The Precious Gift (Another Story of Why?)

siwon nana my precoius gift

 

  • Title : The Precious Gift (Another Story of Why?)
  • Main Casts : Choi Siwon, Im Nana
  • Author : Shelly K. Choi
  • FB : http://www.facebook.com/shelly.diah   
  • Twitter                 : @Shelly_imnida
  • Blog : http://SiwonNanaWorld.wordpress.com
  • Length : Oneshoot
  • Genre : Romance
  • Rating : General
    • Disclaimer : Kalau ada hal-hal yang mungkin ga sesuai dengan kenyataan, anggap saja sesuai… hehee… ^_^ kalau ada kritik dan saran, silakan, dengan senang hati saya terima. Malah butuh…

Siwon and other casts adalah milik yang punya. Maaf pada Siwon and family, ELF, Siwonest, kalau saya buat ceritanya seperti ini. Mianhae, Jeongmal Mianhae

And the last, Happy reading, Hope you like it ^_^v

_oOo_

Siwon menatap Nana yang tengah menyantap sarapannya dalam diam. Sejak tadi malam wanita yang sudah dua tahun lalu sah menjadi istrinya itu marah padanya, dan aksi diamnya kini adalah bentuk kemarahannya. Hal yang tidak bisa  Siwon mengerti adalah penyebab kemarahan sang istri yang menurutnya sepele. Semalam Siwon lembur di kantor hingga pulang larut malam. Siwon pun sudah mengantisipasi kemarahan istrinya, — yang sangat tegas masalah pekerjaan, yang berprinsip tidak boleh lembur hingga larut malam—, dengan membawa sekotak gelato. Akhir-akhir ini Nana memang snagat menyukai es krim, jadilah Siwon membawa es krim a la Italia itu untuk meredam ledakan emosi istrinya. Namun, ketika Siwon tiba di rumah, ia malah menemukan istrinya tengah tertidur pulas di sofa ruang keluarga, dengan TV yang masih menyala. Siwon pun meminta Bibi Jung, asisten rumah tangga di rumah mereka untuk menyimpan gelato itu di kulkas, kemudian mengangkat tubuh Nana ke kamar. Karena tubuhnya yang sudah sangat lelah, Siwon akhirnya memutuskan untuk langsung tidur bersama Nana, tidak mandi dan tidak berganti pakaian, hanya melepas jas, sepatu, kaus kaki dan ikat pinggangnya, serta beberapa kancing kemejanya, lalu tidur dengan memeluk istrinya. Sepertinya hal itulah yang membuat Nana berang. Pagi tadi Nana langsung mendorong tubuh Siwon yang tengah tertidur pulas dengan kasar. Siwon terbangun dengan terkejut. Belum sempat ia bertanya, Nana sudah melenggang pergi ke kamar mandi. Dan anehnya lagi, ini bukan kali pertama Siwon melakukan hal yang sama, namun Nana tidak pernah marah. Baru kali ini Nana marah seperti ini padanya.

“Sayang, kau marah padaku?” tanya Siwon lembut, pada Nana yang mengantarnya ke teras sembari membawakan tas kerja suaminya. Setelah 2 tahun terapi, kini Nana sudah dapat berjalan dengan normal.

Nana tidak menjawab.

“Hei, jika kau marah, katakan saja, jangan mendiamkanku seperti ini…” lanjut Siwon.

“Sudahlah Oppa, lebih baik kau berangkat. Jeongbum sudah menunggumu!” ujar Nana datar, seraya menunjuk sopir pribadi Siwon.

“Baiklah, aku berangkat sekarang.” ujar Siwon, lalu mengecup kening Nana, sedangkan Nana hanya berdiri mematung, dengan ekspresi datarnya.

_oOo_

 

Yeoboseyo!” ujar Nana begitu menjawab telfon dari mertuanya, Nyonya Choi.

“Eoh, Nana-ya! Apa kabarmu hari ini, Sayang?”

“Baik EommaEomma  dan Appa bagaimana?”

“Baik juga. Siwon?”

“Baik Eomma. Tapi, akhir-akhir ini dia sering pulang malam,” jawab Nana. Nyonya Choi dapat merasakan rasa dongkol Nana dari nada biacaranya yang sedikit ketus.

“Ada apa, Sayang? Kalian sedang ada masalah?”

Kening Nana berkerut. Apakah rasa marahnya kepada Siwon terlihat jelas?

“Tidak Eomma… Hanya saja…” Nana menghentikan kalimatnya, ragu untuk melanjutkan.

“Katakan saja, Sayang… mungkin Eomma  bisa membantu,”

Tanpa sadar, Nana mendengus dan  menekuk wajahnya.

Oppa  membuatku kesal Eomma… Semalam dia datang larut malam. Padahal aku sudah mengingatkannya untuk tidak lembur sampai larut malam. Parahnya lagi, sesampainya di rumah, dia langsung tidur! Tidak mandi, tidak mengganti pakaiannya! Dan dia dengan tenangnya tidur dalam keadaan seperti itu dengan memelukku! Aku tidak nyaman dan tidak suka melihat dia seperti itu!” jelas Nana panjang lebar, dengan nada manja dan merajuk. Nyonya Choi tersenyum mendengar penjelasan Nana. Nana masih muda, usianya 5 tahun lebih muda dari Siwon. Terkadang, sifat kekanakan dan manjanya muncul. Beruntung, Siwon bisa bersikap lebih dewasa. Namun hal itu juga terjadi sebaliknya. Ketika sifat keras kepala Siwon kambuh, Nana bisa memahaminya.

“Kau sudah bicara padanya kalau hal itu membuatmu tidak nyaman?”

“Belum…” jawab Nana, seraya menggelengkan kepala, padahal Nyonya Choi tidak bisa melihatnya.

“Bicarakan saja, Sayang. Dengan begitu, Siwon akan mengerti kesalahannya, dan kau pun akan merasa lega…”

Nana memainkan bibirnya, kebiasaannya ketika sedang mempertimbangkan sesuatu.

“Baik Eomma, akan ku coba. Oya, ngomong-ngomong kenapa Eomma menelfon? Ada yang ingin Eomma bicarakan?”

“Eoh iya, besok malam kalian makan malam di rumah Eomma, ya!”

“Eoh, ada acara apa, Eomma?”

Eopseo. Eomma hanya ingin bertemu kalian,”

“Eoh, baiklah. Nanti aku sampaikan pada Oppa…”

Geureom. Sampai jumpa besok malam. Jaga dirimu Sayang! Bye!”

“Baik EommaBye!”

_oOo_

 

Deru mobil yang sangat Nana kenal membuatnya beranjak dari sofa. Ia membuka pintu lalu menyambut suaminya, Siwon. Kali ini Siwon berusaha pulang pada jam normal, untuk menhindari amarah istrinya. Bukannya ia takut pada Nana, ia hanya merasa tidak nyaman, tidak dapat berkomunikasi dengan Nana dengan benar, tidak bisa menggodanya, tidak bisa bermesraan dengannya. Padahal obat yang paling mujarab untuk menghilangkan rasa lelah setelah seharian bekerja adalah senyuman Nana.

“Sayang, aku membawakan gelato untukmu,” ujar Siwon, seraya menyerahkan kantong berisi gelato.

Gelato lagi? Oppa, semalam kau sudah membawakanku gelato, dan itu masih belum tersentuh di kulkas! Kau ingin aku selalu memakan gelato? Setiap hari? Kau ingin aku bertambah gendut? Begitu?” Siwon melongo mendengar jawaban Nana yang panjang lebar. Dia hanya ingin menyenangkan Nana dengan membawakan oleh-oleh, namun Nana malah memarahinya?

“Sayang, aku kira gelato kemarin sudah tidak segar dan tidak seenak yang masih baru,” bela Siwon.

Oppa, kita menyimpannya di freezer, jadi tidak akan rusak secepat itu. Kau sangat suka membuang-buang uang!” Siwon melongo. Ada apa dengan Nana? Ada apa dengan Nana yang biasanya menyambutnya dengan manis, dan selalu berterima kasih ketika Siwon membawakannya sesuatu?

“Baiklah. Mianhae!” ujar Siwon akhirnya, mengalah, seraya mengikuti langkah Nana ke ruang makan.

“Oya, tadi Eomma menelfon. Eomma mengajak kita untuk makan malam di rumah Eomma besok.” Siwon terdiam seakan memikirkan sesuatu.

“Kenapa? Kau tidak bisa?” ujar Nana, seraya berbalik ke arah Siwon.

“Bukan begitu Sayang… Besok jadwalku penuh,”  Nana mendengus, lalu melanjutkan langkahnya ke dapur. Sedangkan Siwon mengekor di belakangnya.

“Nana, aku tidak bilang aku tidak bisa…” Ujar Siwon seraya membalik tubuh Nana yang sedang membuat kopi ke arahnya. Lalu ia merangkum wajah Nana dengan kedua tangannya.

“Kau marah padaku, eum?” tanyanya, lembut. Nana menunduk.

“Hei, katakan saja, Sayang! Apa yang membuatmu marah padaku? Karena aku pulang malam?” Nana tidak menjawab.

“Maafkan aku, Sayang! Aku berjanji, aku akan berusaha menyelesaikan pekerjaanku secepatnya, dan makan malam di rumah Eomma,” Nana menatap wajah Siwon.

“Kau memaafkanku?” Nana menghela nafas pelan lalu menunduk. Siwon tersenyum lalu memeluk Nana, mengecup keningnya, lalu bergerak untuk mencium Nana. Namun tepat sebelum bibir mereka bertemu, Nana mendorong tubuh Siwon.

“Kau bau!” ujarnya.

Mwo?” ujar Siwon, kaget. Ada apa dengan Nana? Hari-hari sebelumnya, Siwon pun suka melakukan hal serupa, mencium Nana ketika dia baru pulang kerja, dan Nana tidak pernah menolaknya, malah menyambutnya dengan suka cita. Dan sekarang Nana mengatakan Siwon bau? Bahkan ketika Siwon pulang lebih larut dari hari ini, dan lebih berantakan dari kondisinya kali ini, Nana tidak pernah menolaknya, ya, kecuali kemarin malam.

Oppa, labih baik sekarang kau mandi! Aku akan menyiapkan makan malam,” lanjut Nana. Masih dengan rasa kaget dan bingung, Siwon berbalik lalu berjalan ke kamarnya.

_oOo_

 

Oppa, kau dimana? Sekarang waktunya pulang kerja. Kau tidak lupa kan kita ada janji makan malam di rumah Eomma?” Nana berbicara panjang lebar  begitu Siwon menjawab telfonnya.

“Eoh, aku masih di kantor, Sayang. Aku masih ada meeting, dan kemungkinan baru selesai jam 8 nanti. Kau berangkat saja dulu. Di rumah ada sopir, kan? Nanti aku akan menyusulmu,” jawab Siwon.

“Ya Tuhan, Oppa! Semalam kau sudah berjanji!” jawab Nana. Nada kesal sudah terdengar jelas dari nada bicaranya.

“Mianhae, Yeobo! Aku sudah mengusahakannya. Tetapi tiba-tiba ada masalah yang harus diselesaikan, jadi…”

Flip.

Sebelum Siwon menyelesaikan pembicaraannya, Nana sudah menutup telfonnya. Siwon menghela nafas frustasi. Ada apa dengan Nana? Mengapa akhir-akhir ini Nana sangat sensitive? Mengapa akhir-akhir ini Nana sangat emosional? Apa karena sedang PMS? Ah, mungkin saja.

_oOo_

Tuuut… Tuuut…

Sudah lima kali Siwon menelfon Nana, tapi tetap tidak ada jawaban. Padahal ia ingin memberitahu bahwa meetingnya sudah selesai, dan ia kan langsung menyusul ke rumah ibunya. Akhirnya, Siwon memutuskan untuk menelfon ibunya. Pada dering kedua, ibunya menjawab.

“Eoh, Siwon-ah, ada apa?”

Eomma, apakah Nana disana?”

“Nana? Eoh, kau pasti masih di kantor. Tidak, Nana mengatakan tidak jadi datang karena kau masih ada meeting di kantor, jadi tidak bisa menemaninya,”

“Eoh, geurae? Baiklah kalau begitu. Terima kasih Eomma, selamat malam!”

Ne…”

Flip.

_oOo_

 

Sesampainya di rumah, Siwon menemukan Nana sedang menonton TV di ruang keluarga. Namun sepertinya lelucon-lelucon yang ditampilkan di Gag Concert, —acara TV yang sedang ditontonnya—, tidak mampu meluruskan wajah Nana yang tertekuk.

“Sayang, aku pulang!” ujar Siwon seraya menunduk untuk mengecup kening Nana. Nana berdecak dan mendorong tubuh Siwon. Siwon menghela nafas. Tanpa banyak kata, Nana membuatkan Siwon kopi dan menyiapkan makan malam untuk Siwon. Dan akhirnya mereka makan malam berdua dalam kesunyian.

Setelah makan malam, mereka menuju ke kamar tidur. Siwon membersihkan diri dan mengenakan piyamanya. Kemudian ia berjalan ke ranjang, dimana Nana sudah lebih dulu berbaring.

“Nana…” panggil Siwon, lembut. Nana tidak menjawab. Ia memiringkan tubuhnya membelakangi Siwon. Siwon mendesah pasrah. Ia pun ikut berbaring, dan memiringkan tubuhnya menghadap Nana. Siwon menggerakkan tangannya, dengan ragu ingin menyentuh Nana. Namun, gerakan Nana membuatnya kaget. Nana tiba-tiba berbalik dan meletakkan bantal guling di antara mereka, seakan-akan memberi batas.

“Nana, apa-apaan ini?!” protes Siwon.

“Jangan coba-coba menyentuhku!” ujar Nana ketus, lalu kembali membelakangi Siwon. Siwon berdecak kesal. Namun apa yang bisa dia lakukan? Sepertinya tuan putrinya benar-benar marah sekarang!

_oOo_

 

Siwon menatap Nana yang tengah tertidur pulas di ranjang rawatnya. Begitu ibunya memberitahu bahwa Nana pingsan ketika  bermain di sanggar anak dari yayasan social miliknya, ia langsung berlarian dan mengemudikan mobilnya sendiri ke rumah sakit. Namun, ketika Siwon sudah di rumah sakit,  dokter sudah memberinya obat tidur agar Nana bisa beristirahat dan tidur dengan pulas.

“Sayang, maafkan aku yang sudah membuat emosimu memuncak akhir-akhir ini, dan tidak menjaga perasaanmu,” ujar Siwon, tulus, lalu mengecup tangan Nana yang berada di genggamannya. Kemudian ia kembali menatap wajah Nana yang tengah tertidur pulas kemudian memindahkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah cantiknya.

“Sayang, aku tidak sabar menunggumu bangun dan menyampaikan kabar bahagia ini,” lanjutnya. Detik berikutnya, Siwon melihat kelopak mata Nana bergerak-gerak pelan, lalu perlahan terbuka.

Oppa…” ujar Nana, dengan suara pelan dan serak.

“Ya, Sayang… Kau sudah bangun? Masih pusing?” Siwon menggeleng.

“Aku dimana?”

“Di rumah sakit. Kau tadi pingsan di sanggar. Kemudian Nyonya Shin membawamu kemari. Tadi juga ada orang tua kita. Tapi karena sudah larut, aku meminta mereka pulang,”

“Eoh…” jawab Nana pelan. Perlahan, ia bangkit.

“Pelan-pelan, Sayang!” Siwon dengan lembut, dan membantu Nana, lalu ikut duduk di ranjang Nana, sehingga kini posisi mereka saling berhadapan.

“Eumh, bagaimana kata dokter?” tanya Nana. Siwon tersenyum cerah, lalu meraih wajah Nana dan mencium keningnya.

“Selamat Sayang, kita akan segera menjadi orang tua! Kau akan menjadi seorang ibu, dan aku akan menjadi seorang ayah!” ujar Siwon. Kebahagiaan tidak dapat disembunyikan dari setiap ucapannya.

“Maksud Oppa, aku… hamil?” tanya Nana, memastikan. Siwon mengangguk lalu menarik Nana ke dalam pelukannya.

Hamil?

Tanpa permisi, airmata haru mengalir di pipinya. Sudah setahun yang lalu Nana ingin memiliki anak, namun karena masih menjalani terapi, dokter tidak mengizinkannya. Baru beberapa bulan yang lalu, ketika terapinya sudah selesai, dan Nana sudah tidak mengonsumsi obat-obatan lagi, ia melepas kontrasepsinya.

“Hei, Sayang, mengapa kau menangis?’ ujar Siwon, seraya merangkum wajah Nana.

Nana menggelengkan kepala.

“Gomawo, Oppa… Gomawo!” ujar Nana dengan suara bergetar, lalu menenggelamkan tubuhnya dalam pelukan  hangat suaminya.

_oOo_

 

Nana menggerakkan tubuhnya hati-hati, berbalik menghadap suaminya yang kini tengah tertidur pulas sembari memeluknya. Ranjang rumah sakit yang sempit memang membatasi ruang gerak mereka. Begitu Nana berhasil berbalik, Siwon menggerakkan tubuhnya, mengeratkan pelukannya, sehingga kini kepalanya berada di dada Nana. Nana membelai lembut rambut Siwon dan tersenyum simpul. Beberapa hari yang lalu, indra penciuman Nana sangat tajam, dan ia tidak tau mengapa ia menjadi sangat anti kepada Suaminya. Nana tersenyum geli ketika mengingat ekspresi Siwon yang kaget ketika Nana mengatakan ia bau. Sungguh, Siwon tidak bau! Hanya saat itu Nana merasa tidak nyaman dan tidak suka mencium aroma parfum Siwon, ditambah lagi hari itu ia sedang kesal padanya. Namun kini malah sebaliknya. Ia merasa nyaman tidur dalam pelukan suaminya, padahal Siwon masih belum berganti pakaian sejak semalam. Tentu saja, karena Siwon langsung meluncur ke rumah sakit begitu mendapat kabar mengenai istrinya itu, dan tidak sempat memakai pakaian ganti.

Tokk tokk tokk.

Suara ketukan pintu diiringi suara pintu terbuka membuat Nana sadar dari lamunannya. Sesaat kemudian, seorang suster menampakkan diri dengan membawa nampan berisi obat-obatan dan jarum suntik. Perawat itu terlihat kaget melihat Siwon yang tidur di ranjang bersama Nana, dan menampakkan raut tidak suka.

“Maaf Nyonya, itu adalah ranjang untuk pasien, untuk Anda, tidak seharusnya Anda mengijinkan Tuan juga tidur di situ,” protes sang suster. Siwon menggeliat pelan.

“Ssshh…” Nana mengisyaratkan suster untuk tidak berbicara terlalu nyaring.

“Tidak apa-apa. Dia sangat kelelahan, dan aku tidak tega membiarkannya tidur di kursi atau sofa,” lanjut Nana.

“Tapi Nyonya…”

Gwaenchanha! Kalian pasti ingin aku tidur dengan nyaman, bukan? Aku tidak bisa tidur tanpa pelukannya,” ujar Nana seraya tersenyum. Suster itu menghela nafas pasrah.

“Baiklah, terserah Anda, Nyonya!” ujarnya. Kemudian ia menyuntikkan obat ke selang infus Nana.

“Sarapan Anda akan datang 30 menit lagi. Setelah itu Anda harus meminum multivitamin yang dokter berikan,” ujar perawat itu seraya membereskan alat-alat medisnya yang ia gunakan tadi.

“Permisi, Nyonya! Selamat beristirahat!” ujarnya, lalu menghilang di balik pintu. Nana menjawabnya dengan senyuman.

Beberapa saat kemudian, Siwon menggeliat lalu membuka mata.

“Sayang, kau sudah  bangun?” ujarnya, pada Nana, dengan suara serak khas bangun tidur. Nana menjawab dengan senyuman. Siwon membalas senyuman Nana. Namun, detik berikutnya ia seakan-akan tersentak, lalu bangkit dengan hati-hati.

“Maaf Sayang! Aku pasti membuatmu tidak nyaman,”

“Eoh? Kenapa Oppa?” tanya Nana bingung, seraya ikut bangkit.

“Eum, beberapa hari kemarin emosi dan penciumanmu sangat sensitive. Kata dokter itu adalah pengaruh hormone-hormon kehamilanmu yang masih belum stabil. Sekarang, aku masih belum mandi dan berganti pakaian sejak semalam, jadi…” jawab Siwon.

Mwo?” ujar Nana, lalu tersenyum geli.

“Ya, mungkin itu adalah penyebab aku emosional kemarin. Mianhae, Oppa… akhir-akhir ini aku kejam padamu,” ujar Nana, lalu memeluk Siwon. Tetapi, Siwon segera menjauh.

“Nana, aku belum mandi. Aku tidak mau merusak suasana hatimu saat ini,” Nana berdecak gemas.

Gwaenchana, Oppa! Sekarang aku baik-baik saja! Lagipula, kau tidak bau! Saat itu hanya pengaruh hormone, tetapi sekarang aku baik-baik saja!” ujar Nana, meyakinkan Siwon.

Geurae?” Siwon memastikan.

Ne!” jawab Nana pasti. Siwon tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Tanpa banyak kata, ia langsung meraih Nana ke dalam pelukannya.

_oOo_

Saengil chukhahamnida…

Saengil chukhahamnida…

Saranghaneun Choi Nana,

Saengil chukhahamnida…

Lantunan lagu ulang tahun berhasil menghentikan aktivitas Nana yang sedang memakan sarapannya. Nana menutup mulutnya dengan kedua tangannya, kaget dan terharu melihat kedua orang tuanya, dan mertuanya datang membawa sebuah kue tart dengan lilin diatasnya.

“Selamat ulang tahun, Sayang!” ujar Nyonya Im kepada putrinya, kemudian disusul oleh ayahnya, dan kedua mertuanya. Ya, ayah Nana sudah keluar dari penjara setelah dinyatakan tidak bersalah dalam kasus manipulasi pajak.

“Gomawo… Gomawo…” hanya itu yang mampu Nana ucapkan. Ia sendiri lupa bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya.

“Selamat ulang tahun, Sayang! Di hari ulang tahunmu ini, aku hanya ingin mengatakan, terima kasih kau telah lahir dan menjadi hadiah terindah dalam hidupku!” ujar Siwon, dengan menatap kedua mata Nana. Airmata yang sedari tadi tertahan kini mengalir di kedua pipinya mendengar kalimat dan tatapan tulus suaminya, Choi Siwon.

“Terima kasih Oppa, kau telah menjadi dan memberikan hadiah terindah untukku! Terima kasih Oppa! I love you!”

_oOo_

 

“Sekarang buka matamu!” bisik Siwon begitu mereka tiba di kamar tidur mereka. Siwon memang meminta Nana untuk menutup kedua matanya. Ia sudah menyiapkan sebuah kejutan untuk Nana di kamar mereka.

Perlahan, Nana membuka kedua matanya. Raut wajah terkejut tak bisa ia sembunyikan begitu melihat kejutan yang Siwon berikan. Di dinding  depan ranjangnya, dulunya hanya ada foto pernikahan mereka. Namun kini ada foto Nana yang sedang tersenyum bahagia, dan foto itu bukan hanya sekedar foto, tetapi lukisan yang terbuat dari kolase dan bersinar.

“Kau suka?” tanya Siwon, seraya memegang kedua bahu Nana dari belakang. Nana mengangguk berkali-kali.

“Kau tau alasanku memberimu hadiah ini?” Nana men ggeleng.

“Kau adalah hadiah terindah untukku, Sayang. Dan kau tahu mengenai sebuah mitos di India?”

“Tidak,” jawab Nana pelan. Siwon tersenyum lalu membalik tubuh Nana hingga menghadapnya.

“Jika kita ingin anak kita mirip dengan seseorang, maka ketika sang istri sedang hamil, kita harus meletakkan foto orang itu di kamar tidur, atau di tempat yang sering dilihat oleh istrinya…” Siwon menghentikan kalimatnya sejenak, lalu menatap kedua mata Nana.

“Dan aku ingin anak kita mirip denganmu…” ucapnya , pelan namun tegas.

“Kenapa, kau tidak setuju?” tanya Siwon, melihat Nana diam saja. Nana tersenyum penuh arti.

“Aku setuju, Oppa, tapi aku sejak dulu aku sudah tau, aku ingin anakku mirip dengan siapa,” Siwon terlihat kaget.

“Eoh, siapa?” Nana tersenyum.

“Biar aku yang menyiapkan fotonya sendiri, Oppa… beberapa hari lagi kau akan mengetahuinya…” jawab Nana. Siwon terlihat sedikit kecewa.

“Hei, jangan kecewa Oppa… Aku sangat menyukai lukisan itu. Aku sangat berterima kasih. Tetapi, aku tidak bisa membayangkan jika anak kita laki-laki akan mirip denganku,” ujar Nana, seraya membelai bahu Siwon.

“Percaayalah, Oppa, kau akan setuju denganku!”

_oOo_

 

Siwon baru saja tiba di rumah. Setelah bertemu Nana ketika Nana menyambutnya, ia langsung menuju kamar, sedangkan Nana membuatkan minuman hangat untuknya. Siwon melepas jasnya, lalu meletakkannya di atas ranjang. Begitu ia berbalik, pandangannya menemukan sebuah foto lelaki kini berada di samping  foto Nana, foto kolase yang ia hadiahkan kepada Nana beberapa hari yang lalu. Foto itu pasti adalah foto sosok yang Nana inginkan mirip dengan anak mereka kelak, dan foto itu juga sama-sama terbuat dari kolase dan bersinar.

Cklek.

Terdengar suara pintu terbuka, kemudian sosok istrinya masuk.

“Nana, kau… maksudmu… ini…” Siwon tidak mampu menyusun kalimatnya dengan benar. Nana tersenyum lalu mendekati Siwon.

“Benar, Oppa… Aku ingin anak kita kelak mirip dengannya,” jawab Nana, mantab. Siwon menatap Nana berkaca-kaca.

“Aku ingin anak kita kelak mirip dengan ayahnya, Choi Siwon,” tegas Nana. Siwon tidak mampu menjawab. Ia menarik Nana ke dalam pelukannya.

“Terima kasih, Sayang! Aku mencintaimu! Sangat!”

Na do saranghaeyo, Oppa!”

 

Terima kasih, Oppa! Kau telah menjadi dan memberikan hadiah terindahku, seumur hidupku!

The End

 

Oye hoi hoi…

Gimana readers?

Gaje, ya???

Mian kalo ga jelas, ini bikinnya ngebut soalnya… hehehee…

Komennya di tunggu, yaaa…

Hahaaa… 😉

 

Gomawooo!!!

Advertisements

13 thoughts on “The Precious Gift (Another Story of Why?)

  1. nyeong aku baru nih ..
    sebernya agak bingung soal nya jarang bgt cast nya nana siwon .. biasa nya nana suka di couple lin sama kyu hehehe . ati aku suka cerita nya asyik dari yang ‘why’ 1 sampai yg ini makin seru …
    good luck thor buat ff nya …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s