Why (Part 5)

Siwon Nana Why

  • Title                : Why? (Part 5)
  • Main Casts      : Choi Siwon, Im Nana
  • Support Casts            : Lee Sooyeon, Im Young Jae, Ny. Im, etc.
  • Author            : Shelly Kimmy Choi
  • FB                   : http://www.facebook.com/shelly.diah   
  • Twitter           : @Iam_ShellyAng
  • Blog                : http://SiwonNanaWorld.wordpress.com
  • Length                        : Chaptered
  • Genre              : Romance
  • Rating             : General
  • Disclaimer      : Kalau ada hal-hal yang mungkin ga sesuai dengan kenyataan, anggap saja sesuai… hehee… ^_^ kalau ada kritik dan saran, silakan, dengan senang hati saya terima. Malah butuh…

Siwon and other casts adalah milik yang punya. Maaf pada Siwon and family, ELF, Siwonest, kalau saya buat ceritanya seperti ini. Mianhae, Jeongmal Mianhae

And the last, Happy reading, Hope you like it ^_^v

_oOo_

Last Part

“Katakan saja, Young Jae-ssi…”

Geurae…” Im Young Jae menghela nafas.

“Im Nana… Kata Dokter…” Im Young Jae menggantung kalimatnya. Ia menyapu wajahnya dengan kedua tangannya.

“Kecelakaan yang dialami Nana, membuat kakinya lumpuh.”

Mwo?” pekik Siwon, tidak dapat menyembunyikan rasa kagetnya.

_oOo_

Part 4

Seorang lelaki berdiri di depan pintu masuk sebuah ruang rawat inap. Ia mengatur nafasnya yang terengah-engah setelah berlari sepanjang lorong rumah sakit, mencari ruangan di depannya kini. Lelaki itu adalah Choi Siwon. Ia segera menuju rumah sakit begitu mendapat kabar bahwa tunangannya, Im Nana telah sadar, setelah dua hari tak sadarkan diri akibat kecelakaan yang dialaminya.

Siwon meraih handle pintu dan membukanya perlahan. Penglihatannya segera menangkap sosok tunangannya sedang duduk bersandar di ranjang, sedang berbicara dengan Nyonya Im, calon mertuanya. Ada rasa bahagia sekaligus khawatir yang ia rasakan dalam waktu yang bersamaan. Bahagia, karena Nana sudah sadar. Khawatir, karena ia tau kondisi Nana saat ini, dan yang ia khawatirkan adalah ketika Nana mengetahui kenyataan bahwa kini ia…

“Ah, Siwon-ah, neo wasseo?” sapa Nyonya Im begitu menyadari kehadiran calon menantunya itu. Sontak, Nana menoleh pada Siwon, namun ia segera mengalihkan pandangannya lagi. Ia tidak tau bagaimana perasaannya kini. Di satu sisi, ia bahagia karena Siwon segera datang menemuinya, begitu tau ia sudah sadar. Namun, di sisi lain, ia takut memikirkan kemungkinan yang terjadi, setelah Siwon tau kini dia telah… lumpuh.

“Kemarilah!” Nyonya Im memanggil Siwon mendekat. Siwon berjalan mendekat dengan pelan, seraya memperhatikan Nana yang sedari tadi mengalihkan pandangan darinya. Kemudian ia berhenti di ujung ranjang Nana.

“Kalian bicaralah berdua, Aku pergi dulu.” Nyonya Im bangkit, namun Nana menahan tangannya. Nyonya Im menoleh. Ia menangkupkan tangannya di atas tangan Nana, tersenyum lembut pada putri semata wayangnya itu, lalu melepaskan genggaman dengan perlahan.

“Siwon-ah, tolong jaga dia.” Ujar Nyonya Im.

Ye, Eomoni.” Jawab Siwon. Nyonya Im menepuk lengan Siwon lalu berjalan keluar kamar.

Perhatian Siwon kembali tertuju pada Im Nana, yang sedari tadi menoleh ke kiri, menghindarinya. Siwon perlahan mendekat. Ingin sekali ia menghambur dan meraih Nana dalam pelukannya. Namun, keinginannya itu ia tahan.

“Bagaimana keadaanmu?” tanya Siwon, lembut. Nana diam saja, tidak menjawab. Siwon menghela nafas, dan memilih duduk di ranjang Nana, sehingga ia berhadapan langsung dengan Nana, dan bisa mengamatinya secara langsung.

“Im Nana, bagaimana keadaanmu?” tanya Siwon sekali lagi. Ia meraih tangan Nana, namun Nana segera menarik tangannya.

“Untuk apa kau kesini?” tanya Nana, dingin, tanpa melihat Siwon. Siwon tidak menjawab. Ia hanya mengamati wajah Nana. Sangat jelas terlihat bekas airmata dan matanya yang sembab, dan hal itu berhasil menorehkan rasa perih dalam hati Siwon.

“Nana…”

“Jika tidak ada yang ingin kau katakan, silakan pergi!” potong Nana.

“Im Nana, maafkan aku…” ujar Siwon pelan. Nana hanya terdiam, tidak merespon.

“Seharusnya aku bisa menjagamu…” lanjutnya, sembari menundukkan kepala. Nana menghela nafas dan mengerjapkan matanya beberapa kali. Berusaha menahan air mata yang telah menggenang, dan siap mengalir.

“Nana, aku tidak tahu, mengapa saat itu kau berlari meninggalkanku…” Siwon menghentikan kalimatnya, lalu mengangkat wajahnya, memandang Nana.

“Apa karena Lee Sooyeon?” Nana diam, tidak merespon. Namun Siwon tau arti sikap Nana.

“Nana, itu tidak seperti yang kau fikirkan…”

“Memang apa yang aku fikirkan?” potong Nana.

“Nana…” Siwon mengulurkan tangannya, bermaksud meraih pundak Nana, namun lagi-lagi Nana menepisnya.

“Sudahlah, bukankah dengan keadaanku seperti ini bisa menguntungkan kalian?” ujar Nana, sarkastis.

“Apa maksudmu?” tanya Siwon dengan nada tidak senang. Nana menoleh pada Siwon dan tersenyum kecut.

“Benar bukan? Dengan begini kau bisa meninggalkanku dan bersamanya?”

Mwo?” gumam Siwon, kaget. Ia tidak menyangka Nana akan mengatakan itu padanya.

“Sudah ku katakan dari dulu, bukan? Kau bisa pergi dan memutuskan pertunangan ini. Itu lebih baik daripada kalian diam-diam berhubungan di belakangku!” Nafas Nana terengah seiring dengan emosinya yang naik.

“Nana, kau salah paham. Tidak ada yang terjadi antara aku dengannya! Lagipula, sudah ku katakan berkali-kali bukan, aku tidak pernah berniat memutuskan pertunangan kita!” ujar Siwon dengan menekan suaranya, berusaha menahan emosinya.

Geurae? Lalu bagaimana dengan keadaanku sekarang? Masihkah kau akan mengatakan hal itu padaku? Eo?” ujar Nana dengan suara bergetar. Air mata yang sekuat tenaga ia tahan akhirnya lolos begitu saja.

“Nana…” Siwon meraih Nana ke dalam pelukannya.

“Lepaskan!” Nana berusaha melepas pelukan Siwon. Namun apa daya, Siwon jauh lebih kuat darinya. Ia terus menahan Nana dalam pelukannya.

“Keputusanku masih sama, aku tidak akan meninggalkanmu…” ujar Siwon, pelan. Detik berikutnya, ia merasakan tubuh Nana yang berguncang semakin keras, karena tangisnya.

“Apa yang kau katakan? Apalagi yang kau harapkan dari wanita cacat sepertiku?” ujar Nana seraya meremas jas dan memukul pelan dada Siwon.

“Apa karena kau merasa kasihan padaku? Eo?” Lanjutnya.

“Nana…”

Geumanhae! Berhentilah bersikap seperti ini! Jika kau melakukan semua ini hanya karena kau kasihan padaku, hentikan! Aku tidak butuh belas kasihanmu…” Nana mendorong tubuh Siwon. Sedangkan Siwon berusaha menenangkannya.

“Nana…”

“PERGI!”

“Nana…” Siwon masih mencoba menenangkan Nana.

“PERGIII!!!” Siwon terpaku mendengar Nana berteriak padanya.

Geurae…” Siwon akhirnya menyerah. Mungkin Nana butuh waktu untuk sendiri. Perlahan ia berbalik dan meninggalkan Nana. Ia meraih handle pintu, namun sebelum ia membukanya, ia menoleh pada Nana, yang kini mengalihkan pandangan darinya, dengan bahu bergetar menahan tangis. Detik berikutnya, ia membuka pintu lalu meninggalkan ruangan itu.

Geumanhae Choi Siwon! Berhentilah memberiku harapan yang tak akan mungkin bisa tercapai…” gumam Nana. Bersamaan dengan itu, airmata kembali mengalir deras di pipinya.

_oOo_

“Bagaimana keadaan Nana?” tanya Nyonya Choi pada Siwon. Mereka sedang menonton TV bersama, salah satu aktivitas yang rutin mereka lakukan tiap malam, jika sedang tidak ada acara lain.

“Dia sudah sadar.” Jawab Siwon singkat. Nyonya Choi mengangguk.

“Syukurlah kalau begitu. Siwon-ah, sebenarnya kemarin Eomma sudah menjenguk Nana, dan kami sudah tau kondisi Nana yang sebenarnya…”

“Siwon-ah, jika kau ingin membatalkan pertunangan kalian, kami menyetujuinya…” lanjut Nyonya Choi. Siwon sontak menoleh pada Eomma-nya.

Mwo?” gumam Siwon.

Ne. Kau tentu sudah tau keadaan Nana yang sekarang. Ayahnya terlibat kasus korupsi, dan sekarang dia juga lumpuh. Apalagi yang bisa kau harapkan darinya? Siwon-ah, kau bisa…”

Eomma…!” potong Siwon, dengan suara agak tinggi. Nyonya Choi sontak menghentikan kalimatnya. Tidak pernah Siwon memotong pembicaraannya, apalagi berbicara dengan nada tinggi seperti ini padanya.

“Bagaimana bisa Eomma berbicara seperti itu? Dulu Eomma bukan yang memaksaku bertunangan dengannya? Dan sekarang Eomma secara tidak langsung menyuruhku memutuskan pertunanganku dengan Nana?” ujar Siwon, memburu.

“Itu dulu, Siwon-ah, sebelum…”

“Tidak Eomma, apapun yang terjadi sekarang, aku tidak akan memutuskan pertunangan ini!” ujar Siwon, tegas. Ia bangkit meninggalkan Eomma dan Appa-nya. Emosinya kini benar-benar memuncak. Ia tidak habis pikir, mengapa akhir-akhir ini banyak sekali yang membahas tentang pembatalan pertunangannya dengan Nana? Mengapa? Mengapa di saat ia tidak ingin melepas Nana?

“Choi Siwon!” Nyonya Choi bangkit, bermaksud mengejar Siwon. Namun, Tuan Choi menahan tangannya.

“Biarkan saja…” Ujar Tuan Choi.

Geundae, aku hanya ingin yang terbaik untuknya…” jawab Nyonya Choi.

Ara. Tetapi, dia sudah dewasa, dia berhak membuat keputusannya sendiri. Dan biarkan dia bertanggung jawab atas pilihan yang telah dibuatnya.”

_oOo_

Nana’s Side

Sudah lima hari sejak terakhir kali aku bertemu dengannya, Choi Siwon. Saat pertama kali aku sadar, dan dia menjengukku. Setelah itu, aku tidak pernah mau menemuinya lagi. Ini bukan tanpa alasan. Aku hanya menyadari keadaanku kini. Dan aku telah memutuskan untuk pergi darinya. Jika dia bersikeras tidak mau meninggalkanku, maka aku yang akan meninggalkannya. Seperti yang telah aku katakan, aku tidak pantas untuknya. Dia begitu sempurna, sedangkan aku? Jujur, aku tidak habis pikir dengannya. Bagaimana bisa dia sekeras itu mempertahankan pertunangan ini? Padahal aku sudah berkali-kali memberinya pilihan untuk memutuskannya, sejak Appa terkena kasus korupsi. Saat itu saja aku sudah sadar, nama Appa yang tercemar sedikit banyak juga akan berpengaruh pada nama keluarga dan perusahaannya. Apalagi dengan kondisiku saat ini, apalagi yang bisa diharapkan?

Dan disinilah aku sekarang, di villa keluarga di Jeju. Aku mengatakan pada keluargaku bahwa aku ingin menenangkan diri di sini. Padahal, sebenarnya aku ingin menghindar dari Choi Siwon, mencoba menjauh dari jarak pandangnya, dan sebaliknya, menjauhkannya dari jarak pandangku. Itulah alasan mengapa aku menyembunyikan keberadaanku kini darinya. Bahkan, aku tidak mengaktifkan ponselku. Semua itu semata karena aku tidak percaya pada diriku sendiri. Aku tidak yakin bisa berdiri dengan keputusanku jika aku masih bisa melihat wajahnya, atau pun hanya mendengar suaranya.

_oOo_

Im Nana duduk di atas kursi roda, yang kini mau tidak mau, harus menggantikan fungsi kakinya. Pandangannya menerawang jauh, melihat lembayung senja yang mematulkan cahaya pada padang rumput di depannya. Sedangkan jauh disana, ia dapat melihat hamparan laut yang juga telah menjingga karena pantulan sinar sang surya yang sebentar lagi akan naik ke peraduannya. Lukisan alami yang indah di luar sana tidak mampu membangkitkan senyuman di hatinya. Semua yang terjadi kini, telah berhasil menyelimutinya dengan duka. Ini bukan semata karena kondisi fisiknya kini. Lebih dari itu, tujuan utamanya untuk menghindar dan melupakan Siwon, malah berbalik. Setiap suasana dan sudut di ruangan ini malah mengingatkannya pada Choi Siwon. Bagaimana tidak? Sebulan setelah acara pertunangan mereka, sebelum Siwon berangkat ke Hong Kong, keluarganya dan keluarga Siwon berlibur bersama di villa ini.

_oOo_

Flashback…

Aish, mengapa harus kuda lagi?” gumam Nana, begitu mereka tiba di peternakan milik keluarganya, yang terletak dekat dengan villanya di Jeju-do. Awalnya dia memang sudah menolak begitu tahu acara mereka hari ini adalah berkuda. Namun, orang tuanya memaksa. Apa boleh buat? Jadilah kini dia berjalan paling akhir dalam barisan itu.

“Ah, Eonni mana bisa berkuda! Bahkan menyentuhnya saja dia tidak mau!” cibir Lee Kaeun, sepupu Nana yang tinggal di Jeju. Mereka sangat akrab. Bahkan saking akrabnya, mereka kerap kali meributkan hal-hal kecil.

Ucapan Lee Kaeun itu sontak membuat seluruh perhatian tertuju pada Nana, termasuk lelaki itu, Choi Siwon. Sebuah senyuman tersungging di wajah tampannya.

“Ah, itu…” kata-kata yang biasanya meluncur deras ketika melawan Lee Kaeun hilang begitu saja.

Ne, dia tidak pernah mau belajar berkuda dengan alasan takut terjatuh.” Tambah Tuan Im.

Appa…!” protes Nana, mendengar Ayahnya malah membongkar rahasianya. Tuan Im terkekeh.

“Siwon-ah, kalau begitu, kau ajarkan saja dia berkuda…” ujar Nyonya Choi. Siwon menanggapinya dengan senyuman.

“Terserah padanya…” ujar Siwon, seraya menoleh pada Nana

“Ah, aku bertaruh, Eonni tidak akan berani!” ujar Lee Kaeun, memancing Nana.

“Kata siapa? A… Aku berani.” Jawab Nana, meskipun dengan nada tidak yakin.

Geurae?” ujar Kaeun, memastikan.

“Tentu saja! Ayo berangkat sekarang!” ujar Nana tidak mau kalah. Ia berbalik dan bergegas menuju ruang perlengkapan berkuda.  Kaeun tersenyum geli. Usahanya berhasil.

Imo, kau berhutang padaku!” ujar Kaeun pada Nyonya Im, membuat Siwon tersenyum simpul mendengarnya.

_oOo_

Siwon berjalan dengan menuntun seekor kuda berwarna coklat tua, sedangkan Nana mengikutinya di belakang. Ia tersenyum melihat penampilan Nana. Wanita itu terlihat seperti wanita-wanita di film koboi Hollywood. Bayangkan saja, ia memakai boots selutut dan rambut panjangnya dikuncir ekor kuda.

“Kemarilah!” ujarnya. Nana melangkah dengan enggan.

“Apakah sebelumnya kau benar-benar belum pernah belajar berkuda?” tanya Siwon, seraya membelai leher kudanya. Nana menggeleng.

“Sebelumnya, kau harus belajar berinteraksi dengannya. Sekarang, coba kau usap lehernya dengan lembut, seperti ini…” Siwon memberi contoh. Siwon menoleh pada Nana yang terdiam sejak tadi.

“Kenapa?” Siwon melihat keraguan Nana.

Gwaenchana…” lanjutnya. Siwon meraih tangan Nana, yang berhasil membuat Nana terkesiap, lalu mengusapkannya pada leher kudanya. Awalnya, ia merasa takut, namun setelah ia mencoba berkali-kali, akhirnya dia bisa. Setelah itu, Siwon mulai memberikan penjelasan singkat tentang berkuda.

“Sekarang, coba kau naik.”

Mwo?” gumam Nana, kaget. Demi apapun, untuk menyentuh kuda saja dia takut, apalagi menungganginya?

Keokjeong hajima. Aku akan membantumu…” ujar Siwon.

Geundae…”

“Coba saja, kau tidak mau kan selalu ditertawakan oleh Lee Kaeun karena tidak bisa berkuda? Eum?” Nana berpikir sejenak. Ia menoleh ke arah keluarganya yang sekarang berkumpul, memperhatikannya yang sedang belajar berkuda. Benar juga. Kaeun pasti tersenyum menang melihatku gagal lagi belajar berkuda, batinnya.

Geurae…” jawab Nana akhirnya. Sebelah tangan Siwon menahan kudanya agar tidak bergerak, sedangkan tangan satunya lagi menahan tubuh Nana, membantunya naik.

“Apa yang harus aku lakukan?” tanya Nana, begitu duduk di sadel kudanya.

“Coba sekarang kau tarik tali kekangnya.” Nana menurut. Ia menarik tali kekangnya.

Omo!” pekiknya, kaget, begitu kuda itu mengangkat kepalanya, namun tidak berjalan.

“Coba lagi, perlahan, sampai dia berjalan.” Nana mengikuti instruksi Siwon. Namun nihil. Kuda itu tidak berjalan selangkah pun. Ia hanya menggerak-gerakkan kepalanya.

“Tidak bisa…” ujar Nana putus asa.

“Siwon-ah, coba kau juga naik, ajari Nana mengendalikan kudanya.” Teriak tuan Im.

Siwon menoleh pada Nana, meminta persetujuannya. Nana mengangguk pelan. Siwon kemudian naik dan duduk di belakang Nana. Kemudian ia meraih tali kekang yang juga di pegang Nana, sehingga tangannya melingkari tubuh Nana.

Deg.

Deg.

Deg.

Jantungnya berdebar kencang, berada begitu dekat, amat sangat dekat dengan Siwon. Ada apa dengannya?

“Kita jalan sekarang?” pertanyaan Siwon sontak menyadarkannya.

“Ah… ne…” jawabnya, dengan terbata.

Siwon menarik tali kekang perlahan, sehingga kuda itu berjalan. Ia mengendarai kuda itu pelan, mengitari peternakan, menikmati saat-saat kebersamaannya dengan Nana. Ia sendiri tidak mengerti, apakah ada yang salah dengannya? Atau pada Im Nana? Mengapa ia merasa ia ingin terus berada di dekatnya? Bersamanya?

_oOo_

“Apa yang sedang kau lakukan?” Siwon menoleh pada asal suara, dan mendapati sosok Im Nana telah berdiri di belakangnya.

“Ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan. Kau? Mengapa belum tidur?”

“Aku mau mengambil air minum. Heumh, workaholic, hari libur masih saja bekerja…” ujar Nana, seraya meninggalkan Siwon menuju dapur. Siwon tersenyum tipis mendengar kalimat Nana, dan melanjutkan pekerjaannya.

Setelah beberapa saat larut dengan pekerjaan, aroma kopi menguar jelas di indra penciumannya, berhasil menginterupsi perhatiannya. Namun, Siwon mengabaikannya. Beberapa detik kemudian, aktivitasnya terhenti melihat tangan Nana yang meletakkan secangkir kopi dan piring berisi toast yang dilapisi coklat dan keju.

“Jangan terlalu larut dalam pekerjaan! Rumah adalah tempat untuk beristirahat, bukan bekerja.” Ujar Nana. Siwon tersenyum. Gadis yang unik, terlihat dingin namun perhatian, batin Siwon.

Gomawo.” Ujar Siwon. Nana mengangkat bahunya lalu berjalan meninggalkan Siwon.

 

Flashback End…

_oOo_

Kenangan-kenangan antara dirinya dengan Siwon terlintas jelas dalam ingatannya, seperti rangkaian sebuah film. Nana menghela nafas. Dadanya terasa sesak, Sangat sesak!

“Tuhan, apa yang terjadi padaku?” ujar Nana, seraya meremas baju di bagian dadanya. Air matanya mengalir tanpa permisi, menggambarkan kepiluan yang merajam hatinya. Sakit! Sangat sakit! Mengapa setiap bayangan Siwon melintas diingatannya, membuatnya sakit? Parahnya lagi, bayangan itu selalu menari-nari di otaknya. Lalu, bagaimana dia bisa bangkit dari luka itu?

Siwon. Choi Siwon. Sebuah nama yang kini telah menjajah hatinya. Tanpa permisi, tanpa ia sadari. Dan ketika ia menyadarinya, semua sudah terlambat. Lelaki itu sudah sangat jauh untuk ia gapai.

Nana menutup wajah dengan kedua tangannya, sehingga airmatanya tumpah memenuhi telapak tangannya.

“Tuhan, aku merindukannya…” gumam Nana dalam isak tangisnya, mengakui perasaannya.

Tok tok tok…

Nana segera menyeka air matanya mendengar suara ketukan pintu.

“Masuk.” Ujarnya. Seorang pekerja perempuan membuka pintu dan masuk.

“Maaf Nona, ada seseorang yang ingin bertemu Anda.”

“Siapa?”

“Maaf, saya tidak tahu.” Jawab pelayan itu.

“Kau sudah mengijinkannya masuk?”

“Belum.” Jawab pelayan itu. Nana mengangguk. Ia memang telah meminta pelayannya itu untuk tidak menerima tamu tanpa izinnya. Nana menggerakkan kursi rodanya, menuju pintu keluar. Pelayan itu mendekat, membantu Nana mendorong kursi rodanya.

Nana mengamati pria yang sedang berdiri menunggunya di depan pintu dari tempat yang tidak bisa dilihat dari luar. Nana menyipitkan mata, mencoba memastikan siapa yang dilihatnya.

“Choi Siwon…” gumamnya dengan nada bergetar, begitu mengenali sosok pria itu. Nana meremas tangannya sendiri menahan rasa yang bergejolak di hatinya. Ia sangat merindukan pria itu, tetapi dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk pergi dari kehidupannya.

“Bagaimana Nona, apakah Nona akan menemuinya?” Nana masih terdiam, memikirkan apakah ia akan menuruti hatinya, atau janjinya.

“Nona?” panggil pelayan itu, sekali lagi.

To Be Continued

Akhirnya, selesai juga ni part… 🙂

Maaf ya lama banget baru post lagi, soalnya lagi ribut sama tugas kuliah, heheee… B)

Oya, gimana inj pendapat chinguya???

Nanti mereka mau gimana?? heee… 😉

ditunggu yaa respon dari chigudeul semua 🙂

gomawoyo 😀

Advertisements

34 thoughts on “Why (Part 5)

  1. OMO!!! 😮 Siwon oppa ternyata masih cinta sm Nana eonni walaupun Nana eonni lumpuh 😦 Ayo Siwon oppa perjuangkanlah cinta mu 😉

  2. Makin menarik critanya wlopun da dikit typo v ttp g mengurangi jlnnya crt.
    😛
    Author bkin siwon mngakui prasaannya ma na2 dong biar na2 g mrasa d ksihani ma siwon v mrasa d cintai
    😛
    next part jgn lm2 y author,, keep fighting
    🙂

  3. Huwaaaa yang bagian nunggang kudanya romantis bangeeet, sayang cinta mereka goyah saat ini,, moga nana nya percaya sama siwon oppa,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s