Gwaenchanha…!!! (Created For Me Sequel)

Siwon Nana sekuel cfm

 

Gwaenchanha…!!! (Created For Me Sequel)

 

  • Title                   : Gwaenchanha…!!! (Created For Me Sequel)
  • Main Casts      : Choi Siwon, Im Nana
  • Support Casts: Lee Sungmin.
  • Author              : Shelly Kimmy Choi
  • FB                        : http://www.facebook.com/shelly.diah   
  • Twitter              : @Iam_ShellyAng
  • Blog                    : http://SiwonNanaWorld.wordpress.com
  • Length               : Oneshoot
  • Genre                 : Romance, Married life
  • Rating                : General
    • Disclaimer      : Kalau ada hal-hal yang mungkin ga sesuai dengan kenyataan, anggap saja sesuai… hehee… ^_^ kalau ada kritik dan saran, silakan, dengan senang hati saya terima. Malah butuh…

Siwon and other casts adalah milik yang punya.

And the last, Happy reading, Hope you like it ^_^v

 

_oOo_

 

            Wangi aroma makanan menyeruak dan sampai ke indera penciuman Choi Siwon. Lelaki itu bergegas bangun dan berlari ke kamar mandi, berusaha memuntahkan isi perutnya yang bergejolak. Ya, selalu seperti ini setiap pagi. Ia terbangun karena rasa mual yang mengaduk perutnya. Ditambah lagi aroma masakan yang dimasak Nana, istrinya. Memang, sejak Nana hamil, Siwon-lah yang mengalami morning sickness dan penciumannya menjadi lebih sensitive. Padahal dulu, ia selalu merasa bahagia jika ia terbangun karena aroma masakan Nana. Menurutnya, hal itu sangat romantis, ia merasakan kasih sayang Nana karena istrinya itu rela bangun pagi-pagi buta demi membuatkannya sarapan.

            “Oppa, kau sudah bangun?” Nana menyapa Siwon yang sedang berdiri di pintu dapur.

            “Jangan disini, lebih baik kau menunggu di depan saja. Nanti aku akan memanggilmu jika sarapannya sudah siap.” Ujar Nana. Siwon mendekati Nana lalu mengecup pipinya singkat.

            “Araseo.” Ucap Siwon, singkat. Nana membalasnya dengan senyuman. Ia sudah paham kondisi Siwon saat ini. Banyak yang berubah sejak Nana hamil. Biasanya, Siwon akan memeluknya dari belakang dan merecokinya yang sedang membuat sarapan. Namun sekarang? Siwon bahkan tidak bisa bertahan lebih dari 5 menit di dapur.

            “Oppa, sarapannya sudah siap!” teriak Nana dari ruang makan. Siwon yang sedang menonton tv bergegas menghampiri Nana, menarik kursi, dan duduk.

            “Selamat makan!” Ujar Nana.

            Siwon menperhatikan Nana yang tengah memakan sarapannya dengan lahap. Senyumnya mengembang ketika menyadari tubuh Nana sudah mulai berisi.

            “Oppa, kau tidak makan? Kau tidak suka makanannya?”  Siwon menggeleng. Lalu mulai memakan sarapannya dengan pelan. Baru beberapa suap, keningnya mengernyit. Perutnya kembali berulah. Ia buru-buru meminum air putih.

            “Oppa, gwaenchanha?” Siwon mengangguk.

            “Aku sudah selesai.” Ucap Siwon kemudian.

          “Oppa, minumlah susu ini dulu. Setidaknya, agar perutmu terisi.” Nana memberikan segelas susu hangat pada Siwon. Siwon mengambilnya dan menghabiskannya walau dengan susah payah. Ia lalu bangkit dan bersiap-siap pergi latihan bersama Super Junior.

         “Oppa, kau sudah siap?” tanya Nana begitu melihat Siwon keluar dari kamar. Nana mengantar Siwon sampai beranda.

Yeobo, aku berangkat dulu.” pamit Siwon. Nana tersenyum dan tiba-tiba mendaratkan bibirnya di atas bibir Siwon.

“Hati-hati, Oppa!” ucap Nana akhirnya.

“Ah, Ne!” Siwon menjawab disertai dengan senyum sumringah. Tidak biasanya Nana menciumnya lebih dulu. Ia lalu mengecup kening Nana.

“Terima kasih morning kiss-nya.” Nana tersipu.

“Cepat berangkat, nanti kau terlambat.” Nana mendorong tubuh Siwon. Siwon lalu masuk ke mobil dan menyalakan mesin.

“Hati-hati Oppa!” Ujar Nana disertai lambaian tangan. Siwon membalasnya dengan senyuman.

Mianhae Oppa, karena aku, kau jadi seperti ini…” gumam Nana.

_oOo_

            Nana bergerak-gerak gelisah di ranjangnya. Ia melihat jam dinding di kamarnya, yang menunjukkan pukul 23.50 KST.

“Kau belum tidur, Sayang?” tanya Siwon dengan suara serak.

“Aku tidak bisa tidur…” jawab Nana, lirih.

“Kemarilah…!” Siwon membuka lengannya, mengisyaratkan Nana untuk hadir ke pelukannya. Nana pun menurut. Siwon membelai punggung Nana lembut.

“Kenapa? Ada yang kau inginkan?” tanya Siwon. Nana menatap Siwon dengan ragu.

“Marhaebwa, Yeobo…”

“Eumm… Aku ingin jalan-jalan…”

Mwo? Malam-malam begini?” Nana mengangguk.

“Eoh, geurae… Bersiap-siaplah!”

Geundae Oppa, kau baru saja tidur. Kau pasti lelah.”

Gwaenchana, asalkan kau berjanji nanti kau akan tidur. Lagipula, aku tidak tega jika apa yang diinginkan buah hati kita tidak terwujud.” Nana tersenyum.

Gomawo, Oppa…” Siwon membalasnya dengan senyuman. Mereka lalu beranjak turun dan bersiap-siap.

_oOo_

Nana menatap air  Sungai Han yang gemerlapan karena memantulkan cahaya malam kota Seoul. Di wajahnya, terukir sebuah senyuman indah. Siwon yang sedari tadi memperhatikannya dari belakang, berjalan mendekat.

“Kau suka?” Tanya Siwon seraya memeluk Nana dari belakang.

“Eumm…” Nana menganggukkan kepalanya dan meletakkan tangannya di atas tangan Siwon yang melingkar di perutnya.

Mianhae, Oppa…”

“Untuk?”

“Karena aku, kau selama ini jadi menderita…” ucap Nana, lirih.

“Maksudmu?” Siwon mengerutkan keningnya.

“Sejak aku hamil, kau menjadi seperti ini. Sering mual-mual, susah makan, eumh… Seharusnya aku bukan yang mengalaminya?”

“Ah, gwaenchanha… Sebaiknya, memang aku yang mengalaminya. Jika kau yang mengalami morning sickness, dan susah makan, bagaimana dengan asupan nutrisi calon bayi kita? Euumm?” Siwon membelai perut Nana yang datar, karena usia kandungannya baru menginjak tiga bulan.

“Tapi, kau terlihat semakin kurus, Oppa…”

Geurae? Ku rasa tidak.”

“Tapi…”

“Apakah karena pelukanku tak sehangat dulu? Eumm?” Siwon mengeratkan pelukannya setelah memotong kalimat istrinya itu.

Oppa!” teriak Nana, protes.

“Aku serius!” tambahnya. Siwon terkekeh.

Gwaenchanha. Sudah ku katakan berkali-kali bukan? Aku baik-baik saja, Sayang… Seharusnya, aku yang mencemaskanmu. Di masa kehamilanmu begini, aku jarang berada di sampingmu, jarang menemanimu karena kesibukanku. Mian…” Siwon mengecup pucak kepala Nana.

“Ah, gwaenchana Oppa. Tak perlu ada yang kau khawatirkan tentang aku.” Nana membelai punggung tangan Siwon.

“Eoh, Yeobo, lihatlah bintang itu!” Siwon menunjuk beberapa buah bintang.

“Yang mana?”

“Itu!” Siwon kembali menunjuk sebuah rasi bintang. Nana mengangguk setelah menemukannya.

“Itu adalah rasi bintang Orpheus…”

Kau tau mitologi tentang rasi bintang itu?Nana menggeleng. Siwon tersenyum.

“Di masa lalu, saat dewa-dewi masih sering turun ke Bumi untuk berinteraksi dengan manusia, hiduplah seorang penyanyi dan pemusik berbakat bernama Orpheus. Konon bila penyanyi ini berdendang dengan lyranya, burung-burung akan hinggap sejenak, binatang buas akan berkumpul mengelilinginya, bahkan batu-batu serta pohon-pohon pun akan bergeser dari tempatnya semula untuk mendengarkan nyanyiannya.” Nana mendengarkan penjelasan Siwon dengan antusias.

“Orpheus memiliki bakat menyanyi yang diturunkan dari ibunya, Mousai Kalliope yang menikah dengan Oiagros, raja Thrakia. Dewa Apollo sendiri yang mengajarkannya bermain musik dan menghadiahkan sebuah lyra kepada Orpheus. Dengan lyra pemberian Apollo itulah, Orpheus mengembara dari satu kota ke kota lainnya untuk bernyanyi tentang kisah cinta dan tindakan terpuji para pahlawan. Ia menyanyikan lagu-lagu pujian bagi mereka yang telah mengorbankan hidupnya demi tujuan mulia. Saat sedang bermain lyra di depan orang banyak, Orpheus sangat menikmatinya dan bersungguh-sungguh mencapai kesempurnaan. Bila ia dapat menghibur orang banyak Orpheus akan merasa puas dan senang.

            “Tapi tak ada yang lebih membuatnya bahagia selain menikahi wanita pujaannya, Eurydike. Eros, putra Aphrodite yang bersayap, telah menyatukan pasangan muda itu dalam ikatan cinta yang agung dan suci. Mereka menjadi pasangan yang paling serasi dan saling mencinta yang pernah ada di dunia. Setelah menikah, kemampuan bermusik Orpheus semakin meningkat. Berkat kelembutan Eurydike, melodi-melodi tentang cinta yang didendangkan melalui lyra Orpheus terdengar semakin indah. “Tidak ada yang lebih indah di dunia ini selain cinta yang sejati dan serasi,” demikian kata-kata Orpheus yang pernah diucapkan.”

            “Mereka berdua sering duduk berdua di lereng bukit yang permai di Thrakia, memandang keindahan panorama alam yang terbentang di bawah lembah. Kemudian Orpheus mengambil lyranya sementara Eurydike bernyanyi lembut tentang cinta abadi yang telah memberi mereka kebahagiaan.”

            “Suatu hari yang indah dan cerah, kedua sejoli ini berjalan-jalan di Lembah Tempe. Pemandangan di lembah itu sangat memanjakan mata, di satu sisi tampak puncak Olympos yang menjulang tinggi dan di sisi lain terlihat puncak gunung Ossa yang menakjubkan. Di tengah-tengah kedua gunung itu mengalir sungai Peneus yang bergemericik tenang, yang suasana tepiannya teduh karena dinaungi pohon-pohon sycamore tua. Orpheus duduk bersandar di salah satu batang pohon memainkan lyranya sementara Eurydike bernyanyi dan menari tanpa mempedulikan dunia. Di atas mereka, burung-burung berkicau riang dan binatang-binatang kecil berlompatan di sekeliling kaki mereka seolah-olah turut merasakan kebahagiaan pasangan muda itu. Alam dan seisinya seperti anugrah yang diberikan khusus para dewa untuk Orpheus dan Eurydike.” Siwon terdiam sejenak, dan mengeratkan pelukannya pada Nana.

“Tetapi ketiga dewi Takdir yang kejam dan tegas telah memutuskan kebahagiaan itu harus berakhir saat itu juga. Eurydike, yang sedang melompat-lompat dan menari dengan riang di sekeliling Orpheus tidak menyadari langkahnya mendekati sebuah sarang ular. Dan tiba-tiba seekor ular berbisa menjulur ke luar dari sarang dan menancapkan taringnya di kaki Eurydike…”

            “Roh Eurydike terbang ke Dunia Bawah Tanah dengan tangisan pilu meninggalkan kekasihnya, Orpheus, yang tidak sanggup menanggung derita akibat kematian istrinya itu. Sedemikian sedihnya Orpheus sehingga setiap ia menyentuh dawai lyranya, hanya menimbulkan suara lengkingan parau, curahan seluruh penderitaan dan kesedihan hatinya yang mendalam. Ia tidak bisa lagi memainkan nada-nada yang indah tentang cinta dan keindahan dunia.”

“Sembilan hari sembilan malam tidak ada yang sanggup menghentikan kesedihan Orpheus. Dan pada hari kesepuluh sebuah gagasan gila yang tidak pernah dipikirkan manusia sebelumnya muncul di benaknya: Ia akan turun ke kerajaan orang-orang mati untuk membawa kembali Eurydike ke dunia!

            “Sambil memainkan liranya, Orfeus berjalan ke dunia bawah, dunia orang-orang mati. Di sana, musik Orfeus mampu membuat para arwah diam dan mendengarkan. Bahkan orang-orang yang sedang mengalami siksaan abadi (seperti Sisifos dan Tantalos) sejenak melupakan penderitaan mereka begitu mendengar musik Orfeus. Dengan musiknya, Orfeus tidak perlu membayar Kharon untuk menyeberangkannya melewati sungai Stix. Kerberos juga membiarkan begitu saja Orfeus melewati gerbang dunia bawah.

            “Hades, bersama istrinya Persefone, mendengarkan alunan musik Orfeus dan sangat terpesona. Atas permainan musiknya yang sangat indah, Hades memberi Orfeus satu permintaan. Orfeus meminta supaya dia bisa membawa kembali Eurydike ke dunia atas. Hades mengabulkannaya dengan satu syarat: Orfeus harus berjalan di depan Eurydike dan tidak boleh menengok ke belakang sebelum mereka berdua sampai di dunia atas. Orfeus dan Eurydike kemudian berjalan pergi ke dunia atas.”

            “Orfeus sangat gembira namun dia juga khawatir apakah Eurydike masih ada di belakangnya. Begitu Orfeus tiba di permukaan bumi, dia langsung menoleh untuk melihat Eurydike tetapi ternyata Eurydike masih berada di pintu masuk dunia bawah dan belum mencapai dunia atas. Sesuai kesepakatan, Eurydike pun menghilang kembali ke dunia bawah, kali ini untuk selamanya. Lagi-lagi Orfeus harus berduka.”

            “Suatu hari beberapa Mainad (perempuan pengikut Dionisos) di Trakia merayunya tetapi Orfeus menolak mereka karena dia hanya setia pada Eurydike. Marah karena ditolak, para perempuan itu melempari Orfeus dengan batu dan kayu. Tetapi musik Orfeus membuat batu dan kayu itu menolak melukai Orfeus. Para perempuan itu semakin marah dan akhirnya memotong-motong tubuh Orfeus. Mereka melempar kepala dan lira Orfeus ke sungai Hebrus. Sambil terbawa aliran sungai, Kepala dan lira Orfeus terus melantunkan lagu dan musik sedih. Para Muse (dewi musik) kemudian mengumpulkan semua potongan tubuh Orfeus dan menguburnya di Libethra, sementara Zeus menempatkan lira Orfeus di angkasa sebagai rasi bintang lyra. Setelah dikubur, arwah Orfeus pergi ke dunia bawah. Di sana, Orfeus bertemu lagi dengan Eurydike. Kali ini tak ada yang bisa memisahkan mereka.”

            “Sayang…” Panggil Siwon setelah mengakhiri ceritanya.

            “Ya?!” jawab Nana.

“Kau tau apa maksud dari cerita itu?”

“Apa?” Nana balik bertanya.

“Walaupun begitu banyak rintangan yang terbentang, sesulit apapun itu, jika dia sudah tercipta untuk kita, akan tetap bersatu…” Nana tersenyum.

“Kau akan mengatakan, seperti kita, bukan?” Siwon terkekeh mendengar tebakan Nana.

“Heumm… Rupanya sekarang istriku sudah bisa pikiranku…” Nana tertawa.

“Tentu saja…” Ucap Nana dengan nada bangga.

Geundae Oppa…”

“… Jika aku kita berada dalam posisi itu, apakah kau akan melakukan hal yang sama dengan dengan Orpheus?” Siwon menghela nafas.

“Itu sangat berat, Sayang…”

“Heum?” Kening Nana berkerut.

“Karena aku tidak bisa bermain harpa. Aku hanya bisa bermain drum dan gitar. Eumm, menurutmu, apakah dewa-dewa itu mau mendengarkan permainan drum-ku? Bukankah pada zaman itu masih belum ada drum?”

“Eung? Ya!!!” Teriak Nana gemas. Sebenarnya, ia mengira Siwon akan menjawabnya dengan kata-kata yang romantis, tapi?

“Hahahaa…” Siwon tertawa lepas.

_oOo_

6 months later

            “Sayang, kau mau kemana?” tanya Siwon begitu melihat Nana mengenakan pakaian olahraga, rambutnya dikuncir ekor kuda.

            “Aku ingin jalan-jalan sebentar Oppa. Kata dokter, jika aku banyak berjalan, nanti akan memudahkan proses persalinan.”

Geurae? Kalau begitu, aku akan menemanimu.” Siwon melipat koran pagi yang sedang dibacanya dan mendekati Nana.

Kajja!” Siwon menggenggam tangan Nana dan berjalan disampingnya.

_oOo_

            Nana menyeka keringat yang mengalir di pelipis dan lehernya. Sepertinya, kehamilannya yang sudah berusia 9 bulan membuatnya cepat lelah. Kini ia dan Siwon tengah duduk di sebuah bangku di bawah pohon maple yang daunnya sudah mulai menguning.

            “Bagaimana rasanya menghirup udara pagi di musim gugur?” tanya Siwon. Nana membuka mata dan tersenyum.

            “Selalu segar dan membahagiakan…” Nana mengerling pada Siwon yang duduk di sebelahnya.

            “Kenapa?”

“Eumm… Jika kau bisa menebak alasannya dengan benar, aku akan memberikan hadiah padamu…”

“Eoh, geurae?” Nana mengangguk.

“Eummm… karena ada aku disampingmu.” Jawab Siwon dengan tegas dan mantab.

“Aish, kau terlalu percaya diri Tuan Choi … ckk… ckk… ckk…” Nana menggeleng. Siwon tertawa lepas.

Omo! Oppa, bayinya bergerak!” pekik Nana.

“Eoh, jinjja?” Siwon segera menempelkan tangannya pada perut Nana yang membuncit. Nana meletakkan tangannya di atas tangan Siwon dan menggerakkan tangan Siwon mengusap tangannya.

“Ah, iya! Aku bisa merasakannya!” seru Siwon. Siwon kemudian menunduk dan mendekatkan telinganya ke perut Nana.

“Anakku, kau bisa mendengarkan Appa, Nak?” Siwon mengusap perut Nana.

“Tumbuh dengan baik ya Sayang. Walaupun kau belum lahir, Appa yakin kau adalah anak yang hebat.”

“…Saranghae, Chagi…” lanjut Siwon. Ia lalu mengecup perut Nana. Nana tersenyum dan membelai rambut hitam Siwon.

_oOo_

Ne Eomma, aku akan mencari penerbangan paling cepat setelah ini…”

“Tolong jaga dia, Eomma…” Siwon menutup telefonnya. Nafasnya menderu kasar. Hatinya tidak tenang, sungguh! Kini Nana sedang bertaruh nyawa melahirkan buah hati mereka, sedangkan ia tidak bisa menemaninya. Ya, kini Siwon sedang berada di Shanghai untuk show Super Junior..

“Kau kenapa, Siwon-ah?” tanya Sungmin melihat Siwon yang gelisah.

“Nana melahirkan.”

Geurae? Chukhae! Oya, laki-laki atau perempuan?” Siwon menggeleng.

“Dia masih menjalani proses persalinan…” Sungmin menghela nafas.

“Tenanglah, dia wanita yang kuat. Dia pasti bisa menjalaninya. Ku doakan, semoga persalinannya lancar.” Ucap Sungmin seraya menepuk bahu Siwon.

Gomawo, Hyeong…” Sungmin membalasnya dengan senyuman.

_oOo_

Mentari pagi di musim gugur bersinar lembut. Dedaunan yang berwarna-warni dan mulai berjatuhan menambah keindahan di negeri yang dijuluki “The Land of Morning Calm” ini. Suasana yang sayang untuk dilewatkan, termasuk oleh Siwon dan Nana, dan tentu saja dengan buah hati mereka, Choi Young Dae.

“Lihatlah Oppa, senyumnya mirip denganmu.” Ujar Nana menunjukkan wajah bayi yang berada dalam gendongannya.

“Tentu saja. Nanti dia akan tampan sepertiku.” Jawab Siwon, bangga.

“Eumm… lihatlah Sayang, Appa-mu selalu saja seperti itu. Sangat percaya diri…!” ujar Nana pada bayinya.

“Hei, tapi aku benar, kan?” Nana hanya tersenyum. Ya, seluruh dunia pun tau kalau Choi Siwon itu tampan.

“Sayang…” panggil Siwon pada Nana.

“Eumm?”

Mianhae… Selama persalinan aku tidak berada di sampingmu. Nana tersenyum.

Gwaenchanha, Oppa… Yang penting kita baik-baik saja…” Siwon tersenyum.

Gomawo…” bisiknya.

“Oya, kau masih ingat taruhanmu malam itu?” tanya Siwon.

“Yang mana?”

“Malam itu, di tepi sungai Han.” Nana sejenak berpikir, lalu mengangguk ketika ia telah mengingatnya.

“Ah, ne, aku ingat. Waeyo?”

“Aku sudah tau jawabannya.” Siwon tersenyum percaya diri.

Geurae? Memangnya apa jawabannya?”

“Kau menyukai musim gugur karena mengingatkanmu pada kebersamaan kita. Pernikahan kita pada musim gugur, kan? Tepat setahun yang lalu…” jelas Siwon, mantab. Nana menggeleng.

Ani.  Pada musim gugur, aku merasa hidup kembali. sejak setahun lalu.”

“Berarti aku juga benar! Karena pernikahan kita bukan?” Siwon berargumen. Nana terkekeh mendengarnya.

Nde Oppa, dan sekarang, bayi kita juga lahir di musim gugur…”

Geurae, kalau begitu mana hadiah untukku?”

“Apa yang kau mau?” tanya Nana. Siwon berpikir sejenak.

“Eumm… Sepertinya Young Dae membutuhkan seorang adik untuk menemaninya…” jawab Siwon dengan senyum menggoda.

Mwo?! Ya, Oppa!!!” Siwon tertawa puas.

“Sssshhhttt… Jangan berisik Sayang, nanti kau mengganggunya…” Nana mengalihkan pandangannya pada Young Dae.

Siwon tersenyum lalu mengecup puncak kepala Nana.

Saranghae, Chagiya…” Nana tersenyum. Ia menoleh pada Siwon,

Arra. Nado saranghaeyo, Choi Siwon…” lalu senyuman indah kembali terukir di bibirnya. Siwon mendekatkan wajahnya lalu mencium Nana lembut.

 

The End

Advertisements

9 thoughts on “Gwaenchanha…!!! (Created For Me Sequel)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s