Promise You (Part 7)

Siwon nana promise you

 

Annyeong haseyo yeorobun!!!

Mian baru post lagii… author lagi disibukkan sama UTS, laporan, dll… ribet banget lah pokoknyaa… selain itu juga berusaha memenuhi keinginan readers, yang minta ceritanya dipanjangin… ya, jadi butuh waktu berhari-hari buat nyeleseinnya… semoga readers suka yaaa… heee…

Oya, btw, kita lagi open recruitment admin n author nih…

Persyaratannya gampang, yang penting mau nulis FF n meluangkan waktu buat isi WP ini, entah berita atau apalahh.. heee… 🙂

Buat yang berminat, BBM aja ke 7E898E6D

Gomawooo…!!!

 

Last Part

“Mengapa kau sangat lama, sayang?’ bisiknya mesra. Nana melirik Shiyoung sekilas, yang berada beberapa meter darinya. Ia  merasa tidak enak hati pada Shiyoung. Ia mendorong dada Siwon pelan, namun Siwon malah menggenggam tangannya, tersenyum lembut, lalu mengecup keningnya. Aigoo…! Maksud Nana adalah membuat Siwon tidak bertindak berlebihan padanya di depan Shiyoung, namun yang terjadi malah sebaliknya! Mereka terlihat sangat mesra, dan Siwon seakan tidak mempedulikan Shiyoung yang tengah menatap mereka tajam.

_oOo_

This part starts here…

Sebuah mobil mewah melaju pelan lalu berhenti di sebuah blok parkir pribadi apartemen. Setelah itu, seorang lelaki yang mengenakan jas hitam  keluar dari kursi sopir lalu segera membuka pintu penumpang. Begitu pintu terbuka, seorang lelaki mengenakan kemeja putih dan celana hitam keluar, lalu diikuti seorang wanita mengenakan dress berwarna broken white. Mereka lalu berjalan menuju lift, dan menekan tombol 13 belas, level yang mereka tuju. Sementara itu, laki-laki berjas tadi mengikuti dari belakang seraya membawa sebuah koper. Koper milik wanita itu, Im Nana, ani, Choi Nana.

Ding. Pintu lift terbuka.

Siwon meraih tangan Nana lalu melangkah keluar lift. Nana mengedarkan pandangannya ke seluruh pelosok serambi yang menyambut mereka begitu keluar dari lift. Ini pertama kalinya Nana mengunjungi sebuah penthouse. Dulu ia kira penthouse sama seperti apartemen-apartemen biasa, namun dengan fasilitas mewah. Ternyata perkiraannya tidak seluruhnya benar. Nana tidak tahu pasti gedung itu terdiri dari berapa lantai, mungkin antara 14 sampai 16 mungkin. Lantai pertama adalah lobby dan lounge. Lantai kedua merupakan tempat fasilitas public, seperti fitness center , café, restaurant, salon, dll. Lantai ketiga sampai lantai 12 terdiri dari apartemen mewah, dan penthouse Siwon terletak di lantai 13, satu-satunya penthouse yang ada di gedung itu.

Siwon membawa Nana menuju pintu masuk penthousenya. Melihat kedua daun pintu besar bergaya Eropa, Nana mengira kuncinya adalah kunci manual. Namun tebakannya salah. Pintu itu menggunakan password. Setelah pintu terbuka, mereka pun masuk.

Rasa penasaran Nana akan kediaman seorang Choi Siwon langsung terbayar ketika ia menginjakkan kaki di dalam. Rumah itu, ani, penthouse itu, sangat… wah! Tempat tinggal bergaya Eropa dengan dominasi warna putih. Ruang tamunya sangat luas dengan 2 set sofa. Selanjutnya, mereka menuju ruang tengah yang tersambung dengan ruang tamu dan dapur. Di tengah-tengah ruangan itu, antara ruang tengah dan ruang tamu, tergantung sebuah lampu kristal yang sangat indah. Selanjutnya, sebuah grand piano berwarna hitam terletak di sebuah sudut yang strategis, sehingga bisa terlihat dari ruang tamu dan ruangan lain di rumah itu. Grand piano itu menghadap langsung ke dinding kaca yang tertutup gorden berwarna coklat muda dan coklat tanah. Ya Tuhan! Nana sudah dapat membayangkan indahnya pemandangan malam kota Seoul dari tempat ini.

“Kau ingin kesana?” ujar Siwon, menyadari rasa penasaran Nana yang tampak jelas di wajahnya.

“Ne?” jawab Nana, refleks. Siwon tersenyum lalu menggerakkan kepalanya  ke arah dinding kaca, mengisyaratkan Nana untuk pergi melihatnya. Nana pun melakukannya dengan senang hati. Ia bergegas menuju dinding kaca yang berjarak beberapa langkah darinya.

“Aigoo!” serunya takjub begitu ia membuka gorden dan melihat pemandangan di luar sana.

“Kau suka?” tanya Siwon yang ternyata sudah berada di belakangnya. Nana menoleh dan menganggukkan kepala berkali-kali. Tentu saja! Ternyata di balik dinding kaca itu bukan hanya tersimpan sebuah pemandangan malam kota, tetapi juga ada kolam renang! Jujur, seumur hidup Nana tidak pernah membayangkan ada sebuah kolam renang di lantai 13!

Deg.

Sebuah kenyataan tiba-tiba menghentaknya. Semua ini hanya sementara. Ya, bukannya ia tamak dan ingin memiliki semua ini selamanya. Tetapi ia sadar diri, bahwa ia tidak boleh larut dengan semua kemewahan yang dimiliki Siwon.

“Kau kenapa?” tanya Siwon, begitu menyadari ekspresi Nana yang tiba-tiba berubah. Nana menggelangkan kepala lalu tersenyum.

Geurae. Kalau begitu, sekarang aku akan menunjukkan kamarmu. Kaja!” Nana pun  mengikuti langkah Siwon. Mereka melewati grand piano, menuju sebuah tangga setengah melingkar menuju lantai…14? Nana kira Siwon akan naik, namun ternyata ia malah berbelok ke arah sebuah pintu. Siwon membuka pintu dan mempersilakan Nana masuk. Nana pun menurut.

“Ini adalah kamar terluas kedua setelah kamarku. Ku harap, kau menyukainya,” ujar Siwon dari belakang Nana. Nana menoleh kepada Siwon yang sedang meletakkan koper Nana. Nana bergegas mendekati Siwon dan mengambil alih kopernya.

“Maaf Sajangnim, Anda tidak seharusnya membawakan koper saya,” ujar Nana, sungkan.

Gwaenchana. Bagaimana, kau suka kamar ini? Jika tidak, kau bisa memilih kamar yang lain,”

“Tentu saja, Sajangnim! Ini sudah lebih dari cukup,” jawab Nana. Tentu saja! Bukan hanya luas, tetapi sama seperti ruangan-ruangan lain, kamar ini pun di disain sangat elegant. Selain itu, ranjang king size yang terletak di tengah-tengah kamar itu menghadap langsung kea rah dinding kaca, yang Nana yakin, menyajikan pemandangan yang sama dengan dinding kaca di ruang tengah tadi.

Geurae. Kalau begitu aku pergi dulu,”  ujar Siwon lalu berbalik.

_oOo_

 

Siwon berjalan menuruni tangga dan langsung menoleh ke arah dapur saat menghirup wangi masakan. Benar saja, wanita yang semalam resmi menjadi istrinya, istri kontraknya,  sedang berkutat di dapur, menyiapkan sarapan.

“Selamat pagi!” ujarnya, begitu sudah tiba di dapur. Ia menarik kursi tinggi dari meja yang berbentuk bar di dapur. Nana menoleh kepada Siwon yang berada di balik meja di belakangnya.

“Selamat pagi!” jawab Nana, singkat.

“Kopi?” tanya Nana menawarkan.

Yes, please!” jawab Siwon. dengan cekatan Nana pun membuat secangkir kopi dan menyajikannya. Siwon mengucapkan kata terima kasih dan menikmati kopinya seraya memperhatikan Nana yang sedang mengaduk sesuatu di atas kompor. Tanpa disadarinya, ada sebuah perasaan asing, perasaan yang tidak bisa ia jelaskan, yang membuat hatinya bergetar melihat kesibukan Nana yang sedang menyiapkan sarapan untuknya.

“Kau sedang memasak apa?” tanyanya, beberapa saat kemudian.

“Sup krim ayam,” jawab Nana singkat, lalu mematikan api, lalu menuangkannya ke dalam dua mangkuk kecil. Setelah itu, ia menyajikannya dengan dua piring berisi baguette yang sudah di potong.

Baguette dengan sup krim ayam. Maaf Sajangnim, hanya itu yang saya temukan di kulkas,” ujar Nana, setelah menyiapkan sarapan. Ia pun menarik kursi dan duduk di depan Siwon.

Gwaenchana. Aku memang tidak menyiapkan bahan makanan di rumah,” ujar Siwon, seraya memakan sarapannya. Baru suapan pertama, dia berhenti.

“Kenapa, Sajangnim? Apakah ada yang salah?” tanya Nana, khawatir.

“Ya,” Siwon menjawab singkat.

Ne?” Siwon mengangkat wajahnya dan melihat Nana yang tengah menatapnya dengan wajah penasaran, menunggu jawabannya.

“Kau mengabaikan permintaanku, Nana…”

“Permintaan?” Siwon mengangguk.

“Kau masih memanggilku Sajangnim,” jawab Siwon.

“Eoh?” gumam Nana refleks, kaget atas jawaban Siwon.

“Maaf Sajangnim, bukankah sekarang hanya ada kita berdua? Jadi tidak aka nada yang tau jika saya memanggil anda Sajangnim,” jawab Nana. Siwon menggeleng.

“Tidak, Nana. Aku ingin kau selalu memanggilku Oppa dan berhenti menggunakan bahasa formal padaku. Dimana pun, kapan pun. Termasuk di kantor.” Jawab Siwon, tegas,

“Tapi, apa kata karyawan lain jika mendengar saya bersikap non formal pada Anda?” Siwon tersenyum.

“Terserah apa kata mereka. Sekarang kau adalah istriku,” jawab Siwon lalu kembali memakan sarapannya. Nana menunduk. Kalimat terakhir Siwon berhasil menciptakan sebuah perasaan hangat di hatinya.

“Eum, masakanmu enak. Kau suka memasak?” lanjut Siwon.

Ne, kadang-kadang saya, eum, aku membantu Eomma memasak,” jawab Nana, dengan mengganti kata saya menjadi aku ketika mendapatkan lirikan peringatan dari Siwon.

“Oya, hari ini aku ingin pergi ke supermarket. Apakah Oppa mengijinkan?” tanya Nana, meskipun masih kaku.

“Supermarket? Untuk apa? Kita bisa meminta Jinho membelikan seluruh keperluanmu,” jawab Siwon.

Geurae? Tapi ku rasa lebih baik langsung berbelanja di supermarket. Hari ini libur, dan tidak ada yang bisa ku lakukan di rumah,” jawab Nana.

“Eum, baiklah kalau begitu. Aku akan mengantarmu,” Nana membulatkan mata ketika Siwon mengatakan akan mengantarnya.

“Kenapa? Kau keberatan?” tanya Siwon.

“Tidak, tentu saja tidak,” jawab Nana.

“Jadi jam berapa kita berangkat?”

“Eum, aku ingin membersihkan rumah dulu,” jawab Nana. Siwon tersenyum.

“Tidak usah Nana. Setiap jam 9 ada pegawai yang datang untuk membersihkan rumah. Namanya adalah Kang Kin Ji. Dia datang setiap hari kerja, mulai jam 9 pagi sampai jam 5 sore,” Nana mengangguk.

“Oya, jika kau mau, kau bisa menyesuaikannya denganmu,”lanjut Siwon.

“Ne?” tanya Nana, tidak mengeri arah pernyataan Siwon.

“Jika kau mau, kau bisa menyesuaikan jam kerjanya sesuai keinginanmu. Mungkin kau ingin dia datang lebih pagi untuk menyiapkan keperluanmu, atau menyiapkan sarapan mungkin,”

“Eoh, sepertinya tidak perlu,” jawab Nana. Namun, beberapa saat kemudian, Nana terdiam.

Geundae, bagaimana jika dia tahu kalau kita tidak sekamar?” tanya Nana.

“Maksdumu?” Siwon balik bertanya.

“Bukankah pekerjaannya adalah membersihkan rumah ini? Berarti setiap kamar, termasuk kamar kita, bukan?” Siwon mengangguk, mengerti maksud Nana.

“Ah, kau benar,” Siwon membenarkan.

“Lalu bagaimana?” Siwon berpikir sejenak.

Molla. Kau ada ide?”

“Eum, bagaimana jika aku saja yang membereskan kamar Sajangnim, eum, maksudku, Oppa?”

“Eum, apa tidak memberatkanmu?” Nana tersenyum.

“Tentu saja tidak,” jawabnya. Siwon mengangguk.

“Baiklah kalau begitu. Aku akan mengatakan bahwa kamarmu sekarang, sudah menjadi ruang kerjamu, tidak ada yang diijinkan masuk selain kau, dan kau yang akan memegang kuncinya,”  Nana mengangguk dan tersenyum, menyetujui keputusan Siwon.

_oOo_

 

Nana memilih barang-barang yang akan ia beli dengan teliti, memperhatikan label dan harganya kemudian meletakkannya ke dalam troli yang di dorong Siwon.

“Sudah selesai. Ayo ke kasir!” ujar Nana, lalu membantu Siwon mendorong troli, walaupun ia tahu, Siwon tidak membutuhkan bantuannya. Ia hanya merasa sungkan dan tidak enak hati melihat Siwon, yang notabene adalah bosnya, — dimana seluruh barang-barangnya tidak pernah ia bawa sendiri, melainkan dibawa oleh ajudannya— malah mendorong troli berisi barang-barang belanjaannya.

Dalam perjalanan menuju kasir, Nana berhenti di sebuah deretan rak berisi aneka olahan daging, mulai dari sausage, bacon, frankfurter, bockwurst, dll. Ia menunduk dan melihat sebuah botol besar beef cocktail. Namun, setelah itu ia kembali berdiri dan mengajak Siwon ke kasir. Ketika Siwon akan mendorong troli, ia melihat pasangan lain melintas dengan troli besar penuh belanjaan.

“Nana, hanya ini barang yang kita butuhkan?” tanya Siwon. Nana menoleh.

Ne? Eum…” Nana tidak menjawab. Siwon akhirnya mengambil catatan belanja di tangan Nana, kemudian menyocokkannya dengan barang-barang yang berada di dalam troli. Ternyata masih banyak barang yang tidak ada.

“Eoh, masih banyak yang harus dibeli, bukan? Kajja!” Siwon memutar troli.

Geundae, Sajangnim,” Ujar Nana, menahan Siwon. Siwon noleh, lalu meraih tangan Nana.

Oppa…” ujarnya seraya tersenyum lembut, mengingatkan Nana untuk memanggilnya Oppa. Nana menunduk, menyembunyikan raut kemerahan di wajahnya, yang muncul tiba-tiba ketika Siwon menggenggam tangannya dan mengingatkannya dengan lembut, hingga ia akhirnya tanpa sadar mengikuti Siwon. Siwon mendorong troli dengan kedua tangannya. Namun, tangan kirinya berada di atas tangan kanan Nana, menggenggam tangan Nana yang ikut mendorong troli, karena ia enggan melepaskan tangan Nana.

Siwon berhenti di setiap rak berisi barang-barang yang mereka butuhkan, dan mengambilnya tanpa memperhatikan harga. Namun, Nana terkadang menukar barang-barang itu dengan barang sejenis namun  merk lain.

“Apakah yang itu lebih bagus?” tanya Siwon, melihat aksi Nana.

“Eum? Mollayo, tapi ini lebih hemat,” jawab Nana dengan suara pelan. Ia menggunakan kata hemat  untuk menggantikan kata murah. Siwon mengernyit, kemudian tersenyum geli setelah mengetahui maksud Nana.

“Nana, kau tidak usah khawatir masalah harga. Aku tidak akan bangkrut hanya dengan membeli barang-barang ini. Sekarang pilih saja barang yang paling bangus,”

“Tapi…”

“Tapi kenapa?” Nana tidak menjawab.

“Sudahlah, pilih saja yang paling bagus,” lanjutnya, tidak ingin dibantah. Nana menghela nafas dan menuruti kata-kata Siwon.

_oOo_

 

“Ya, Siwon-ah!” Siwon yang tengah memasukkan barang-barang belanjaan mereka ke dalam bagasi menoleh ketika merasa namanya dipanggil.

“Eoh, Kangin Hyung!” ujar Siwon, ketika mengenali orang yang memanggilnya tadi.  Lelaki itu adalah Kangin,  salah satu kolega Siwon. Lelaki itu pun berjalan mendekati Siwon dan Nana.

“Apa yang kau lakukan di sini? Maaf aku tidak bisa datang semalam. Aku baru tiba di Korea dini hari tadi,” ujar Kangin yang baru pulang dari Jepang.

“Eoh gwanchana, Hyung.” Ujar Siwon, seraya tersenyum.

“Selamat atas pernikahanmu. Apakah dia, Nyonya Choi?” tanya Kangin, seraya menoleh pada Nana. Siwon tersenyum lalu melingkarkan tangannya di pundak Nana.

Ne, dia Nana, istriku.” Istriku? Mengapa kalimat itu terdengar sangat indah di telinganya?

Annyeong haseyo, Im Nana imnida,” ujar Nana, memperkenalkan dirinya.

“CHOI Nana,” Ralat Siwon, dengan menekankan kata Choi.

Kangin tersenyum lalu mengenalkan dirinya.

“Kim Kangin imnida.  Aku adalah rekan bisnis Siwon. Ngomong-ngomong, apa yang kalian lakukan disini?”

“Seperti yang kau lihat Hyung, Nyonya merampokku di hari pertama setelah kami menikah,” ujar Siwon, seraya menoleh pada Nana.

“Eoh?” gumam Nana kaget, seraya menoleh pada Siwon, kaget mendengar kalimat Siwon, dan intonasi suaranya, seolah-olah benar-benar keberatan dengan banyaknya belanjaan mereka.

“Dasar kau! Tenang saja, Nana-ssi, suamimu memiliki pundi-pundi uang yang tidak terbatas! Bahkan dia bisa membeli store-nya sekalipun!” ujar Kangin. Siwon senyum cerah.

“Ah, kau bisa saja Hyung! Eoh, ngomong-ngomong, untuk apa kau kesini?”

“Ah, aku menjemput istriku,”

Geurae? Tetapi kami tidak bertemu dengannya tadi,” jawab Siwon.

“Tentu saja. Kau pasti sangat sibuk dengan istrimu. Eo, aku pamit dulu, ne. Istriku pasti sudah menunggu,” pamit Kangin. Siwon mengangguk.

Geurae. Sampai jumpa, Hyung. Sampaikan salamku pada Eonni,” jawab Siwon.

“Tentu. Aku pergi dulu,” ujar Kangin, lalu berjalan meninggalkan mereka.

_oOo_

 

Sesampainya di penthouse, Siwon membantu Nana menata bahan makanan yang telah mereka beli. Siwon yang mengeluarkannya dari kantong belanjaan, sedangkan Nana yang menatanya dalam refrigerator. Setelah selesai, Siwon  duduk di kursi bar, menunggu Nana yang sedang mengambilkan segelas jus jeruk untuknya.

Oppa, sekarang waktunya makan siang, Kau ingin makan apa? Aku akan memasakkannya,” tanya Nana.

“Memasak?” ulang Siwon. Nana mengangguk.

“Kau tidak lelah? Kita baru saja pulang Nana…” lanjutnya.

Gwaenchana,” jawab Nana, seraya tersenyum.

“Tidak. Kita akan memesan saja. Kau ingin apa? Korean food? Chinese food? Pizza?”

“Tidak usah Oppa… Aku tidak apa-apa, aku masih bisa memasak,” Siwon berdecak.

“Nana, katakan saja makanan apa yang kau inginkan! Aku akan membiarkanmu memasak, tapi tidak untuk saat ini. Semalam kau pasti lelah karena acara kita, dan hari ini kau bangun pagi, menyiapkan sarapan, membersihkan kamar, berbelanja, dan kau masih ingin memasak? Nana, kau adalah istriku, bukan pembantuku! Aku tidak ingin kau kelelahan lalu jatuh sakit, itu saja!” jelas Siwon, panjang lebar. Nana akhirnya menyerah.

Geuraeyo…” Jawabnya pelan.

“Bagus. Lalu kau ingin memesan apa?”

“Eum, terserah Oppa saja. Oppa pasti lebih tau,”

“Eum, bagaimana kalau pizza?” Nana berubah cerah, dan mengangguk.

Ne, Pizza!” jawabnya. Siwon tersenyum lalu menekan ponselnya untuk memesan pizza.

Oppa!” panggil Nana, setelah Siwon selesai dengan ponselnya.

Ne?”

“Aku… masalah belanjaan tadi, aku akan menggantinya,” ujar Nana.

Mwo?” jawab Siwon kaget.

“Barang yang kita beli tadi sangat banyak dan mahal. Aku akan menggantinya,” ulang Nana. Siwon berdecak dan menatap Nana.

“Nana, kau tidak perlu melakukan itu. Kau adalah istriku, dan aku sudah berjanji untuk membiayai semua keperluanmu. Lagipula, barang-barang yang kau beli tadi adalah untuk keperluan kita, untukku juga bukan?”

Geundae…”

“Nana, simpan saja uangmu untuk kebutuhan lain. Aku tidak membutuhkannya,” potong Siwon datar. Ia sengaja berkata seperti itu karena tidak ingin Nana mendebatnya lagi. Nana menunduk. Tentu saja. Jumlah kekayaan Siwon tidak ternilai. Tentu saja ia tidak membutuhkan uang dari Nana, yang tidak seberapa.

Ding dong.

“Pesanan kita sudah datang. Aku akan mengambilnya,” ujar Siwon, lalu pergi meninggalkan Nana yang terdiam di kursinya.

_oOo_

Tok tok tok.

Nana mengetuk pintu kamar Siwon, namun tidak ada jawaban. Pagi ini ia datang bermaksud memenuhi tugasnya, membersihkan kamar Siwon. Ia mencoba lagi sampai tiga kali, tetapi tetap tidak ada jawaban. Akhirnya ia memberanikan diri membukanya, melongok ke dalam, dan tidak menemukan Siwon. Ia pun masuk ke kamar Siwon yang sangat luas. Kamar Siwon terletak tepat di atas kamarnya, berisi satu set sofa, LCD TV, ranjang king size,  refrigerator, beberapa pintu-mungkin wardrobe-,  dan memiliki balkon.

“Nana?”

“Eoh, Sajangnim!” ujar Nana kaget ketika mendengar suara Siwon memanggilnya. Ia pun menoleh, dan melihat Siwon keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang terlilit di pinggangnya. Nana segera menunduk malu, dan Siwon tersenyum melihat tingkah Nana.

“Apa yang kau lakukan di sini?” ujar Siwon, seraya berjalan ke arahnya.

“Eum, maaf karena saya masuk tanpa permisi. Saya ingin membersihkan kamar Sajangnim,” tanpa sadar, Nana kembali menggunakan kalimat formal, karena kaget akan kehadiran Siwon, dan kini lelaki itu berdiri tepat di hadapannya.

“Maaf, jika Sajangnim keberatan,saya akan pergi sekarang,” ujar Nana lalu berbalik, namun Siwon menahan tangannya.

Gwaenchana. Aku hanya keberatan karena kau kembali menggunakan bahasa formal padaku,”

“Eoh? Mianhae,” jawab Nana, masih menunduk, tidak berani melihat Siwon. Siwon tersenyum.

“Lanjutkan saja, aku ganti baju dulu,” ujarnya lalu berjalan menuju wardrobe.

Beberapa saat kemudian, Siwon keluar dengan mengenakan kemeja putih dan celana abu-abu tua, dengan dasi yang menggantung di lehernya. Ketika ia baru saja keluar, ponselnya bordering, dan ia pun menjawabnya.

“Eoh, Eomma,”ujar Siwon, menjawab telfon yang ternyata Ibunya.

“…”

Siwon mencoba memasang dasi dengan sebelah tangannya, namun ia kesulitan. Nana yang saat itu telah selesai membereskan tempat tidur Siwon, berjalan mendekat lalu membantu Siwon memasang dasinya.

“Nana? Ya, dia bersamaku sekarang,” ujarnya, seraya mengangguk dan tersenyum. Padahal ibunya di seberang sana tidak akan bisa melihatnya.

“…”

Eomma  ingin bicara dengannya?”

“…”

Ne,” Siwon kemudian menyerahkan ponselnya pada Nana. Nana menerimanya, dan berbicara dengan ibu Siwon.

Ye, Eomoni,”

“…”

“Ah ne, aku meninggalkannya di kamar, eum, maksudku di meja, dan tidak mengeceknya,”

“…”

“Eoh, mianhaeyo Eomoni, kemarin kami sudah berbelanja…”

“…”

Ye, sampai jumpa,”Flip. Nana menutup telfonnya dan mengembalikannya pada Siwon, yang kini telah selesai memasang dasinya.

“Apa yang kalian bicarakan?”

“Eoh? Eomoni mengajakku berbelanja,”

“Lalu?”

“Aku menolaknya, karena kemarin kita sudah berbelanja, dan hari ini banyak pekerjaan di kantor,” jawab Nana. Siwon mengangguk. Pekerjaan Nana sebenarnya adalah pekerjaan Siwon. Dan akhir-akhir ini, pekerjaan Siwon memang sangat banyak karena ia harus menyiapkan pernikahannya, dan mengurus proyek kerjasama barunya di Indonesia.

“Eoh, semuanya sudah beres. Aku tunggu Oppa di bawah untuk sarapan,” ujar Nana, seraya melangkah menuju pintu.

“Tunggu!” panggil Siwon. Nana berhenti dan berbalik.

Ne?” Siwon mengangguk, mengisyaratkan Nana untuk mendekat. Lalu ia mengambil sebuah amplop dari lacinya, dan menyerahkannya pada Nana.

“Ini kartu kredit untukmu,”

Ne?” Nana mengangkat wajahnya memandang Siwon dengan tatapan bertanya.

“Ambillah, kau bisa menggunakannya berbelanja apapun yang kau mau. Kartu ini unlimited,” ujar Siwon.

Geundae, aku tidak terlalu membutuhkannya, eum, maksudku, aku masih memiliki gaji…”

Geurae? Apa dengan gajimu itu bisa memenuhi seluruh kebutuhanmu? Memenuhi kebutuhan kita? Nana, aku tidak akan selalu menemanimu berbelanja. Jika aku tidak bersamamu, apa kau bisa membayar barang-barang belanjaanmu itu? Maksudku, jika saja kau berbelanja keperluan rumah tangga seperti kemarin, apa bisa?” Nana diam. Siwon benar, uang yang ia miliki memang tidak cukup memenuhi segala kebutuhannya, ditambah lagi dia masih harus memberikan sebagian gajinya untuk ibu dan adiknya.

“Baik, Oppa. Terima kasih banyak!” jawab Nana, lalu mengambil amplop yang diberikan Siwon. Walaupun kini ia menerima kartu kredit unlimited dari Siwon, bukan berarti ia setuju untuk berbelanja sesuka hatinya, belanja apapun yang ia mau. Ia berjanji, ia akan menggunakan kartu ini hanya untuk berbelanja kebutuhan rumah tangga mereka.

_oOo_

Hari pertama ke kantor sebagai pasangan suami istri, sukses menimbulkan kehebohan seantero perusahaan. Siwon yang biasanya selalu datang ke kantor dengan Kim Junho di sampingnya, kini berubah menjadi seorang wanita cantik, Im Nana, sedangkan Kim Junho berjalan di belakang mereka. Memang, para karyawan itu sering kali melihat mereka pergi bersama, namun saat itu Nana masih menjadi sekretaris Siwon. Tetapi sekarang? Setelah baru sekitar 2 bulan bekerja, Nana tidak hanya menjadi seorang sekretaris, tetapi NYONYA DIREKTUR. Dan predikat itu seakan ditegaskan oleh Siwon dengan sikap protektifnya kepada Nana. Lelaki itu membantu Nana keluar dari mobil, meletakkan tangannya di punggung Nana ketika mereka melewati tangga, dan enggan melepas tangan Nana yang berada dalam genggamannya ketika sedang berbicara dengan salah satu karyawan, dan menjawab ucapan dari para karyawan.

_oOo_

“Seratus juta Won?” Nana memekik kaget ketika melihat pemberitahuan e-banking di smartphone-nya. Ia kembali menghitung jumlah angka nol dalam pesan itu. Benar, seratus juta Won. Ini pasti ulah Siwon. Pasti Siwon yang sudah mentransfer uang itu padanya. Pasti.

Nana bangkit dari kursinya dan berjalan menuju ruangan Siwon. Setelah mengetuk pintu, ia pun masuk.

“Nana? Ada apa?” tanya Siwon dari balik meja kerjanya. Nana tidak menjawab namun langsung berjalan mendekat.

Oppa, mengapa kau mentransfer uang padaku dengan jumlah yang sangat banyak?” tanya Nana. Nana berusaha berkata dengan pelan dan lembut, namun nada tidak suka masih tersirat jelas dari suaranya. Siwon mengerutkan kening.

“Eoh itu. Kau sudah mengeceknya? Baguslah!” jawab Siwon.

Oppa, mengapa kau mentransfer uang itu? Kau sudah memberiku kartu kredit. Itu sudah lebih dari cukup. Aku…”

“Nana, tidak bisakah kau menerima pemberianku tanpa mendebatku?” potong Siwon tajam.

“Maaf Sajangnim, tetapi pemberian Anda terlalu banyak. Anda telah membiayai pengobatan Hana, dan itulah yang tercantum dalam perjanjian kita. Dan yang Anda beri saat ini, sudah sangat berlebihan,” jawab Nana. Kalimat dan pandangan tajam Siwon padanya membuatnya kembali sungkan pada lelaki itu.

Siwon diam. Rahangnya mengeras mendengar Nana menyebut masalah perjanjian mereka.

“Kau membahas perjanjian itu? Geurae. Jika kau membacanya dengan teliti, kau pasti ingat ada poin yang menyatakan bahwa aku akan menanggung seluruh kebutuhanmu dan kebutuhan keluargamu. Dan itu yang kulakukan sekarang,” jawab Siwon, dingin dan datar. Nana menunduk. Sikap Siwon belakangan ini, yang selalu hangat padanya, kini berubah. Sikap Siwon yang dulu telah kembali. Sikap Siwon yang dingin dan mengintimidasi.

“Jweseonghamnida Sa…”

Klek.

Kalimat Nana terhenti ketika mendengar pintu terbuka. Sontak, mereka menoleh, dan menemukan sosok wanita cantik dan anggun berjalan masuk dengan santainya.

“Hai. Apakah aku mengganggu kalian?” tanyanya. Namun, pertanyaan itu hanya basa-basi. Buktinya, wanita itu malah melenggang santai, mendekati mereka. Siwon berdecak dan menatap wanita itu tajam.

“Eoh, tidak, Shiyoung-ssi!”  jawab Nana.

“Eoh, baguslah kalau begitu. Bagaimana kabarmu?”

“Baik. Sangat baik,” jawab Nana, seraya tersenyum ia tidak menemukan kata-kata lagi untuk sekedar berbasa-basi dengan wanita itu. Dia tidak mengerti perasaannya kini. Di satu sisi, dia mengakui, sikap Siwon padanya membuatnya takut. Namun, perasaannya kini bukan hanya rasa takut, sejak wanita itu datang. Sebuah perasaan tidak nyaman, tidak suka, dan entah apalagi.

“Eum, ngomong-ngomong apakah kau keberatan jika aku berbicara empat mata dengan Siwon?” tanya wanita itu, Lee Shiyoung.

“Eoh, Sila…”

“Tidak!” Kalimat Nana yang akan mempersilakan Shiyoung berbicara empat mata dengan Siwon, terpotong oleh suara tajam lelaki itu.

“Aku tidak mau Nana pergi. Jika kau ingin bicara denganku, bicara saja sekarang!” lanjut Siwon.

“Tapi…”

Gwaenchanha, Oppa. Lagipula pekerjaanku masih banyak. Aku pergi dulu,” tanpa menunggu persetujuan  Siwon, Nana bergegas meninggalkan ruangan itu.

_oOo_

 

“Jadi apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Siwon, to the point.

“Wonnie-ah, aku ingin kau mendengar penjelasanku. Semuanya tidak seperti yang kau fikirkan,”

“Kau tidak perlu menjelaskan apa-apa. Semuanya sudah berakhir di antara kita,” jawab Siwon datar.

“Tidak Wonnie-ah. Semuanya belum selesai. Kau belum pernah mendengar penjelasanku. Kau tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya,”

“Penjelasan? Setelah sekian lama kau baru memberikan penjelasan? Terlambat. Malam itu aku sudah memberimu kesempatan untuk bicara, namun kau hanya diam saja. Sekarang semuanya sudah berakhir. Aku sudah memiliki kehidupanku sendiri. Aku sudah menikah,”

“Tapi Wonnie-ah,..”

“Ku rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Jadi, sebaiknya kau pergi sekarang,” Shiyoung terperangah mendengar Siwon yang mengusirnya secara tidak langsung.

“Kau mengusirku?”

“Jika kau menganggapnya begitu,” jawab Siwon lalu membuka map di mejanya, mengabaikan Shiyoung.

“Kau keterlaluan! Apa yang telah wanita itu lakukan padamu sampai kau bersikap kasar seperti ini padaku?” Rahang Siwon mengeras. Ia menutup mapnya dengan keras hingga menimbulkan suara hentakan.

“Jangan membawa-bawa Nana dalam permasalahan kita. Dia wanita yang baik. Dan tolong, tinggalkan ruanganku sekarang!” Shiyoung menutup mulutnya yang terbuka, karena kaget mendengar Siwon yang terang-terangan mengusirnya.

“Kau?! Argh!” tunjuknya pada Siwon. Tanpa banyak kata, Shiyoung pun berbalik dan meninggalkan ruangan itu.

Blam.  Siwon hanya mendengus mendengar suara pintu yang tertutup dengan keras. Kemudian ia menyandarkan tubuhnya, menarik nafas, dan memejamkan mata.

“Aaaakkhh!” suara pekikan seorang wanita yang ia kenal membuatnya tersentak.

“Nana!” gumamnya. Bergegas ia keluar dari ruangannya.

Hati Siwon mencelos mendapati pemandangan di depannya. Kepala Nana terangkat, tangannya menahan tangan Shiyoung yang sedang menjambak rambutnya, matanya merah berair. Siwon langsung menarik Nana ke dalam pelukannya.

“Beraninya kau menyakiti istriku!” bentak Siwon.

“Wonnie-ah, kau membentakku? Sejak kapan kau tega membentakku seperti itu? Oh, pasti karena wanita ini! Pasti karena wanita jalang ini!” Shiyoung maju, bermaksud menyerang Nana lagi, tetapi Siwon dengan sigap menghalanginya.

“Hentikan!” Siwon membentak dengan berang, dan berhasil membuat Shiyoung menciut.

“Sejak kapan kau menjadi wanita yang kasar seperti ini? Eoh, aku lupa. Sebenarnya kau adalah serigala berbulu domba!”

“Wonnie-ah…!”

“Hentikan! Lebih baik kau pergi dari sini sekarang! Jangan pernah menampakkan diri di depan kami lagi, apalagi sampai menyentuh istriku! Karena ku pastikan kau akan menerima akibatnya!”

Shiyoung kaget lihat sikap Siwon yang sangat kasar dan keras padanya.

“Wonnie-ah!”

“Pergi!” Shiyoung akhirnya berbalik dengan punggung yang bergetar karena tangis. Sebelumnya, Ia tidak pernah melihat Siwon bersikap seprotektif ini kepada wanita, bahkan kepada dirinya. Shiyoung juga merasa ada kilatan cahaya yang berbeda ketika Siwon melihat Nana. Sebenarnya Shiyoung takut mengakuinya, untuk itulah ia terus memburu Siwon, berharap Siwon akan mengatakan bahwa Siwon masih miliknya. Namun yang terjadi malah sebaliknya, Siwon jelas-jelas mencampakkannya.

_oOo_

Siwon membawa Nana— yang masih berada dalam pelukannya—ke dalam ruangannya, dan duduk di sofa. Kemudian ia mengambil air minum dingin dari refrigerator di dalam ruangannya.

Gwaenchana?” tanya Siwon lembut, namun sarat kekhawatiran. Nana mengangguk.

“Maafkan aku, Nana. Aku tidak tahu mengapa ia bisa bersikap kasar seperti ini,”

Gwaenchana. Aku bisa memahaminya. Dia pasti marah melihat aku, yang bukan siapa-siapa, hadir di antara kalian,” jawab Nana, pelan.

“Tidak Nana. Hubunganku dengannya sudah berakhir, jauh sebelum aku mengenalmu,”

Geundae, mengapa dia masih mengejarmu? Seakan ada yang belum selesai,” Siwon terdiam.

“Maaf. Jika Oppa tidak ingin menceritakannya, tidak apa-apa,” ujar Nana, hati-hati.

Siwon menghela nafas, kemudian menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa.

“Kami bertunangan tiga tahun lalu. Dia teman baikku sejak SMA, bahkan sampai kuliah S2 di Amerika. Ketika aku kembali ke Korea, aku mulai bekerja di perusahaan dan memulai bisnisku sendiri. Ketika keadaanku mapan, ibu menanyakan masalah pernikahan. Hal itu juga membuatku memikirkan masalah itu. Menurutku, ya, Ibu benar. Aku sudah mapan dan tahap selanjutnya adalah berkeluarga. Tetapi saat itu aku tidak memiliki teman wanita, atau seseorang yang, bisa dikatakan, dekat. Teman wanitaku satu-satunya adalah dia. Dia gadis yang baik.  Dia sudah sangat mengenalku, begitupun sebaliknya. Akhirnya aku mengajaknya menikah. Dan kami pun langsung bertunangan, namun kami tidak mempublikasikannya. Tetapi, perkiraanku salah. Tiga bulan setelah kami bertunangan, aku menemukannya sedang bercumbu dengan seorang pria, salah satu temannya dari Amerika, di apartemennya. Saat itu aku hanya diam. Menunggu penjelasannya selama beberapa menit. Tetapi dia hanya diam, tidak mengatakan apapun. Sejak saat itu aku memutuskan hubunganku dengannya,” Nana menatap Siwon sendu. Ia memberanikan diri membelai tangan Siwon.

“Maaf, aku tidak bermaksud untuk…”

“Tidak Nana. Ini tidak seperti yang kau fikirkan. Aku baik-baik saja dengan perpisahan ini. Aku tidak memiliki perasaan apapun padanya. Aku memilihnya saat itu hanya karena aku merasa dia gadis yang baik, itu saja. Aku hanya merasa kecewa padanya, karena sudah mengkhianati kepercayaanku,” ujar Siwon, seraya balas membelai tangan Nana yang berada di atas sebelah tangannya, dan menatap Nana. Pandangan mereka bertemu.

Deg. Deg. Deg. Nana merasa jantungnya bekerja lebih keras ketika menatap mata gelap Siwon, dan sebuah perasaan asing menjalar ke seluruh saraf di tubuhnya. Nana menarik tangannya sebelum ia terperangkap lebih jauh dalam diri Siwon.

“Euhm, Sajang, euh, Oppa, aku harus pergi sekarang, melanjutkan pekerjaanku,” ujarnya, gugup.

“Eoh, geurae,” jawab Siwon. Nana pun bangkit dan meninggalkan ruangan itu.

Siwon menatap Nana samapai wanita itu menghilang di balik pintu. Ia tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Mengapa ia bisa menceritakan semuanya kepada Nana? Mengapa ia merasa dekat dan nyaman bersama Nana?

_oOo_

 

“Nana, tolong bawakan berkas dari Indonesia ke ruanganku,” ujar Siwon, melalui telfonnya. Nana mengiyakan, dan segera mencari laporan kerjasama perusahaan Choi dengan sebuah perusahaan pariwisata di Indonesia. Setelah menemukannya, ia segera membawanya ke ruangan Siwon.

Siwon mengambil berkas yang diberikan Nana, dan membacanya. Sedangkan Nana masih menunggu instruksi selanjutnya, apakah ia boleh pergi, atau masih ada sesuatu yang harus ia kerjakan.

“Nana, tolong booking tiket pesawat ke Indonesia, Jogjakarta, untuk penerbangan minggu depan,”

“Ke Jogjakarta? Untuk siapa saja? Lalu hotelnya?”

“Tiket untuk kita berdua. Masalah hotel, mereka sudah menyiapkannya,”

“Kita?” Ulang Nana, kaget.

“Ya. Mereka mengundang kita, dan aku juga ingin mengecek langsung proyek kerjasama kita disana,” Nana mengangguk seraya tersenyum. Ini adalah perjalanan bisnis keluar negeri pertamanya.  Ia tidak dapat menyembunyikan rasa senangnya. Ia sangat ingin keluar negeri, dan kini keinginannya tercapai. Indonesia! Jogja!

_oOo_

 

To be Continued…

 

Hai haiii…

Gimana yang part ini???

Aduh, author udah effort banget buat nulis yang ini… jadi ngarep banget readers pada komen.. itung-itung, buat reward jerih payah author nulis lah yaa… 😉 soalnya kalau baca komen dari readers, rasa capek nulis serasa hilangg… hahaaa… 😉

Ditunggu komennya yaa, juga yang berminat jadi admin n author di wp ini, ditunggu yaaa… (BBM aja ke 7E898E6D)

 

Advertisements

41 thoughts on “Promise You (Part 7)

  1. huwaaaa akhirnya muncul, kangen banget sama siwon nana,…
    wah setting bakalan di jogja buat part berikutnya…
    hmm bisa dijadiin acara bulan madu nih,.. pokoknya jlan2 mreka d jogja hrs yg brkesan, yg bs buat kecanggungan nana k siwon sdkit brkrng pas plng dr jogja..

  2. Huaa Daebak, Smg Happy Ending
    Dan semoga siwon dan Nana langgeng ..
    Next partnya eonnie ditunggu bgt
    Keep writing eonnie

  3. I falling in Love with this story…….

    Keyeeennnn,,,,, apa lg ada Indonesia-nya… Siwon Oppa mampir aja ke rumahku… hahahah ngarep…

  4. waaah mkin mnis aja …
    siyong awas lu klu ngerusak .. kn elu yv salah …

    kok gak di ceritain thor pernikhan nya jadi penasaran ama bibi nya siwon wktu pernikhan gmna ya …

    indonesia indonesia masuk thor waah jogja lagi .. jambi jga dong thor heeheheee …

    siwon dh mulai ada timbul percokan percikan nya … nana jga …

    first kiss di tunggu bnget thor .. ipsul ya ipsul … mlam pertama nana siwon gk ngapa ngpain ya thor #plak

    yah thor aku pngen ngirim ff tapi gk ada bbm lagi thor gimna dong .. kemrin aku ada gk di ksih pin nya … #deritaLo …

    kirim lewat lain dong thor jngan bbm .. oh ya thor kemrin aku ngirim email tapi kok lom di blas thor .. dah msuk apa belum ya thor email ku ?

    emmm next chap panjangin lagi thor heheheeee .. seru bnget thor aku nya bisa menjiwai thor .. dpet gitu feel nya … oke thor jngan bosen baca komenan aku ya thor 😀 …

    fighting thor

  5. Hhhhuuuaaaa akhirnya yg di tunggu2 muncul jg 😀

    Siwon oppa and nana udah mulai suka, tp blom pada nyadar ama perasaan masing2 😉

    Perjalanan ke luar negeri, Jogja pulak…
    Kekekekekkkkk… nana seneng bingit yg mau diajak ke indonesia 😀 😀

  6. waaah siwon dah mulai suka tuuuh sma nana…..
    smga aja si sinyoung kagak blik lg….
    ff nya mkin kren aja thor…. d tunggu chaptr selanjut nya….

  7. Hua akhirnya ada update, chingu mau koreksi dikit, kalo panggilan laki2 ke wanita yg lebih tua itu bukannya noona, kalo ga salah tadi baca siwon panggil istrinya kangin dengan eonie……
    Wah mereka tambah deket aja berdua, malah akan melakukan perjalanan dinas, bulan madu yg tersamarkan, hehe…
    Ditunggu next nya

  8. next dah thor 🙂 .
    cie lah ff nya nambah seru ajj … kayak nya nih nana sama siwon sama sama udh muncul tuh perasaan cinta nya hehehheh ..

    lanjut thor ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s