Promise You (Part 1)

 

Siwon nana promise you

 

  • Title                      : Promise You  Part 1
  • Main Casts        : Choi Siwon, Im Nana
  • Author                 : Shelly Diah
  • FB                          : http://www.facebook.com/shelly.diah
  • Twitter                                : @Shelly_imnida
  • Length                 : Chaptered
  • Genre                   : Romance
  • Rating                  : 15+

 

Shelly is back!

Hahaa… setelah sekian lama menghilang, kini author gaje kembali lagi….

Mianhae, jeongmal! Kemarin-kemarin sibuk sama tugas kuliah dan ada lagi ada proyek…

Buat readers yang nunggu *emang ada thor? PD banget sih lu!* terutama Nadia yang sampai message di FB, Faridha yang sms langsung, semoga suka sama cerita baru ini. Mian belum bisa bikin yang genre school life, tapi udah dibikinin kan sama Faridha?! Hehee..

And finally, happy reading!

We’re waiting for  your likes and comments 😉

_oOo_

 

“Bagaimana keadaannya sekarang?”

“Ya Tuhan! Segera bawa ke rumah sakit!”

“Ya, Tuhaaan! Aku ingin segera ke sana! Tapi aku tidak bisa, Eomma…. aku akan segera ke sana setelah pekerjaanku selesai!”

“Ya, minta bantuan Paman Kang! Segera kabari aku apa saja yang terjadi!”

“Baiklah, Eomma…!”

 

Nana menutup telfonnya dengan tangan gemetar.  Im Hana, adiknya yang berumur  14 tahun  masuk rumah sakit lagi. Menurut diagnosis dokter, Hana menderita gagal ginjal dan kondisinya semakin parah. Ia sering collapse akhir-akhir ini. Jika boleh jujur, Nana ingin segera berlari, menyusul ibunya yang pasti sedang panik membawa adiknya ke rumah sakit. Tapi mau bagaimana lagi? Kini Nana harus menunggu boss-nya untuk meeting beberapa saat lagi, yang tidak mungkin ia tinggalkan. Nana baru resmi menjadi karyawan perusahaan itu selama lima hari, dan menjabat sebagai sekretaris CEO perusahaan tersebut, karena prestasi akademiknya yang cemerlang dan penampilannya yang menarik serta selama masa percobaan dia menunjukkan kinerja yang bagus. Ya, secara akademik kemampuan Nana patut diacungi jempol. Ia adalah lulusan terbaik di jurusannya dan memiliki kemampuan berbahasa Jepang dan bahasa Inggris yang baik. Dari segi penampilan, jangan ditanyakan lagi. Tubuhnya tinggi semampai bak model, wajahnya cantik alami serta rambut berwarna karamel yang indah. Jadi tentu saja Nana menjadi pilihan utama sang manajer HRD ketika direkturnya membutuhkan seorang sekretaris baru untuk menggantikan sekretaris lamanya yang berhenti karena menikah.

Kriing…

Nana tersentak begitu telepon di mejanya berdering.

Yeoboseyo!”

Ye. Algeutseumnida, Sajangnim!”

Nana segera mengambil berkas-berkas di mejanya dan segera berjalan ke ruangan direktur. Nana mengetuk pintu sebanyak tiga kali, lalu masuk. Ia menundukkan kepala, memberi hormat. Ia melihat manajer pemasaran dan manajer operasional juga berada di ruangan tersebut, berdiri di depan direkturnya yang dengan tenang duduk di kursi kebesarannya. Ralat. Nana tidak tau apakah itu sikap tenang atau dingin. Seingatnya, direkturnya itu tidak pernah menunjukkan ekspresi lain. Ya, tidak pernah!

“Sudah kau siapkan semua?” tanya direkturnya dengan nada datar.

“Sudah, Direktur!”

“Baiklah. Kita berangkat sekarang!”

Ye!.” Nana menjawab singkat seraya menundukkan kepala. Sang direktur berdiri, merapikan jasnya lalu berjalan mengelilingi meja, menuju pintu keluar, diikuti kedua manajernya. Tepat di depan Nana, ia berhenti sebentar.

“Rapikan pakaianmu!” ujarnya pelan namun tegas, penuh nada perintah. Nana terkesiap dan menundukkan  kepalanya, mengecek penampilannya. Ya Tuhan! Kemejanya hanya berkerut sedikit di bagian perut dan di bagian ujung lengan blazernya. Astaga! Direkturnya itu benar-benar perfeksionis!

_oOo_

 

Nana berlari di lorong rumah sakit, mencari kamar rawat adiknya. Ia segera pulang begitu jam kerja habis dan ia sudah merampungkan seluruh pekerjaannya. Hari ini, setiap detik terasa berjalan sangat lambat. Dia sudah tidak sabar untuk pergi menemui adiknya. Menurut kabar terakhir dari ibunya, kondisi adiknya sudah membaik namun harus diopname. Tetapi ia tidak berani meminta izin untuk pulang lebih dulu. Seperti yang sudah dikatakan tadi, dia masih pegawai baru dan hari ini bossnya memiliki banyak agenda yang notabene merupakan tugasnya untuk mengatur dan mendampingi bossnya itu.

Cklekk.

Nana membuka pintu dan melihat tirai-tirai yang menutupi beberapa ranjang. Ia berjalan dan melihat satu demi satu penghuni ruang rawat itu. Pada tirai ketiga, ia menemukan adiknya tengah tertidur dan ibunya duduk di kursi samping ranjang.

Eomma…”

“Nana, kau sudah pulang?” tanya ibunya. Nana mengangguk, berjalan masuk lalu duduk di ranjang adiknya dengan hati-hati.

“Bagaimana keadaannya?” tanya Nana dengan suara pelan.

Ibunya menggeleng.

“Dokter mengatakan, ia harus transplantasi ginjal secepatnya. Untuk saat ini ia bisa bertahan jika menjalani hemodialisis.  Jika kita tidak bisa melakukan transplantasi ginjal, maka terpaksa selama hidupnya ia harus menjalani hemodialisis…” jelas Nyonya Im. Suaranya bergetar menahan tangis.

“… Aku hanya tidak bisa membayangkan jika dia harus tersiksa selama hidupnya… Hiks… hiks…” Nyonya Im kini tidak bisa menahannya. Tangisnya pecah. Nana menghambur, meraih Nyonya Im ke dalam pelukannya.

“Tenanglah Ibu, kita akan melakukan yang terbaik untuk Hana. Jika memang transplantasi ginjal adalah yang terbaik, maka kita akan melakukannya,”

“Tapi biayanya sangat mahal Nana…! Darimana kita mendapatkan biaya sebesar itu? Untuk biaya hari ini saja aku meminjam pada keluarga Kang. Lalu bagaimana besok dan seterusnya, eoh??” Nana terdiam.

Benar. Hidup mereka kini pas-pasan. Ibunya hanya menjual kue ikan dan teokpokki dengan di pasar, dan hasilnya hanya cukup untuk membiayai kebutuhan mereka sehari-hari. Sedangkan untuk kuliah sendiri, Nana mengandalkan beasiswa dan honornya dari bekerja paruh waktu. Lalu bagaimana dengan ayahnya? Tuan Im sudah meninggal sejak Nana di bangku SMA.

“Berapa biayanya?” tanya Nana seraya melepas peluka ibunya perlahan.

“Kira-kira 50 juta Won,” Nana tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Tiga puluh juta Won? Darimana dia mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu dekat? Jumlah itu sama dengan gajinya bekerja selama setahun lebih!

“Tenang saja, Eomma… Aku akan mendapatkan uang itu,”

“Tapi darimana kau mendapatkan uang sebanyak itu?”

“Aku… Aku akan meminjam kepada perusahaan…”

“Apakah  bisa? Kau masih baru bekerja, Nana…”

“Aku akan mengusahakannya, Eomma… Doakan saja!”

_oOo_

 

“Kau harus segera menikah. Usiamu sudah matang untuk menikah. Lagipula, Eomma sudah lelah mendengar pembicaraan di luar yang mengatakan kau itu…  gay!” ujar wanita paruh baya itu, seraya berbalik dan melipat kedua tangannya. Pandangannya tajam lurus ke depan, menerawang langit malam Gangnam dari lantai 13, letak penthouse  milik anaknya, Choi Siwon.

Eomma… Aku  normal! Percayalah padaku! Aku hanya masih belum memikirkannya…”

Nyonya Choi berbalik. “Tapi kami sudah tua, Siwon-ah… Kami ingin melihatmu segera menikah. Kami tidak pernah meminta apapun darimu, tapi yang satu ini… Kami mohon!” Siwon terdiam. Benar. Orang tuanya tidak pernah meminta apapun darinya, baru kali ini. Orang tua yang telah merawatnya, membesarkannya, mengangkatnya dari lalat di kubangan lumpur menjadi merak di taman kencana. Lalu apa yang bisa ia lakukan untuk membalas kebaikan orang tuanya ini? Walaupun ia mengucapkan beribu terima kasih, membungkuk sampai punggungnya patah, tidak akan mampu membalas jasa kedua orang tuanya ini.

“Baiklah,” jawab Siwon singkat. Nyonya Choi mengerutkan keningnya, tidak mengerti maksud Siwon.

“Aku akan segera menikah,” Nyonya Choi mengerjap kaget, sekaligus bahagia.

“Benarkah? Kau sudah memiliki kekasih?” Siwon mengangguk.

“Ya Tuhan! Mengapa kau tidak mengatakannya? Baiklah, segera hubungi Eomma! Kami akan bersiap menyambutnya!” ujar Ny. Choi dengan antusias.

“Tentu…”

_oOo_

 

“Lima puluh juta Won?” ulang Siwon, mendengar laporan manajer keuangan.

“Ya, Direktur,”

“Untuk apa dia meminjam uang sebanyak itu? Lagipula dia belum lama bekerja di sini!” tanya Siwon keras.

“Saya tidak tau, Direktur. Begitu saya tiba, Nona Im langsung menemui saya untuk mengajukan pinjaman tersebut,” Siwon mengerutkan bibirnya.

“Panggil dia!”

Algeutseumnida, Sajangnim!” lelaki itu segera meninggalkan ruangan. Beberapa saat kemudian, sesosok wanita yang tengah mereka bicarakan pun datang.

“Maaf Direktur, apakah Direktur memanggil saya?”

“Ya!” jawab Siwon, dingin.

“Untuk apa kau meminjam uang sebanyak itu?” lanjutnya, to the point, tetap dengan nada dingin, yang seakan bisa  membekukan Nana.

“Saya… Saya membutuhkan uang itu…” jawab Nana gugup dan terputus. Siwon mendengus, lalu menatap Nana tajam.

“Maksudku, uang itu akan kau gunakan untuk apa?” Nana menundukkan kepalanya, diam. Kemampuan berkomunikasinya mendadak menghilang menyadari tatapan tajam Siwon padanya, seakan mengulitinya. Ia sama sekali tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi direkturnya yang terkenal keras ini. Ia pikir, ia cukup mengajukan pinjaman ke bagian keuangan perusahaan.

“Kenapa? Kau tidak bisa menjawab? Kau terkejut karena aku mengetahui pengajuan pinjamanmu?”  Nana terkesiap. Lelaki itu bisa membaca pikirannya. Nana menunduk, meremas kedua tangannya. Sungguh, ia baru mengerti mengapa banyak sekali karyawan yang takut direkturnya itu. Selain dingin dan keras, direkturnya itu seakan mampu mengintimidasi seseorang hanya dengan keberadaannya, tatapan, atau suaranya. Dan Nana… Ya Tuhan! Seandainya bisa, ia ingin masuk ke sumur saat itu juga!

“Im Nana-ssi, Kau mengajukan pinjaman yang sangat banyak, kau adalah pegawai baru, dan kau adalah sekretarisku, jadi manajer keuangan menyerahkan keputusan kepadaku. Sekali lagi aku bertanya, untuk apa uang itu?” Nana menarik nafas seraya mengangkat wajahnya pelan.

“Untuk… Untuk pengobatan adik saya…” Nana menjawab lirih.

“Apa?”

“Adik saya sakit…”

“Sebanyak itu?”

“Ya…”

“Apa penyakitnya?”

“Gagal ginjal. Dia harus di operasi secepatnya…” Siwon mengerutkan kening. Ia memperhatikan Nana  dengan seksama, berusaha melihat kebohongan di wajahnya. Namun yang ia temukan adalah sebaliknya. Raut wajah khawatir, bingung, putus asa, dan entahlah…

Siwon menghela nafas. Wajahnya sudah mulai melunak.

“Im Nana-ssi! Kau mengajukan pinjaman yang sangat besar ke perusahaan. Sebelumnya tidak pernah ada yang mengajukan pinjaman sebesar itu. Dan kau! Kau masih pegawai baru di sini! Bagaimana bisa kau mengajukan pinjaman sebesar ini? Dengan apa kau membayarnya? Kau tau, sesuai kebijakan perusahaan, dengan memotong gajimu, kau baru bisa melunasi hutangmu selama  4 tahun 2 bulan, melebihi kontrak kerjamu di sini. Apakah itu masuk akal?”

“Maaf Sajangnim, saya tidak berpikir sejauh itu…” jawab Nana, jujur.

“Aku akan memikirkannya. Kau boleh pergi.”

Dan Nana pun pergi, dengan perasaan yang masih menggantung. Dalam hatinya ia berdoa semoga bossnya itu mau berbaik hati memberinya pinjaman.

_oOo_

“Bagaimana Eomma  keadaannya?”

“Aku sedang mengusahakannya…”

“Ya… Baiklah!”

Flip.

Nana menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi. Ia benar-benar pusing. Baru saja ibunya memberitahu bahwa ibunya gagal mendapatkan pinjaman dari keluarganya. Mau tak mau, kini harapan satu-satunya adalah bossnya, Choi Siwon. Dan ia masih menunggu keputusan darinya sampai sore ini.

Kriing.

Telponnya berdering. Nana segera mengangkatnya.

“Ke ruanganku, sekarang!” dan untuk ke sekian kalinya, Nana mendengar kalimat yang sama, nada yang sama, intonasi yang sama, setiap kali direkturnya memanggilnya ke ruangan. Nana bergegas ke ruang direktur yang memang tidak jauh dari ruangannya.

Nana mengetuk pintu lalu membukanya perlahan.

“Maaf, Sajangnim!”

“Masuklah!” Nana menutup pintu perlahan lalu berjalan melintasi ruangan yang luas itu, dan berhenti di depan meja direkturnya.

“Duduk!” perintah Siwon. Dan sekali lagi, Nana hanya menurut.

“Kau sudah memikirkan masalah pinjamanmu?”

Ye?” Nana balik bertanya, tidak mengerti maksud Siwon. Bukankah tadi ia mengatakan bahwa ia yang akan memikirkannya?

“Apa kau sudah menemukan solusi untuk masalah pinjamanmu?” Nana menunduk. Tentu saja tidak ! Bahkan kini harapan satu-satunya ada di tangan boss dingin di depannya ini.

“Belum, Sajangnim…” Siwon menghela nafas, lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi dengan gaya yang khas, sangat berkelas dan berwibawa.

“Im Nana-ssi, kau tau pengajuan pinjamanmu tidak masuk akal. Kau mengajukan pinjaman yang baru bisa kau lunasi setelah bekerja empat tahun lebih, sedangkan kontrakmu sendiri hanya selama setahun. Lagipula, kami juga tidak dapat memastikan apakah kami akan melanjutkan kontrak denganmu atau tidak…” Siwon menjelaskan dengan tenang. Berbeda dengan Nana. Jantung wanita itu berdebar kencang menunggu setiap kalimat yang keluar dari bossnya.

“Jadi, tanpa ku jelaskan kau pasti sudah tau jawaban dari perusahaan…” Nana meremas kedua tangannya menahan air mata yang sudah berada di sudut matanya.

“Tapi Direktur, tidak bisakah Anda mempertimbangkannya kembali?” Tanya Nana dengan suara bergetar.

“Aku?” Siwon tersenyum tipis.

“Baiklah. Aku ada sebuah penawaran untukmu…” Nana mengangkat wajahnya.

“Penawaran?” Siwon tersenyum, senyuman dingin yang tidak sampai menyentuh sudut matanya.

“Menikahlah denganku!” Nana tersentak.

“Menikah?” ulang Nana.

“Ya, sebut saja… kawin kontrak. Aku ingin kau menjadi istriku selama  enam bulan. Setelah itu kita bercerai,” jelas Siwon. Benar. Sejak melihat Nana tadi pagi, tiba-tiba ide itu terlintas di benaknya, dan sepertinya, wanita itu adalah kandidat yang kuat. Dia cantik, pintar, beretika, yah, walaupun ia berasal dari keluarga menengah ke bawah, namun melihat usaha wanita itu untuk keluarganya, menjadi sebuah poin plus baginya. Selain itu, begitu Nana keluar dari ruangannya, lelaki itu segera mengumpulkan berbagai informasi mengenai Im Nana. Bukannya Siwon adalah pria brengsek yang memanfaatkan situasi Nana, namun itu adalah satu-satunya cara agar dia memenuhi permintaan orang tuanya.

“Kawin kontrak? Tapi Sajangnim…”

“Aku tidak menawarkannya dua kali, Nana-ssi,” Nana terdiam. Ia sudah tidak punya cara lain lagi. Adiknya berada di ranjang pesakitan, menanti bantuannya, sedangkan tidak ada jalan lain lagi yang terlintas di benaknya. Dan seperti wanita lainnya, perasaan emosionalnya berjalan lebih cepat dari logikanya.

“Maaf Sajangnim, mungkin saya lancang. Tetapi, apakah Sajangnim akan memberikan pinjaman sebanyak itu kepada kami? Maksud saya, sebanyak 50 juta Won?”

“Kau meragukanku?”

“Tidak Sajangnim, saya tidak bermaksud begitu…” Siwon tersenyum tipis.

“Im Nana-ssi, jika kau menikah denganku, aku akan membiayai seluruh pengobatannya sampai sembuh, dan biaya hidup keluargamu…” Nana terkesiap.

“Benarkah?”

“Tentu!” Nana menundukkan kepala. Dewi batinnya berdiri disampingnya, melipat lengan di atas perutnya, Ambil saja, Im Nana! Darimana lagi kau mendapatkan uang sebanyak itu, eoh? Keluargamu juga tidak memberinya, bukan? Lalu apa yang akan kau lakukan? Menyaring pasir di Sungai Han dan menunggunya berubah menjadi emas?

“Baik, Sajangnim, saya menerima penawaran itu…” Jawab Nana dengan bergetar. Siwon terkekeh.

“Kau wanita yang berani, Nona Im. Tetapi aku tidak mau kau membuat keputusan dalam keadaan tidak tidak tenang seperti sekarang. Aku akan segera mengirim draft perjanjian kita. Kau bisa mempelajarinya dulu. Jika kau mau, segera hubungi aku. Semakin cepat kau menandatanganinya, semakin cepat pula kau mendapatkan uang itu. Jika tidak,…” Siwon berhenti sejenak, lalu menatap Nana dengan menunjukkan senyumannya yang mengintimidasi.

Just leave it. Tapi seperti yang aku katakan tadi, aku hanya menawarkannya… sekali!” lanjutnya, dengan menekankan kata “sekali”.

“Ya, saya mengerti… Sajangnim!”

“Baiklah, kalau begitu, kau boleh pergi,” Nana bangkit, menunduk sebentar, lalu meninggalkan ruangan itu dengan pikiran yang tidak menentu.

_oOo_

 

Bagaimana?

Satu kalimat tanya yang cukup membuat Nana pusing dengan keadaannya kini. Satu kalimat tanya yang jika di uraikan, jawabnnya mungkin bisa menjadi berlembar-lembar. Pertanyaan itu terus terlintas di benaknya, sejak ia meninggalkan kantor tadi, hingga kini ia berada di rumah sakit, menjenguk adiknya.

Bagaimana bisa ia menyetujui penawaran bossnya?

Bagaimana bisa ia tidak berpikir panjang?

Bagaimana bisa ia seceroboh itu?

Bagaimana nanti dia menjelaskan pada ibunya?

Bagaimana bisa bossnya membuat penawaran semacam itu?

Ya, pertanyaan terakhir adalah pertanyaan yang paling membuatnya penasaran. Bossnya, Choi Siwon, direktur muda yang berhasil, pewaris  kerajaan bisnis Choi Corporation,  menawarkan sebuah pernikahan kontrak kepadanya? Apa alasannya?

Jika dilihat dari keluarga, jangan ditanya lagi! Keluarganya sangat terkenal di kalangan para pebisnis. Harta? Euh, hanya orang bodoh yang menanyakan kekayaan seorang CEO sekaligus pewaris perusahaan tersebut!  Lalu penampilan fisik?! Ya Tuhan! Im Nana yakin, jika saja lelaki itu tidak menjadi seorang CEO, ia pasti sudah menjadi seorang bintang Hallyu terkenal! Badannya tinggi tegap, dadanya bidang, dan wajahnya… Uhh, seandainya kebekuan di wajahnya diganti dengan senyuman tulus, tidak diragukan lagi, dia pasti adalah seorang malaikat yang turun dari surga!

Bing!

Ponsel Nana berbunyi, menandakan sebuah pesan masuk.

Dari: Choi Siwon Sajangnim

                Cek emailmu! Aku sudah mengirim draft perjanjian itu.

 

Pesan yang singkat, padat, jelas!

Nana segera membuka email melalui smartphone-nya, dan mengunduh lampiran draft perjanjiannya. Begitu berkas selesai diunduh, Nana membukanya. Lembar pertama berisi borang identitas dan kesepakatan, sedangkan lembar selanjutnya berisi peraturan yang harus dipenuhi oleh kedua belah pihak. Nana membacanya dengan seksama.

 

PERATURAN

 

I.            Pihak Pertama ( Choi Siwon )

  1. Pihak pertama wajib membayar seluruh biaya pengobatan adik pihak kedua tanpa menuntut pengembalian.
  2. Pihak pertama wajib membiayai kebutuhan hidup keluarga pihak kedua selama mereka menikah.
  3. Pihak pertama wajib memenuhi seluruh kebutuhan pihak kedua selama mereka menikah.
  4. Pihak pertama harus memperlakukan pihak kedua dengan baik dan menghormati privasinya.

 

II.            Pihak Kedua ( Im Nana )

  1. Pihak kedua wajib memenuhi dan menyiapkan seluruh kebutuhan pihak pertama.
  2. Pihak kedua harus menunjukkan sikap dan perilaku yang baik, dimanapun dan kapan pun.
  3. Pihak kedua harus menjaga nama baik pihak pertama dan nama baik keluarga Choi.
  4. Pihak kedua harus mematuhi peraturan yang dibuat oleh pihak pertama.
  5. Pihak kedua harus memperlakukan pihak pertama dengan baik.
  6. Pihak kedua harus menghormati dan tidak mencampuri urusan pribadi pihak pertama.
  7. Pihak kedua harus jujur kepada pihak pertama.
  8. Pihak kedua harus bersikap selayaknya seorang istri yang baik dan menghormati pihak pertama, terutama ketika bersama keluarga besar pihak pertama.

…..

 

Nana menghela nafas. Ia merasa peraturan ini berat sebelah. Begitu banyak peraturan yang harus ia lakukan. Harus menjaga sikap, bersikap baik, menyiapkan segala keperluan dan kebutuhannya, bahkan mematuhi setiap perkataan Choi Siwon. Ya Tuhan! Apakah aku bisa memenuhinya? Sedangkan di perjanjian itu tertulis, “Bagi pihak yang melanggar perjanjian ini, harus membayar denda sebesar lima puluh juta Won”? Bagi Choi Siwon, mungkin jumlah sekian sangatlah mudah. Sedangkan baginya?

 

To be continued…

 

Wuaaa… selesai juga yah ni Part 1… gimana nih readers, pendapatnyaa???

Mian yah kalau gaje… heeee…. 😉

Advertisements

31 thoughts on “Promise You (Part 1)

  1. Lanjut dong… Genre seperti ini favorit banget… Hehe
    Apa lagi karakter siwon yg dingin spt ini aduh suka banget..

  2. huaaaaa … keren keren z.. ditunggu labjutan nya thor … nana nyaa euh siwon nya euuuh juga … penasaran nih ama kelanjutan nya … nanti kalau dah kwin kontrak , mulai tumbuh gak ya perasaan2 mereka ..

    lanjut thor … gak sabar nih ..oh ya yg sunbae sunbae tu lnjutin thor …

    fighting

  3. kawin kontrak…ckcj siwon bisa aja memanfaatkan otng yg lg susah,,,,trma aja nana dan buat tn.choi itu cinta pd mu. 🙂
    wah won oppa curng tuh buat perjanjian berat sebelah kenapa peraturan nana kebanyakan giliran siwon dikit bgt….beda deh klo olang kaya. :v
    next part eon ditunggu

  4. Lanjut lanjut ……
    -_- hmm aku gak jadi org yg komentar pertama lagi 😥 .
    Lanjut …ih kenapa aku jadi ikut deg deg kan 😀 . Lanjut … Aku tunggu part 2 nya

      1. – Soal nya aku seneng aja gitu kalo jadi yg komentar pertama 😀 .
        – soal nya ke bawa suasana .

        #Gomawo & mianhae
        gomawo = udh baca MSG dari aku + udh di kabulin lagi *soal nya aku udh nunggu ff siwon nana lgi *
        mianhae = soal nya aku takut ganggu tugas kuliah eonni .

      2. Hahaa… ga kok…
        emang dari kemarin2 udah on fire mau nulis lagi,
        rasanya bang Mashi dan neng Nana udah melambai-lambaikan tangan, manggil aku buat nulis lagi *halah, lebay!* hahaaa… 😀
        tapi memang masih belum ada waktu…

  5. Aku suka karakter nana sama siwon nya lah cocok suka nya itu banget banget apalagi sama cerita nya suka bgt… Please lanjut yah jgn lama lama .
    Oh ya maaf aku gak komentar di FF why? Atau yg lain 😀 soal nya aku baru ketemu ff nana siwon .

  6. Kerennnn, mg z nikah kontraknya g brjln dg lancar n mereka slg jtuh cinta satu sm laen. D tunggu next part n author semangatttttttt

  7. Ide crita nya bgus dan mnrik,hanya sja sy sran kan lbih dperhtiin lgi tnda koma dan titik nya jgn trllu bnyak dlm kalimat. Dan kta yg trdpt dlm klmat ini “Adiknya berada di ranjang pesakitan”. sya rsa klmat nya krg enak ja dbca, sya tw mkna dri klmat tu tpi alngkah baik nya klo klmat nya dgnti yng lbih dmngerti sja. °ºoĸế(-͡. •͡) tu ja, mianhe klo cmment sya trllu pnjang dan krg sopan. smga sukses dlm brkarya,lam knal driku 🙂

  8. Hai othor 🙂
    izin baca fanficnya ya.
    Aku suka sama fanfiknya bagus dan gaya bahasanya juga cuku baku jadi bagus. Terima kasih

  9. Anyeong nae reader baru disini, karena baru menemukan WP ini di web.
    Ceritanya bagus, dan sepertinya akan banyak misteri disini.

  10. bagus ko , cara penulisannya, ceritanya oke, dan surat perjanjian yang tertera jd nilai+ krna bikin feel nya makin dapet. tp sediiikkkiiiitttt aja, hehe mnurut saya aja ya.. penggambaran emosinya kurang jd agak sdkit berasa kcepetan alurnya…. tp saya suka saya suka

  11. Aku suka karakter nawon couple yg disini.

    Kenapa siwon bisa mengajukan kawin kontrak ke nana? Padahal kan nana baru bekerja 5 hari di perusahaannya. Atau jangan” siwon memang udah suka duluan ke nana tanpa disadarinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s