Promise You (Part 8)

Siwon nana promise you

_oOo_

Last Part

“Kita?” Ulang Nana, kaget.

“Ya. Mereka mengundang kita, dan aku juga ingin mengecek langsung proyek kerjasama kita disana,” Nana mengangguk seraya tersenyum. Ini adalah perjalanan bisnis keluar negeri pertamanya.  Ia tidak dapat menyembunyikan rasa senangnya. Ia sangat ingin keluar negeri, dan kini keinginannya tercapai. Indonesia! Jogja!

_oOo_

This part starts here…

Choi Siwon

Choi Group.

Siwon membaca namanya tertera pada sebuah kertas putih yang dipegang oleh seorang lelaki Indonesia yang sedang menunggunya di bandara Adi Sucipto, Yogyakarta. Ia mengajak Nana untuk segera mendatangi lelaki itu seraya mendorong troli berisi koper mereka.

Annyeong hasimnikka, Arya imnida! Saya ditugaskan untuk menjemput Anda, dan menjadi guide Anda selama disini, ” lelaki itu mengenalkan diri dengan berbahasa Korea.

“Wow, Anda bisa berbahasa Korea?” tanya Siwon, dengan menggunakan bahasa Korea.

“Ya, sedikit,” jawab Arya seraya tersenyum.

“Eoh, geurayo. Ah, Choi Siwon imnida,” Siwon mengenalkan diri.

“Dan ini,  istri saya, Choi Nana,” lanjutnya. Nana tersenyum dan membungkuk, dan mengenalkan diri.

“Wah, istri Anda sangat cantik,” puji Arya. Siwon tersenyum dan mengucapkan terima kasih.

“Baiklah, kalau begitu, apa kita bisa pergi sekarang? Atau masih ada yang Anda tunggu?” tanya Arya.

“Eoh, tentu saja. Mari!” Arya membantu Siwon mendorong trolinya, dan berjalan menuju pintu keluar. Sebuah mobil SUV hitam ternyata sudah menunggu mereka. Arya membukakan pintu untuk Siwon dan Nana, kemudian memasukkan barang-barang mereka ke bagasi.

_oOo_

Nana terus memandang keluar jendela, mengamati pemandangan senja kota Jogja. Jogja adalah sebuah kota kecil, tidak sebesar Seoul atau kota-kota besar di Korea yang pernah ia kunjungi. Tetapi kota ini terasa sangat ramah dan nyaman. Di sepanjang jalan, Nana banyak menemukan hal-hal yang unik dan antik. Mulai dari sepeda kuno, pengendara sepeda motor yang memakai helm bulat seperti mangkuk, bukan helm standar seperti yang biasa Ia lihat di Seoul, lampu yang membentuk daun, bangunan yang antik dan tua, seperti bangunan-bangunan Eropa, kemudian warung-warung pinggir jalan yang ramai. Nana sebenarnya ingin menanyakan hal-hal unik itu kepada Arya, tetapi lelaki itu sedang berbincang dengan Siwon, dalam bahasa Korea dan bahasa Inggris. Nana merasa tidak enak jika menganggunya. Akhirnya, ia memilih untuk diam dan menikmati pemandangan kota itu sendiri, dan mencoba membaca beberapa kata dan kalimat yang ia lihat di jalan, yang tidak ia ketahui apa maksudnya dan apakah cara bacanya benar atau salah.

“Kita sudah sampai,” ujar Arya, mengalihkan perhatian Nana. Benar saja, mobil mereka sudah memasuki sebuah halaman hotel berbintang. Begitu mobil mereka berhenti di depan pintu utama hotel, terlihat beberapa lelaki berjas dan beberapa wanita berseragam telah menunggu mereka. Mereka adalah para pejabat hotel, yang bekerja sama dengan Choi Group. Seorang pegawai berseragam batik membukakan pintu untuk Siwon dan Nana. Begitu keluar dari mobil, Siwon langsung disambut oleh para pejabat hotel yang telah menunggunya. Seorang lelaki setengah baya, sang pimpinan hotel, mengalungkan Siwon dengan rangkaian bunga. Sedangkan Nana masih berjalan memutari mobil, karena tadi ia duduk di sisi kanan.

“Ah, kenalkan, istriku, Choi Nana,” Siwon langsung memperkenalkan Nana begitu wanita itu berada di sampingnya. Para pejabat itu juga memperkenalkan diri, dan mengalungkan Nana dengan rangkaian bunga.

“Wah, terima kasih!” jawab Nana dengan wajah cerah. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya mendapat sambutan seperti ini.

“Wah, Anda sangat cantik! Kalian pasangan yang serasi!” Siwon dan Nana tersenyum dan mengucapkan terima kasih mendapatkan pujian itu.

“Bagaimana perjalanan Anda?”

“Baik. Benarkan?” tanya Siwon, seraya menoleh pada Nana. Nana tersenyum dan mengangguk.

“Wah, kalau begitu, lebih baik Anda segera beristirahat. Kami sudah menyiapkan kamar untuk Anda.” Setelah itu, Arya mengantarkan Siwon dan Nana ke kamar.

“Wahh…!” Seru Nana takjub begitu berada di dalam kamar. Nana sudah menyangka, Siwon pasti mendapatkan pelayanan khusus dari pihak hotel. Tetapi hal itu tidak bisa membuatnya menyembunyikan rasa senangnya melihat president suite yang akan mereka tempati untuk dua hari ke depan. Suite ini sangat nyaman dan luas, terdiri dari sofa, minibar, kamar tidur dengan ranjang king size, dan kamar mandi yang mewah dan nyaman.. Nana adalah wanita biasa. Mendapatkan pelayanan sebaik ini tentu saja membuatnya bahagia, yaa, walaupun semua ini sebenarnya ditujukan untuk Siwon.

_oOo_

Nana sudah berada di dalam kamar ketika Siwon masuk. Nana memang masuk kamar lebih dulu, membiarkan Siwon dan Arya mengobrol sebentar.

“Kau lelah?” tanya Siwon. Nana menoleh.

“Sedikit. Aku memang belum pernah bepergian sejauh ini,” jawab Nana, jujur. Siwon tersenyum.

“Kalau kau mau, kau bisa spa  dulu. Di bawah ada salon. Aku bisa mengantarmu,” ujar Siwon. Nana menggeleng.

“Tidak usah, Oppa.  Nan gwaenchana,”

“Euhm, baiklah. Lebih baik sekarang kau istirahat. Dua jam lagi kita ada acara,”

“Acara apa? Mengapa aku tidak tahu?” tanya Nana. Sebagai sekretaris Siwon, bukankah seharusnya ia mengetahui seluruh jadwal Siwon?

“Eoh, aku lupa memberitahumu. Sekarang, lebih baik kau istirahat. Aku pergi dulu,” ujar Siwon. Nana mengerutkan alisnya.

“Pergi? Kemana?”

“Aku ingin melihat suasana hotel dan bertemu direktur hotel sebentar,”

Oppa  tidak lelah? Perlu aku temani?”

Siwon menggeleng seraya tersenyum.

Gwaenchana. Kau istirahat saja di sini. Aku hanya sebentar,” Nana mengangguk.“Baiklah,” jawabnya.

Siwon tersenyum, lalu berjalan ke depan, menemui Arya yang masih menunggunya.

_oOo_

Oppa, ayo makan! Aku sudah memesan makanan,” ujar Nana,  begitu Siwon masuk ke suite mereka.. Siwon menoleh dan mendapati Nana sedang menata makanan di meja dengan rambut setengah kering, dan pakaiannya sudah berganti pakaian santai.

“Kau memesan makanan? Bukankah sebentar lagi kita makan malam?” tanya Siwon, seraya berjalan mendekat, kemudian duduk di kursi bar.

Ne. Geundae, Oppa  belum makan sejak kita berangkat tadi, artinya sudah lebih dari 8 jam,”

“Eoh? Aku sudah makan di pesawat, Nana…” Nana menoleh pada Siwon yang memprotesnya.

“Eoh? Itu bukan makanan, itu camilan! Porsinya tidak sesuai dengan porsi makan Oppa. Nah, sekarang makanlah! Ini adalah menu khas Indonesia. Cobalah! ” ujar Nana, lalu menyodorkan mangkuk berisi makanan menyerupai sup berwarna kuning, berisi daging, sayur, dan, serbuk? Siwon mengerutkan kening.

“Apa nama makanan ini?”

“Eum, apa ya tadi? Ah, soto! Ya, soto!” ujar Nana.

“Selamat makan!” lanjutnya, kemudian memakan soto miliknya.

“Eum, mashitta!” serunya. Siwon pun melakukan hal yang sama.

“Ya, makanannya enak. Kau sudah pernah makan ini sebelumnya?” Nana menggeleng.

“Tidak pernah. Ini adalah pertama kali aku keluar negeri,” jawab Nana, jujur.

“Benarkah? Bagaimana dengan field trip kampusmu?” Nana terdiam, lalu tersenyum tipis.

“Aku tidak pernah ikut. Biayanya sangat mahal. Lebih baik uangnya ku gunakan untuk keperluan yang lain,” jawab Nana, pelan.

Siwon terdiam. Ia mengerti perasaan Nana. Dia juga pernah mengalaminya dulu, ketika ia masih kecil. Seringkali ia harus menelan ludah melihat teman-teman seumurannya jajan, membeli permen dan kue-kue. Jangankan jajan, bahkan untuk bernafas saja rasanya susah!

“Jangan khawatir. Nanti, kita bisa pergi kemanapun kau mau,” ujar Siwon. Nana menoleh dengan pandangan bertanya.

“Ya, katakan saja jika kau ingin jalan-jalan keluar negeri. Aku bisa mengaturnya,” Nana tersenyum.

“Tidak perlu. Oppa sudah sangat baik padaku. Aku pasti tidak tahu diri jika masih berharap lebih dari ini,” jawab Nana jujur. Siwon menggeleng.

“Tidak Nana, jangan berpikiran seperti itu. Kalau kau ingin sesuatu, katakan saja padaku!” Nana baru akan berargumen, tetapi ia urungkan.

“Tentu,” jawabnya, mengalah. Ia yakin, jika ia masih menjawabnya atau menolaknya, Siwon pasti akan terus mendebatnya sampai ia berkata iya. Hidup bersama Siwon selama seminggu ini sudah membuatnya lebih akrab dan mulai mengerti kebiasaan lelaki itu.

Ding dong.

“Kau memesan sesuatu lagi?” tanya Siwon. Nana menggeleng.

“Biar aku lihat,” ujar Nana, lalu meletakkan mangkuknya yang sudah setengah kosong di meja, lalu berjalan menuju pintu. Begitu pintu terbuka, tampaklah dua orang wanita berseragam sedang berdiri di depannya. Mereka membawa dua buah kotak kado berukuran besar, dan sebuah kotak, seperti kotak make up.

“Selamat malam! Dengan Nyonya Choi?”

“Ya, saya sendiri,” jawab Nana dengan wajah bingung.

“Ah, perkenalkan, saya Ayu dan rekan saya Dewi. Kami dari Pramudya Beauty and Spa, ditugaskan untuk membantu anda menyiapkan diri untuk gala dinner,”

Ne?” ujar Nana. Ia menoleh ke belakang, mencari sosok suaminya untuk menanyakan masalah ini. Ternyata lelaki itu sudah berada di belakangnya.

“Eoh, kalian sudah datang? Nana, kau tidak menyuruhnya masuk?” ujarnya lembut, seraya membelai puncak kepalan Nana.

“Ne? Ah ya, silakan masuk!” kedua wanita itu pun masuk. Nana menahan lengan Siwon ketika lelaki itu akan pergi.

Oppa, apa maksud semua ini?” tanyanya.

“Eoh? Satu jam lagi kita akan menghadiri gala dinner. Mereka membantumu menyiapkan diri,”

“Mwo? Gala dinner? Mengapa Oppa tidak memberitahuku sebelumnya? Aku tidak membawa gaun, atau apapun untuk gala dinner,”

“Ssstt…! Sudahlah, sekarang bersiap-siaplah! Biar mereka membantumu!” ujar Siwon, seraya menggandeng Nana ke kamar.

“Aku mandi dulu,” ujarnya, ketika mereka sudah tiba di kamar.

“Eoh, aku mau sikat gigi dan cuci muka dulu,” sela Nana, sebelum Siwon masuk ke kamar mandi.

“Eoh, bukankah kau sudah mandi?”

Ne, tetapi tidak nyaman rasanya di-make up lengkap setelah makan tadi,”

Siwon mengangguk dan mempersilakan Nana menggunakan kamar mandi lebih dulu.

_oOo_

Siwon keluar dari kamar mandi dengan mengenakan jubah mandi. Namun ia heran tidak menemukan Nana di kamar. Dimana wanita-wanita itu?

Siwon berjalan ke ruang tamu, dan melihat istrinya sedang dirias oleh kedua wanita tadi.

“Nana, mengapa kau tidak di kamar?” tanya Siwon seraya berjalan mendekat.

“Eoh, Oppa? Kau sudah selesai?” tanya Nana, tanpa menoleh pada Siwon karena Ayu sedang menyapukan eye shadow di kelopak matanya.

“Belum. Masih belum ganti baju,” jawab Siwon santai.

Mwo?” Nana refleks menoleh pada Siwon, dan sedikit bersyukur karena Siwon mengenakan jubah mandi, tidak hanya mengenakan handuk yang biasa ia lakukan di rumah. Nana tidak bisa membayangkan jika Siwon berkeliaran di kamar hotel sementara ada wanita lain disana.

“Aku di sini agar Oppa  bisa menggunakan kamar dengan bebas,” jawab Nana. Siwon mengangguk.

“Eoh, geurae. Kalian masih lama?”tanya Siwon pada Ayu yang sedang merias Nana. sedangkan Dewi sedang menyiapkan busananya.

“Tidak, beberapa saat lagi selesai, Sir,” jawab Ayu.

“Eoh, baiklah, aku tinggal dulu,” jawab Siwon, lalu kembali ke kamar.

_oOo_

Siwon yang sedang menelfon adiknya, Choi Shinwoo, diruang tamu, menoleh ketika mendengar langkah kaki Nana dan dua wanita yang merias istrinya itu. Siwon menoleh. Sejenak, ia terpana melihat pemandangan yang ada di depannya. Nana, istrinya, terlihat sangat mempesona mengenakan kebaya yang ia pilih. Kebaya modern berwarna merah maroon sangat pas dengan kulitmya yang seputih susu, dan melekat pas ditubuh Nana, seakan-akan memang sengaja dibuat untuknya. Rambutnya disanggul rapi dengan hiasan tiara di bagian samping. Riasannya minimalis, tetapi ia memakai lipstick berwarna senada dengan kebayanya. Ya Tuhan! Siwon tidak menyangka jika istrinya, yang notabene orang Korea asli, bisa terlihat sangat menawan dalam balutan busana khas Indonesia ini.

“Bagaimana?” tanya Nana pelan, melihat Siwon yang hanya memandanginya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Siwon tersenyum dan mengangguk.

“Sempurna!” pujinya. Siwon kemudian beralih pada Ayu dan Dewi.

“Nona, terima kasih sudah membantu istriku malam ini. Akan ku pastikan kalian mendapatkan bonus yang sesuai,”Ayu dan Dewi tersenyum dan mengangguk.

“Terima kasih, Sir. Kalau begitu, kami pamit,” Siwon dan Nana mengangguk. Tak lupa, Nana juga mengucapkan terima kasih. Setelah kedua wanita itu menghilang di balik pintu, Siwon kembali beralih pada Nana.

“Kalau begitu, kita berangkat sekarang?” lanjut Siwon, seraya mengulurkan tangan. Nana tersenyum dan menyambutnya.

_oOo_

“Kau kesulitan berjalan?” tanya Siwon, penuh perhatian melihat langkah Nana yang tidak selincah biasanya. Saat ini mereka baru saja tiba di ballroom hotel untuk gala dinner.

“Tidak, hanya belum terbiasa,” jawab Nana, seraya tersenyum.

“ Jika kau merasa tidak nyaman, kita langsung duduk saja,”

“Tidak, Oppa. Ini adalah acara penting. Nan Gwaenchana,”

“Mr. Choi Siwon!” Pembicaraan mereka terhenti ketika seorang lelaki memanggil nama Siwon. Mereka menoleh. Ternyata lelaki itu adalah pengusaha dari Singapore. Mereka berbincang sejenak, kemudian beralih ke para tamu yang lain. Nana, walaupun masih belum terbiasa dengan kebaya yang ia  kenakan, berusaha terlihat senyaman mungkin. Ia berusaha tampil sebaik mungkin, tidak ingin mengecewakan atau mempermalukan suaminya. Apalagi melihat banyaknya pengusaha dan tamu lain yang menemui mereka. Ia baru menyadari, betapa terkenalnya Choi Group di kancah perekonomian dunia. Selama ini sebatas tahu bahwa Choi Grup adalah bisnis berskala internasional, tetapi tidak menyangka bahwa garis keturunan keluarga Choi, seterkenal ini.

Ketika acara dimulai, para tamu undangan duduk di meja masing-masing, termasuk Siwon dan Nana yang duduk di barisan meja paling depan. Acara demi acara pun berlalu, hingga pada penyerahan secara simbolis perjanjian kerjasama yang mereka tanda tangani.

“Kepada Mr. Choi Siwon, dipersilakan maju ke panggung,” Siwon berdiri dan mengulurkan tangannya pada Nana. Sejenak Nana bingung. Siwon mengangguk, mengisyaratkan Nana untuk menemaninya. Dengan ragu, Nana menyambutnya. Mereka pun berjalan. Siwon menyesuaikan langkahnya dengan Nana, dan ketika menaiki tangga kecil, Siwon berjalan selangkah di belakangnya, menjaganya. Acara penyerahan pun berlangsung dengan baik. Setelah menyampaikan sambutan singkat, mereka pun kembali.

“Ah!” pekik Nana. Ia tergelincir ketika berjalan menuju tangga. Ia hampir jatuh terjerembab ke lantai, tetapi Siwon berhasil menahannya.

“Nana, gwaenchana?” Nana mengangguk dan menunduk dalam. Ia merasa sangat malu. Siwon kemudian melingkarkan tangannya di punggung dan di bawah lutut Nana, dan mngangkat tubuhnya. Nana terperangah kaget. Ia ingin protes, tetapi terlambat! Seluruh ruangan pasti sudah melihatnya, termasuk cameramen yang mengabadikan setiap momen yang terjadi selama acara ini. Akhirnya, Nana memilih menunduk, menyembuyikan wajahnya.

Begitu sampai di kursi mereka, Siwon menurunkan Nana pelan, lalu berlutut di depannya.

“Sakitkah? Mana yang sakit?” tanya Siwon, penuh perhatian. Nana menggeleng, namun wajahnya masih tertunduk dalam. Matanya berkaca-kaca. Ia sangat malu dan merasa bersalah pada Siwon karena sudah mempermalukannya atas kejadian tadi. Tetapi, Siwon malah berlutut di depannya, menanyakan kondisinya. Nana ingin menjawab dan melarang Siwon melakukannya, namun ia tercekat. Jika ia berkata sepatah kata saja, airmatanya pasti jatuh!

“Nana…? Kau ingin kita kembali ke kamar?” Nana kembali menggeleng. Siwon menghela nafas, kemudian beranjak.

“Kita ke kamar saja,” ujarnya. Tepat ketika ia berbalik, —untuk berpamitan pada sang empunya acara—, Nana menahan lengannya. Siwon menoleh, dan melihat Nana yang masih menunduk.

“Kita disini saja. Sampai acara selesai,” ujarnya pelan, namun terdengar cukup jelas oleh Siwon.

“Kau yakin?” Nana mengangguk.

“Baiklah,” jawab Siwon, mengalah. Ia tidak ingin mendebat atau memaksa Nana dalam kondisi seperti ini. Mereka pun kembali mengikuti acara sampai selesai.

_oOo_

Nana duduk di pinggir ranjang, menunggu Siwon yang sedang mandi. Sejak pulang dari gala dinner tadi, Nana langsung membersihkan diri dan mandi, tanpa berbicara apa-apa dengan Siwon. Sedangkan Siwon langsung melakukan beberapa panggilan ke Korea, mengurus pekerjaannya. Begitu Nana selesai, barulah Siwon mandi. Jadi, sedari tadi mereka masih belum sempat berbicara.

Klek.

Pintu kamar mandi terbuka. Sesaat kemudian, lelaki itu keluar dari kamar mandi. Nana  langsung berdiri.

Oppa, Maafkan aku atas kejadian tadi. Aku tidak sengaja. Aku benar-benar minta maaf!” ujarnya. Siwon mengerutkan kening.

“Tidak apa-apa. Aku bisa mengerti,” jawab Siwon, seraya tersenyum.

“Tetapi aku sudah membuat Oppa malu tadi,” ujar Nana, seraya menunduk. Siwon menatap Nana.

“Membuatku malu? Siapa yang berkata begitu?” Nana tetap menunduk.

“Nana, jangan memikirkan hal-hal yang tidak penting seperti itu. Aku mengerti keadaanmu tadi. Itu bukan kesalahanmu. Kau juga tidak mempermalukanku. Tenang saja,” lanjutnya menenangkan.

Geundae…”

“Nana, sekarang sudah malam. Lebih baik kita tidur,” potong Siwon, lalu naik ke atas ranjang. Nana menghela nafas.

Oppa, bolehlah aku meminjam guling?” Siwon mengerutkan kening mendengar pertanyaan Nana.

“Guling? Tentu. Gunakan saja!” jawab Siwon. Nana pun meraih guling yang terdekat dengannya lalu berbalik.

“Kau mau kemana?” tanya Siwon, melihat Nana berjalan kea rah pintu.

“Ruang tamu. Aku akan tidur di sofa,”

“Mwo? Kenapa?”

“Aku tidak ingin membuat Oppa tidak nyaman,” jawabnya. Siwon mengerutkan kening lagi.

“Tidak Nana. Kau wanita. Lebih baik kau yang tidur di sini, aku yang akan tidur di sofa,” ujar Siwon, lalu beranjak. Ia berjalan kemudian berhenti di depan Nana. Nana semakin memeluk gulingnya ketika Siwon akan mengambilnya.

“Tidak Oppa. Semua ini disiapkan untuk Oppa, bukan untukku. Jadi Oppa yang berhak tidur di kamar,” Siwon menghela nafas.

“Nana, sebenarnya aku bisa menyewa  kamar lain. Tetapi hal itu pasti akan menimbulkan pembicaraan tidak baik jika mereka tau. Jadi sekarang berikan guling itu, biar aku yang tidur di sofa,” Nana menggeleng, lalu berbalik, melanjutkan langkahnya. Tetapi Siwon menahannya.

Geurae, kita berdua tidur disini,” ujar Siwon, singkat, padat, jelas. Nana membulatkan mata.

“Mwo? Tidur berdua?” ulangnya. Siwon mengangguk.

“Ya. Kita berdua tidur disini. Tenang saja, aku tidak akan berbuat macam-macam padamu,” jelas Siwon. Nana termenung.

“Ayo!” Siwon meraih tangan Nana dan membawanya mendekati ranjang. Kemudian ia naik. Ia mengangguk, mengisyaratkan Nana untuk naik juga. Dengan ragu, Nana naik kemudian berbaring membelakangi Siwon.

“Tidurlah!” ujar Siwon. Nana hanya diam, menyembunyikan perasaannya yang berdebar kencang. Ia sudah sangat sering berdekatan dengan Siwon. Tetapi ia tidak mengerti mengapa tubuhnya bereaksi seperti ini jika bersama Siwon. Dan apa yang terjadi sekarang? Mereka tidur seranjang? Nana tidak pernah membayangkan sebelumnya, dan ini membuatnya gugup. Nana tidak bisa memejamkan mata, sampai ia mendengar nafas berat Siwon yang tenang dan teratur, dan sesekali mendengkur halus. Nana menghela nafas, kemudian memejamkan mata. Beberapa saat kemudian, ia pun terlelap.

_oOo_

Semburat cahaya mentari fajar membias dari sela-sela dedaunan.

05.53 WIB.

Siwon, Nana, dan Arya sudah tiba di Candi Borobudur, sebuah situs wisata yang telah terkenal seantero dunia. Mereka memang sengaja datang pagi-pagi agar tidak terlalu panas, dan memiliki waktu yang cukup untuk berwisata di kota ini.

Nana mengenakan cardigan, di luar maxi dress ungu bermotif bunga yang ia kenakan. Sedangkan Siwon terlihat santai dengan mengenakan kaos rajut lengan panjang berwarna hitam dengan celana denim berwarna beige. Setelah mengantri di loket khusus turis mancanegara, mereka pun berjalan memasuki kompleks candi. Arya, yang sejak awal kedatangan sudah menjadi guide mereka, dengan fasih menjelaskan seluk-beluk candi Borobudur. Sesekali, mereka pun mengambil gambar, mulai dari jalan menuju candi, tangga candi, stupa, dan beberapa sudut menarik lainnya.

“Mitos yang beredar di masyarakat luas adalah, jika bisa memegang patung yang ada di dalam stupa, maka keinginan Anda sudah dekat atau hampir terwujud,” jelas Arya, begitu mereka melintas di dekat sebuah stupa.

“Oh, benarkah? Biasanya apa yang mereka tanyakan?”

“Eum, biasanya jodoh,” jawab Arya. Siwon mengangguk dan tersenyum tipis.

“Baiklah, aku akan mencobanya,” ujar Siwon. Arya tertawa kecil.

“Anda sudah memiliki seorang istri yang cantik dan sempurna, apa yang akan Anda tanyakan?” Siwon hanya mengangkat bahunya dan tersenyum misterius.

Siwon menunduk dan menjulurkan tangannya ke dalam stupa. Dengan mudah ia pun bisa menyentuh patung dalam stupa. Siwon tersenyum dan menarik tangannya. Ketika ia menoleh, orang pertama yang ia lihat tidak lain adalah Nana, istrinya, yang sedang berbicara dengan seorang turis asing. Siwon terpana. Nana bagaikan seorang dewi yang baru saja turun dari langit. Rambut lembutnya berkibar tertiup angin, dan semburat sinar mentari yang menerpa wajahnya membuat wajahnya bercahaya dengan cara yang… menakjubkan.

“Tuan Choi?”

“Ah, ne,” Siwon seakan tersadar ketika mendengar suara Arya yang memanggilnya.

“Bagaimana?” Siwon hanya tersenyum kecil. Ia hanya mencoba-coba, tidak serius, menanyakan perihal jodohnya, seperti yang umumnya orang lain lakukan. Dan Nana adalah orang pertama yang ia lihat setelah ia berhasil menyentuh patung dalam stupa, dalam pemandangan yang… tidak biasa.

_oOo_

Setelah puas berkeliling di Candi Borobudur, mereka akhirnya memutuskan turun. Dalam perjalanan keluar, mereka banyak menjumpai para penjual souvenir yang menawarkan dagangannya. Saat itu hari sudah beranjak siang. Beberapa kali Nana menutupi wajahnya dengan tangan, menghalau sinar matahari yang menerpa wajahnya. Tiba-tiba, ia merasakan sebuah sun hat terpasang di kepalanya. Nana menoleh, dan mendapati Siwon tersenyum padanya.

“Untukmu. Kau kepanasan, bukan?” Nana tersenyum.

Gomawo,” jawabnya.

“Ehem!” mereka menoleh ketika mendengar suara deheman Arya.

Newly wed couple, should I take your picture?” ujar Arya, seraya menunjukkan kameranya. Siwon tertawa menanggapi candaan Arya. Ia mengangkat bahu dan berujar, “Why not?”, seraya melingkarkan tangannya di bahu Nana.

_oOo_

Siwon turun dari mobil, kemudian membantu Nana. Kini mereka sudah berada di Malioboro, sentra perbelanjaan yang menjadi salah satu ikon kota Jogja.

“Kita makan siang dulu?” tanya Arya. Siwon dan Nana mengangguk. Mereka kemudian berjalan kea rah sebuah rumah makan yang menyajikan makanan khas Jogja, gudeg. Mereka setelah memilih tempat duduk, mereka memesan makanan. Beberapa saat kemudian, pesanan mereka pun datang.

“Selamat makan!” ujar Arya. Siwon dan Nana tersenyum dan mengucapkan hal serupa. Nana mulai memakan gudegnya. Sejenak, ia berhenti, merasakan rasa pedas. Ia segera menoleh kea rah Siwon, bermaksud melarang Siwon memakan makanan itu. Namun terlambat! Siwon sudah memakannya, sesendok penuh! Nana menahan nafas. Tinggal menunggu beberapa detik untuk melihat reaksi Siwon jika memakan makanan yang pedas.

“Hah, pedas!” pekik Siwon, dan segera mencari air minum. Nana dengan sigap membantunya. Wajah Siwon memerah dan berkeringat.

Aigoo!” ujar Nana, seraya menyeka keringat Siwon dengan tissue dan mengipasnya pelan.

Oppa, gwaenchana?” tanya Nana, khawatir. Siwon mengangguk.

“Ne. nan gwaenchana!”  Jawab Siwon, seraya mengatur nafasnya. Sedangkan Nana masih menyeka keringatnya.

“Maaf, apa yang terjadi pada Tuan Choi?” tanya Arya, yang sedari tadi bingung melihat apa yang terjadi.

“Eoh? Oppa tidak bisa memakan cabai. Ia tidak tahan pedas sama sekali,” jelas Nana.

“Minum lagi?” lanjutnya, kini pada Siwon. Siwon mengangguk. Nana kemudian memberikan air putihnya yang belum ia sentuh sama sekali pada Siwon. Siwon menerimanya lalu menghabiskannya. Beberapa saat kemudian, ia kembali pulih.

Eotte? Sudah membaik?” Siwon mengangguk.

“Aku pesankan makanan lagi?” lanjut Nana. Siwon kembali mengangguk. Nana kemudian memanggil seorang pelayan dan mulai memesankan makanan untuk Siwon. Siwon memperhatikan Nana yang dengan teliti menanyakan komposisi berbagai menu yang tersedia. Siwon merasa sebuah perasaan hangat menjalar di dadanya melihat apa yang Nana lakukan untuknya. Wajah Nana yang khawatir, Nana yang menghapus keringatnya tanpa ragu, membantunya, memilihkan makanan untuknya dengan hati-hati… “Beruntungnya aku memiliki istri sepertimu, Nana…” batinnya. Seulas senyum pun terukir di bibirnya.

_oOo_

“Tamansari adalah pemandian para putri pada zaman dulu,” Arya memulai penjelasannya begitu mereka tiba di kompleks Tamansari. Kompleks ini terdiri dari bangunan tua yang terpetak-petak, yang merupakan bangunan peninggalan Keraton, dan rumah-tumah penduduk.

“Lorong-lorong ini menuju ke mana?” tanya Nana, ketika mereka kini sudah berada dalam lorong-lorong menuju kompleks pemandian.

“Ke keraton. Tapi, sepertinya sekarang sudah ditutup,” jawab Arya.  Arya kemudian menjelaskan berbagai hal, seperti berbagai ruangan yang ada di kompleks, dinding tembok yang menggunakan putih telur sebagai bahan perekat, kolam pemandian putri, dan sebagainya.

“Nah, ini adalah penginapan sang raja,” ujar Arya, begitu mereka tiba di sebuah ruangan kecil, dengan ranjang dari tembok, dan beberapa undak lainnya.

“Arya, mengapa banyak koin disini?” tanya Nana, ketika melihat sebuah sumur dekat pintu keluar ruangan tadi.

“Eoh, itu adalah koin yang dilempar oleh para pengunjung. Menurut mitos yang beredar, jika kita melempar koin dan masuk, maka keinginan kita akan tercapai,”

“Eoh, geurae? Semudah itukah?” Arya tersenyum.

“Tidak semudah itu, Nyonya. Anda harus berdiri membelakangi sumur itu, dalam jarak satu meter. Lalu lempar koinnya ke belakang,” Nana mengangguk.

“Anda mau mencoba?” tawar Arya. Nana tersenyum lebar dan mengangguk. Arya kemudian menunjukkan posisi yang dimana Nana harus berdiri. Nana segera mendekat dan mengambil posisi.

“Apa yang kau tanyakan?” tanya Siwon yang berdiri di sisi sumur yang berseberangan dengan Nana.

“Eum, menurut Oppa?” Siwon mengerutkan dahi lalu mengangkat bahu.

“Terserah padamua!” ujarnya, lalu menumpukan tangannya pada tembok pembatas sumur.

Nana memejamkan mata lalu melempar koinnya ke belakang. Setelah itu, ia berbalik dan mendekat.

“Masuk?” tanya Nana, pada Siwon. Siwon balas menatapnya dengan kening berkerut penuh tanya.

“Apa yang kau tanyakan tadi?” Siwon balas bertanya.

Nana mengerutkan kening. “Wae?”

“Koinnya masuk setelah membentur lengan Tuan Choi!” jawab Arya seraya tersenyum.

Geurae?” ujar Nana, heran.

“Jadi?” lanjutnya.

Arya mengangkat bahu. “Eum, mungkin keinginan Anda bisa tercapai karena atau bersama Tuan Choi!” jawabnya, seraya tersenyum.

Nana terdiam. Tadi ia menanyakan tentang jodoh. Jika hasilnya seperti tadi, lalu apa yang akan terjadi?

_oOo_

Hari sudah senja. Siwon, Nana, dan Arya berjalan menyusuri jalan setapak menuju bukit bintang, salah satu bukit dimana kita bisa melihat kerlap-kerlip lampu di Kota Jogja dari ketinggian. Di ufuk barat, terlihat matahari yang mulai turun ke peraduannya. Semburat jingga cahaya senja membias dengan indah. Sedangkan di kejauhan, lampu-lampu mulai menyala.

AigooYeppuda!” gumam Nana, begitu melihat pemandangan yang menakjubkan tadi. Beberapa saat kemudian mereka mengambil beberapa foto.

“Tuan, aku turun dulu. Silakan Anda menikmati pemandangan berdua dengan Nyonya!” ujar Arya, sengaja memberikan waktu kepada mereka berdua. Siwon tersenyum dan mengangguk. Mereka akhirnya duduk di sebuah bangku panjang.

“Bagaimana? Kau suka perjalanan kita?” tanya Siwon, memulai percakapan. Nana mengangguk antusias.

“Tentu saja, Oppa!” jawabnya. Siwon tersenyum.

“Nana, seperti yang sudah ku katakana, jika kau ingin keluar negeri, kemana pun itu, katakana saja padaku!” ujar Siwon.

Nana tersenyum lalu menggeleng. “Tidak OppaOppa sudah memberiku banyak hal! Akan sangat keterlaluan jika aku meminta lebih!” jawab Nana,

“Sama sekali tidak, Nana! Aku akan senang jika berhasil mewujudkan keinginanmu, ehm, maksudku, aku akan senang mewujudkan keinginan seseorang yang dekat denganku,”

Nana mengerutkan kening, “Eum?” gumamnya, menanyakan maksud Siwon.

“Aku tidak ingin mereka merasakan kekecewaan seperti aku dulu,” ujar Siwon.

“Maksud Oppa?”

Siwon menghela nafas. Wajahnya berubah sendu.

“Nana, apa kau tau mengapa aku ingin segera… menikah?” Nana menatap Siwon dengan wajah penasaran.

“Tidak Oppa. Aku sangat penasaran tetapi aku tidak berani bertanya,” jawab Nana, jujur.

Siwon menghela nafas.

“Aku ingin memenuhi permintaan Eomma dan Appa. Ini adalah permintaan pertama mereka, sejak mereka mengadopsiku, dan aku akan mewujudkannya bagaimana pun caranya,” Nana terdiam.

“Mengadopsi?” ulang Nana, memastikan ia tidak salah dengar. Siwon mengangguk. Pandangannya lurus ke depan.

“Ya. Sebenarnya aku bukan anak kandung Eomma dan Appa. Begitupun Shinwoo dan Inna. Kami semua adalah anak angkat. Aku diadopsi ketika berusia  9 tahun,  hampir bersamaan dengan Shinwoo yang berusia 6 tahun. Sedangkan Inna diadopsi ketika ia masih bayi,” Siwon berhenti sejenak, lalu menyandarkan tubuhnya.

“Dulu Eomma menemukanku ketika pulang kerja, berjalan sempoyongan di trotoar karena kelaparan. Saat itu aku tinggal dengan seorang lelaki. Orang-orang bilang dia adalah ayahku. Tetapi aku tidak percaya. Seorang ayah tidak akan menyakiti dan menelantarkan anaknya,” Siwon berhenti, rahangnya mengeras. Sedangkan Nana memperhatikan setiap gerakan dan ucapan Siwon dengan mata berkaca-kaca. Terbayang jelas dibenaknya, seorang anak laki-laki, kurus kering, kelaparan, dengan penampilan tak terawat…

“Lalu Eomma membawaku ke rumahnya. Aku tidak tahu apa yanag terjadi. Yang jelas, setelah saat itu mereka merawatku, menyekolahkanku, dan memberikan namanya padaku, serta mengenalkanku sebagai bagian dari keluarga mereka,” lanjut Siwon, lalu menunduk. Ia tersenyum tipis, menertawakan dirinya sendiri. Sebelumnya ia tidak pernah menceritakan masa lalunya pada orang lain, namun mengapa kini ia malah bercerita pada Nana? God! Sepertinya kali ini alam bawah sadarnya-lah yang melakukannya!

Siwon menoleh pada Nana. Bertepatan dengan itu, air mata yang menggenang di pelupuk matanya pun meleleh.

“Nana, kau menangis?” ujar Siwon, kaget. Nana menggeleng, lalu menghapus air matanya. Namun yang terjadi malah sebaliknya, air matanya terus mengalir.

“Nana…” gumam Siwon, lalu menarik Nana ke dalam pelukannya.

“Mengapa kau menangis?” tanyanya.

“Aku… Aku tidak menyangka bahwa kehidupan Oppa…” Ujar Nana, di sela isak tangisnya.

“Bahwa Oppa…” Nana berusaha melanjutkan kalimatnya, namun gagal.

“Ssstt… Uljima! Maaf aku tidak bermaksud untuk membuatmu…” ujar Siwon, pelan. Suaranya tercekat, tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Ia merasa… tersentuh. Ini pertama kalinya ada seseorang,—selain ibunya—,   yang menangis untuknya.

“Nana, uljima…” lanjutnya, seraya membelai punggung Nana. Beberapa saat kemudian, Nana perlahan melepaskan diri dari pelukan Siwon. Siwon mengangkat wajah Nana dengan kedua tangannya. Ia melihat mata Nana yang sembab dan hidungnya yang memerah.

“Sayang, jangan pernah menangis karenaku lagi! Berjanjilah!” ujar Siwon, pelan dan penuh perasaan. Nana mengerjap. Sayang? Siwon memang pernah memanggilnya sayang, dan itu semua di depan orang lain. Namun mengapa kali ini Siwon juga memanggilnya sayang? Bukankah kali ini hanya ada mereka berdua? Dan mengapa panggilannya kini terdengar lebih…

Sentuhan Siwon di pipinya, yang sedang menyeka air matanya, membuat perhatian Nana kembali pada Siwon.

“Nana…” panggil Siwon, pelan. Nana menatap Siwon sebagai jawaban. Ternyata kini Siwon juga tengah menatapnya. Sebuah perasaan asing selalu menjalar dihatinya setiap melihat ke dalam mata Nana yang bening dan indah. Tanpa sadar, perlahan ia mendekatkan wajahnya kepada Nana. Detik berikutnya pun ia menemukan bibir lembut Nana, dan menciumnya dengan penuh perasaan.

_oOo_

To Be Continued…

Oye hoi hoi…

Akhirny Nawon ke jogja jugaa…

Ada reader dari jogja, ga?

Kalau ada, ketemu ga kemarin?? Hehee… 😉

Nih,  buat yang nunggu kisseu-nya NaWon… udah ada di part ini…Hahahaaa… 😀

Ditunggu ya Komennnyaa… 😀

Advertisements

52 thoughts on “Promise You (Part 8)

  1. Holla
    Udah baca dari part 1 sd 8
    Eh gak nyangka Kaka siwon juga pernah hidup miskin.. Apa nikahnya bukan sekedar nikah kontrak aja siwon jatuh cinta beneran sama Nana??

    Konfliknya di agak sadis in dong heheh… Maaf cuma request aja… Tp kaya begini pun gpp sih aku seneng sama yg Happy Ending story 😀

    Lanjutannya ditunggu ya…. Kakak

  2. admin….. ceritanya bikin aku deg-deg’an 😀 wiihhhhh seru bacanya. admin…. aku tunggu part selanjutnya iaaaaaaaa! terus jangan lama-lama 🙂
    admin 화이팅! 😉

  3. eaaaa,, benih2 cinta sudah mulai tumbuh…
    dapat kode2 nih d jogja kalo mereka jodoh,,!!
    huaaa si abang udah berani nyosor, hehehe

  4. Sorry ya baru comment!!!ceritanya bagus,pemilihan katanya jg pas,pokoknya T.O.P B.G.T dech tp mnurut ªќϋ mskipun kawin kontrak,ksh adegan romantisnya dikit donk biar ada rs greget.jgn lama2 ya kelanjutannya,di tunggu!!!!!!!!

  5. Kepo Nana saat melempar koin itu apa beneran akan kenyataan 😀 berharap sih Iaa
    Nana dan siwon makin sweet aja nih apa lagi udh kisseu 😀
    Berharap mereka kgk terpisahkan 😀

    Next Part eonnie ditunggu ya..
    Keep writing and fighting

  6. Halooo….
    Ah akhirnya datang jg part 8 setelah sekian lama nunggu,,,, heheh,,,, sbnrnya g trlalu lama jg, tp krna penasaran, jd berasa laaamaaaa….
    Cius deh thor, hampir tiap hari aku buka blog ini, liat2 kalo ada yg baru muncul…

    Woowww… Kereeeeennn,,, apa lg bwa nama Indonesia…. Ngenalin indahnya negeri kita ke Siwon,,,
    Hehhe….tp baru tau kalo gudeg tu pedes,,, setau aku gudeg tuh manis…. Hmmm jadi pingin soto nih,,, ujan2 gini pas banget

    Ehemm… Udh mulai ada rasa nih…. Romantis bingit,,,,,
    Ditunggu y unnie kelanjutanya,,,, g sabar pngin baca kisah mereka lg… Semangat nulisnya

      1. Ahh,,, senangnya komenku muncul n dibalas lg….
        Wkwkkw…
        Mksih unnie author….
        Sbnrnya di ff2 unnie yg lain aku komen jg,,, tp slalu ada tulisan “menunggu moderisasi” atau apa gt,,, jd ga tau komenku muncul apa ga…

        Iya thor, aku bnyak tgs nih,,, musim ujian lg,,, tp sbg refresing aku baca ff dsni,,,,

        Smg kuliah qt lancar ya thor… Aminnnn

      2. Wahh… kalau pertama komen emang harus di approve dulu sama adminnyaa… yg lain insyaallah juga udah di approve kok 😍
        Wahh, udah kuliah… aku kira readers nya pada anak2 sma… hihiii… 😊☺

      3. Oo gt,,,, pntesan,,,,mksih udh approve pnyaku….
        Iya udah kuliah…tp msh suka main2 kayak anak sma, trmasuk baca crita fiksi… Hahahah

        Kalo author ndiri udh kuliah apa msh sma?

      4. Eh,, prtanyaanku g penting banget,,,, jelas2 di atas author udh bilang “dibantai tugas kuliah”
        Tp aku msh nanya,,,, hahahha

        Ya udah deh,,,, pkoknya semangat ya thor….

  7. thooooot lama amat …
    panjangin lagi >_< ..

    sweet banget .. jogja jogja jogja . . siwon tembak nana dong ..
    gak ada masalah di part ini mulus akan cerita nawon ..
    aaaaaaaaaa yg akhir buat iri .. thoooor kiss nya kiss nya :* ..

    siwon anak angkat to .. kirain kandung .. nana cengeng

    next chap cepetan ya thor #maksa
    fighting thor

  8. anyeong..
    aku readers baru disini…
    aku udah baca dr part 1-8…
    ceritanya seru bikin penasaran mulu..
    kirain siwon ank kandung keluarga choi, tp ternyata masa lalu.y siwon hampir sama kaya nana, jd sedih bacanya…

  9. Hubungan nawon couple sudah sangat jauh dan siwon benar” falling in love dg semua kepribadian dan penampilan nana.
    Mudah”an saja selamanya nana menjadi istri siwon.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s