Promise You (Part 4)

Siwon nana promise you

 

 

Annyeong haseyo yeorobun!

Mian kalau post yang part ini nunggunya lamaaa bangettt… lagi bener-bener sibuk di lokasi KKP dan lebaran pun masih disibukkan sama laporan. Akhirnya inilah jadinya nyuri-nyri waktu tengah malem… Mian kalo belum bisa memuaskan readers…

Selamat membaca, dan ditunggu komennya, yaa J

Gomawoooo J

_oOo_

Last Part

“Jadi apa kesibukanmu sekarang?” tanya Nyonya Im seraya memotong steak  di piringnya.

“Hanya bekerja, Eomoni…”

“Oya? Apa pekerjaanmu?” Nana sedikit membuka bibirnya.

“Saya… Saya…” Nana menunduk dan melirik ke arah Siwon, berharap Siwon melakukan sesuatu. Ia tidak tau apakah ia harus mengatakan hal yang sejujurnya, bahwa dia adalah sekretaris Choi Siwon. Dalam hati ia merutuk, mengapa ia tidak berbicara dengan bossnya dulu? Membuat kesepakatan mengenai apa yang harus mereka bicarakan kepada keluarga Choi?

“Dia sekretarisku, Eomma…” Orang tua Siwon terlihat sedikit terkejut.

“Sekretaris?” ulang Nyonya Choi.

Ye, Eomoni…” jawab Nana, gugup. Nyonya Choi mengangguk pelan. Raut keraguan nampak jelas di wajahnya.

“Ah iya… Lalu pekerjaan orang tuamu?” tanya Nyonya Choi lagi.

“Ayahnya sudah wafat. Ibunya berjualan kue ikan dan teokpokki di pasar…” jelas Siwon.

“Ber… Berjualan di pasar?”

_oOo_

This part starts here…

                “Ya, Eomma… Ibu Nana adalah seorang single parent…” tambah Siwon, membuat orang tuanya terlihat terkejut.

Single parent? Dan ibumu membesarkanmu sendiri?” tanya Ny. Im. Nana mengangguk.

“Nana, mungkin ini terasa sedikit lancang. Tapi, bolehkah kami mengetahui kehidupan kalian? Eum… maksudku, bagaimana ibumu membesarkanmu seorang diri?” tanya Nyonya Im dengan hati-hati. Siwon memandang Nana tak kalah penasaran. Dulu, hal ini adalah topic yang tidak terlalu menarik perhatiannya. Namun setelah beberapa saat bersama wanita itu, tak dapat ia pungkiri bahwa perlahan ia mulai tertarik terhadap kehidupan Nana.

Nana melirik Siwon, menunggu instruksinya.

“Jangan sungkan, Nana… Kami akan mendengarkanmu dengan senang hati…” ujar Nyonya Im, disertai anggukan suaminya. Siwon mengangguk, mengisyaratkan Nana untuk bercerita. Nana menghela nafas pelan.

“Sebenarnya, ayah telah meninggal ketika saya SMA. Beliau meninggal karena kecelakaan sepulang bekerja di pabrik. Sejak itu, ibu membesarkan kami, saya dan adik perempuan saya, Im Hana, seorang diri. Beliau mencari nafkah dengan berjualan makanan di  pasar Jongro, untuk menghidupi kami semua…” Nana menghentikan ceritanya sejenak, dan melihat reaksi keluarga Choi. Mereka tampak antusias.

“Kau memiliki adik perempuan? Lalu bagaimana dengan sekolahmu? Sekolah kalian? Sampai kau bisa menjadi sarjana?” tanya Nyonya Choi.

“Ya, adik saya saat ini duduk di bangku SMP. Untuk biaya sekolahnya, sekarang saya yang membiayainya, sedangkan biaya sekolah saya dulu… Saya mendapat beasiswa di kampus dan bekerja paruh waktu…” jelas Nana. Tuan Choi tersenyum, sedangkan Nyonya Choi mengangguk dan tersenyum. Entahlah, Nana tidak memiliki kata yang tepat untuk menggambarkannya.

“Wah, kalian orang yang hebat. Aku kagum pada keluargamu, Im Nana, pada ibumu, dan tentu saja padamu. Jika aku berada di posisi ibumu, belum tentu aku bisa sekuat itu membesarkan anak-anakku seorang diri. Dan kau…” Nyonya Choi meraih tangan Nana dan membelainya lembut.

“Kau adalah wanita muda yang hebat. Kau bisa berjuang untuk masa depanmu, dan keluargamu. Dan tentu saja, kau wanita yang cerdas. Aku sendiri tau, tidak sembarang orang bisa mendapatkan beasiswa di perguruan tinggi, dan kau bisa mempertahankannya walaupun kau juga harus bekerja. Aku bangga padamu, Nak!” ujar Nyonya Choi dengan mata yang berkaca-kaca. Nana tersenyum kaku, tidak tau bagaimana harus meresponnya.

“Ehem!” Siwon berdeham, memecahkan suasana melankolis di antara mereka.

“Ayo kita makan!” lanjutnya.

_oOo_

 

“Nana, seringlah datang kemari! Jika Siwon terlalu sibuk untuk mengajakmu ke sini, kau bisa menelfonku. Aku akan menjemputmu, atau mengirim sopir untuk menjemputmu…” ujar Nyonya Choi ketika mereka berjalan menuju teras depan, mengantar Siwon dan Nana yang akan pulang.

Eomma… Jangan membuatnya takut!” Siwon memperingatkan ibunya dengan nada protektif.

“Ya Tuhan! Eomma tidak bermaksud begitu. Eomma memang senang jika dia mau sering berkunjung ke sini, menemani Eomma… lagipula Eomma sering sendiri di sini,  apalagi sejak kedua adikmu kuliah, dan kau juga pindah ke penthouse-mu. Lagipula, Nana tidak akan keberatan. Benarkan, Sayang?” Nana menjawab dengan senyuman.

“Terserah kalian sajalah!” Siwon mengalah.

“Eum, Nana, tolong berikan ini pada ibumu, dan sampaikan salam kami padanya…” ujar Nyonya Choi, seraya memberikan sebuah kotak berukuran sedang yang beberapa saat lalu diantarkan salah seorang pelayannya.

“Ah, Ye! Terima kasih banyak, Eomoni, Aboeji!”

“Baiklah, kalau begitu kami pamit dulu,” ujar Siwon, lalu memeluk dan mencium pipi ibunya, kemudian memeluk ayahnya. Nyonya Choi juga membuka lengannya, mengundang Nana ke dalam pelukannya. Nana menyambutnya.

“Seringlah kemari, ne!” bisik Nyonya Choi. Nana mengangguk, lalu melepas pelukannya. Ketika Tuan Choi akan memeluk Nana, Siwon menarik lengan Nana sehingga Nana berada di sampingnya, dan tidak jadi berpelukan dengan Tuan Choi. Nana terperangah, tidak menyangka Siwon akan bertindak kurang sopan seperti itu pada ayahnya.

Not for you, Dad!” ujar Siwon, lalu menggerakkan sebelah alisnya dan tersenyum tipis.  Tuan Choi tertawa dan menggelengkan kepala menanggapi Siwon.

“Baiklah, kami pergi dulu!”

“Ne, hati-hati! Nana, jika Siwon menyetir dengan tidak benar, pukuli saja dia!” tukas Nyonya Choi.

Eomma, jika dia memukuliku, maka aku semakin tidak bisa menyetir. Lagipula, aku sadar bahwa aku bersamanya, dan aku bertanggung jawab atas keselamatannya,” bela Siwon, lalu mengedipkan sebelah matanya.

“Ck, dasar!” cibir nyonya Choi.

_oOo_

 

“Bagaimana keluargaku?” tanya Siwon, memecah keheningan yang menyelimuti mereka sejak beberapa saat lalu mobil mereka melaju keluar dari kompleks rumah Siwon, dan  kini sedang berhenti karena lampu merah.

“Apa mereka membuatmu takut?” lanjutnya.

“Tidak, Sajangnim. Mereka sangat baik,” jawab Nana, seraya menoleh pada Siwon. Siwon mengangguk.

Sajangnim terlihat sangat dekat dengan mereka,” lanjut Nana.

Ah, geurae?!” respon Siwon, seraya kembali mengemudikan mobilnya.

Ne,” Nana menjawab singkat. Untuk beberapa saat kemudian, mereka kembali tenggelam dalam suasana sunyi, tidak memiliki bahan obrolan. Siwon berkonsentrasi mengemudikan mobilnya, sedangkan Nana tenggelam dalam pemikirannya sendiri. Pemikiran mengenai lelaki di sampingnya, Choi Siwon. Bertemu dengan keluarga Choi tadi memberikan kesan tersendiri baginya, terutama mengenai Choi Siwon. Dingin, keras, tegas, kaku, suka memerintah, dan mengintimidasi adalah kesan yang terbentuk dalam benak Nana sejak pertama kali ia bertemu dan bekerja dengan Siwon, sampai beberapa saat sebelum ia bertemu dengan orang tuanya. Namun, semuanya berbalik 180 derajat ketika ia melihat Siwon bersama keluarganya tadi. Lelaki itu terlihat ceria, hangat, dan penyayang. Ya, dari cara Siwon berkomunikasi dengan orang tuanya, sangat jelas terlihat bahwa Siwon sangat menyayangi orang tuanya, begitu pun sebaliknya. Jika boleh jujur, Nana penasaran mengapa bossnya itu bisa bersikap sangat berbeda ketika berada di kantor.

Sajangnim, seharusnya kita berhenti di halte tadi,” ujar Nana refleks ketika Siwon melajukan mobilnya terus, bukannya berhenti di halte tempat mereka bertemu tadi.

“Aku akan mengantarmu ke rumah sakit,” jawab Siwon, datar.

Ne?

“Kau akan ke rumah sakit, bukan? Aku akan mengantarmu ke sana, jadi kau tidak usah menunggu bis. Lagipula, aku ingin bertemu ibu dan adikmu,”

Ne? Ber… bertemu ibu?”

“Ya. Kenapa? Kau tidak mau?”

“Bukan begitu Sajangnim… Tapi…”

“Tenang saja, Im Nana! Aku tidak akan berbuat macam-macam. Aku hanya ingin memperkenalkan diri padanya,” Tidak, bukan perilaku Siwon yang membuatnya khawatir, tetapi reaksi ibunya jika saja mereka bertemu.

“Ah ne Sajangnim, saya mengerti. Tetapi…”

“Apa ibumu tau tentang perjanjian kita?” Nana tersentak. Mengapa Siwon seakan bisa membaca pikirannya?

“Tidak… Ibuku tidak tau…” Nana berbohong. Ia takut, tidak bisa memprediksi apa yang  akan lelaki itu lakukan jika Nana menjawab jujur, bahwa ibunya sudah mengetahui perjanjian mereka.

“Bagus! Jadi kita bisa ke sana sekarang!”ujar Siwon, tegas, tidak ingin dibantah. Ya Tuhan! Apa yang harus aku lakukan? Mengapa sifatnya yang suka memerintah harus kambuh saat ini?

Nana menghembuskan nafas pasrah. Bagaimana caranya ia memberitahu ibunya bahwa Siwon akan datang? Bagaimana ia meminta ibunya untuk tidak bertindak macam-macam? Nana tidak bisa mengirim pesan, penglihatan ibunya yang kurang baik untuk membaca teks yang kecil di ponsel, sehingga ia harus meminta Hana untuk membacakannya setiap ada pesan masuk. Sedangkan Hana tidak boleh tau masalah perjanjian itu. Lalu telfon? Mustahil! Mana mungkin Nana menelfon ibunya tentang kunjungan Siwon sedangkan sang tokoh utama berada di sampingnya?

_oOo_

 

Nana memegang handle pintu ruang rawat Hana. Lututnya terasa lemas membayangkan reaksi ibunya ketika bertemu Siwon. Nana menoleh pada Siwon, Siwon mengernyit, tidak mengerti sikap Nana.

Wae?”  tanya Siwon, pelan. Nana menggeleng, lalu membuka pintu perlahan. Setelah pintu terbuka, ia melihat ibunya sedang menyuapi Hana. Nana menarik nafas lalu melangkah masuk, dan Siwon mengikuti di belakangnya.

Eomma, Hana…” panggil Nana. Serentak, mereka menoleh. Pandangan mereka terpaku pada sosok pria tampan dan gagah yang berdiri di belakang Hana.

“Ah, perkenalkan, direkturku, Choi Siwon,” Nyonya Im terhenyak mendengar kalimat Nana. Pandangannya beralih pada Nana, lalu menatapnya tajam. Nana tersenyum tipis, lalu menggelengkan kepala, mengisyaratkan ibunya untuk tidak bertindak macam-macam.

Ah ye, Choi Siwon imnida, bangapseumnida!” ujar Siwon, mengenalkan dirinya dengan sopan.

“Ah, Im Hana imnida, mannaseo bangapseumnida!” Im Hana, adik Nana yang sejak tadi memang sudah terpukau oleh Siwon, segera mengenalkan dirinya. Sebagai wanita, ia tidak bisa memungkiri pesona seorang Choi Siwon.

Siwon tersenyum. “Bagaimana keadaanmu sekarang?” tanyanya, pada Hana.

“Sudah baik Tuan. Aigoo, saya sangat senang ada teman Eonni yang datang kemari. Tuan adalah orang pertama yang Eonni bawa kesini,” Hana menjawab panjang lebar, dan berhasil mendapat tatapan tajam dari ibunya.

“Hana, jaga bicaramu! Dia bukan teman Eonni-mu, tetapi direkturnya!” ujar Nyonya Im dingin. Siwon sedikit kaget mendengar Nyonya Im berbicara demikian pada anaknya.

Eomma, aku membawa oleh-oleh dari… Nyonya Choi” sela Nana, bermaksud menurunkan ketegangan ibunya. Namun sepertinya ia salah. Ibunya malah menatapnya tajam ketika Nana menyebutkan oleh-oleh dari Nyonya Choi.

“Dari Nyonya Choi? Apa maksudmu?

“Maaf Eomonim, sebenarnya, saya bukan hanya direktur Nana, tetapi…”

Tok-tok-tok.

Kalimat Siwon terhenti begitu mereka mendengar suara ketukan pintu. Beberapa saat kemudian, seorang dokter lelaki muda dan perawat masuk.

“Selamat sore!” ujar dokter itu dengan sopan.

“Selamat sore!” jawab keluarga Im, hampir serempak. Dokter itu tersenyum seraya memindai wajah mereka satu persatu. Namun, pandangannya berhenti pada Nana. Siwon mengernyit melihat senyuman berbeda yang ditunjukkan dokter muda itu pada Nana. Hal itu tak urung membuat Siwon terus memperhatikan setiap gerak-gerik dokter muda itu, baik ketika melakukan pemeriksaan, maupun ketika berbicara dengan anggota keluarga Im, termasuk pada Nana. Jika boleh dibilang, dokter itu memiliki penampilan fisik yang cukup lumayan. Usianya mungkin sedikit lebih muda darinya. Tubuhnya tinggi tegap, walaupun tidak setinggi Siwon, dan memiliki wajah yang bersih dan tentu saja selalu menunjukkan senyuman ramah. Siwon tersenyum tipis, mencibir senyuman – yang menurutnya palsu– yang ditunjukkan oleh dokter muda itu.

“Untuk saat ini, kondisinya baik. Jika Hana selalu menjalani hemodialysis dengan teratur, tentu kondisinya pun akan semakin membaik,dan tentu saja, kami masih mengharapkan transplantasi ginjal untuknya,” jelas sang dokter.

“Ya, lakukan saja yang terbaik untuknya,” ujar Nana, pelan.

“Tentu saja, Nona! Kami akan berusaha,” jawab dokter muda itu seraya tersenyum, lalu mengedipkan mata, seolah mengisyaratkan Nana untuk tenang. Siwon memutar mata, jengah.

“Benar, lakukan yang terbaik untuknya, termasuk memberikan dokter dan perawatan terbaik!” sela Siwon. Refleks, Nana menoleh pada Siwon.

“Maaf, saya baru melihat Anda di sini. Saya belum pernah melihat Anda sebelumnya,”

“Benar, saya baru pertama kali ke sini. Perkenalkan, Choi Siwon,” Siwon mengenalkan diri dengan gayanya yang khas. Gaya seorang pengusaha muda yang berwibawa, yang mampu mengintimidasi lawan bicaranya hanya dengan keberadaannya.

Dokter muda itu seakan berpikir dan mengingat-ingat. Beberapa detik kemudian, sikap menjengkelkan dokter itu, yang seolah-olah mengabaikan Siwon, hilang seketika.

“Ah ye, Choi Siwon Sajangnim. Maaf, kalau boleh tau, ada hubungan apa Anda dengan Nana? Apakah Anda temannya?” Siwon tersenyum.

“Bukan, saya adalah kekasihnya,” jawab Siwon, singkat. Sontak, seluruh mata yang berada di ruangan itu mengarah padanya. Nyonya Im menatapnya tajam, namun Siwon tidak menyadarinya.

“Benarkah? Wah selamat jika begitu,” ujar dokter muda itu dengan wajah merah padam. Ia harus menanggung malu, ketahuan menggoda kekasih seseorang di depan orang itu sendiri, ditambah lagi orang itu adalah Choi Siwon.

“Baik, kalau begitu, kami mohon pamit. Im Hana, jaga kondisimu, minum obat dan hemodialysis sesuai jadwal,” ujar dokter itu lalu melangkah keluar, diikuti sang perawat.

“Ehm…” Nyonya Im berdeham, ketika dokter itu sudah pergi dari ruangan mereka, dan berhasil menarik perhatian Siwon dan Nana.

“Jadi, bisakah kalian menjelaskan apa yang terjadi?’ ujar Nyonya Im.

“Mohon maaf, Eomonim!  Mungkin saat ini bukan saat yang tepat untuk membahas masalah ini. Tetapi saya adalah teman dekat Nana, dan kami bermaksud untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius. Saya telah mengenalkan Nana pada orang tua saya, dan orang tua saya menyetujuinya. Jadi saya bermaksud untuk…”

“Jadi begini cara Anda melamar seorang wanita?” sela Nyonya Im dengan nada dingin. Siwon terperangah. Belum pernah ada yang berani menyela pembicaraannya, kecuali kedua orang tuanya.

“Menurut tata krama, mestinya Anda membawa orang tua Anda untuk melamar seorang gadis,” lanjut Nyonya Im singkat. Siwon mengangguk.

“Mohon maaf untuk itu. Sebenarnya saya datang kesini juga bermaksud untuk membicarakan masalah pertemuan resmi antar keluarga,” Nyonya Im menghela nafas, mengendalikan emosinya. Jika saja ia tidak tau masalah perjanjian itu, jika saja Siwon benar-benar adalah calon suami anaknya, alias calon menantunya…

Mungkin, pasti banyak yang akan ia bicarakan, yang akan ia tanyakan, seperti mengapa ia menjalin hubungan dengan Nana, bagaimana awal perkenalan mereka, bagaimana perasaannya kepada Nana, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Beragam pertanyaan yang nantinya pun tidak akan mempengaruhi keputusannya menerima Siwon sebagai menantunya. Ya, orang tua mana yang akan menolak calon menantu seperti Choi Siwon? Namun apa daya, ini semua hanyalah sandiwara. Ya, sandiwara…

“Semua terserah pada Nana… Dia yang akan menjalaninya…” jawab Nyonya Im, pelan.

Dalam waktu yang bersamaan, mereka menoleh pada Nana. Nana yang tadinya larut pada pikirannya sendiri, pikiran mengenai sisi lain Siwon yang baru pertama kali dilihatnya, sebuah sisi yang lembut dan sabar dalam menghadapi orang lain, yaitu ibunya, mengerjap kaget menyadari tatapan mereka.

“Bagaimana, Nak?” tanya Nyonya Im.

Ye?” ujar Nana.

“Kau mau menerimanya?” Nana menoleh pada Siwon, lalu kembali pada ibunya.

“Semua terserah padamu. Eomma hanya mengharapkan yang terbaik bagimu…” ujar Nyonya Im dengan suara serak dan mata berkaca-kaca.

“Terima kasih, Eomma…” ujar Nana lalu menghambur ke dalam pelukan ibunya.

“Yeee!!! Selamat Eonni! Kakak ipar, selamat!!!” teriak Hana, disertai tepuk tangan takjub melihat adegan yang baru saja mereka alami.

_oOo_

Tok tok tok.

“Masuk!” ujar Siwon setelah mendengar suara ketukan pintu. Beberapa saat kemudian, Im Nana masuk. Siwon mengerutkan kening melihat kekhawatiran di raut wajahnya.

“Apa yang terjadi?”

Sajangnim… Saya mohon izin pulang lebih dulu. Seluruh pekerjaan untuk hari ini sudah saya selesaikan…” ujar Nana, dengan nada tergesa.

“Kenapa? Apa yang terjadi? Katakan padaku!”

“Saya… saya akan menjalani tes ginjal untuk menjadi donor untuk Hana…” jawab Nana, pelan.

“KAU GILA?” sentak Siwon, refleks, dan sontak membuat Nana terhenyak.

“Tidak! Kau tidak boleh menjadi donor ginjal! Kau bisa mencari donor ginjal yang lain!” Ujar Siwon, tegas.

“Tapi Sajangnim, menurut dokter yang paling berpeluang besar untuk menjadi donor ginjal adalah saudara kandung, karena kemungkinan kecocokannya sangat besar. Lagipula, sangat susah mencari donor ginjal dalam waktu sesempit ini…” jelas Nana dengan suara bergetar.

“Tidak Im Nana! Kau tidak boleh menjadi donor! Kita akan mendapatkan donor itu. Jika perlu, kita akan membawa Hana berobat ke luar negeri!”

“Tapi Sajangnim…”

“Sekali aku mengatakan tidak, tetap tidak!”

“Tapi kenapa, Sajangnim? Jika kita harus berobat ke luar negeri, biayanya akan semakin mahal dan…”

“Biarkan saja! Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada calon istriku… maksudku, aku tidak mau nantinya setelah kita menikah, kau sakit-sakitan. Aku tidak mau disalahkan karena hal itu!”

“Tetapi Sajangnim… saya tidak mungkin menikah sebelum Hana dioperasi…”

Mwo?”

_oOo_

 

To Be Continued…

 

Hai haii…

Apa kaber readers?

Minal aidzin wal faidzin yaa… mohon maaf lahir bathin..! maaf telat ngucapinnnya… heheee… 🙂

Eh Sori sori sori kalau ini kurang memuaskan readers… maaf banget yaaakkk lama banget baru bisa posting lagi…

FYI, aku gam au PHP soalnya… kemungkinan aku selesai KKP kan akhir bulan ini, jadi mungkin akhir bulan nanti baru posting lagi… maaf yaa… 🙂

Oyaaa,  ditunggu komennya yaaa… 😉

Advertisements

50 thoughts on “Promise You (Part 4)

  1. Fufufufu finally akhirnya setelah menunggu sekian lama ff ini di post juga 🎉 yeye orang tua siwon ternyata orangnya humble, kirain kemarin gak bakal suka sama Nana setelah tau kenyataan kalau Nana orang biasa. Ecie siwon udah ada rasa ya sama Nana 😚 sampe Nana dpeluk abeoji nya aja gak boleh 😄 suka banget sama bagian Siwon bilang “Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada calon istriku” siwon secara gak langsung udah mulai protective sama Nana 😊
    Next part buat lebih panjang dari ini dong, kak. Yg ini kurang panjang lagi kkkk 😁 terus sweet moment Siwon – Nana nya ditunggu banget, terus gak adakah rencana munculin orang ke 3 diantara Nana – Siwon? pasti bakal tambah seru kalau ada orang ke 3nya 😃

    1. Hohooo… iya iyaa… ini masih sibuk sama KKPnya dongsaeng… wah, kalau cerita ini, lihat ajaa ya kelanjutannya nantiii.. heee…
      oya, yuk sekalian nulis ff nawon, terus dimpost di sini… soalnya idemu oke banget 😉

  2. yah aku yakin si dokter nya naksir sama nana dak ..
    cie cie banget … nana jangan donorin ginjal nya ke adik nya kasian nanti bini siwon sakit wkwkwk ..
    lanjut … yah … FF nya jangan buat penasaran dong … ff nya bakal di tunggu kelanjutan nya kok …

  3. yah aku yakin si dokter nya naksir sama nana dak ..
    cie cie banget … nana jangan donorin ginjal nya ke adik nya kasian nanti bini siwon sakit wkwkwk ..
    lanjut … yah … FF nya jangan buat penasaran dong … ff nya bakal di tunggu kelanjutan nya kok …

  4. lahir batin juga thor …
    kaget ni ff dah rilis 2 hari yg lalu . langsung buru buru buka .. untung sinyal mendukung ..
    waah ortu nya siwom welcome banget ama nana …
    kira kira apa yg di lakuin siwon tentang ginjal .. apa dia yg akan mendonor kan ginjal (waks) …
    tu dokter siapa thor ? naksir ama nana tuh ..

    pendek thoooor … lagi asik asik baca laaa dah TBC ..

    lanjut thor .. cepetan ya + panjangin lagi (readers maruk + cerewt)

    udah ahk ..
    fighting thor

  5. huaaa akhirnya muncul..
    seneng apa yg d takutin klo org tua siwon bkal.gak suka gak trjdi malah mereka suka banget sama nana..
    eiii siwon sampe segitunya nana gak boleh donor ginjal..
    semangat di tunggu lanjutannya….

  6. Huaa makin keren ajah nih FF eon
    Ditambah pas tau respon orangtua siwon terhadap Nana ..
    Apalagi pas siwon cemburu sama dokter yg main mata ama Nana wkwkwk
    Trus pas siwon ngelarang soal Nana yg mau donorin ginjal untuk adiknya hias Daebak eon 😀

    Next Partnyaa ditunggu yaa eon secepatnyaaa wkwkwk 😀 😉
    Keep writing 🙂

  7. Kereen keren sumpah 👍… kok eomma nya nana kaya gitu yah ??hmm athor buat penasaran bgt sumpah ☺ …
    Semoga siwon bisa langgeng dan lancar sama nana 💑💏👫💖💖💖💖💖 AMINN

  8. Untungnya ortu nya siwon menerima nana, malahan ibunya siwon sangat suka dg nana, mulai dari penampilan dan karakter dari seorang nana. Tapi, ibunya nana kurang setuju dg pernikahan kontrak nawon couple, mungkin takut nana nantinya terluka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s