Why? (Part 2)

Siwon Nana Why

  • Title                : Why? (Part 2)
  • Main Casts      : Choi Siwon, Im Nana
  • Support Casts            : Lee Sooyeon, Tuan & Ny. Im, etc.
  • Author                        : Shelly Choi
  • FB                   : http://www.facebook.com/shelly.diah   
  • Twitter           : @Iam_ShellyAng
  • Blog                : http://SiwonNanaWorld.wordpress.com
  • Length                        : Chaptered
  • Genre              : Romance
  • Rating             : General
    • Disclaimer      : Kalau ada hal-hal yang mungkin ga sesuai dengan kenyataan, anggap saja sesuai… hehee… ^_^ kalau ada kritik dan saran, silakan, dengan senang hati saya terima. Malah butuh…

Siwon and other casts adalah milik yang punya. Maaf pada Siwon and family, ELF, Siwonest, kalau saya buat ceritanya seperti ini. Mianhae, Jeongmal Mianhae

And the last, Happy reading, Hope you like it ^_^v

_oOo_

Last Part

Nana menarik kopernya. Ia sedikit terkejut melihat lampu di dalam rumah Siwon yang menyala. “bukankah Siwon masih bekerja? Eum, berarti dia tidak tinggal sendiri…” ujarnya dalam hati.

Nana menekan bel. Beberapa saat kemudian, pintu terbuka dan menampakkan sesosok wanita, dan dari penampilannya, Nana tidak yakin gadis itu adalah pegawai atau pekerja di rumah ini.

“Siapa kau?” tanya Nana.

_oOo_

Part 2

Nana memandang wanita di depannya dengan pandangan menyelidik. Sebelumnya, Nana tidak pernah melihat wanita ini dalam acara-acara keluarga Siwon, padahal, biasanya keluarga Siwon selalu mengundang kerabat-kerabatnya, termasuk kerabat jauh. Sedangkan wanita itu, Lee Sooyeon memandanginya dengan bingung.

“Siapa kau? Mengapa kau ada disini?” ulang Nana, karena wanita itu tidak meresponnya.

“A… aku…” Kalimat Lee Sooyeon terhenti ketika terdengar deru mobil memasuki halaman rumah tersebut. Nana dan Sooyeon serentak menoleh pada asal suara. Tidak lama kemudian, terlihat seorang lelaki keluar dengan membawa sebuah tas kantor. Lelaki itu pun berjalan mendekati keduanya.

“Kau sudah sampai?” tanyanya, pada Im Nana.

“Eo.” jawab Nana singkat, lalu mengalihkan pandangannya dari Siwon.

“Mengapa belum masuk?” Nana tidak menjawab. Pandangan lelaki itu beralih pada Lee Sooyeon.

“Im Nana, perkenalkan, dia Lee Sooyeon. Lee Sooyeon, perkenalkan, dia Im Nana, tunanganku.” Lee Sooyeon nampak kaget mendengar kalimat Siwon, namun ia bisa segera mengendalikannya. Lee Sooyeon mengulurkan tangannya,

“Hai, Aku Lee Sooyeon, senang berkenalan denganmu.” Dengan nada ramah, Nana menghela nafas. Ia lalu menyambut uluran tangan Lee Sooyeon.

“Im Nana.” ujarnya, datar.

“Ayo masuk.” Siwon langsung mengajak Nana masuk, menarik kopernya, dan langsung mengantar Nana ke kamar tamu. Sedangkan Nana mengikuti di belakangnya.

“Silakan membersihkan diri dulu. Setelah itu, kita makan malam. Kau belum makan bukan?” Tanya Siwon,  ketika mereka sudah berada di kamar. Ia menghela nafas melihat Nana tidak meresponnya.

Geurae, aku tunggu kau di luar.” Siwon melangkah keluar.

“Siapa dia?” tanya Nana, dengan nada datar dan dingin. Siwon menghentikan langkahnya dan berbalik melihat Nana, yang tengah sibuk membongkar kopernya.

“Dia Lee Sooyeon. Kemarin aku menabraknya. Dia ditipu oleh sopir taksi yang disewanya. Sopir itu membawa seluruh barang-barangnya   dan menurunkannya di tengah jalan. Ketika dia mengejar taksi itu, aku menabraknya. Dia tidak punya tempat tinggal di sini, jadi aku mengajaknya tinggal di sini untuk sementara waktu, sampai ia bisa menghubungi keluarganya.” Jelas Siwon.

“Im Nana, kau mendengarku?” tanya Siwon pada Nana yang terlihat tidak memperhatikannya. Siwon berjalan mendekati Nana dan berdiri di sampingnya.

“Im Nana…” Panggil Siwon sekali lagi.

“Kau kenapa? Kau keberatan dia tinggal disini?” Nana menghentikan aktivitasnya dan berbalik ke arah Siwon.

“Untuk apa aku keberatan? Ini rumahmu, bukan?” jawab Nana, dingin. Siwon menghela nafas.

Geurae…” ujar Siwon lalu berbalik dan melangkah keluar.

“Masalahnya, kau hanya tinggal berdua bersamanya…” gumam Nana, ketika Siwon sudah menghilang dari pandangannya.

_oOo_

Nana’s Side

            Aku menggeliat pelan dan perlahan membuka mata, merasa terusik karena berkas-berkas cahaya matahari yang menerpa wajahku. Aku melihat jam digital di nakas, eum, 5.43. Aku turun lalu membuka tirai yang menutup dinding kaca di sebelah kanan ranjang, lalu ku geser pintu kaca yang menghubungkan kamarku dengan balkon. Aku keluar dan berdiri dengan menumpu pada pagar balkon. Aku memejamkan mata dan menghirup udara pagi yang segar.

Baru beberapa detik, aktivitasku terganggu oleh suara derap kaki seseorang yang tengah berlari. Aku membuka mata lalu mencari dimana suara itu berasal. Tak perlu waktu lama, mataku menangkap sosok lelaki, yang ku yakini adalah Choi Siwon, jogging di taman belakang. Ia mengenakan kaos polos berwarna putih dan celana selutut berwarna coklat muda. Sejenak aku memperhatikannya, heum… Dia pria yang sempurna. Tampan, kaya, berasal dari keluarga terhormat, taat, cerdas, dan baik. Ya, dia memang selalu memperlakukan orang lain dengan baik, termasuk padaku. Padahal, aku tak yakin dia setuju dengan perjodohan ini. Namun, tetap saja dia memperlakukanku dengan baik, bahkan, mengijinkanku menginap disini. Ah, aku jadi teringat kejadian semalam. Rasanya, aku bersikap keterlaluan padanya. Dia hanya bermaksud membantu wanita itu, tapi aku? Aku malah bersikap dingin padanya. Bahkan, saat makan malam, aku hanya berdiam diri, hingga tidak ada percakapan antara kami. Heeummhhh… Apa yang harus ku lakukan?

Ku lihat dia sudah selesai berolahraga, dan sedang berjalan masuk. Berarti sebentar lagi ia… Bingo! Mengapa aku tidak membuatkannya sarapan saja? Paling tidak, untuk mencairkan suasana dingin antara aku dengannya. Geurae, aku akan membuatkanmu sarapan, Choi Siwon…

_oOo_

Nana membersihkan diri dan segera menuju dapur. Langkah riangnya terhenti ketika mendapati sesosok wanita tengah sibuk di dapur.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Nana pada wanita yang tidak lain adalah Lee Sooyeon. Lee Sooyeon menoleh pada Nana,

“Eoh, menyiapkan sarapan.” Jawabnya santai.

Mwo? Untuk apa?”

“Untuk Siwon, untukku, dan, untukmu juga.” Nana mendesis kesal. Bisa-bisanya wanita ini mencuri start darinya.

Nana mengambil coklat bubuk dari shelf  penyimpanan makanan.

“Kau mau coklat?” tanya Nana pada Sooyeon, berbasa-basi.

“Boleh.” Jawab Sooyeon santai, tidak menghiraukan nada dingin dari setiap kalimat Nana. Nana lalu memanaskan air.

“Bagaimanan hubunganmu dengannya?” Nana yang sedang mengambil gelas, menghentikan aktivitasnya mendengar pertanyaan Sooyeon.

“Maksudmu?”

“Hubunganmu dengan Siwon. Apakah hubungan kalian baik-baik saja?”

“Untuk apa kau menanyakan itu?” Nana bertanya balik, sembari membalikkan badannya ke arah Sooyeon. Sedangkan Sooyeon tetap pada posisinya.

“Eum, ku lihat kalian tidak seperti pasangan lainnya.” Jawab Sooyeon,.

“Apa maksudmu? Katakan saja, jangan berbelit-belit!” Nana sedikit meninggikan suaranya.

“Heumh, ya, kalian tidak terlihat seperti pasangan. Hubunganmu dengannya terlihat dingin. Ah iya, bukankah Siwon sudah berbulan-bulan tinggal di sini? Dan setelah sekian lama kalian baru bertemu, bukan? Geundae, mengapa tidak terlihat pertemuan yang hangat antara kalian? Eum, katakan saja berpelukan, atau ciuman mungkin?” Nana terperangah. Apa yang harus ia jawab? Apakah ia akan menceritakan yang sesungguhnya? Ah, ani! Wanita ini tentu akan merasa menang, batin Nana.

“Ah itu, Kami… Kami hanya merasa lelah…” Nana menjawab dengan terputus-putus. Nana membalikkan badan, kembali melanjutkan aktivitasnya membuat coklat hangat. Sooyeon tersenyum mengejek, namun tidak terlihat oleh Nana, karena ia membelakanginya.

Geurae? Oya, aku juga tidak mendengar kau memanggilnya Oppa, seperti pasangan-pasangan lainnya. Lagipula, bukankah dia lebih tua darimu?”

“Eoh… Tentu… tentu saja aku memanggilnya…. Oppa…” jawab Nana, namun dengan nada ragu.

Geundae, mengapa kau menanyakan ini? Apa urusanmu? Lagipula, apakah kami harus menunjukkannya padamu? Eoh?” Nana melanjutkan dengan nada sinis.

“Ah, Siwon-ssi, kau sudah bangun?” ujar Sooyeon tiba-tiba. Nana membalikkan badan, melihat Sooyeon yang kini tengah tersenyum sumringah. Lalu ke arah tatapan Sooyeon, dan ia mendapati Siwon berdiri di sana dengan pakaian rapi, siap untuk bekerja.

“Aku sudah membuatkanmu sarapan, spaghetti…” jelas Sooyeon.

OpOppa…, kau sudah bangun?” ujar Nana, tidak mau kalah. Namun, masih terdengar kaku . Siwon terlihat sedikit kaget, namun bisa cepat mengendalikannya.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Siwon.

“Eoh, membuat coklat hangat.” Jawab Nana.

Kajja kita sarapan.” Sooyeon menginterupsi.

Siwon berjalan ke arah meja makan dan duduk. Memperhatikan wanita-wanita yang kini sedang menyiapkan sarapan. Ia tersenyum simpul.

“Selamat makan.” Ujar Sooyeon. Nana memandangi Siwon dan Sooyeon yang sedang menikmati sarapannya.

“Kau tidak makan?” tanya Siwon pada Nana.

“Aku makan roti saja.” Jawab Nana seraya mengambil roti tawar yang ada di meja makan dan mengolesinya dengan selai coklat.

“Sooyeon-ssi, bagaimana perkembangan masalahmu?”

“Eoh, belum ada perkembangan apa-apa.” Siwon mengangguk.

“Kalau kalian merasa keberatan aku tinggal di sini, aku bisa pergi. Aku merasa tidak enak jika terus-terusan menumpang di sini dan mengganggu kalian.” Ujar Sooyeon, dengan nada menyesal.

“Eoh, bukan begitu. Tidak masalah. Kami tidak keberatan kau tinggal disini untuk sementara waktu. Benarkan Nana?” Siwon menoleh pada Nana. Nana meliriknya sekilas.

“Eoh.” Jawabnya singkat. Sooyeon tersenyum.

“Terima kasih kau memang orang baik. Pantas saja kau mendapatkan tunangan yang baik pula.”

Ne.” Jawab Siwon singkat. Sooyeon menghela nafas. Ia lalu meminum coklat hangat yang dibuat oleh Nana.

“Eum, mengapa coklat ini terasa pahit?” ucap Sooyeon. Nana dan Siwon serentak menoleh pada Sooyeon.

“Eoh, mian, maksudku, kurang manis.” Lanjut Sooyeon dengan nada tidak enak hati. Aish, aku lupa memberi gula, umpat Nana dalam hati.

“Eoh, geurae?” tanya Siwon. Ia lalu meraih gelasnya. Nana tersentak, ingin mencegah Siwon, namun terlambat, ia telah meminumnya. Siwon mengerutkan keningnya. Nana menghembuskan nafas pasrah.

“Eum, Nana-ya, kau membuatnya sesuai seleraku?” tanya Siwon sembari melihat Nana. Nana mengerjapkan matanya, bingung. Namun, tanpa ia sadari, malah menganggukkan kepalanya pelan.

Mianhae Sooyeon-ssi, Nana membuatnya sesuai seleraku. Aku memang tidak suka coklat yang terlalu manis, cukup seperti ini.” Jelas Siwon pada Sooyeon.

“Eoh, gwaenchana.”

_oOo_

“Aku berangkat sekarang.” Ujar Siwon seraya bangkit dari kursinya. Sooyeon membawa piring dan gelas kotor miliknya ke wastafel. Nana turut bangkit. Siwon menahan tangan Nana yang hendak membereskan gelas kotornya.

“Tidak usah. Antarkan aku ke depan,” bisik Siwon.

Nana hanya menurut ketika Siwon membawanya ke teras. Lee Sooyeon mendesis kesal melihat adegan itu. Ia mengikuti Siwon dan Nana yang berjalan ke depan.

“Siwon-ssi…” panggilnya. Siwon menghentikan langkahnya, lalu menoleh.

Ne?”

“Eum, bisakah kau membantuku menghubungi keluargaku? Kau memiliki saran, mungkin?” Siwon terlihat berpikir.

“Coba hubungi keluargamu via e-mail atau media sosial.” Ujar Nana dengan nada datar.

Ne, Nana benar. Kau bisa menggunakan PC-ku.” Siwon membenarkan.

Ah, geurae. Mengapa aku tidak memikirkannya? Gomawo..”

Cheonma.” Jawab Siwon singkat, lalu melanjutkan langkahnya.

“Nana-ya, aku berangkat dulu. Jika kau ingin keluar, katakan saja pada Jung Ahjussi. Aku sudah memintanya untuk mengantarmu.” Nana mengangguk.

“Segera hubungi aku jika terjadi sesuatu.”

Ne, arraseo.” Jawab Nana seraya tersenyum.

Geurae, aku berangkat dulu.”

“Ah, chamkanman!” Siwon menghentikan langkahnya dan berbalik pada Nana.

“Maaf atas sikapku semalam. Aku, bersikap keterlaluan padamu. Jeongmal mianhae…” Ucap Nana sambil menunduk. Siwon tersenyum simpul.

Gwaenchana. Sekarang aku berangkat. Jaga dirimu!” Siwon mengusap puncak kepala Nana sebentar lalu pergi. Nana terperangah kaget dengan sikap Siwon.

_oOo_

Nana terus memakan sajian makan malam miliknya dengan cepat. Ia benar-benar ingin makan malam ini cepat selesai. Rasanya ia sudah tidak tahan lagi melihat bagaimana Sooyeon berusaha menarik perhatian Siwon, walaupun Siwon hanya memberikan respon datar seperti biasanya. Namun hal itu tidak mampu menenangkan hati Nana. Baginya, lelaki manapun akan luluh jika ada wanita cantik yang  terus berusaha menarik perhatiannya seperti itu. Apalagi Sooyeon tinggal serumah dengan Siwon, tidak tau sampai kapan.

“Aku sudah selesai.” Nana bangkit lalu meninggalkan mereka. Siwon menghela nafas.

“Apa dia selalu begitu?” tanya Sooyeon, hati-hati.

“Mungkin suasana hatinya sedang tidak baik.” Jawab Siwon, lalu melanjutkan makan malamnya dalam diam.

_oOo_

“Im Nana, apa yang terjadi padamu?” tanya Siwon pada Nana yang sedang menonton TV.

Eopseo. Aku hanya lelah. Aku mau tidur.” Nana lalu bangkit dari sofa, dan berjalan melewati Siwon. Namun, Siwon menahan lengannya hingga langkahnya terhenti. Siwon membalikkan badannya hingga berhadapan dengan Nana.

“Katakan sejujurnya apa yang terjadi padamu!” Ujar Siwon, lebih seperti perintah. Nana menghela nafas.

“Sampai kapan dia di sini?” ungkap Nana, to the point. Siwon menghela nafas. Oh, jadi ini masalahnya, gumamnya dalam hati.

“Secepatnya, setelah dia bisa menghubungi keluarganya.”

“Tapi kapan?” Nana mengangkat wajahnya, menatap Siwon.

“Tidak bisakah kau memberinya uang untuk kembali ke Korea?” lanjutnya.

“Itu tidak mungkin Nana…”

“Eoh,wae? Geurae, kalau begitu aku yang akan membiayainya!”

“Bukan itu maksudku… Kita tidak mungkin berbuat seperti itu, seolah-olah mendeportasinya. Dia punya kepentingan di sini, dan aku sudah berjanji untuk membantunya.” Siwon mencoba menjelaskan.

Tsk, katakan saja kau tidak ingin ia pergi. Kau senang bukan dia berada disini? Bisa menyambutmu sepulang kerja, bisa membuatkanmu sarapan, eoh?” Siwon diam aja.

Geurae, kalau begitu, mengapa kau tidak bertunangan dengannya saja?” ujar Nana, sarkastis.

“Heh, sudah terlambat bukan? Toh, sekarang aku sudah bertunangan denganmu?!”

“Kau?!” Nana menganga kaget, menunjuk Siwon dan mendengus kesal. Ia lalu membalikkan badannya, membelakangi Siwon.

“Kalau begitu, batalkan saja pertunangan ini!” lanjut Nana. Siwon tersenyum.

Wae? Kau cemburu?” tanya Siwon pelan. Nana terdiam. Benarkah ia sedang cemburu? Ia sendiri tidak tau. Yang ia tau hanyalah ia tidak suka wanita itu berada dekat dengan Siwon dan mencoba menarik perhatiannya.

“Ayolah Nana, jangan merajuk seperti ini. Kau ke sini untuk liburan, bukan? Lebih baik kau bersenang-senang daripada merepotkan diri dengan hal-hal seperti ini.”

Mwo? Bagaimana aku bisa bersenang-senang sedangkan ada wanita lain tinggal serumah denganmu, eoh?”

“Nana-ya, dia bukan siapa-siapa…”

“Tapi dia selalu berusaha untuk…” Kalimat Nana terhenti karena Siwon tiba-tiba membalikkan tubuhnya, mendekapnya erat, dan menciumnya. Nana membelalak kaget. Ia berusaha melepaskan diri saat sudut matanya menangkap sosok Lee Sooyeon di pintu dapur, beberapa meter di sebelah kirinya. Namun Siwon tetap menahannya, walaupun ia tau Lee Sooyeon tengah memperhatikan mereka.

 

 

To be Continued

 

Annyeong Reader…!!!

Gimana FF-nya? Semoga memuaskan, yaa ^_^

 

Oya, sedikit mau promote nih,

Author lagi ada project ini, namanya Siwon-Nana Fanfiction, buat di publish di blog ini.

Buat info selengkapnya, tinggal klik di sini

Jeongmal Gomawo…!!! *bow

^_^

Advertisements

29 thoughts on “Why? (Part 2)

  1. wahh thor lanjut secepetnya ya! penasaran dg kelanjutannya.. 😀 aku juga tertarik sm project ff Siwon-Nana.. and keseluruhan ceritanya bagus, menarik.. keep writing thor ^^

  2. WOW!!! Daebak cerita’y, br kali ini baca ff sampe bikin hati aku bergetar 😀 #alay di tunggu thor kelanjutan’y

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s