Promise You (Part 5)

Siwon nana promise you

 

 

Annyeong haseyo yeorobun!!!

Mianhae, jeongmal mianhae udah bikin readers nunggu-nunggu lanjutan ini… Kemarin habis pulang KKP langsung buntu, belum ada gambaran mau ngelnajutinnya, mau mulainya gimana, terus juga langsung sibuk sama krs n laporan2 gitu lah,,, heeeuuu… makanya baru sempat nyicil ini sekarang…

Oya, ditunggu komennya yaaa…!!! ALWAYS!!!

Gomawo, happy reading!!!

_oOo_

Last Part

“Tidak Im Nana! Kau tidak boleh menjadi donor! Kita akan mendapatkan donor itu. Jika perlu, kita akan membawa Hana berobat ke luar negeri!”

“Tapi Sajangnim…”

“Sekali aku mengatakan tidak, tetap tidak!”

“Tapi kenapa, Sajangnim? Jika kita harus berobat ke luar negeri, biayanya akan semakin mahal dan…”

“Biarkan saja! Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada calon istriku… maksudku, aku tidak mau nantinya setelah kita menikah, kau sakit-sakitan. Aku tidak mau disalahkan karena hal itu!”

“Tetapi Sajangnim… saya tidak mungkin menikah sebelum Hana dioperasi…”

Mwo?”

_oOo_

This part starts here…

“Apa maksudmu, Nana?” Lanjut Siwon dengan berang. Nana menundukkan wajahnya, tidak berani menatap lelaki di depannya itu, yang tengah menatapnya tajam, seolah sedang mengulitinya.

“Maaf Sajangnim… Saya… Maksud saya…” jawab Nana terbata. Ia tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk melanjutkan kalimatnya. Tentu saja, Nana tidak sungguh-sungguh bermaksud mengatakan hal itu pada Siwon. Saat ini ia ia benar-benar bingung, dan tindakannya dikendalikan oleh alam bawah sadarnya.

“Baik, kalau memang itu syarat yang kau ajukan. Ku pastikan kita akan segera menemukan donor ginjal itu, lalu kau harus menyiapkan diri untuk pernikahan kita!” ujar Siwon, dengan suara dalam dan rendah, namun tegas tak terbantahkan.

“Sekarang kau boleh pergi,” lanjutnya, datar.

_oOo_

“Selamat sore, Nyonya! Dokter Shin meminta Anda untuk menemuinya,” ujar seorang perawat kepada Nyonya Im yang sedang menunggui Hana.

“Baik, Suster, saya akan segera ke sana,” jawab Nyonya Im. Perawat itu pun menghilang di balik pintu. Nyonya Im membenarkan letak selimut Hana yang sedang tidur, lalu meninggalkannya, menuju ruang Dokter Shin.

Setelah menemukan ruang Dokter Shin, dokter senior yang menangani Hana, Nyonya Im mengetuk pintu lalu masuk. Ternyata Dokter Shin telah menunggunya.

“Eoh, Nyonya Im, Silakan masuk! Silakan duduk!” ujar Dokter Shin dengan sopan.

“Terima kasih” jawab Nyonya Im lalu duduk di kursi kosong yang tersedia di depan meja kerja Dokter Shin.

“Bagaimana keadaan Hana?” tanya Dokter Shin, berbasa-basi.

“Baik, Uisanim. Kalau untuk yang lain, pasti Uisanim lebih tahu,” jawab Nyony Im dengan sopan. Dokter Shin mengangguk lalu tersenyum.

“Bagus kalau begitu. Begini Nyonya Im, saya ingin mengatakan bahwa kami telah menemukan donor ginjal untuk Hana, jadi operasi transplantasi ginjal Hana bisa dilaksanakan secepatnya,” jelas Dokter Shin.

“Be… Benarkah? Bagaimana bisa? Siapa yang bersedia menjadi donor ginjal Hana?” tanya Nyonya Im dengan suara bergetar.

“Kami tidak tahu pasti siapa pendonor itu, karena kami mendapatkan donor ginjal itu dari rumah sakit lain,”

“Rumah sakit lain?”

“Ya. Sepertinya Anda harus berterima kasih kepada Tuan Choi,”

“Tuan Choi?”

“Ya, Choi Siwon. Rumah sakit ini milik oleh keluarga Choi. Karena permintaan dan kekuasaannya, kami bisa mencari ginjal di rumah sakit-rumah sakit lain, dan akhirnya mendapatkannya, ya, walaupun memakan waktu beberapa hari,” jelas Dokter Shin. Nyonya Im menundukkan kepala. Berbagai pikiran berkecamuk di kepalanya. Awalnya, dia menolak keras perjanjian Nana dan Siwon. Ketika itu, ia pikir perjanjian Nana dengan Siwon hanya sebatas perjanjian dengan imbalan uang. Ia tidak menyangka peran Siwon akan sejauh ini.

“Oh ya, saya dengar putri Anda, Im Nana, memiliki hubungan khusus dengan Choi Siwon?” lanjut Dokter Shin, memulai percakapan lagi, setelah melihat Nyonya Im yang hanya diam mematung.

“Ba… bagaimana Anda tahu?”

“Tentu saja. Kedatangannya beberapa waktu lalu menjadi topik hangat antara para pegawai di sini karena sebelumnya dia belum pernah terlihat bersama seorang wanita. Ah ya, saya dengar mereka akan segera menikah? Selamat, keluarga Choi adalah keluarga yang baik!”

“Menikah? Saya… Saya tidak tahu… Kalau begitu, Saya pamit dulu. Terima kasih banyak, Uisanim!” ujar Nyony Im dengan terbata, kemudian buru-buru meninggalkan ruangan itu.

_oOo_

 

Waktu memang terasa berjalan dengan cepat ketika sedang berada dalam suasanan menyenangkan, namun sebaliknya, terasa sangat lama ketika sedang berada dalam suasana yang menakutkan, mencekam. Dan hal itulah yang dirasakan Nyonya Im dan Im Nana. Sudah dua jam Hana berada di ruang operasi, menjalani operasi transplantasi ginjal. Sedangkan Nana dan ibunya, hanya duduk dengan gelisah, menunggu lampu merah—yang menandakan operasi sedang berjalan— menjadi warna hijau.

Drrrttt. Drrrttt. Drrrttt.

Getaran ponsel Nana yang ia letakkan di saku celana jeansnya membuatnya tersentak.

Choi  Siwon Sajangnim. Nama sang  pemanggil tertera di layar sentuh smartphone-nya. Segera Nana menekan ikon jawab.

“Yeoboseyo!”

“Im Nana, Bagaimana keadaanmu?”

“Saya? Saya baik-baik saja, Sajangnim…” jawab Nana dengan sedikit bingung, karena Siwon tiba-tiba menanyakan keadaannya.

“Lalu, operasi adikmu? Lancar?”

“Eum, saat ini sedang berjalan, Sajangnim. Sudah dua jam yang lalu.”

“Dua jam?” Ulang Siwon

“Ya.”

Nana menjawab singkat. Beberapa detik berikutnya, hening, tidak ada percakapan di antara mereka.

Ehm, tenang saja Im Nana, dokter yang menangani adikmu adalah dokter-dokter terbaik. Operasinya pasti berjalan dengan baik,” Ujar Siwon dengan nada sangat meyakinkan. Nana menghela nafas. Ia tidak dapat menyembunyikan rasa khawatirnya. Tetapi mendengar kalimat Siwon, yang selalu meyakinkannya semuanya akan baik-baik saja, ia merasa beban itu sedikit terangkat. Ya, selama ini apa yang Siwon katakan, Siwon janjikan, itulah yang terjadi. Dan Nana juga berharap hal yang sama saat ini. Sangat!

“Ya, Sajangnim, saya harap begitu,” Nana kembali menjawab pendek. Setelah itu, beberapa detik kemudian, kesunyian kembali menyelimuti.

“Eum, Im Nana, besok malam aku pulang ke Seoul,” ujar Siwon. Ya, saat ini Siwon sedang berada di Singapore untuk mengurus cabang bisnisnya di sana. Seharusnya ia membawa Nana sekarang, sebagai sekretaris yang paling mengerti pekerjaan Siwon. Tetapi Siwon memberinya kesempatan untuk menemani Hana menjalani operasinya.

Sejenak, Nana terdiam, memikirkan maksud ucapan Siwon.

“Ah ya, berarti besok lusa saya kembali bekerja,” jawab Nana, polos.

“Eum, bukan, bukan itu maksudku. Apa kau ingin aku membawakanmu sesuatu?”

“Eoh?”

“Eumh, begini, aku sedang di Singapore. Menurutmu, jika aku membawakan kalian sesuatu, untuk Eomoni, Hana, dan… kau, apa kira-kira yang kalian suka?” Nana mengerutkan kening.

“Maksud Sajangnim, oleh-oleh?”

“Ya, bisa semacam itulah,” Nana terdiam.

“Nana?” Siwon memanggil Nana yang masih tidak bersuara.

“Eoh, Sajangnim tidak perlu repot membawakan kami oleh-oleh. Sajangnim sudah banyak membantu kami. Kami sangat berterima kasih,” jawab Nana, sopan. Beberapa detik kemudian, Siwon baru menjawab,

“Eoh, begitu,” jawab Siwon. Entahlah, Nana seakan mendengar kekecewaan dari nada bicaranya.

“Baiklah Nana, kalau begitu sampaikan salamku pada Eomoni dan Hana. Semoga operasinya berjalan lancar. Selamat malam,” lanjutnya kemudian.

“Baik Sajangnim, selamat malam,” dan flip, percakapan terputus.

_oOo_

 

Suara ketukan pintu diiringi pintu terbuka membuat Nana, Hana, dan ibunya  menoleh. Sesaat kemudian sosok lelaki yang sudah sangat mereka kenal, Choi Siwon, masuk.

Annyeong haseyo!” ujarnya, memberi salam. Nana dan Hana menjawab serempak, sedangkan Nyonya Im hanya diam.

“ Selamat sore, Eomoni!” ujar Siwon dengan sopan kepada Nyonya Im, memberi salam.

“Selamat sore,” jawab Nyonya Im, pelan. Siwon melangkah ke sisi ranjang dimana Nana berada, lalu berdiri di sampingnya.

“Hana, bagaimana keadaanmu?” ujarnya, pada Hana.

Hana tersenyum lalu menjawab, “Baik, Sajangnim!”

“Baguslah kalau begitu. Aku harap kondisimu cepat pulih, jadi kau bisa segera pulang,” ujar Siwon, lalu melirik pada Nana. Nana menundukkan kepala menerima lirikan Siwon.

“Oya, Eomma dan Appa juga datang kemari untuk menjenguk Hana. Tetapi di depan tadi masih berbincang dengan kepala rumah sakit,” lanjutnya. Nana dan ibunya menoleh kaget.

“Nyonya dan Tuan Choi?” ulang Nana. Siwon mengangguk.

“Eoh, maaf aku tidak memberitahunya dulu. Nah, itu pasti mereka!” jawab Siwon, lalu berjalan ke pintu setelah mendengar ketukan pintu. Benar saja, Tuan dan Nyonya Choi masuk dengan membawa sebuah goody bag, lalu memberi salam.

Nana menoleh pada ibunya dengan khawatir. Ia tidak menyangka Siwon akan membawa orang tuanya menjenguk Hana, tanpa memberitahunya. Nana sangat khawatir akan reaksi ibunya. Namun melihat ibunya yang terlihat diam, dan sepertinya mengikuti permainan ini, Nana sedikit bisa bernafas lega.

“Hana, bagaimana kabarmu, Nak?” sapa Nyonya Choi pada Hana. Selanjutnya, mereka mulai bercakap-cakap ringan mengenai keadaan Hana, sekolahnya, alamat rumah mereka, serta obrolan ringan lainnya. Beruntung, Nyonya Im bisa menanggapinya dengan baik. Nana hanya menanggapinya sesekali, begitu pun dengan Siwon, yang berdiri dengan setia di sampingnya.

“Ah ya, Nyonya Im, jika diijinkan, kami ingin mengajak Nana berlibur ke rumah kakek Siwon di Chunchon, akhir minggu ini. Kakek Siwon sudah berkali-kali menghubungi kami, meminta Siwon menginap di sana. Dan ketika kami menceritakan Nana, mereka juga memaksa kami membawa Nana. Tidak lama, hanya semalam,” ujar Nyonya Choi, dan berhasil membuat Nana dan Nyonya Im terperangah. Nyonya Im melirik Nana, sedangkan Nana hanya menunduk.

“Eum, Saya tidak berhak memutuskan, semua terserah Nana. Jika dia ingin berangkat, saya tidak akan melarang,” jawab Nyonya Im, diplomatis. Tentu saja. Nana sudah terikat kontrak dengan Siwon, dan mau tidak mau, Nana harus mengikuti apa yang ia katakan. Dan Siwon pasti akan meminta Nana ikut dengan mereka. Pasti!

“Bagaimana, Nana?” Tanya Nyonya Im.

“Saya…” Nana menghentikan kalimatnya, lalu melirik Siwon. Siwon tidak bereaksi apa-apa, bahkan menatap Nana, menanti jawaban.

“Saya… Eum, jika Sajangnim mengijinkan saya untuk ikut, saya akan ikut,” Siwon mengerutkan keningnya ketika Nana malah melemparkan keputusan padanya.

Tuan Choi terkekeh mendengar jawaban Nana.

“Pasti dia mengijinkannya, Nana. Kalau tidak, pasti sejak awal ketika kami memberitahunya bahwa kami ingin mengajakmu, dia sudah menyampaikan berbagai alasan,” jelas Tuan Choi, lalu menggerakkan alisnya, menggoda Siwon, dan berhasil membuat Siwon berdecak.

“Benar, Nana! Bahkan ketika dia baru saja mendarat pagi tadi, hal yang pertama dia lakukan adalah menelfon kami, mengajak kami segera kesini,” imbuh Nyonya Choi.

Eommaaa…” protes Siwon. Sedangkan Nyonya dan Tuan Choi malah terkekeh, berhasil mejahili putra kesayangan mereka.

“Ah ya, sepertinya, kami sudah cukup lama disini. Sekarang waktunya kami pamit,” ujar Nyonya Choi. Setelah itu mereka pun berpamitan, dan memberi beberapa nasihat dan doa untuk Hana, agar segera sembuh. Namun, ketika mereka mulai keluar ruangan, Nyonya Im tiba-tiba memanggil Choi Siwon.

Ye Eomoni?” jawab Siwon dengan sopan. Kedua orang tua Siwon pun ikut berhenti, dan berdiri di belakang Siwon. Nyonya Choi berjalan dan berhenti tepat di depan Siwon. Nana, yang khawatir akan apa yang akan ibunya lakukan, datang menyusul.

Nyonya Im berdiri tepat di depan Siwon, dan menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya, dan menunduk,

“Terima kasih banyak, Sajangnim! Terima kasih banyak atas bantuan Anda! Jika tanpa bantuan Anda, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada Hana… Terima kasih banyak Sajangnim!” ujar Nyonya Im dengan suara bergetar. Tindakan Nyonya Im itu tak ayal membuat Siwon terperangah. Tak pernah ia menyangka akan mendapatkan ucapan terima kasih yang tulus dari Nyonya Im. Jujur, ada sudut di dalam hatinya yang merasa bersalah. Seandainya Nyonya Im tau hal yang sebenarnya bahwa… perjanjianku dan Nana…

Eommaa!” seruan Nana membuat Siwon tersentak. Ketika ia sadar, Nana sudah ada di depannya, memeluk ibunya.

“Maaf, Sajangnim. Maafkan kelancangan kami!” ujar Nana, seraya membungkuk.

“Kenapa, Nana? Aku hanya menyampaikan ucapan terima kasih padanya. Jika bukan karenanya, kita tidak akan punya cukup uang, dan ginjal itu…”

Eommaa!” Nana menekan suaranya, berusaha menghentikan kalimat ibunya . Siwon pun seakan mengerti apa yang harus ia lakukan.

“Eomoni, Nana, kami pamit dulu,” ujarnya, lalu berbalik. Ia memutar mata ketika melihat raut kebingungan orang tuanya, pasti karena adegan tadi. Siwon pun melingkarkan tangannya di bahu ayah dan ibunya, lalu menariknya pergi.

“Choi Siwon, apa maksud ibu Nana tadi?” selidik Nyonya Choi, ketika mereka sudah berada di koridor rumah sakit.

“Yang mana, Eomma?”

“Tadi, bantuanmu? Uang itu?” Siwon berpikir sebentar.

“Siwon?”

“Ah itu… Aku meminjamkan Nana uang untuk biaya pengobatan Hana.”

“Pinjaman?” ulang Nyonya Choi. Siwon mengangguk.

“Ya Tuhan! Kau memiliki pundi-pundi uang yang terus mengalir, Nak! Dan kau membuatnya sebagai pinjaman? Kepada calon istrimu sendiri? Aish, jinjja!” protes Nyonya Choi, dan mendapat anggukan dari suaminya. Siwon sedikit kaget dan bingung mendengar protes ibunya. Bagaimana bisa orang tuanya sangat percaya bahwa Nana akan menjadi istrinya? Bagaimana orang tuanya bisa sangat menerima Nana?

“Tenang saja, Eomma… Setelah kami menikah nanti, hutang Nana akan lunas,” ujarnya.

“Maksudmu?” Tanya Nyonya Choi.

“Ketika Nana menjadi istriku, ia akan memiliki cukup uang untuk melunasi hutangnya,” lanjut Siwon.

“Ckkk, dasar kau!” ujar Nyonya Choi lalu memukul lengan Siwon gemas. Siwon hanya tersenyum.

Ddrrtt… drrrtt..

Tiba-tiba ponsel Siwon bergetar. Siwon mengeceknya. Sebuah pesan dari Nana.

 

Dari: Im Nana

                                      Sajangnim, saya mohon maaf atas tindakan Eomma tadi…

                                      Jweseonghamnida!

 

Siwon mengetik pesan balasan.

 

Untuk: Im Nana

                                Gwaenchana.

                               Tapi, apakah ibumu tau perihal perjanjian kita?

 

Message sent. Beberapa saat kemudian, Siwon mendapat pesan balasan.

 

Dari: Im Nana

                                 Tidak Sajangnim.

Saya hanya mengatakan pada Eomma bahwa Anda memberi kami pinjaman uang.

 

Siwon mengangguk lalu memasukkan ponselnya ke saku.

_oOo_

 

“Hanya ini barang yang kau bawa?” Tanya Siwon ketika ia berdiri di depan Nana. Siwon menjemput Nana yang hari ini akan ikut berlibur ke rumah kakek dan nenek Siwon, di Chuncheon. Ia tidak menjemput Nana di rumahnya, karena Nana tidak mau, karena ia merasa sungkan. Jadilah setiap mereka pergi bersama, Siwon menjemputnya di halte.

“Iya, Sajangnim,” jawab Nana. Siwon mengangguk walaupun sedikit heran. Biasanya seorang wanita yang akan pergi berlibur akan membawa koper yang terisi penuh, walaupun hanya untuk menginap semalam. Tapi Nana? Ia hanya membawa sebuah tas travel berukuran sedang!

Setelah mereka sudah duduk di mobil, Siwon pun melajukan mobilnya.

“Bagaimana kabar Hana?” Tanya Siwon.

“Baik, Sajangnim.” Nana menjawab singkat.

“Baguslah kalau begitu,” Siwon akhirnya juga menjawab singkat.

“Eoh, Sajangnim, kami sangat berterima kasih karena Sajangnim telah membantu kami mendapatkan donor ginjal. Jeongmal gomapseumnida!” ujar Nana.

“Sudahlah, tidak usah dibahas lagi. Eoh, kira-kira kapan Hana keluar dari rumah sakit?”

“Eum, jika kondisinya stabil, mungkin minggu depan sudah bisa pulang,”. Siwon mengangguk. Keningnya berpikir seolah memikirkan sesuatu.

“Berarti setelah itu kita bisa melakukan pertemuan keluarga secara resmi,” ujar Siwon.

Ne?” Nana menoleh kaget.

“Ya. Eomma dan Appa sudah memaksa untuk segera membicarakan hubungan kita,” jawab Siwon, tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan di depannya. Nana menggigit bibir dan perlahan menunduk. Ada rasa bersalah menusuk di hatinya. Bagaimana bisa dia ikut dalam permainan ini? Membohongi orang tua yang sangat baik, yang sangat menyayangi anak-anaknya, hanya demi uang?

_oOo_

 

Siwon memarkirkan mobilnya di garasi luas di rumah orang tuanya, dan Nana merasa takjub setelah melihat beberapa mobil mewah lain juga terparkir indah di samping mobil Siwon. Jangan ditanya, Nana yang terbiasa hidup seadanya merasa pusing jika harus menghitung atau menebak berapa total kekayaan keluarga Choi. Nana baru tersadar ketika Siwon meraih tas di tangannya dan mengajaknya ke rumah, yang berada  agak jauh dari garasi.

Oppaa!” Seorang wanita muda, sedikit lebih muda dari Nana langsung memekik dan memeluk Siwon ketika mereka tiba di teras rumah.

Oppa, bogoshipeo!  Kemana saja kau selama ini? Jarang memberi kabar!” ujar wanita itu dengan manja. Siwon tersenyum dan mengacak puncak rambut wanita itu.

“Mian, akhir-akhir ini Oppa sibuk, Inna… Bagaimana kabarmu? Kuliahmu?” balas Siwon. Nana merasa bingung dan heran melihat raut kasih sayang yang terpancar jelas dari wajah Siwon. Kasih sayang yang tulus, yang hanya Nana lihat ketika melihat Siwon bersama orang tuanya.

“Baik juga. Ah, pasti kau sibuk berkencan dengan kekasihmu itu, sampai kau melupakanku,” jawab Inna, menggoda Siwon. Sebelum Siwon sempat menjawab, wanita itu sudah beralih pada Nana.

Eonni, perkenalkan, Choi Inna imnida. Aku adik bungsu Siwon Oppa,” Inna memperkenalkan diri. Nana membalasnya dengan senyuman, lalu ikut memperkenalkan dirinya. Beberapa saat kemudian, Tuan dan Nyonya Choi, serta seorang lelaki muda, adik Siwon, Choi Shinwoo pun muncul dan bergabung bersama mereka. Nana sudah mengenal Choi Shinwoo, karena beberapa kali menemui Siwon di kantor. Nana memberi salam, yang dibalas pelukan oleh Nyonya Choi, dan senyuman hangat oleh Tuan Choi. Kehangatan dan kasih sayang terlihat jelas dari cara mereka berkomunikasi, baik secara verbal maupun non-verbal. Dan Nana bersyukur bisa ikut bergabung dalam kehangatan itu.

_oOo_

 

Udara sejuk dan segar, pohon-pohon yang menjulang tinggi di sisi jalan dengan daun-daunnya yang berwarna-warni serta mulai berguguran menjadi tanda bahwa perjalanan mereka sudah dekat. Siwon, sang pengemudi pun mengurangi laju mobilnya, memberi kesempatan kepada para penumpangnya, orang tuanya, adiknya, dan Nana untuk menikmati suasana yang jarang mereka temui, terutama di kota besar seperti Gangnam, tempat tinggal mereka. Beberapa menit kemudian mereka keluar hutan dan jalan mulai menurun, menuju sebuah pemukiman warga. Suasana yang mereka lihat sekarang, rumah-rumah tradisional, jalan-jalan yang bersih, pasar tradisional yang ramai namun bersih, masih tetap sama. Siwon tersenyum ketika mendengar celotehan Inna yang dengan semangat menjadi tour guide  untuk Nana, menceritakan hal-hal yang ia ketahui tentang desa ini, tapi dengan nada-nada promosi. Sepertinya ilmu yang ia dapatkan di bangku kuliah, Consumer Studies, sudah mampu ia terapkan. Nana pun membalasnya dengan tak kalah antusias.

“Nah, itu rumah kakek!” tunjuk Inna pada sebuah rumah yang terletak di dataran yang agak tinggi. Nana mengangguk ketika melihat rumah yang ditunjuk Inna. Dilihat dari pagar tinggi dan panjang yang mengelilinginya, Nana bisa menebak bahwa rumah itu pasti tidak kalah besar dan mewah seperti rumah keluarga Choi di Gangnam.

Jja, kita sudah sampai!” seru Inna mereka tiba di rumah yang mereka tuju. Begitu memasuki halaman, Nana melihat pasangan kakek-nenek yang terlihat antusias menunggu mereka. Nana berani bertaruh, orang tua itu pasti kakek dan nenek Siwon.

Begitu mereka keluar dari mobil, orang tua itu tergopoh-gopoh menyambut mereka. Nyonya dan Tuan Choi saling memberi salam dan berpelukan, begitu pun Inna dan Siwon, dan Nana hanya berdiri di belakang mereka.

“Lalu siapa wanita cantik ini?” ujar kakek Siwon, menunjuk Nana dengan senyuman. Nana tersenyum lalu membungkuk, memberi penghormatan.

Choneun Im Nana imnida,” ujar Nana dengan sopan.

“Aigoo! Kau pasti wanita yang diculik Siwon. Wah, ternyata Siwon benar-benar mewarisi darah kakeknya! Hahahaa…!” ujar Kakek Siwon. Nana hanya tersenyum lalu menunduk.

Yeobo, jangan membuatnya tidak nyaman,” protes nenek Siwon.

“Ah, kalian pasti lelah setelah perjalanan panjang. Seunghwan, kau pasti sudah tahu kamarmu,” tunjuknya, pada Nyonya Choi, namun menggunakan nama suaminya.

“Nana, kau tidak keberatan bukan jika sekamar dengan Inna?”

“Sekamar? Halmeoni, bukankah di sini ada banyak kamar?” protes Siwon.

“Benar. Tapi aku tidak mau jika tiba-tiba ada penyusup ke kamarnya,” jawab Nenek Siwon. Siwon mengerutkan kening, tidak mengerti maksud neneknya.

“Hei, jangan menganggapku bodoh! Aku tau trik para lelaki, Choi Siwon!” lanjut Neneknya lalu mengedipkan mata. Siwon berdecak ketika menyadari maksud neneknya. Sungguh, ia tidak bermaksud menyusup ke kamar Nana diam-diam, —jika itu memang maksud neneknya—, tetapi dia hanya ingin membuat Nana nyaman, itu saja.

Kajja masuk!” lanjut nenek Siwon. Mereka pun masuk. Inna membawa Nana ke kamar mereka, menyusuri lorong-lorong dan ruangan-ruangan di rumah itu. Perkiraan Nana tidak salah. Rumah kakek Siwon adalah rumah tradisional Korea yang sangat besar dan luas. Kayu-kayunya berdiri kokoh, taman dan halamannya sangat luas, dekorasi interiornya juga berkelas, bahan pintu geser juga terbuat dari bahan berkualitas tinggi.

_oOo_

 

Suara lemak terbakar dan aroma daging panggang menyeruak, menggoda indra penciuman orang-orang yang menghirupnya. Siwon dan Shinwoo, dengan semangat membolak-balik daging yang mereka panggang. Kakek dan ayahnya asyik bercengkerama. Sedangkan para wanita, menyiapkan sayuran di meja. Begitu ada daging yang matang, Siwon membawanya ke meja, dimana Nana, Inna, ibu dan neneknya memotong-motong sayuran dan menyiapkannya. Setelah itu, kembali memanggang daging. Begitu pun seterusnya.

Annyeong,” suara nyaring seorang wanita mengalihkan perhatian mereka. Ketika mereka menoleh ke asal suara, nampaklah seorang wanita setengah baya, lebih muda dari Ibu Siwon, berjalan kea rah mereka.

Imo…” Gumam Inna. Nana menoleh pada Inna.

“Jin Ae Imo, adik Appa,” jawab Inna, seakan mengerti pertanyaan Nana. Namun Nana tidak menemukan raut bahagia di wajah Inna, tidak seperti ia bertemu Oppa-nya, maupun kakek-neneknya.

Tak perlu waktu lama, Jinae Imo sudah berada di depan mereka.  Mereka saling bertukar salam dan menanyakan kabar. Ketika sampai pada Nana, wanita itu tidak bisa menyembunyikan tatapan menilainya. Nana menunduk. Ada perasaan tidak nyaman menyadari bibi Siwon menatapnya seperti itu.

“Kau… kekasih Siwon?” tanyanya, to the point. Nana mengangguk.

Geurae… kau bekerja dimana?” tanyanya lagi, dengan nada menyelidik.

“Saya… sekretaris Siwon Sajangnim,” jawab Nana pelan.

“Sekretaris?” ulangnya, seraya mengangkat sebelah alisnya.

“Lalu, orang tuamu?”

Imo…” Siwon menyela.

“Eoh, kenapa, Siwon-ah? Aku hanya bertanya pekerjaan orang tuanya?”

“Eoh, ayo semua duduk! Shinwoo, periksa daging yang kau panggang!” ujar Nenek Siwon. Choi Jin Ae memutar mata lalu ikut duduk bersama mereka. Siwon menahan lengan Nana ketika wanita itu juga berbalik.

“Jangan mendengar omongannya,” bisik Siwon pelan, lalu mengikuti adiknya, memeriksa daging yang mereka panggang.

Nyonya Choi memulai percakapan tentang dunia fashion, bisnis yang digeluti oleh adik iparnya, Jin Ae. Maka tak salah, jika penampilan itu sangat fashionable. Nana mengerti mengapa Bibi Jin Ae langsung bisa menilainya dari penampilan. Jujur saja, penampilan Nana sangat jauh dikatakan dari fashionable, apalagi barang-barang branded. Nana selalu tampil sederhana. Namun ia memiliki kemampuan untuk memadukan pakaian-pakaian yang ia kenakan  hingga menjadi menarik. Tetapi sekali lagi, BUKAN BARANG-BARANG BRANDED!

Trik Nyonya Choi untuk memulai percakapan masalah fashion merupakan pilihan yang tepat. Suasanan hati Jin Ae langsung berubah ceria dan bersemangat. Inna sesekali menanggapi seraya memotong-motong sayur. Nana hanya menanggapinya dengan senyuman, tanpa berani iku berbicara. Ia motong-motong daging panggang dan menggulungnya di dalam selada.

Eonni, aku mau,” ujar Inna, lalu membuka mulutnya, mengisyaratkan Nana untuk menyuapinya. Nana tersenyum lalu menyuapi Inna selada berisi cabai dan daging panggang di dalamnya.

“Eum, mashita!” serunya.

Ige!” Tiba-tiba Siwon sudah ada disampingnya, menyerahkan piring berisi daging matang.

“Sebentar,” cegah Nana ketika Siwon berbalik. Siwon menoleh. Nana menyodorkan selada berisi daging dan cabai, seperti yang ia berikan kepada Inna. Siwon membungkuk lalu memakannya langsung dari tangan Nana.

Aigooo… kalian seperti pasangan suami istri!” ujar Inna. Nana menunduk malu. Tadi hanya tindakan refleks memberikannya kepada Siwon, dan ia tidak menyangka Siwon malah makan langsung dari tangannya.

“Hhaaahh…!” tiba-tiba, suara Siwon mengejutkan mereka.

“Siwon-ah, waegeurae?” Tanya Nyonya Choi.

“Pedas!” seru Siwon, dan segera mencari air minum.

“Nana, kau seharusnya memperhatikan apa yang Siwon makan! Ia tidak bisa memakan makanan pedas, sedikitpun!” tegur Jin Ae pada Nana.

“Ckk! Kau memang tidak seperti Shiyoung! Shiyoung bisa mengerti semua tentang Siwon! Siwon-ah, kau pasti menyesal telah berpisah dengan Shiyoung!” lanjutnya dengan keras. Nana melongo, lalu menatap Siwon, dan Nana bisa melihat jelas wajah Siwon yang memerah dan rahang yang mengeras. Ia tidak menyangka nama itu akan kembali di dengarnya.

“Siwon-ah, sebaiknya kau masuk dan istirahat. Nana, tolong buatkan Siwon teh hangat,” ujar Nyonya Choi. Ia mengedipkan mata ketika Siwon melihatnya.

“Ayo!” ujar Siwon seraya menggerakkan kepalanya, mengisyaratkan Nana untuk mengikutinya. Nana bangkit, kemudian berjalan mendekati Siwon. Siwon membiarkan Nana berjalan di depannya, dan masuk ke dalam rumah.

“Tidak usah!” Siwon menahan tangan Nana ketika wanita itu berbelok kea rah dapur.

“Aku akan mengantarmu ke kamar. Sebaiknya kau istirahat,” ujar Siwon. Nana hanya diam dan mengikuti semua kata-kata Siwon.

“Nana, jangan dengarkan perkataan Jin Ae imo. Dia memang seringkali tidak memperhatikan orang lain,” ujar Siwon begitu mereka sampai di depan kamar Nana.

“Saya mengerti, Sajangnim,” jawab Nana, pelan. Siwon menghela nafas.

“Wanita itu, yang disebutkan Imo  tadi… Dia hanya… Dia bukan siapa-siapa,” lanjut Siwon.

“Maaf Sajangnim, itu adalah masalah pribadi Anda. Dan Saya rasa, Anda tidak memiliki kewajiban apapun untuk menjelaskan masalah itu pada saya,” jawab Nana, pelan.

“Dan jika Anda tidak keberatan, saya akan masuk kamar,” lanjutnya. Tanpa menunggu jawaban Siwon, Nana menggeser pintunya dan masuk, lalu menutupnya kembali. Meninggalkan Siwon yang berdiri dengan tangan mengepal.

_oOo_

 

To Be Continued…

 

Oye hoi hoi…

Gimana yang part ini readers?

Udah puas belum? Ini udah lumayan panjang, lho… *menurut author

Mian ya baru ngepost,soalnya masih cari-cari wakti buat bikin cerita yang “agak” panjang begini… hee….

Ditunggu komennya, yaaa… hahaaa.. 😀

Advertisements

22 thoughts on “Promise You (Part 5)

  1. haahhh akhirnya keluar juga..
    masalah.baru datang lagi, imo siwon sinis amat sama nana pake ngebandingin sama shinyoung..
    errr apa shinyoung dari masa lalu siwon bakal muncul jga..???

    semangat lanjutinnya thor…

  2. Wohoooo akhirnya di post juga. Kekuarganya Siwon baik ya kecuali imo nya itu tuh 😡 kayaknya Siwon udah mulai suka sama Nana cieeeeeeee 😍 Shinyoung teh siapa? Mantan pacar siwon ya? kayaknya siwon gak suka banget kalau ada yg ngomongin shinyoung. Apa siwon pernah dihianatin sama dia? Jangan munculin Shinyoung deh kak, nanti bikin ancur hub. Nana Siwon pasti. Oh ya, first kiss siwon nana di tunggu banget kakkkkkk hahahha 😃😃😃 next part jagan terlalu lama ya kaka hhhhhh

  3. imonya siwon kayanya gak suka sama nana gimana jlo smpe tuh imo tau soal perjanjian siwon dan nana….wah kayanya bakal ada konflik nie smga sie gak berat2. 🙂

  4. Kasian bgt Nana
    Harus nahan perasaan apalagi ada Imo siwon 😦
    Semoga siwon dan Nana selalu bersama
    Dan Smg siwon menyatakan rasanya pada Nana 😀
    Next Part eonnie
    Jgn kelamaan Donk kepo bgt nih 😀

  5. Belum puas thor,heheee……..

    Oh cma mw ksih sran ja buat klimat yg u gnkan sbaik gunakan kata baku yg baik dan benar, supaya cerita nya lbih bagus.
    Seperti dlm klimat ini ” lanjut siwon dengan berang” sya tahu maksud nya tpi alngkah baiknya kalau author mnggunkan kata baku yg benar.
    Dan da lg dlm klimat ini “Rumah sakit ini milik oleh keluarga Choi.”
    “Rumah sakit-rumah sakit lain, dan akhirnya mendapatkanny”
    Kata “oleh” sharusnya tdak prlu dtliskan lg karena sdah da kta “milik” , dan kata “rumah sakit rumah sakit lain” shrusnya tdak prlu di ulang ckup dgn klimat sperti ini saja “di rumah sakit lainnya, dan akhirnya pihak rumah sakit mendapatkannya”
    Mianhe comment nya trllu pnjang, cerita u udh bgus hanya pnulisan kata nya saja yg masih kurang. Dan saya harap next part nya lbih bgus lgi, krna sya suka dgn krya2 mu. Lam knal ya driku 🙂

  6. muncul.jga … adek siwon kek nya cerewet deh . dokter nya gak nksir deh kek nya ama nana.. imo ji ae siapa sih .. soyong siapa ? mntan nya siwon ya ? waaah seperti nya imo nya gak srek ama nana …

    waaah TBC nya tiba tiba jadi gantuuuung

    ceptan ya thor lanjtan nya …
    yg sunbae saya tunggu juga !!!

    fighting

  7. Siapa lagi itu shinyoung?
    Sepertinya Nana dah mulai suka dg siwon deh, makin penasaran dg chapter selanjutnya. *・゜゚・*:.。..。.:*・'(*゚▽゚*)’・*:.。. .。.:*・゜゚・*

  8. Semua keluarga besar siwon sangat menyukai nana, tapi hanya bibi nya siwon yg tidak menyukai nana. Dan siapa shiyoung?
    Apakah dia mantan siwon yg membuat siwon menjadi pria dingin dan angkuh ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s