Why? (Part 7-End)

Siwon Nana Why

 

 

  • Title                : Why? (Part 7-End)
  • Main Casts      : Choi Siwon, Im Nana
  • Support Casts            : Jung Misun, etc.
  • Author            : Shelly Kimmy Choi
  • FB                   : http://www.facebook.com/shelly.diah   
  • Twitter           : @Iam_ShellyAng
  • Blog                : http://SiwonNanaWorld.wordpress.com
  • Length            : Chaptered
  • Genre              : Romance
  • Rating : General
  • Disclaimer      : Kalau ada hal-hal yang mungkin ga sesuai dengan kenyataan, anggap saja sesuai… hehee… ^_^ kalau ada kritik dan saran, silakan, dengan senang hati saya terima. Malah butuh…

Siwon and other casts adalah milik yang punya. Maaf pada Siwon and family, ELF, Siwonest, kalau saya buat ceritanya seperti ini. Mianhae, Jeongmal Mianhae

And the last, Happy reading, Hope you like it ^_^v

_oOo_

Last Part

“Tidurlah…” tubuh Nana tiba-tiba menegang begitu merasakan belaian halus di puncak kepalanya, seiring dengan kalimat yang diucapkan tunangannya Siwon.

Nana memejamkan matanya. Tuhan, izinkan aku sedikit egois kali ini. Aku memang menginginkan kehadirannya saat ini. Kali ini saja, Tuhan, aku berjanji, kali ini saja… Batin Nana.

_oOo_

Siwon membuka pintu kamar Nana, dan melihat sosok tunangannya itu sedang mengerjakan sesuatu di netbook-nya. Ia duduk di kursi rodanya membelakangi Siwon, sedangkan netbook-nya terletak di meja kayu di depannya. Siwon berjalan mendekat.

“Nana…” panggil Siwon. Nana menoleh.

“Ada apa?”

“Kau belum makan malam, bukan? Ayo kita makan malam bersama,” ujar Siwon, seraya menarik dan memutar kursi roda Nana.

“Kau tidak lihat aku sedang mengerjakan sesuatu?” protes Nana.

“Sudahlah, kau masih bisa melanjutkannya nanti…” Nana mendengus. Aish, lelaki ini, batinnya. Percuma ia melawan, toh akhirnya ia kalah. Lihat saja, sekarang Siwon dengan mudahnya membawa Nana kemana pun ia mau, karena memang Nana tidak bisa apa-apa. Jangankan berjalan, berdiri saja ia tidak bisa.

“Kau mau kemana? Ruang makan tidak disana…” ujar Nana, ketika Siwon tidak membawanya ke ruang makan.

“Aku bosan. Kita makan di luar saja…”

“Tapi…”

“Sudahlah, hanya di depan saja. Kita tidak akan kemana-mana…” Nana baru bersiap mendebat Siwon lagi, namun kini mereka telah sampai di teras, dan ia melihat sebuah meja dan sebuah bangku berwarna putih berada di tengah halamannya yang luas.

Siwon berhenti tepat di depan tangga teras. Ia lalu melangkah ke depan Nana. Nana mengeratkan pegangannya pada kursi roda, mengira Siwon akan menurunkan kursi rodanya.

“Lepaskan peganganmu!” ujar Siwon.

Mwo?” tanya Nana tidak mengerti. Tanpa menjawab pertanyaan Nana, Siwon melingkarkan kedua tangan Nana di lehernya, lalu menempatkan sebelah tangannya di bawah lutut Nana, dan sebelahnya lagi di punggung tunangannya itu, lalu mengangkatnya, membawanya menuju tempat makan yang telah ia siapkan. Nana memandangi Siwon dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Aku tau aku tampan, jadi kau tidak usah memandangiku seperti itu…” Nana mengerjap kaget, dan tersadar dari lamunannya. Ternyata kini mereka telah berada di tujuan mereka. Perlahan, Siwon mendudukkan Nana di bangku, lalu duduk di sampingnya. Nana memperhatikan pemandangan di depannya. Villa Nana terletak di sebuah bukit di pinggir pantai. View-nya langsung menghadap laut lepas, membuat pertemuan antara langit malam dengan gemerlap bintang dan lautan dengan ombak yang berkejaran terlihat jelas dan indah.

“Kau mau makan apa?” tanya Siwon, seraya membuka penutup makanan.

“Nana?” panggil Siwon. Nana hanya menggeleng. Siwon menghela nafas.

Geurae…” Siwon mengambil makanan untuk dirinya sendiri.

“Selamat makan!” lanjutnya, lebih kepada dirinya sendiri, karena memang hanya dia yang makan. Sedangkan Nana hanya terdiam. Perlahan Siwon mulai melahap makanannya.

“Kau benar-benar tidak mau makan?” tanya Siwon, memastikan. Nana tidak menjawab. Siwon tersenyum lalu mengisi sendoknya dengan makanan, menyodorkannya pada Nana.

“Makanlah!” Nana mengerutkan keningnya.

“Ayolah, aku tidak mau nanti memiliki istri yang kurus kering…” bujuk Siwon. Nana mengerjap, merasakan desiran halus ketika mendengar kalimat Siwon.

“Aa…” Siwon meminta Nana membuka mulutnya. Nana menurut, dan memakan makanan yang disuapkan Siwon.

“Anak baik!” puji Siwon, seakan-akan menyuapi anak kecil. Nana mendengus, membuat Siwon terkekeh. Ia pun kembali melanjutkan makannya sekaligus menyuapi Nana.

“Sampai kapan kau akan di sini?” Nana mulai membuka suara.

“Sampai kau mau pulang bersamaku,” jawab Siwon, seraya meletakkan piringnya yang sudah kosong ke meja. Nana memandang lurus ke depan. Ia bingung, apa yang harus ia lakukan agar Siwon mau meninggalkannya?

“Hei, jangan melamun!” ujar Siwon, seraya mengacak gemas puncak kepala Nana. Nana tersentak. Ia menyondongkan tubuhnya ke depan, berusaha meraih apel di meja. Namun, tangannya tanpa sengaja menyenggol mangkuk berisi sup.

“Akkhh!!” pekik Nana ketika kuah sup yang panas tumpah mengenai tangannya.

“Nana!” Siwon segera meraih tangan Nana lalu mencelupkannya ke dalam teapot berisi air putih, dan merendamnya sebentar.

“Masih panas?” tanya Siwon, khawatir. Nana menggeleng.

“Kita obati di dalam,” Ujar Siwon seraya mengangkat tubuh Nana.

_oOo_

Nana memandangi wajah Siwon yang kini tengah serius mengoleskan krim pada bekas tangannya yang terkena sup. Tuhan, mengapa kau menciptakan lelaki malaikat ini? Jika terus seperti ini, bagaimana aku bisa merelakannya? Batinnya. Ia sudah frustasi, tidak tau apa yang harus ia lakukan. Di satu sisi, ia ingin Siwon tetap bersamanya. Namun, di sisi lain, ia tidak sampai hati menyiksa Siwon dengan kehadirannya. Jika dia adalah wanita normal, tentu saja ia akan dengan senang hati memperjuangkan Siwon, bahkan jika harus bersaing dengan Lee Sooyeon sekalipun! Namun kini keadaannya berbeda. Dia bukan Im Nana yang dulu, kini ia tidak bisa apa-apa. Bahkan, berdiri saja ia tidak mampu!

Nana mengerjapkan mata, berusaha menahan airmata yang sudah menggenang di sudut matanya.

“Sudah selesai,” ujar Siwon, lalu mengangkat wajahnya, menatap Nana.

“Sekarang, waktunya tidur,” lanjutnya, lalu membantu mengangkat kaki Nana ke atas ranjang. Nana membaringkan tubuhnya.

Jalja…” ujar Siwon, lalu membelai lembut kepala Nana. Setelah itu, ia mematikan lampu, bangkit dan berbalik, namun tangan Nana menahannya. Siwon menoleh,

Gomawo…” ujar Nana, pelan. Siwon tersenyum dan  mengangguk. Nana menghela nafas lalu menarik tangannya, membiarkan Siwon melanjutkan langkahnya.

Siwon menutup pintu kamar Nana lalu melangkah menuju kamarnya yang berada tepat di samping kamar Nana. Ia menghela nafas. Rencananya malam ini untuk bercengkerama dengan Nana dan membujuknya pulang, gagal.

_oOo_

Andwaaaaeee….!!!” Siwon yang baru saja terlelap tersentak mendengar teriakan keras Nana. Bergegas ia turun dan berlari ke kamar Nana.

“Nana…” panggilnya, begitu ia masuk ke kamar Nana dan melihat Nana memeluk erat gulingnya. Segera ia berjalan mendekat dan duduk di depan Nana.

“Nana, apa yang terjadi?” tanya Siwon, seraya memegang pundak Nana. Nana tidak menjawab, hanya bahunya yang bergetar menahan isak tangis.

Gwaenchana, ada aku…” lanjutnya, seraya membelai punggung Nana lembut.

“Apa yang terjadi? Kau mimpi buruk? Eum?” tanya Siwon, Nana mengangguk perlahan. Siwon tersenyum.

Gwaenchana, itu hanya mimpi, tidak akan menjadi kenyataan…” ucap Siwon lembut. Nana mengangkat wajahnya, menatap Siwon. Geurae? Tapi mengapa mimpi itu terasa begitu nyata? Batinnya.

“Sekarang kau tidur lagi, eo?” Siwon membenarkan letak selimut Nana.

Jalja…”lanjutnya, seraya membelai lembut kepala Nana. Namun Nana masih enggan memejamkan matanya.

Keokjeonghajima, aku akan menemanimu…”

Geurae?” tanya Nana, memastikan dengan suara pelan. Siwon menjawab dengan senyuman.

“Sekarang tidurlah…” ujarnya, seraya membelai lembut tangan Nana. Ketika ia akan menarik tangannya, Nana menahanya.

Kajima…” ujar Nana pelan dengan suara bergetar, namun sungguh-sungguh. Siwon memandang Nana tidak mengerti. Nana tampak berbeda kali ini. Namun ia hanya mengangguk.

Nana memiringkan tubuhnya ke arah Siwon dan meletakkan tangan Siwon yang digenggamnya di depan wajahnya. Setetes air mata kembali mengalir di pipinya. Siwon mencelos melihat kondisi Nana.

“Nana, apa yang terjadi? Mengapa kau seperti ini? Eum?” tanyanya lembut. Nana hanya menggeleng.

Marhaebwa, jangan kau tahan sendiri…”

“Aku… aku hanya takut…” jawab Nana. Siwon berbaring lalu memeluk Nana.

Gwaenchana, ada aku…” jawab Siwon, lalu membelai punggung Nana lembut. Sebenarnya ia masih ragu dengan jawaban Nana, namun sepertinya Nana tidak mau bercerita.

“Sekarang tidurlah,” lanjutnya. Nana melingkarkan tangannya pada pinggang Siwon. Tuhan, apakah dia akan tetap di sisiku? Dia tidak akan pergi meninggalku sendiri dalam mimpi itu ‘kan? Batin Nana. Ya, dalam tidurnya Nana bermimpi bahwa semua orang meninggalkannya di sebuah tempat yang gelap dan menakutkan, termasuk Siwon. Ternyata, hati Nana yang tidak ingin dan tidak bisa berpisah dengan Siwon, berkelebat dalam bawah sadarnya, hingga terbawa mimpi.

Nana membenamkan wajahnya pada dada bidang tunangannya itu. Jika saja aku bisa menghentikan waktu, akan ku hentikan saat ini juga, ketika aku berada begitu dekat denganmu, Choi Siwon, batin Nana.

_oOo_

“Aku ingin kau pulang hari ini!” ujar Nana, singkat dan tegas, begitu Siwon keluar dari kamar mandi.

Mwo?” Siwon yang belum pulih dari rasa kagetnya mendapati Nana berada di dalam kamarnya, kembali dibuat melongo. Ada apa dengan wanita ini? Semalam dia terlihat begitu rapuh, bahkan melarangnya untuk pergi, namun sekarang ia berubah seratus delapan puluh derajat?! Aish! Batin Siwon.

“Aku mau kau pulang hari ini ke Seoul. Aku akan meminta Sunmi untuk membereskan barang-barangmu,” terang Nana.

“Nana, aku…”

“Sunmi-ah, Sunmi-ah…” Nana memotong kalimat Siwon dengan memanggil Sunmi. Ya, dia tidak bisa membiarkan Siwon tinggal lebih lama lagi bersamanya. Semakin lama ia tinggal bersama Siwon, semakin ia tidak bisa melepasnya.

“Ya Nona…” jawab Sunmi ketika ia tiba di kamar Siwon.

“Bereskan semua barang-barangnya, jangan sampai ada yang tersisa,” Perintah Nana. Dengan ragu Sunmi berjalan ke arah lemari dan membuka pintunya.

“Tidak usah, kau bereskan barang-barang Nana saja, dia akan pulang bersamaku hari ini!” perintah Siwon. Sunmi menoleh pada Siwon.

“Apa yang kau katakan? Tidak Sunmi-ah, lanjutkan saja! Aku tidak akan pulang bersamanya!” tegas Nana. Sunmi dengan ragu meraih sebuah tas besar dan mulai memasukkan pakaian-pakaian Siwon.

“Jung Sunmi, hentikan!” perintah Siwon.

“Lanjutkan saja Sunmi-ah! Kau bekerja padaku, jadi kau harus mengikuti apa yang aku katakan!” Siwon mendesah frustasi.

“Cepat Sunmi-ah!” Nana menyuruh Sunmi segera melanjutkan pekerjaannya, melihat Sunmi menghentikan pekerjaannya dan terpaku di balik pintu lemari. Karena tidak sabar, Nana segera mendekat.

“Apa yang kau lakukan?!” tanya Nana tidak sabar. Sunmi berbalik, tangannya memegang beberapa lembar foto.

“Apa itu?” tanyanya lagi. Siwon segera mendekat untuk merebut foto-foto itu. Namun terlambat, Sunmi telah menyerahkannya pada Nana.

Nana membulatkan mata melihat foto-foto itu. Ia menoleh pada Siwon yang kini terpaku di tempatnya, menatapnya penuh tanya, lalu kembali beralih pada foto-foto ditangannya. Itu adalah foto-foto ketika mereka berlibur di villa ini, enam bulan lalu.

Foto pertama, Nana sedang memanggang daging saat barbeque. Nana terlihat marah dan cemberut karena Kaeun menggodanya.

Nana melihat sebuah kalimat tertulis di sudut foto itu, dan membacanya.

Angry-Nana, but she didn’t seem angry…

Foto kedua, masih acara barbeque, Nana terlihat menjerit ketika Kaeun menarik rambutnya yang ia kuncir ekor kuda.

Don’t do this!

Foto ketiga, mereka sedang berada di pasar, Nana terlihat berbicara dengan seorang anak kecil yang ditemuinya di pasar.

She loves child… Good…!!! :^)

Foto keempat, foto Nana yang diambil dari belakang. Nana sedang berdiri di tepi pantai, lengannya terlipat di perut, dan sedikit menoleh ke kiri. Angin senja yang bertiup kencang memainkan rambutnya, dan cahaya matahari membentuk siluet tubuhnya dengan jelas.

Can’t see this… Zzzz… -_-

Foto kelima, foto kopi dan toast yang disuguhkan Nana malam itu.

First meal from her, what’s next?

Nana terus melihat dan membaca satu persatu foto di tangannya. Air matanya tak dapat ia tahan lagi ketika melihat foto terakhir,

Potret dari belakang, ketika Nana berada di sebuah pusat keramaian, sedang menoleh ke arah kiri. Shoot-nya terfokus pada Nana, sedangkan sekelilingnya buram.

And finally, when the world directed just to her, what should I do?

Perlahan, Siwon melangkah mendekati Nana dan berlutut di hadapannya. Ia memperhatikan Nana yang menunduk dengan bahu bergetar karena tangis.

Siwon meraih tangan Nana dan menggenggamnya.

“Nana…” panggilnya pelan. Nana tidak merespon.

“Nana…” panggilnya sekali lagi. Nana mengangkat wajahnya, memandang Siwon lalu menggeleng. Siwon terpaku melihat wajah Nana yang dipenuhi airmata. Namun, detik berikutnya ia merengkuh Nana dalam pelukannya.

Mianhae…” ucap Nana, di sela isak tangisnya.

Ssstt… Jangan berkata begitu, tidak ada yang perlu dimaafkan…” jawab Siwon, seraya membelai punggung Nana lembut.

“Ku mohon, pergilah…” ujar Nana pelan. Siwon menghela nafas.

Shireo…” jawab Siwon, pelan tapi tegas. Nana mengangkat wajahnya, menatap Siwon.

“Aku mohon, ini demi kebaikanmu, kau tidak mungkin terus bersamaku… Aku hanya akan menjadi parasit bagimu…” ujar Nana, dengan suara bergetar. Air mata kembali mengalir ketika ia menyelesaikan kalimat terakhirnya.

Siwon menangkupkan sebelah tangannya pada wajah Nana, dan menatap Nana intens.

“Hei, mengapa kau berkata seperti itu? Tidak Im Nana, seperti yang telah aku katakan sebelumnya, apapun yang terjadi, aku tidak akan melepaskanmu…”

Geundae…”

Ssssttt…” Siwon memotong kalimat Nana dan kembali memeluknya.

“… Aku akan mempertahankanmu dan bersamamu, I promise…” bisiknya.

“… Pulanglah bersamaku…” lanjutnya kemudian.

“Choi Siwon…”

“Im Nana, aku mohon…” ucap Siwon, tulus dan sungguh-sungguuh. Nana mengangkat wajahnya menatap Siwon. Ini pertama kalinya Siwon mengucapkan kata “mohon”, ini pertama kali Siwon memohon padanya.

Siwon menunduk, membalas tatapan Nana.

“Kau mau, ‘kan?” Setetes air mata mengalir di pipi putih Nana, detik berikutnya ia mengangguk. Siwon tersenyum lalu mencium kening Nana lembut.

Gomawo…” ujarnya, lalu kembali membenamkan Nana dalam pelukannya.

_oOo_

Seoul, 11.02 PM KST.

Sebuah mobil sedan berwarna hitam melaju memasuki sebuah halaman yang luas. Di bagian ujung halaman itu, berdiri kokoh sebuah rumah bernuansa mediteranian, berwarna putih. Di teras rumah tersebut sudah berdiri beberapa orang yang terlihat menunggu kehadiran seseorang.

“Lihat, mereka pasti sangat merindukanmu…” ujar seorang lelaki dalam mobil tersebut. Wanita yang diajak bicara hanya tersenyum.

Jja, kita sudah sampai…” lanjut lelaki itu lagi. Selanjutnya ia keluar dan membantu sopir mobil itu menyiapkan sebuah kursi roda. Ketika kursi roda itu sudah siap, ia mengangkat tubuh wanitanya untuk duduk di kursi roda.

“Im Nana…!” pekik seorang wanita setengah baya, Nyonya Im.

Eomma…” Nyonya Im segera mendekati putri semata wayangnya itu, Im Nana, dan memeluknya erat.

Bogoshipeo…” ujar Nyonya Im pada putrinya.

Nado…” jawab Nana, suaranya bergetar karena menahan tangis.

Lelaki yang tadi bersama Nana, Choi Siwon, membiarkan pasangan ibu dan anak itu saling melepas rindu.

“Siwon-ah, terima kasih telah membawanya kembali…” ujar Nyonya Im pada calon menantunya, beberapa saat kemudian.

Cheonmaneyo, Eomoni, itu adalah kewajibanku…” jawab lelaki itu, sopan. Nana hanya mencibir mendengar jawaban Siwon yang terkesan diplomatis.

“Nana-ya, apa kabarmu?” kini giliran Nyonya Choi yang menyapa Nana. Nana tersenyum.

“Baik-baik saja, Eomoni…” jawabnya. Nyonya Choi mendekat lalu memeluk Nana.

“Maafkan aku, Sayang…” ujar Nyonya Choi, tulus, dengan suara bergetar.

“Maaf? Untuk apa?” tanya Nana bingung. Nyonya Choi baru akan menjawab, namun Siwon menggeleng, melarang ibunya mengatakan yang sebenarnya.

Nyonya Choi melepas pelukannya lalu menatap Nana lembut, dengan perasaan bersalah. Maafkan aku karena sempat meminta Siwon meninggalkanmu, batinnya.

“Aku belum sempat menjengukmu…” jawab Ny. Choi, berbohong.

“Ah, gwaenchanayo, Eomoni…”  jawab Nana, lembut. Nyonya Choi membelai lembut pipi Nana.

“Kau memang wanita yang baik, aku tidak akan menyesal menyerahkan Siwon padamu…” ucap Ny. Choi, tulus. Dia memang telah mengetahui alasan Nana pergi dari Ny. Im. Dari situlah ia tau bahwa Nana memang wanita yang luar biasa. Ketika banyak cobaan sedang menerpanya, dia masih memikirkan kebahagiaan orang lain.

Namun ternyata kalimat itu membawa efek lain pada Im Nana. Matanya mulai berkaca-kaca. Dia masih belum percaya diri dengan keadaannya kini.

“Ah, ini sudah malam. Sebaiknya kau beristirahat, Im Nana…” Siwon menyela, menyadari perubahan suasana yang terjadi.

“Ah, benar…” jawab Nyonya Choi. Nyonya Choi lalu bangkit. Siwon mendorong kursi roda Nana masuk.

Oppa mana?” tanya Im Nana pada ibunya.

“Eo? Oppa-mu sedang menyelesaikan sesuatu.”

Mwo? Semalam ini?” tanyanya lagi, dengan nada tidak suka.

Ne, karena besok harus sudah selesai.” Nana mendengus. Dia memang sangat keras masalah pekerjaan. Dia tidak suka jika seseorang masih bekerja di luar jam kerjanya, jangankan lembur sampai malam begini, mengerjakan di rumah saja dia tidak suka.

“Kita mau kemana?” tanya Nana polos, ketika mereka tidak berjalan ke arah kamarnya yabg berada di lantai dua, namun ke arah kamar tamu di bawah.

“Kami memindahkan kamarmu, Nana-ya, agar lebih memudahkanmu,” jawab Ny. Im. Nana mengangguk. Sebenarnya dalam hatinya merasa kehilangan, harus meninggalkan kamar yang telah bertahun-tahun dihuninya.

“Nah, ini kamarmu. Kami belum sempat menghiasnya seperti kamarmu di atas karena Siwon memberitahunya mendadak. Lagipula, kau tidak akan lama tinggal di sini…” jelas Nyonya Im, begitu mereka tiba di kamar baru Nana. Nana menatap Eomma-nya, bingung. Nyonya Im hanya tersenyum.

“Ah, Siwon-ah, ini sudah malam, biarkan Nana beristirahat. Oya, kau bicaralah dulu padanya, Eomma menunggumu di luar…” ujar Nyonya Choi lalu mengajak Ny. Im keluar kamar.

Sepenginggal Eomma mereka, Siwon mengangkat tubuh Nana dan meletakkannya di ranjang.

“Tidurlah, kau pasti sangat lelah. Lagipula, kau harus mempersiapkan dirimu untuk besok.” Ujar Siwon, diiringi senyuman khasnya.

“Besok? Ada apa?”

“Kau akan mengetahuinya besok, sekarang kau harus tidur. Harus!” tegasnya. Nana mendengus. Siwon mengacak puncak kepala Nana gemas.

“Aku pergi…” lanjutnya, lalu bangkit, mengecup kening Nana, lalu beranjak pergi. Nana membulatkan mata ketika Siwon mencium keningnya.

“Ya!” teriaknya. Siwon hanya terkekeh dan terus melenggang pergi.

_oOo_

Wedding March mengalun indah, menyambut seorang pengantin wanita yang baru turun dari mobil, dan ditemani beberapa bridesmaid di belakangnya. Pengantin itu terlihat sangat cantik dengan gaun berwarna putih tanpa lengan, bagian dada sampai lehernya terbuat dari brocade, rambutnya disanggul rapi, di hias mahkota berwarna perak. Namun ada yang berbeda, pengantin itu tidak berjalan, namun berada di atas kursi rodanya, dan sang pendamping, tak lain adalah kakaknya sendiri, Im Young Jae.

Pengantin itu, Im Nana, meremas erat buket bunga di tangannya, berusaha menyalurkan rasa gugupnya. Sungguh, ia tidak menyangka akan berada di tempat ini. Baru semalam ia tiba di Seoul, dan pagi tadi, tiba-tiba para penata rias datang, mengubahnya menjadi sesosok pengantin. Sebenarnya ia sudah curiga dengan kode-kode yang disebutkan Eomma-nya dan Siwon semalam. Namun, ia benar-benar tidak menyangka bahwa acara itu adalah pernikahan, pernikahannya dengan Choi Siwon.

“Im Nana, angkat wajahmu! Lihat, calon suamimu telah menunggumu di altar!” bisik kakaknya, ketika mereka baru saja memasuki gereja tersebut. Nana mengangkat wajahnya. Hatinya berdesir kuat melihat sosok Choi Siwon berdiri dengan gagahnya di depan altar. Nana menarik nafas, mencoba menenangkan hatinya, dan berusaha tidak mengeluarkan air matanya.

Perlahan, Im Young Jae mendorong kursi roda Nana.

Appa…” gumam Nana dengan suara bergetar, melihat sosok ayahnya yang duduk di samping ibunya, pada deretan kursi terdepan, sebelum ia sampai ke altar. Ingin rasanya ia berlari memeluk Appa-nya, namun sayangnya, kini dia telah berada tepat di depan calon suaminya, Choi Siwon.

Siwon memandang Nana kagum. Sebentar lagi, wanita cantik di depannya ini akan resmi menjadi istrinya.

“Choi Siwon, aku percayakan adikku padamu…” ujar Im Young Jae, lalu meletakkan genggaman Nana dalam tangan Siwon. Siwon mengangguk mantap. Im Young Jae berbalik dan meninggalkan mereka berdua di depan altar, untuk mengikrarkan janji suci pernikahan. Siwon tersenyum lembut pada Nana, lalu berbalik menghadap altar. Detik berikutnya, ia berlutut, sehingga, tubuhnya sejajar dengan Nana. Nana membulatkan matanya, lalu mengerjap, sebelum air mata yang telah menggenang di sudut matanya mengalir.

Perhatian Nana kembali ke depan ketika pastor membacakan ikrar suci pernikahan.

“Tuan Choi Siwon, maukah anda menerima wanita ini sebagai istri yang dijodohkan oleh Tuhan didalam pernikahan yang kudus?  Bersediakah anda mengasihinya, menghiburnya, menghormati dan memeliharanya, baik ketika sakit maupun sehat, serta melupakan orang lain tetapi hanya mengasihi dia saja, selama kalian berdua hidup didunia ini?”

“Saya bersedia.” Jawab Siwon, tegas dan mantab, tanpa keraguan sedikitpun.

“Nona Im Nana, maukah anda menerima lelaki ini sebagai suami yang dijodohkan oleh Tuhan didalam pernikahan yang kudus?  Bersediakah anda mengasihinya, menghiburnya, menghormati dan memeliharanya, baik ketika sakit maupun sehat, serta melupakan orang lain tetapi hanya mengasihi dia saja, selama kalian berdua hidup didunia ini?”

Nana menghela nafas. Berbagai perasaan berkecamuk dalam hatinya.

“Saya bersedia…” jawab Nana dengan suara bergetar.

“Sekarang kalian sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Tuan Choi Siwon, Anda telah diperkenankan mencium istri Anda.”

Siwon memutar badannya hingga berhadapan dengan Nana. Perlahan, ia mengangkat wajah Nana yang menunduk, menatap kedua matanya, dan tersenyum lembut.

Chukhahaeyo, Choi Nana…” bisiknya, lalu mencium Nana lembut. Bertepatan dengan itu, suara tepuk tangan menggema, memenuhi gereja itu.

Siwon tersenyum lembut pada Nana, lalu mengangkat tubuh Nana, membawanya berjalan keluar gereja. Ya, sepasang pengantin biasanya berjalan bersama, bergandengan tangan keluar dari gereja setelah selesai mengikrarkan janji pernikahan di altar, berbeda dengan mereka. Namun, Siwon yang memilih membawa tubuh Nana daripada mendorong kursi rodanya, menciptakan suasana dan perasaan tersendiri, baik bagi pasangan itu, maupun bagi mereka yang melihatnya.

Chukahamnida… chukahamnida… chukahamnida…” berbagai ucapan selamat meggema seiring langkah kaki mereka, sampai mereka tiba di teras depan gereja. Beberapa saat mereka berfoto, kemudian menuju mobil pengantin berwarna hitam yang telah menantinya.

Siwon meletakkan tubuh Nana dengan hati-hati, lalu duduk di sampingnya. Ia melingkarkan tangannya di pundak Nana, membuat istrinya itu berada dalam dekapannya. Nana hanya menatap wajah Siwon yang sangat dekat dengan wajahnya. Akhirnya, air mata yang sekuat tenaga ia tahan, lolos juga, membasahi pipi indahnya.

“Mengapa…”

“… Mengapa kau melakukan ini semua?” tanya Nana, dengan suara serak dan bergetar.

Siwon menatap Nana lembut.

“Haruskah aku mengatakannya?” tanya Siwon. Nana mengangguk.

“Eum… Seharusnya kau bisa menilainya sendiri Choi Nana…” ujar Siwon, seraya membelai lengan Nana. Nana menggeleng.

“Aku ingin mengetahui alasanmu yang sesungguhnya…” Siwon menghela nafas.

Geurae…” Siwon menghentikan sejenak kalimatnya, lalu meraih dagu Nana dengan telunjuknya, menatap kedua mata Nana. Hatinya bergetar. Baru kali ini dia berani menatap kedua mata Nana yang bening dan indah secara langsung.

Saranghae…” bisiknya, lembut.

_oOo_

A year later

Nana berjalan tertatih dengan bantuan tongkatnya, mendekati Siwon yang sedang menonton TV di ruang keluarga, dengan membawa sepiring cake ditangannya.  Ini adalah hari Minggu, jadi Siwon bisa bersantai ria di rumahnya.

Aigo, mengapa kau tidak memanggilku, Sayang?” tanya Siwon, ketika Nana sudah berada di depannya dan meletakkan piring tersebut di meja.

“Untuk apa? Toh aku sudah bisa sendiri…” jawab Nana, lalu tersenyum bangga. Sudah setahun Nana menjalani terapi, dan perkembangannya cukup baik. Sekarang ia sudah bisa berjalan, meskipun dengan bantuan tongkat panjang yang menyangga seluruh lengannya.

Siwon membalasnya dengan senyuman, lalu menarik Nana pelan, agar duduk di sampingnya.

“Apa jadwalmu hari ini?” tanya Siwon.

Eopseo, hari ini aku libur, karena kemarin aku sudah datang ke sanggar, jadi hari ini Miina Eonni melarangku datang lagi hari ini.” Siwon mengangguk. Belakangan ini Nana memang sibuk di sanggar anak yang didirikan oleh yayasan sosial miliknya. Sanggar itu digunakan untuk rumah tinggal anak terlantar dan sekaligus memberikan fasilitas sesuai kebutuhan dan hak-hak mereka.

Oppa, tidakkah kau merasa kesepian?” tanya Nana, seraya bersandar pada bahu Siwon. Siwon terdiam sejenak.

“Tidak, toh ada kau yang menemaniku…” jawab Siwon.

“Bukan itu maksudku…”

“Lalu?”

“Kemarin, ketika aku bermain bersama anak-anak di sanggar, aku berpikir…” Nana menghentikan sejenak kalimatnya, lalu menatap Siwon.

Oppa, tidakkah kau menginginkan kehadiran anak di antara kita?” tanya Nana pelan, namun serius.

Siwon menghela nafas. Bukannya ia tidak ingin, namun melihat kondisi Nana saat ini, dia tidak mau mengambil resiko. Dia tidak mau terjadi sesuatu pada Nana, dan pada calon bayi mereka, jika saja Nana hamil dalam waktu sekarang-sekarang ini.

Oppa…” panggil Nana.

“Sayang, aku tidak mau mengambil resiko jika kau mengandung, dalam waktu sekarang-sekarang ini…” ujar Siwon pelan, mencoba menjelaskan.

Nan gwaenchana, Oppa. Lagipula, kita bisa melakukan pemeriksaan secara rutin untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan janinnya…”

“Tapi, kau masih dalam masa terapi, apa tidak berbahaya?”

Oppa, percayalah padaku, aku bisa menjaga calon bayi kita nanti…” bujuk Nana.

Siwon melihat kesungguhan dalam sorot mata Nana. Siwon menghela nafas. Nana memang selalu bisa memenangkan hatinya.

Geurae, kita akan konsultasi dengan dokter. Jika dokter mengijinkan, baru kita menjalankan program kehamilan, bagaimana?” Nana tersenyum sumringah.

Gomawo Oppa…” ujarnya, lalu memeluk suami yang sangat ia cintai dan mencintainya.

_oOo_

Apalagi yang ku harapkan, jika aku telah memiliki duniaku, yaitu dirinya?

-Choi Siwon-

 

Bodohnya diriku, hanya terpaku pada kesakitan dan penderitaanku sendiri, sedangkan aku memilikinya, Choi Siwon, yang dengan caranya sendiri, memberikan cintanya padaku, dan menjebakku padanya.

-Im Nana-

 

The End

Shelly Choi

Advertisements

46 thoughts on “Why? (Part 7-End)

  1. Salut ma perjuangan siwon buat melu2hkan hati nana, seneng bgt tau klo siwon jg cnt ma nana, pnasaran knp appanya nana bsa da d prnikahan nana bknnya appanya d pnjara gra2 ksus pjak y!? Btw da squelnya g?!
    😛
    D tunggu ff keren lainya n fighting
    😛

  2. Yaaa… Udh end ternyata.. hehehe
    Endingnya bagus ^^ ada squelx nggak? Hihi *semogaada
    Ditunggu project lainnya 😀

  3. Saya rasa ini butuh sequel, dimana Nana hamil trus kakinya jg sembuh. Ahc can’t imagine it >.< I like it,di tunggu ff selanjutnya

  4. Akhirnya nana dan siwon bersatu jg dlm ikatan perkawinan,, seneng bgt
    Gak sia-sia usahanya siwon selama iniuntuk meyakinkan nana..
    Ahhh andai ada seqeul walaupun oneshoot siwon-nana punya baby 🙂

  5. Wahhhhh happy endinggg:D
    keren banget ff nya eonnn.
    Bikin sequelnya dong eon, yang merekanya punya baby choi:)

  6. Hwa… So sweet banget siwon…
    Dan happy ending….
    Suka” sama ceritanya dari awal…
    Kalo boleh sequel yah yah yah???

  7. Kyaaa…!!!!! Keren!! Daebak!!
    I like it thor…
    Mian, baru comment di part terakhir.
    Keep writing thor 😉

  8. maaf ya thor sblumnya aku ga coment. aku lngsung bca dri part 1-7end. ska bget ceritanya. apalagi pas moment siwon oppa sm nana eonni sama2.. happy ending..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s