Promise You (Part 3)

Siwon nana promise you

 

  • Title                      : Promise You  Part 3
  • Main Casts        : Choi Siwon, Im Nana
  • Author                 : Shelly Diah
  • FB                          : http://www.facebook.com/shelly.diah
  • Twitter                 : @Shelly_imnida
  • Blog                       : http://SiwonNanaWorld.wordpress.com
  • Length                 : Chaptered
  • Genre                   : Romance
  • Rating                  : 15+

 

Annyeong haseyo yeorobun!

Mian baru ngepost yang part 3-nya…

Mian juga, sepertinya setelah part ini aku bakalan jarang2 nge postnya, soalnya ada KKP di daerah gitu, jadi belum tentu dapat sinyal modem. Ya, kurang lebih selama 2 bulan… tapi nanti aku usahakan ya, kalau pas lagi ke kota, cari warnet buat nge post ni FF… jadi doakan yang readers, semoga ada sinyal internet di tempat KKP aku nanti… J

Yaah, semoga  yang ini bisa  memuaskan reader yaa… kalau ada yang kurang-kurang, atau readers ingin ada “sesuatu” yang ditambahkan di cerita ini, sok dikomen aja…

And the last, happy reading…!!!

_oOo_

Last part

“Duduklah!” Siwon yang kaget atas kedatangan Nana dan terlalu fokus pada penampilan  kacaunya sampai lupa untuk mempersilakan Nana duduk.

Nana menggeleng.

“Saya hanya ingin mengatakan…” Nana menghentikan kalimatnya. Siwon mengangkat sebelah alisnya menanti kelanjutan kalimat Nana.

“Saya ingin mengatakan bahwa saya…” kalimat Nana kembali tersendat.

“…Saya menerima tawaran Anda…”

_oOo_

Siwon mengerutkan keningnya mendengar pernyataan Nana.

“Kau yakin?” tanya Siwon, memastikan.

“Ya…” jawab Nana, singkat. Seulas senyum kemenangan terbentuk di bibir Siwon.

Aku sudah menyangka, kau tidak akan menolaknya Im Nana…

“Baiklah kalau begitu. Aku sudah menyiapkan berkas untukmu. Duduklah!” kali ini Nana menurut. Ia menarik kursi di depan Siwon lalu duduk. Sementara itu, Siwon mengambil sebuah map merah di lacinya.

“Ini surat perjanjiannya. Isinya sama dengan yang aku kirim tempo hari. Tapi, kau bisa  membacanya dulu,” jelas Siwon, seraya menyerahkan map tersebut kepada Nana. Nana menerima map itu lalu meraih pena di samping tangannya, pena yang memang disediakan untuk tamu atau klien.

“Kau tidak membacanya dulu?”

“Tidak usah, Sajangnim,” Nana buru-buru menandatangani berkas tersebut. Bukannya ia tidak ingin membaca baik-baik berkas itu, bukannya ia tidak tau bahwa membaca berkas perjanjian sebelum  menandatanganinya adalah hal yang wajib, tetapi ia takut berubah pikiran. Jadi, sebelum pikiran warasnya pulih, ia harus menandatanganinya. Setelah itu, Nana menyerahkan map tersebut kepada Siwon. Siwon membuka dan meneliti setiap lembar yang memang harus Nana tanda tangani, lalu menutupnya setelah ia rasa sudah benar.

“Baik Sajangnim, kalau begitu, saya pamit dulu,” ujar Nana seraya bangkit.

“Kau pulang sendiri?”

“Ya.”

“Membawa mobil?” Nana tersenyum tipis. Jika aku memiliki mobil, lebih baik aku menjualnya daripada harus terlunta-lunta mencari pinjaman seperti ini, keluh Nana dalam hati. Namun ia masih memiliki kesadaran untuk tidak mengatakan hal itu kepada direkturnya.

“Tidak Sajangnim, saya naik taksi,” Siwon mengerutkan keningnya

“Kalau begitu, biar sopirku mengantarmu!” Nana terperangah.

“Tapi Sajangnim, bukankah Anda akan pulang?”

“Ikuti saja Im Nana, ini termasuk dalam perjanjian kita!” Perjanjian? Ah ya, di sana tertulis Nana harus mengikuti semua keinginan Siwon.

“Baik, Sajangnim. Kalau begitu, saya pamit dulu. Terima kasih!” tanpa menunggu jawaban Siwon, Nana berbalik dan berjalan menuju pintu keluar.

“Tunggu!” Suara tegas Siwon  membuat Nana menghentikan langkahnya dan  berbalik. Ia melihat Siwon berjalan memutari meja dengan membawa jas kerjanya lalu berjalan mendekati Nana. Siwon berhenti tepat di depan Nana, lalu menyelimuti Nana dengan jasnya, membuat Nana terperangah.

“Jangan pernah berpenampilan seperti ini lagi di depan umum!” ujar Siwon. Nana hanya mengangguk.

“Terima kasih, Sajangnim.” Ujar Nana dengan suara pelan dan tercekat, lalu berbalik dan pergi meninggalkan ruangan itu.

_oOo_

 

“Ruang VIP?” Ulang Nana, tidak percaya atas keterangan dari perawat yang ia tanya perihal ranjang adiknya yang kosong. Ya, dia sangat terkejut mendapati ranjang adiknya kosong begitu ia datang dari kantor Siwon, setelah menandatangani perjanjian itu.

“Ya Nona, adik Anda sudah di pindah ke ruang VIP, di kamar 323,”

“Baiklah, terima kasih Suster!” Nana mengalah dan memutuskan untuk mengecek sendiri kebenarannya. Jujur, jiwa dan pikirannya masih melayang-layang seharian ini…

Nana berjalan menyusuri koridor-koridor rumah sakit sampai menemukan kamar yang ditunjuk suster tadi. Nana membuka pintu. Ia takjub dengan interior ruang rawat tersebut. Ruangan itu benar-benar mewah, berbanding terbalik dengan tempat tinggalnya. Ia tidak bisa membayangkan berapa harga sewa ruangan ini.

Nana menggelengkan kepala, mengusir pikiran-pikirannya yang melantur. Kemudian ia masuk ke ruangan itu perlahan. Di balik dinding berbentuk L, yang sepertinya dinding kamar mandi, ia menemukan Hana sedang bersenda gurau dengan ibunya.

Eonni… kau sudah pulang?” sapa Hana dengan riang.

“Ya, seperti yang kau lihat! Bagaimana keadaanmu, eum?” tanya Nana, seraya mendekat lalu membelai kepala adiknya.

“Aku sudah lebih baik, EonniEonni, kau tau, aku seakan bermimpi indah berada di kamar ini. Saat aku bangun tadi, aku kira aku masih bermimpi… Hehee…” cerita Hana panjang lebar dengan nada yang ceria.

“Terima kasih Eonni… kau pasti sudah bekerja keras untuk ini semua… terima kasih…” lanjut Hana lalu memeluk pinggang Nana. Nana tersenyum ragu. Ya, ini karena Choi Siwon. Lelaki itu pasti sudah melakukan sesuatu.

Nana menoleh pada ibunya. Seperti yang sudah ia duga, ibunya  tidak melihatnya, dan raut amarah terlihat jelas di wajahnya.

“Iya, sama-sama Sayang…” jawab Nana dengan suara bergetar menahan tangis. Ia balas memeluk Hana lalu mengecup puncak kepalanya.

Eonni, kau menangis?” tanya Hana seraya melepas pelukannya mendengar suara Nana yang bergetar.

“Tidak. Eonni tidak menangis,” jawab Nana, dengan susah payah menahan air matanya.

“Hana-ya, sekarang sudah malam, lebih baik kau istirahat…” sela Nyonya Im. Hana menggeleng.

Geurae. Tetapi Eomma ingin berbicara dengan kakakmu sebentar,”

“Baik, Eomma…” Nyonya Im lalu bangkit dan berjalan ke arah sofa di dalam ruangan itu, tempat yang agak jauh dari ranjang Hana. Nana mengikuti di belakangnya.

“Jelaskan pada Eomma apa yang terjadi!” ujar Nyonya Im dengan pelan namun penuh penekanan.

“Aku… aku…”

Eomma sudah menyangka! Kau pasti sudah menyetujui perjanjian gila itu!”

Eomma, aku bisa menjelaskannya…”

“Menjelaskan apalagi Nana? Kau sudah membantah Eomma…!”

Eommaaa…!” tiba-tiba suara jeritan Hana mengalihkan perhatian mereka. Nyonya Im langsung berlari ke ranjang Hana.

“Ya Tuhan! Hana, kau kenapa?”

“Sakit Eomma… sakiiit…” Hana merintih seraya meronta-ronta.

“Dokter… Nana panggil dokter!” Nana yang terdiam karena kaget langsung tersentak mendengar perintah ibunya. Ia memencet berkali-kali bel di samping ranjang Hana dengan panik, ia juga berlari ke luar untuk memanggil dokter atau perawat.

_oOo_

Kini suasana sunyi yang menyelimuti ruang rawat Im Hana. Tidak ada satupun yang bersuara. Im Hana sedang tidur. Sedangkan Nyonya Im dan Nana tidak ada yang mau bersuara.

“Lalu apa yang akan kau lakukan?” Nana menoleh pada Nyonya Im yang tiba-tiba bertanya padanya.

“Maksud Eomma?”

“Perjanjianmu,” Nana terdiam.

“Maaf Eomma, aku hanya ingin menyelamatkan Hana, dan ini adalah satu-satunya cara…” Nyonya Im menunduk. Air mata tiba-tiba mengalir di pipinya.

“Maafkan Eomma, Nak… Kau tidak seharusnya menanggung ini semua. Seharusnya Eomma yang bertanggung jawab atas kehidupan kalian. Maafkan EommaEomma bahkan tidak bisa berbuat apa-apa…” Nana meraih tangan ibunya dan menggenggamnya.

“Tidak Eomma… ini adalah tanggung jawabku. Aku adalah anak tertua, sekarang sudah waktunya aku berbakti pada Eomma…”

“Tapi bukan seperti ini caranya, Nana… Eomma tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu…”

Eomma tenang saja… Dia orang yang baik…”

Nyonya Im menggeleng. “Tidak Nana… Jika dia memang  orang baik, dia tidak akan memanfaatkanmu…”

Eomma… Dia pasti memiliki alasan melakukan hal ini. Dia adalah orang baik. Percayalah! Dia bahkan menyuruh sopirnya untuk mengantarku kemari, padahal saat itu seharusnya sopirnya mengantarnya pulang. Dia juga meminjamkan jasnya padaku, karena aku tidak mengenakan jaket tadi…” Nyonya Im memandang Nana sejenak.

“Benarkah?”

“Ya,” Jawab Nana. Ya, paling tidak, apa yang dikatakannya benar. Untuk sifat Siwon yang lain, yang dingin dan suka memerintah, biarlah dia saja yang tau.

Nyonya Im menghela nafas. “Baiklah Sayang… Eomma doakan semoga kau baik-baik saja, dan semoga dia memperlakukanmu dengan baik,”

Nana mengangguk. “Ne, terima kasih, Eomma…!”

_oOo_

Nana duduk dengan gelisah di sebuah halte. Ia sedang menunggu jemputan Choi Siwon. Ralat. Ia tidak tau apakah Siwon akan menjemputnya sendiri, atau menyuruh sopirnya.  Hari ini Siwon mengajaknya makan siang di rumahnya, bersama keluarganya. Oh God!  Lelaki itu bertindak sangat cepat. Baru semalam Nana menandatangani perjanjian itu, hari ini Siwon langsung mengenalkannya pada keluarganya. Parahnya lagi, Nana tidak bisa menolak. Bagaimana tidak? Lelaki itu langsung membiayai perawatan adiknya dan memindahkannya ke ruang VIP bahkan sebelum dia tiba di rumah sakit. Lelaki itu seakan memegang kendali dalam segala hal di tangannya. Gila!

Sebuah mobil sport  hitam tiba-tiba berhenti di depannya. Nana menyipitkan mata, mencoba mengenali sosok yang berada di belakang kemudi. Namun ia tidak perlu menunggu lama. Sosok itu membuka pintu dan keluar. Omo! Nana sedikit terperangah melihat sosok lelaki yang berjalan ke arahnya. Lelaki itu tidak lain adalah Choi Siwon. Berbeda dari penampilan sehari-hari yang Nana lihat di kantor, kali ini Siwon terlihat lebih muda, segar, dan tampan. Lelaki itu mengenakan celana denim berwarna coklat muda dan kemeja jeans biru yang diselipkan dengan rapi ke dalam celananya.

Sajangnim!” Nana segera bangkit dan memberi salam hormat formal seperti biasanya ketika Siwon berada di depannya. Siwon memperhatikan penampilan Nana. Wanita itu mengenakan kemeja V-neck putih dengan lengan sepanjang siku, rok pensil high-waisted dengan beberapa rempel di depan berwarna beige yang menggantung hingga beberapa centimeter di bawah lututnya. Rambut coklatnya tergerai, di hiasi bandana dari scarf  berwarna kuning. Di sisi lain, Nana merasa risih dan tidak nyaman, menyadari Siwon memperhatikannya. Ia takut penampilannya salah. Padahal ia sudah mengenakan pakaiannya yang paling bagus, dan berusaha tampil sebaik mungkin yang ia bisa.

“Maaf Sajangnim, apakah ada yang salah dengan penampilan Saya?” tanya Nana dengan hati-hati. Siwon menggeleng.

“Tidak. Kajja!” Ada yang salah? Tidak! Siwon tidak bisa memungkirinya, ia malah puas melihat penampilan Nana sekarang. Wanita itu terlihat polos, lugu, cantik, dan… menarik!

_oOo_

 

Tanpa sadar, Nana menganga takjub melihat kediaman Siwon yang mewah dan megah bergaya victoria begitu mobil yang mereka kendarai melewati gerbang masuk rumah keluarga Choi tersebut. Setelah melintasi sebuah taman indah yang luas, Siwon menghentikan mobilnya di tempat parkir, beberapa meter dari pintu masuk utama rumah itu.

“Kita sudah sampai,” Nana tersentak ketika suara berat Siwon memecah kesunyian di antara mereka yang tercipta sejak mereka berada di dalam mobil tadi.

“Ah nee…” Nana menjawab kikuk. Dengan gugup Nana membuka sabuk pengaman yang melingkari tubuhnya.

“Ayo!” Sial! Sabuk  pengamannya malah macet. Hingga kini Siwon sudah berdiri di sampingnya, setelah membukakan pintu untuk Nana, sabuk pengaman itu masih belum berhasil terbuka.

“Kenapa? Kau tidak  bisa membukanya?” tanya Siwon. Nana mengangguk pelan. Tanpa banyak kata, Siwon mendekat untuk membantu Nana membuka sabuk pengamannya. Siwon menundukkan badan masuk ke dalam mobil, meraih kunci sabuk pengaman di sebelah Nana, yang berada di bagian tengah.

Deg. Deg. Deg.

Nana membeku di tempatnya dengan jantung yang berdebar. Tubuh Siwon sangat dekat dengannya, hanya berjarak beberapa inchi. Bahkan dari jarak sedekat ini ia bisa menghirup aroma tubuh Siwon yang membuatnya bergetar.

Bunyi kunci sabuk pengaman yang terlepas membuat Nana tersentak. Ia menunduk menyembunyikan wajahnya yang terasa memanas.

“Ayo!”  Beruntung! Siwon tidak menengok wajahnya. Lelaki itu langsung keluar dan berdiri tegak, menunggu Nana turun. Begitu Nana turun, Siwon mengarahkan Nana untuk berjalan di sampingnya, menuju rumahnya. Dalam langkahnya, Siwon memperhatikan Nana yang terlihat gugup dan takut, tetapi ia hanya diam, tidak berkata apapun pada Nana.

Tiba-tiba, Nana berhenti. “Kenapa?” tanya Siwon.

Tanpa menjawab, Nana berbalik, namun Siwon menangkap pinggangnya. Sontak, langkah Nana terhenti, karena kini Siwon berdiri di tepat didepannya, menahan pinggangnya.

“Kau tidak bisa pergi, Im Nana! Kau sudah menandatangani perjanjian itu,” ujar Siwon dengan tenang.

“Maaf… Maaf Sajangnim… Saya… Saya takut…” Jawab Nana dengan jujur.

“Takut pada siapa? Tenanglah, keluargaku baik. Mereka juga akan bersikap baik padamu, percayalah!” Nana diam, menunduk.

“Bagaimana jika mereka menanyakan berbagai hal padaku? Terutama tentang… hubungan kita?”

“Kau tidak perlu khawatir. Aku yang akan menangani semuanya! Ayo, mereka pasti sudah menunggu!” tanpa menunggu jawaban, Siwon menggenggam tangan Nana dan berjalan dengan tangan yang saling bertautan.

_oOo_

 

“Aigoo, yeppuda!” ujar Nyonya Choi ketika melihat Nana yang berdiri di samping Siwon. Tak usah di tanya lagi, melihat tangan mereka yang saling bertautan, serta senyum sumringah Siwon, dan senyum gugup Nana, Nyonya Choi sudah mengetahui, hubungan apa yang terjalin di antara mereka. Sebentuk senyum bahagia terlukis jelas di wajah Nyonya Choi, karena bukan hanya menepati janji untuk mengenalkan kekasihnya, Siwon juga membuatnya senang karena wanita yang ia bawa itu berparas cantik, anggun, dan sopan beretika. Hal itu terlihat dari bagaimana cara wanita itu mengenalkan diri dan berbicara dengan orang tua Choi Siwon.

Tak seperti yang Nana kira awalnya. Setelah perkenalan singkat, bukannya menuju ruang makan, Nyonya Choi  malah membawa mereka ke taman belakang. Ternyata Nyonya Choi telah menyiapkan sebuah meja bundar besar dengan taplak berwarna putih di tengah-tengah taman dengan empat buah kursi melingkarinya. Tuan Choi dan Nyonya Choi berjalan di depan. Nyonya Choi juga menjelaskan berbagai koleksi tanaman hias mahal di tamannya.

Eomma, jangan memberinya kuliah umum mengenai tanaman-tanaman hias itu. Dia tidak akan tertarik, itu bukan bidangnya…” Tegur Siwon ketika ibunya sangat antusias menjelaskan salah satu koleksinya.

“Tidak Nak. Dimana-mana, wanita pasti menyukai bunga dan tanaman hias. Benarkan, Nana?”

“Ye, Eomoni…” jawab Nana, seraya tersenyum. Siwon berdecak.

“Nah, duduklah!” seru Nyonya Choi begitu mereka sampai di depan meja yang telah tersedia. Tepat sebelum Nana duduk, ponsel Siwon berdering. Siwon mengambil ponselnya dengan tangan kanannya dan melihat id penelpon.

“Sebentar, aku menjawab telfon dulu,” pamitnya pada Nana, seraya membelai lembut tangan kanan Nana yang sedari tadi berada dalam genggamannya. Nana mengangguk pelan seraya tersenyum. Nyonya Choi melirik ke arah suaminya, pandangan mereka bertemu, lalu tersenyum penuh arti.

­_oOo_

 

“Jadi apa kesibukanmu sekarang?” tanya Nyonya Im seraya memotong steak  di piringnya.

“Hanya bekerja, Eomoni…”

“Oya? Apa pekerjaanmu?” Nana sedikit membuka bibirnya.

“Saya… Saya…” Nana menunduk dan melirik ke arah Siwon, berharap Siwon melakukan sesuatu. Ia tidak tau apakah ia harus mengatakan hal yang sejujurnya, bahwa dia adalah sekretaris Choi Siwon. Dalam hati ia merutuk, mengapa ia tidak berbicara dengan bossnya dulu? Membuat kesepakatan mengenai apa yang harus mereka bicarakan kepada keluarga Choi?

“Dia sekretarisku, Eomma…” Orang tua Siwon terlihat sedikit terkejut.

“Sekretaris?” ulang Nyonya Choi.

Ye, Eomoni…” jawab Nana, gugup. Nyonya Choi mengangguk pelan. Raut keraguan nampak jelas di wajahnya.

“Ah iya… Lalu pekerjaan orang tuamu?” tanya Nyonya Choi lagi.

“Ayahnya sudah wafat. Ibunya berjualan kue ikan dan teokpokki di pasar…” jelas Siwon.

“Ber… Berjualan di pasar?”

­

To Be Continued

 

Oyee hoi hoi… gimana yang part ini?

Komen dong… komen dong… biar semangat ngelanjutinnyaaa… hahaa…

Advertisements

49 thoughts on “Promise You (Part 3)

  1. akhir nya muncul juga nih ..

    pendek amat thor … jadi greget nih .. panjagin lagi dooong untuk next chap nya .. pleaseee .

    ku hrp ibu nya siwon nerima nana .. please terima nana .. siwon nyante amat sdngkan nana gugup amat ..

    klu bisa ke kota trusthor biar publish terus promise nya ..

    nice thor ..
    fighting

  2. takut orang tua siwon jadi ngerendahin nana karna pekerjaan ibunya…
    ooya sukses buat kkp nya,, dan semoga d daerah kkp dpt sinyal internet… hehehe

  3. yah ,,,, aku tauk org tua siwon ilfil XD .
    yahhh semoga org tua siwon oppa nerima nana please….
    yah…yah semoga org tua nya siwon nerima …

  4. ahh kurang panjang ….nih ..
    panjangin lagi dong hehehehhe ……
    cepet next yah FF nya 🙂 . semoga di tempat KKP kaka ada sinyal heheh

  5. nunggu eomma masak saur ketemu FF nana hahah
    rezekigak kemana XD 😀
    oh yah aku baru lihat nih ff siwon nana jarang bgt …
    lanjut yahhh please lanjut…. jangan lama lama yah … hehheheh ….
    eoni kuliah yah ?

      1. Iya sih . Tapi aku lebih suka nya nya HENRY & KAEUN hehehe …
        Kyuliz juga suka .. 🙂 cepet lanjut yah ff nya

  6. kira kira gimana ya sikap orangtuanya dieon dtlah tau latar belakang keluarga nans….semoga mereka tetep bida trma nsna dg tulus jgn sampe deh nans dibenci bisa menderita nanti hidupnya nana…. 🙂

  7. Akhirnya ff ini di post juga. Aigoooo endingnya kenapa pas disitu jadi bikin penasaran. Gimana ya sama eomma appa siwon setelah tahu nana dari golongan menengah ke bawah? semoga tetep direstuin deh hubungan kontrak rahasia mereka. Ecie siwon manis gitu pegang tangan nana 😘💏💑 aku doain deh di tempat kkp kakak ada sinyal internetnya. Part ini pendek nih kaka, part selanjutnya dipanjangin dong ya. Terus ditunggu banget first kissnya nana sama siwon haha 😝

    1. Hohoo… mian kalau kurang panjang… aheee…. terima kasih doanya, iay nanti diusahakan lebih panjang lagi, dan secepatnyaa…. hahaa… bang siwon kan emang manisss… heee….
      nunggu apa? first kiss? Oouwww… O.o

      1. Kak, next part buat siwon pov sama nana pov dong. Pengen tau juga isi hati mereka berdua, jangan author pov semua hehe 😁 biar lebih panjang juga kalau ada 3 pov.

  8. yahhh … kok akhir nya di situ …. 😥 buat penasaran ajah nih 😀
    lanjut please jgn lama lama yah … semoga di tempat KKP nya ada sinyal biar bisa upload ff nya …
    lanjut yahhhhh

  9. woaa… sumpah penasarn bgt lah …. lanjut dong ,,, jgn buat penasaran nih …
    sumpah takut org tua siwon nolak :’D … lanjuttttt
    jgn lama lamayah , emang kkp berapa lama eonn ?

  10. asyikkk FF nya udh lanjut #ALA ANAK ANAK … tapi kurang panjang 😥 … lanjut… jgn lama lama ..
    sorry yah baru komen sekarang … hehe

  11. yess … akhir nya lanjut juga hehehe .. ya athor nya buat penasaran mulu -_- 😀 ,, lanjut dong… please

  12. Yeeeee~~ nana udh mulai jatuh cinta kayake
    aku seneng deh
    itu mama ny siwon pasti ekspresiny lucu bgt, pas tau ibuny nana jualan dpasar.
    saia menunggu kelanjutanny yah. ^^

  13. aku suka blog ini semua ff nya bgus, menarik, dan bikin gregetttt…. next part plzzzzz…..
    good job buat author, bikin ff nawon yg byk yaa *maunya! soalnya aku suka mereka pke bangeeetttt
    new reader here… maaf ga sempat komen 1-1 ff nya cuz byk yg aku baca dlm wktu yg ampir sama tot

  14. Bagaimana reaksi orang tua siwon bakalan setujuh apa ngga sama nana? Setelah tau pekerjaan orang tua nana.
    Oh ya othor aku mau sedikit evaluasi ya? Tadi aku baca text yang menurut aku kurang baku “beruntung siwon tidak menengok wajahnya” menurut aku kata menengok di ganti kata melihat jadi “beruntung siwon tidak melihat wajahnya” tapi itu menurut pendapat aku ya othor. Terima kasih

  15. Nan sudah menandatangani surat perjanjian kawin kontraknya dg siwon dan siwon langsung mengajak nana ke hadapan ortu nya. Untungnya ortu siwon suka dg nana, tapi belum tahu juga kalau ortu siwon menerima kondisi ekonomi keluarga nana.
    Mudah”an saja gak ada masalah dg status ekonomi nana dan ortu siwon menerima nana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s