Why (Part 4)

Siwon Nana Why

  • Title                : Why? (Part 4)
  • Main Casts      : Choi Siwon, Im Nana
  • Support Casts            : Lee Sooyeon, Im Young Jae, Ny. Im, etc.
  • Author                        : Shelly Kimmy Choi
  • FB                   : http://www.facebook.com/shelly.diah   
  • Twitter           : @Iam_ShellyAng
  • Blog                : http://SiwonNanaWorld.wordpress.com
  • Length                        : Chaptered
  • Genre              : Romance
  • Rating             : General
  • Disclaimer      : Kalau ada hal-hal yang mungkin ga sesuai dengan kenyataan, anggap saja sesuai… hehee… ^_^ kalau ada kritik dan saran, silakan, dengan senang hati saya terima. Malah butuh…

Siwon and other casts adalah milik yang punya. Maaf pada Siwon and family, ELF, Siwonest, kalau saya buat ceritanya seperti ini. Mianhae, Jeongmal Mianhae

And the last, Happy reading, Hope you like it ^_^v

_oOo_

Last Part

Deg.

Deg.

Deg.

Nana memejamkan matanya. Hatinya berdebar kencang ketika merasakan deru nafas Siwon menerpa wajahnya dan dapat ia rasakan, Siwon bergerak semakin mendekat.

Nana segera membuka matanya mendengar Siwon terkekeh dan mengacak rambut Nana gemas.

“Jangan salah sangka. Kau telah memakai jaket ini semalam, jadi, kau wajib mengembalikannya dalam keadaan bersih.”

Mwo?” ujar Nana, keningnya berkerut. Siwon tersenyum.

“Kau lucu!” ujar Siwon, seraya memencet hidung Nana. Lalu berbalik meninggalkan Nana.

“Ya!” teriak Nana.

_oOo_

Part 4

“Aku pulang! Eomma!” Nana yang baru saja membuka pintu masuk, memekik kaget melihat ibunya kini menangis di ruang tamu. Ia bergegas mendekat lalu duduk di samping ibunya.

Eomma, waegeurae?” Nyonya Im tidak menjawab.

Eomma…” Nana memeluk ibunya dan mengelus punggungnya pelan.

Appa-mu…” Nyonya Im mulai membuka suara.

Ne, ada apa dengan Appa?” Nyonya Im melepaskan diri dari pelukan Nana, lalu menatap wajah putrinya itu.

Appa-mu ditahan. Ia dituduh memanipulasi pajak yang harus dibayar perusahaan…”

Mwo?” pekik Nana, kaget.

“Bagaimana bisa?” lanjut Nana.

“Entahlah. Kasus ini sebenarnya sudah sejak tiga bulan lalu. Appa-mu sudah berusaha menanganinya. Tapi…” tangis Nyonya Im kembali pecah.

“Mengapa kalian tidak memberitahuku?”

“Kami tidak ingin membebanimu, Nana-ya… Saat itu suasana benar-benar sangat kacau…” Nana terdiam sejenak.

“Eo, jadi karena itu kalian menyuruhku ke Hongkong…”

Mianhae, Chagi. Kami kira masalah ini akan selesai…”

Geundae, bagaimana dengan Oppa?”

“Dia akan segera pulang untuk membantu menangani perusahaan dan kasus ini.”

_oOo_

Puluhan blitz kamera berkilatan mengambil gambar keluarga Im yang baru saja keluar dari ruang sidang. Im Young Jae merangkul ibunya, berhasil menerobos kerumunan wartawan yang memburunya dan langsung masuk ke mobil. Sedangkan Nana, didampingi Siwon, masih tertahan karena pers berhasil menahan mereka dan memberondongnya dengan berbagai pertanyaan. Siwon melingkarkan lengan kirinya di bahu Nana, berusaha melindungi Nana, dan berjalan pelan, mencoba menerobos kerumunan wartawan.

“Nona Im, bagaimana pendapat Anda tentang kasus yang dituduhkan kepada ayah Anda?”

“Nona Im, apa yang sebenarnya terjadi dalam kasus ini? Apakah ada permainan pihak luar dalam kasus ini?” Nana menundukkan kepalanya, tidak memberikan komentar atau jawaban apapun.

“Tuan Choi, bagaimana pendapat Anda tentang kasus yang menimpa calon mertua Anda ini?” Siwon dengan sigap menarik Nana dalam pelukannya begitu ada seorang wartawan yang terdorong ke depan, dan hampir menabrak Nana. Siwon menghentikan langkahnya, menghela nafas, mencoba menahan emosinya.

“Untuk masalah kasus ini, kalian bisa bertanya ke pihak pengadilan, karena mereka yang lebih berhak memberikan pernyataan terkait kasus ini, dan tolong, beri kami jalan.” Siwon mengatakannya dengan tegas, serta memberi penekanan pada kalimat terakhir. Para wartawan pun memberikan sedikit jalan, dan Siwon kembali melangkah bersama Nana yang berada dalam dekapannya.

“Tuan Choi, apakah kasus ini akan berdampak pada pertunangan kalian?” Siwon sontak menghentikan langkahnya. Begitupun Nana. Siwon dapat merasakan tubuh Nana menegang. Rahang Siwon mengeras. Ia menggenggam tangan Nana yang kini meremas bagian depan jasnya. Dingin. Ia dapat merasakan tangan Nana sangat dingin.

“Apa maksud pertanyaan Anda?” ujar Siwon, sarkastis, dan mengarahkan pandangannya ke arah pertanyaan itu berasal.

“Tidak. Tidak akan ada yang berubah hanya karena kasus ini.” Lanjut Siwon dengan tegas. Nana refleks mengangkat kepalanya, menatap Siwon. Siwon mengeratkan pelukannya dan melanjutkan langkahnya.

_oOo_

Gwaenchana?” tanya Siwon pada Nana setelah beberapa saat kesunyian menyelimuti mereka. Nana tidak menjawab, hanya menatap kosong jalanan di depannya.

“Kau mau ku antar kemana?” tanya Siwon lagi.

Gomawo.” Ujar Nana singkat. Siwon mengerutkan keningnya.

“Kau telah membantuku tadi.” Ujar Nana, seakan mengerti kebingungan Siwon.

“Tidak usah dibahas.” Jawab Siwon.

“Kau tidak perlu melakukannya, dan jika kau ingin…” Nana menghela nafas sejenak.

“…Pertunangan kita, nantinya…” ucap Nana, tersendat-sendat.

“… Kau ingin memutuskannya, aku akan menerimanya.”

Ciiiittt

Siwon menepikan mobilnya dan menghentikannya dengan mendadak.

“Ap… Apa yang kau lakukan?” tanya Nana terputus, karena masih dikuasai rasa kaget. Ia menoleh pada Siwon, dan apa yang dilihatnya, membuatnya takut. Wajah Siwon menegang, dan nafasnya memburu seakan menahan emosi. Nana pun menundukkan kepalanya.

“Apa maksudmu?” tanya Siwon dengan nada tinggi. Nana berusaha mengeluarkan suaranya.

“Aku… aku…”

“Sudah ku katakan bukan, SEMUANYA TIDAK AKAN BERUBAH HANYA KARENA KASUS BRENGSEK ITU!” Nana terkesiap begitu Siwon memotong kalimatnya dan berteriak padanya. Ia semakin menundukkan kepala dan meremas ujung kemejanya untuk meredam rasa takutnya.

“Aish, jinjja!” Siwon mengusap wajah dengan kedua tangannya, seraya menghempaskan badannya ke jok. Berkali-kali ia menghela nafas, mencoba menurunkan emosinya. Entahlah, ia sendiri tidak tau, mengapa amarahnya begitu memuncak ketika ia mendengar masalah pemutusan pertunangan antara dirinya dengan Nana.

Mianhae…” ujar Siwon singkat, seraya menyalakan mobilnya, lalu mengantar Nana pulang.

_oOo_

Hari itu Nana terpaksa ke kampus untuk mengurus proposal penelitiannya. Tidak dapat ia pungkiri, ia merasa sangat malu dan tidak nyaman dengan kondisinya saat ini. Beberapa mahasiswa yang berpapasan dengannya, menatapnya dengan tatapan melecehkan dan seakan-akan mengulitinya. Tidak tahan dengan kondisi itu, ia mempercepat langkahnya menuju lapangan parkir yang terletak beberapa meter lagi di depannya.

Omo!” pekik Nana kaget dan,

Bukk.

Tubuhnya sukses mendarat di jalanan beraspal. Ia sedikit kaget mendapati tempatnya terjatuh terasa lebih licin dari biasanya, seperti dilapisi wax.

“Sial!” umpatnya, lalu mencoba berdiri.

“Auw…” Nana meringis karena ngilu di pergelangan kakinya, saat ia mencoba berdiri. Ia mengecek stiletto yang dipakainya. Benar saja, heels-nya patah. Ia kemudian membuka kedua stilettonya. Ia mencoba berdiri lagi, namun,

Pukk.

Sebuah gulungan kertas sukses menghantam keningnya. Nana mengangkat kepalanya, terlihat beberapa orang tengah mengelilinginya. Mereka berdiri angkuh dan menunjukkan senyuman melecehkan.

Nana menggerakkan tangannya, meraih gulungan kertas itu, dan membukanya perlahan.

“Anak koruptor tidak pantas kuliah di sini.”

Nana menghirup nafas berkali-kali. Berusaha mengisi paru-parunya dengan udara, untuk menghilangkan rasa sesak di dadanya.

Pukk. Pukk. Pukk.

Semakin banyak kertas yang memukul tubuhnya. Nana hanya terdiam, meringkuk di tempatnya. Sungguh, ia ingin melawan. Tapi apa daya? Hanya membaca sebuah kalimat tadi saja sudah membuatnya sesak dan lemas.

“Ya! Mengapa kau diam saja? Apa kau merasa kalau kau adalah anak seorang koruptor, eo?” Nana merasa matanya memanas dan penglihatannya mulai kabur. Tuhan, tolong aku! Apa yang harus aku lakukan? Aku ingin pergi dari sini…, gumam Nana dalam hati.

Bukk.

Sekantong tepung menghantamnya, dan sukses membuat rambut dan pakaiannya memutih.

“Hentikan!” suara teriakan seorang lelaki berhasil menghentikan aksi orang-orang itu.

Nana terkesiap, merasa pernah mendengar suara teriakan itu. Namun ia tidak berani mengangkat kepalanya. Kemudian Ia melihat bayangan seorang lelaki yang berjalan mendekat ke arahnya. Lelaki itu berhenti tepat di depannya, lalu berjongkok, mensejajarkan diri dengannya. Lelaki itu menangkupkan kedua tangannya di wajah Nana dan mengangkat wajah Nana perlahan.

“Kau…” gumam Nana, begitu mengetahui lelaki itu adalah tunangannya, Choi Siwon.

Tanpa berkata apapun, Siwon menempatkan tangannya di punggung dan di bawah lutut Nana, lalu mengangkat tubuh Nana dan membawanya ke mobil.

_oOo_

Siwon menghentikan mobilnya begitu mereka tiba di rumah Nana. Siwon menoleh pada Nana. Sedari tadi, Nana hanya terdiam. Tidak ada kata-kata yang keluar darinya. Pandangannya menerawang kosong. Hal itu membuat Siwon khawatir.

“Nana, kita sudah sampai.” Nana tetap terdiam, tanpa respon. Siwon menghela nafas. Ia keluar dari mobil lalu membuka pintu mobil untuk Nana.

“Nana…” panggil Siwon sekali lagi. Nana mengangkat wajahnya, melihat Siwon. Ia lalu melangkah keluar dan berjalan menuju teras rumahnya, tidak peduli saat ini ia bertelanjang kaki. Ia berjalan gontai, seakan-akan kosong.

“Auw!” Nana memekik begitu kakinya tersandung tangga teras. Beruntung, Siwon dengan sigap menangkapnya.

“Berhati-hatilah!” ujar Siwon pelan. Nana tetap saja tak merespon. Melihat kondisi Nana ini, membuat Siwon meletakkan sebelah tangannya di bawah lutut Nana dan membawa Nana dalam gendongannya.

Aigoo, apa yang terjadi Tuan?” tanya Jung Ahjumma, pekerja di rumah Nana, begitu melihat mereka masuk.

Ahjumma, dimana kamarnya?” tanya Siwon pada Jung Ahjumma.

“Di atas, kamar paling dekat dengan tangga, Tuan.” Siwon segera melangkahkan kakinya ke arah yang ditunjukkan Jung Ahjumma.

Siwon segera membuka pintu kamar Nana dan mendudukkan Nana di ranjang. Siwon lalu berjongkok di depan Nana, dan memperhatikan wajahnya. Siwon menghela nafas melihat kondisi Nana saat ini. Nana seperti sangat terpukul dan shock. Tatapannya kosong. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun. Entahlah, melihat kondisi Nana yang demikian, ada bagian dari hati Siwon yang merasa sakit.

“Bersihkan dirimu, lalu beristirahatlah.” Ujar Siwon.

“Nana…” Siwon memanggil Nana dengan menekan suaranya, dan sedikit meremas tangan Nana, berusaha menyadarkan Nana dari pikirannya yang menerawang entah kemana.

“Eum?” Nana mulai merespon.

“Bersihkan dirimu, lalu beristirahatlah.” Ujar Siwon, sekali lagi. Bagai terhipnotis oleh ucapan Siwon, Nana langsung menurutinya. Ia bangkit dan menuju kamar mandi. Siwon terus melihat Nana sampai menghilang di balik pintu kamar mandi. Siwon bangkit dan berjalan keluar kamar.

“Aaaaaaaaaaaaaaaahhh!!!” Braak…!!!

Siwon menghentikan langkahnya, yang baru akan keluar kamar, begitu mendengar suara jeritan Nana disertai bunyi benda-benda yang membentur dinding. Siwon segera berbalik dan menggedor pintu kamar mandi.

“Nana! Apa yang terjadi?! Nana!” Siwon berkali-kali memutar kenop pintu, mencoba membuka pintu kamar mandi.

“Aaaaarrggghhh!!!” Pyaarrr!!!

Kembali terdengar suara jeritan Nana, diiringi benda pecah. Siwon semakin gusar. Ia memutuskan mendobrak pintu kamar mandi.

“Nana!” gumam Siwon. Hatinya mencelos melihat situasi di depannya saat ini. Tubuh Nana basah kuyup, karena ia meringkuk di bawah shower yang terus mengguyurnya. Disekitarnya, barang-barang dan pecahan gelas berserakan. Siwon bergegas mengambil handuk di dekatnya dan berjalan mendekati Nana. Ia mematikan shower lalu menyelimuti Nana dengan handuk, dan menariknya dalam pelukannya. Siwon memejamkan mata, merasakan tubuh Nana yang bergetar.

“Menangislah! Jangan kau tahan sendiri! Ada aku…” bisik Siwon.

Nana meremas erat jas Siwon yang telah basah dan kotor. Tubuhnya berguncang keras, seiring isak tangisnya yang semakin menjadi. Siwon membelai lembut punggung Nana, mencoba menenangkannya sekaligus memberinya waktu untuk meluapkan emosinya yang tertahan sedari tadi.

_oOo_

Siwon’s Side

“Perlu ku antar?” Nana menggeleng, menolak tawaranku.

“Aku bisa sendiri.”

Geurae. Aku akan menunggumu di sini.” Nana mengangguk lalu masuk ke dalam gedung, sedangkan aku menunggunya di lobby. Hari ini aku mengantar Nana ke kampus untuk mengurus revisi proposal penelitiannya. Sejak hari itu, ku akui, aku menjadi lebih protektif kepadanya. Hal ini tidak lain karena aku khawatir kejadian beberapa hari lalu terulang kembali. Jadi, aku memutuskan untuk selalu mengantarnya akan ke kampus, ya walaupun dengan sedikit perdebatan di awal. Namun, berkat bantuan Im Eomoni, Nana akhirnya menyetujuinya.

“Siwon-ssi!” aku menoleh ke arah asal suara yang memanggilku.

“Ah, Sooyeon-ssi…” ternyata dia Lee Sooyeon.

“Apa yang kau lakukan di sini? Menunggu Nana?”

Ne.” Jawabku, singkat.

“Eo, aku telah membaca berita tentang kalian di surat kabar. Aku hanya berdoa yang terbaik bagi kalian.”

Ne, terima kasih Sooyeon-ssi. Ngomong-ngomong, apa yang sedang kau lakukan? Kau tidak ada jadwal kuliah?”

“Ah, baru saja kuliahku selesai. Eoh, Siwon-ssi, sepertinya ada sesuatu di wajahmu.

Mwo?” Aku meraba bagian wajahku.

“Maaf, bolehkah aku yang membersihkannya?” tanpa menunggu persetujuanku, dia berjinjit membersihkan sesuatu yang katanya ada di wajahku. Namun, saat ia kembali ke posisi semula, ia kehilangan keseimbangannya. Refleks, aku menangkap tubuhnya, hingga kini tubuhnya berada dalam pelukanku.

Deg.

Deg.

Deg.

Dadaku berdebar entah kenapa. Selama ini aku memang tidak pernah memeluk wanita yang notabene tidak memiliki hubunganku. Hanya Eomma, Halmeoni, adikku, dan…

“Nana…” gumamku kaget melihat sosok seorang wanita berlari melewatiku dan Sooyeon ke arah jalan raya lingkar kampus.

“Nana…!” Dia terus berlari tanpa memedulikan panggilanku.

Mianhae Sooyeon-ssi, aku harus pergi sekarang!”

_oOo_

Nana segera menyelesaikan urusannya, bermaksud tidak membuat Siwon menunggu lama. Ia kemudian bergegas menuju lobby. Namun, langkahnya terhenti melihat adegan di depannya. Siwon berdiri membelakanginya, dan dia melihat wanita itu, Lee Sooyeon, baru saja kembali dari posisi berjinjitnya, lalu Siwon memeluknya.

Tidak! Bagaimana mungkin Siwon membiarkan wanita itu menciumnya? Siwon bahkan membalasnya dengan sebuah pelukan? Gumam Nana dalam hati. Kini, emosinya berjalan lebih cepat daripada logikanya. Nana tidak dapat menahan amarahnya lagi. Dia langsung berlari meninggalkan mereka.

“Nana!” Nana terus berlari tanpa memedulikan panggilan Siwon.

“Im Nana!” panggil Siwon sekali lagi. Nana terus saja berlari, menyeberangi jalan, dan

Braaakkk!!!

“Im Nana!” pekik Siwon begitu melihat sebuah mobil berkecepatan tinggi menghantam tubuh Nana, hingga tubuh tunangannya itu terlempar lalu jatuh ke jalan.

“Nanaaa…!” Siwon berlari mendekati Nana.

“Nana, bangun! Nana…!” Siwon mencoba membangunkan Nana yang berada dalam dekapannya. Siwon terkesiap menyadari darah yang mengalir deras dari kepala, tangan, dan kaki Nana, membasahi pakaian yang dikenakannya.

_oOo_

“Siwon-ah, apa yang terjadi?” Nyonya Im langsung menghambur ke arah Siwon. Siwon menundukkan kepalanya tidak mampu menjawab.

“Siwon-ah, marhaebwa, apa yang terjadi?” Nyonya Im mencengkeram dan menarik-narik kemeja Siwon yang ternoda oleh darah Nana.

“Mianhae, Eomoni… Jeongmal mianhae…” Nyonya Im melepas cengkeramannya. Im Young Jae, kakak Nana, merengkuhnya dalam pelukannya.

“Tenanglah Eomma. Nana pasti baik-baik saja.” Ujarnya, mencoba menenangkan ibunya.

Cklek.

Seorang dokter keluar dari ruang rawat Nana. Sontak, ibu dan kakak Nana serta Siwon mendekat.

“Bagaimana keadaan anak saya, Uisanim?”

“Maaf, bisakah kita membicarakannya di ruangan saya?”

“Ah, ye. Siwon-ssi, tolong jaga Nana!” Siwon mengangguk, mengiyakan permintaan Im Young Jae. Im Young Jae merangkul ibunya berjalan bersama, mengikuti langkah sang dokter. Siwon melangkah, mendekat ke pintu ruangan Nana, mengamatinya dari bagian kaca pada pintu kamar Nana.

Mianhae, Nana-ya… jeongmal mianhae…” lirihnya.

_oOo_

“Siwon-ssi, aku hanya bermaksud jujur dan tidak menyembunyikan sesuatu darimu.” Im Young Jae mengamati wajah Siwon. Siwon hanya menundukkan kepalanya.

“Hal ini mengenai kondisi Nana. Setelah kau tau berita ini, semua keputusan berada di tanganmu. Apapun keputusan yang nanti kau ambil, kami akan menghormati dan menerimanya.” Siwon menghela nafas, dan mengangkat kepalanya, menatap Im Young Jae.

“Katakan saja, Young Jae-ssi…”

Geurae…” Im Young Jae menghela nafas.

“Im Nana… Kata Dokter…” Im Young Jae menggantung kalimatnya. Ia menyapu wajahnya dengan kedua tangannya.

“Kecelakaan yang dialami Nana, membuat kakinya lumpuh.”

Mwo?” pekik Siwon, tidak dapat menyembunyikan rasa kagetnya.

To Be Continued

 

Annyeong readers…!!!

Apa kabar? Setelah sekian lama mager dan ga punya inspirasi, akhirnya bisa nyelesein part 4 ini… Hurrraaayyy… ^_^

Gimana nih pendapat readers???

 

Oya, readers yang udah baca FF ini dari awal pasti tau lah ya masalah project FF Siwon-Nana. Gimana? Ada yang berminat?

Kalau masih belum tau, yuk di klik di sini

Ah, adalagi nih…

Buat readers yang ingin tau sejarah Siwon-Nana dan fakta-fakta mereka ( yang ternyata banyak banget yang klop), yang baru aja terungkap, yuk klik part 1 -nya dan Part 2 😀

 

Nah, disana di kupas tuntas fakta antara mereka berdua, yang ternyata eh ternyata, selama ini masih terselubung! Dan hanya ada di sini!!! , ga ada di yang lain! Dijamin!!! Heheee… 😀 😀 😀 😉 

Ditunggu yaa Chingu, Komen, respon, jempol, kritik, dan sarannya.

Gomawoyo… 🙂 😉 😀

*bow

Advertisements

23 thoughts on “Why (Part 4)

  1. Knp nasib na2 tragis bgt,, prasaan’y ma siwon msh abu2 bgitupun sbliknya, trs appanya dpt kasus, skrg d tmbh lumpuh. Mg z g sad ending
    😛
    d tunggu next part,, jgn lm2 y
    😛

  2. nana-nya kasihan.. kenapa mesti lumpuh sih?
    Nana.. semangat…!!
    won oppa jaga nana, jangan tigggalin nana

  3. Ya ampun,,, cobaan apalagi ini, kok gag adil bange buat nana, semoga cinta mereka gag kenapa-kenapa juga (?)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s