatat pesanan mereka pergi.

“Tentu, katakan saja!”

“Aku tau mungkin ini kurang sopan, tetapi aku ingin kau menjawab beberapa pertanyaanku,” Nana menghentikan kalimatnya, memperhatikan reaksi Siwon. Siwon hanya mengerutkan kening.

“Eum, aku hanya ingin mengetahui beberapa hal tentangmu. Anggap saja ini adalah perkenalan kita. Jujur, aku tidak pernah mengenalmu sebelumnya, tetapi sebentar lagi kau akan menjadi suamiku, aku merasa sedikit…”

“Bagaimana jika aku tidak mau menjawabnya?” potong Siwon. Nana mengangkat sebelah alisnya. Ini adalah salah satu caranya untuk mengenal dan mengetahui kehidupan Siwon yang sebenarnya. Nana bukanlah seorang wanita yang berani dan frontal, dan dia harus menyiapkan keberanian untuk menghadapi Choi Siwon, bukan, tetapi menghadapi dirinya sendiri yang tidak karuan di depan Siwon. Tidak, Aku harus berani!

“Mungkin… Aku akan mempertimbangkan kembali pernikahan ini,” jawaban Nana berhasil membuat wajah Siwon mengeras. Jujur, ia tidak suka jika ada seseorang yang mengusik masalah pribadinya. Tapi ini adalah Im Nana, calon istrinya. Dia tidak suka mendengar Nana mengancam akan mempertimbangkan kembali pernikahan ini. Apakah itu berarti Nana akan membatalkan pernikahan mereka? Tidak, tidak boleh!

“Baiklah, katakan saja!” lanjut Siwon dengan nada datar.

Nana menghela nafas pelan.

“Mengapa kau melamarku? Maksudku, kita belum pernah berkenalan sebelumnya, dan kau tiba-tiba melamarku,”

“Kita sudah pernah bertemu sebelumnya,” Nana mengerutkan keningnya.

“Di klab,” lanjut Siwon. Nana membuka bibir tipisnya.

“Ah, iya, aku ingat. Tapi rasanya tidak mungkin jika kau melamarku hanya dengan sekali pertemuan itu,” Siwon tersenyum. Benar, Nana, tidak mungkin karena hanya pertemuan singkat itu!

“Aku sudah pernah melihatmu sebelumnya,”

“Benarkah? Kapan? Dimana?” Dari seluruh data yang aku dapatkan dari Kim Junho.

“Ketika ada pesta di perusahaan Appa-mu,” Siwon berbohong.

“Lalu… Mengapa kau melamarku?” tanya Nana dengan suara pelan karena ragu. Siwon menatapnya intens.

“Menurutmu?”

“Mengapa… mengapa kau berbalik tanya padaku?” tanya Nana, gugup. Siwon tersenyum kecil.

“Karena aku ingin menikahimu,” Nana mengerutkan keningnya.

“Hei, jangan mengerutkan keningmu,” Siwon mengusap pertemuan antara kedua alis Nana yang berkerut dengan jemarinya. Wajahnya bersemu merah.

“Ada pertanyaan lagi?” tawar Siwon, melihat Nana hanya terdiam.

“Eum, ada berita yang ku dengar bahwa kau itu… gay,” Kini giliran Siwon yang dibuat kaget oleh pertanyaannya.

“Darimana kau mendengar berita itu?”

“Hanya… Hanya mendengar saja,”

“Dan kau percaya?” Nana mengedikkan bahunya.

“Entahlah, tapi melihatmu bersama lelaki itu, ah Lee Young Jae, aku merasa kalian cukup… dekat,” Siwon tersenyum tipis.

“Menurutmu, apakah aku terlihat seperti seorang gay?”

Tidak! Kau terlalu menarik dan mempesona untuk menjadi seorang gay. Walaupun aku tidak tahu seorang gay itu seperti apa, tapi aku bisa merasakannya, kau bukan seorang gay!

“Tapi aku dengar…,”

“Kau bisa menilainya sendiri, Im Nana,” Siwon memotongnya dengan nada tegas,  mengisyaratkannya untuk mengakhiri perdebatan ini. Biarlah, biarkan seperti ini. Aku tidak mau ia mengetahui kehidupanku yang sebenarnya. Tidak!

Nana menghembuskan nafas panjang. Ia terlihat kesal, karena dua pertanyaan pentingnya dibiarkan menggantung. Sebenarnya, ia ingin memaksa Siwon menjawab seluruh pertanyaannya, namun, tatapan gelapnya dan ucapan Siwon padanya mengantarkan sesuatu yang memaksanya untuk menurut.

Nana menyesap lemon tea di gelasnya.

“Oya, bagaimana keadaan Eommamu?” tanya Nana, dengan nada ringan. Tiba-tiba Siwon menghentikan gerakan tangannya yang sedang memutar spaghetti dengan garpu.

“Baik. Akan ku kenalkan kau padanya nanti, ” jawab Siwon dingin dan menekankan dengan kata nanti, lalu melanjutkan makan siang mereka dalam kesunyian.

_oOo_

To Be Continued…

Oye hoi hoi….

part 2 Published!!!

Gimana nihh komentarnyaaa???

Mian yaaa komentarnya yg kemarin author baru bales, lagi sibuk penelitian n cari duti, euy.y.. hahahaa… 😉

ditunggu yaaakomennenyaaa… yang panjang, padat, dan jelas…!!! hahaha… 😉

Advertisements

22 thoughts on “Be with Me (Part 2)

  1. wahhh makin penasaran aja nih 🙂 apa siwon nnti bakalan cinta sm nana??? Eonni di tunggu kelanjutan’y 😉 Semangat!!! Fighting!!! 😀

      1. apa banget csw. kenapa kesannya nutupin kehidupan pribadinya?
        penasaran banget sama lanjutannyaa. ditunggu next partnya ya ^^

  2. lhoo sebenernya kehidupan yang giman yg di sembunyiin sama siwon? haduh makin penasaran. semoga fine fine aja. next thor . fighting

  3. ceritanya makin seru&menarik
    ciye” nana di lamar sama siwon(bikin iri aja)
    aigoo nana masih malu”
    semangat author!

  4. Bagus…. makin tertarik dengan dunia pernikahan mereka nanti
    Sayang kenapa harus nana dulu yang jatuh cinta sama swon

  5. Sepertinya mereka berdua udh saling suka, walaupun sepertinya siwon menyembunyikan sesuatu..
    Berharap siwon tidak melukai perasaan Nana..
    Next eonnie makin kepoo 😀

  6. Huaaaaa ternyata part tu cepet di puplish to ..
    Rapi.banget jalan cerita nya ..
    Ya ampun siwon kenapa gak seminggu lagi aja nikah nya kelamaan tu sebulan ..
    Siwon gay ?? Oooo may gaaaat tapi apakah itu bnar ..
    Nana kau terlalu polos …
    Kirain pas nana nanya siwon gay bakal terjadi first kiss nawon
    Heheheheewe

    Next chap cepetin lagi ya tooor …
    Semngaaaaat

  7. Aaakkkkkkhhhhhhhh noooooooo ak ketinggalan 6 hari dari publish part 2 hiks hiks hiks….
    Aduh siwon oppa maaf ak sedikit lupa mengunjungimu (plaaaaaaaaaaakkkkk lebay.com)hehehe
    Cieeeeeeeeeee yang mau nikah ♥♥♥♥♥
    Meski siwon akan menikah berlandaskan alasan bisnis,sebagai laki-laki ia cukup menggormati calon istri nya.
    Dengan memberikan segala yang terbaik untuk persiapan pernikahan nya.
    Mencoba membuat kesan yang terbaik dihati nana,yaaaaaaap dan mungkin berhasil ^_^.
    Karena pada pertemuan ini nana seperti terhipnotis oleh ketampanan seorang choi siwon ^_^
    Bahkan sooyoung pun terpesona (padahal sebelumnya tampaknya sooyoung sedikit kurang menyetujui pilihan nana karena “gosip gay” itu)
    Tapiiiiiiiiiiii……begitu berjumpa langsung ???
    Ia bahkan bersikap berlebihan hehehe.
    Karena dibesarkan di lingkungan keluarga konservatif nana tumbuh menjadi anak yang penurut kepada orang tua,good girl ^_^anak berbakti itu disayang tuhan ^_^
    Pilihan orang tua pasti selalu berusaha mencarikan yang terbaik untuk anaknya.
    Mungkin itu yang tuan im lihat pada sosok choi siwon.
    Mungkin niat siwon dari pernikahan ini awalnya hanya demi bisnis semata,seiring berjalannya waktu nanti kita tidak tahu apa yang akan terjadi kedepan nya ( mungkin nanti justru siwon yang akan jatuh kedalam pesona nana )
    Pepatah bilang tak kenal maka tak sayang,mungkin untuk mengenal lebih jauh siwon yang akan menajadi pendamping hidupnya kelak nana berusaha mengenal lebih jauh bagaimana siwon dan kehidupannya.
    Tapi kayanya siwon oppa kurang suka nih kehidupan pribadinya “dikorek2” why??
    Hehehe nana jangan “cemburu” sama youngjae….kan belum terbukti klo siwon itu gay…mungkin itu hanya gosip…
    Nanti setelaha menikah mungkin hanya nana yg dapat membuktikan siwon itu gay atau bukan ^_^ (aduuuuuuhhhh ak ngomong apa ini….maaf ya author >●<)
    Hhhhhhhhhmmmmm…jadi ga sabar nunggu part 3 ^_^
    Bagaiamana pesta pernikahan mereka?
    Apakah kelak kehidupan pernikahan mereka bahagia?
    Jika suatu hari nana mengetahui tujuan pernikahan ini dari sudut pandang siwon bagaiamana?
    Semakin penasarannnnnnnnn
    ……….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s