Awake (Oneshoot-Songfic)

Awake (OneShoot-SongFic)

Siwon Nana awake

 

Title                       : Awake (OneShoot-SongFic)

Main Casts          : Choi Siwon, Im Nana

Support Casts    : Nyonya dan Tuan Choi, Choi Minjee, etc.

Length                  : Oneshoot

Genre                   : Married life, Angst, Romance

Disclaimer           : These casts belong to them, i just use their name. But, this story belongs to me. I    made this ff based on my own imagination.

FF ini terispirasi dari lagu Secondhand Serenade, dengan judul Awake. Hak cipta lagu adalah milik mereka.

Please don’t bash. And finally,

Happy reading… 🙂

_oOo_

 

 

With every appearance by you, blinding my eyes,

I can hardly remember the last time I felt like I do.

You’re an angel disguised

Ahjussiii…” Seorang gadis kecil,berumur 7 tahun berlari melintasi halaman sekolah dengan antusias melihat seorang laki-laki yang dipanggilnya “Ahjussi” tengah berdiri di depan gerbang, menunggunya.

“Yaa, Minjee-ya, hati-hati…!!!”

Bukk.

“Huaaaa… Ahjussiii…” Baru selesai lelaki itu mengingatkannya untuk berhati-hati, gadis kecil itu jatuh tertelungkup. Lelaki itu pun bergegas mendekatinya.

“Minjee-ya, gwaencahanayo?”

Appoooohiks-hiks…” gadis kecil itu menunjukkan lututnya yang berdarah dan menangis sesenggukan.

“Aish, Ahjussi sudah mengingatkanmu untuk berhati-hati, tapi kau…”

“Huaaaa…” gadis kecil itu semakin mengencangkan suara tangisnya. Di saat ia sedang kesakitan seperti ini, pamannya malah memarahinya.

Chogiyo, ada yang bisa saya bantu? Minjee-ya, mengapa kau menangis?” Tiba-tiba suara seorang wanita menyela. Minjee dan sang paman menoleh pada asal suara. Nampak seorang wanita dengan rambut bergelombang, mengenakan setelan kemeja putih dengan blazer dan rok berwarna maroon, tengah menunduk.

Sonsaengnim, appooo…” Minjee menangis dan menunjukkan lukanya.

“Aigoo, kau terluka? Ayo Sonsaengnim obati…” Minjee mengangguk dan bangkit dengan dibantu wanita itu.

“Maaf, apakah Anda akan tetap disini?” wanita itu bertanya pada paman Minjee.

“Eoh? Ehm… Hmm, aku akan menemaninya.” Paman Minjee seakan tersadar dari lamunannya dan bangkit.

“Kau masih bisa berjalan? Atau mau Sonsaengnim gendong?” tanya wanita itu, yang ternyata adalah Ibu guru Minjee. Minjee hanya terdiam dan melirik pamannya.

“Baiklah, sini Ahjussi yang akan menggendongmu.” Mereka lalu berjalan menuju ruang kesehatan sekolah.

***

                “Terima kasih atas bantuannya.” Ucap lelaki itu, sedikit membungkuk.

Nde, itu adalah tugas kami, Tuan…” Wanita itu menjawab diiringi senyuman.

“Siwon. Choi Siwon.” Lelaki itu mengulurkan tangannya, memperkenalkan diri. Terlihat wanita itu sedikit mengerutkan dahinya dan dengan ragu mengulurkan tangan.

“Ah, Im Nana imnida.”

_oOo_

And you’re lying real still,

but your heart beat is fast just like mine.

And the movie’s long over,

that’s three that have passed, one more’s fine

Siwon berdiri dari kursinya, melangkah mendekati dinding kaca di salah satu ruangannya, menatap suasana sore di kota Seoul dari ketinggian lantai 13 di kantornya. Pertengahan musim semi, musim yang menjadi favoritnya, musim yang mengingatkan pada pertemuannya dengan seorang wanita, tepat setahun yang lalu.

Siwon melirik arlojinya, lalu menghela nafas.

“Tiga jam lagi, ya, tiga jam lagi…”

***

Sunyi. Ya, hanya kesunyian yang menyelimuti mereka berdua, Choi Siwon dan Im Nana. Mereka tengah berjalan di jalan setapak yang dihiasi cherry blossom di kedua belah sisinya. Suasana langit kurang begitu cerah, hanya cahaya lampu taman temaram yang meneranginya.

“Eumm… Siwon-ssi, ada yang ingin kau bicarakan?” Siwon menoleh mendengar pertanyaan Nana. Ia sedikit mengerutkan keningnya.

“Hmm… kau terlihat lebih pendiam hari ini. Apakah ada yang mengganggu pikiranmu?” tanya Nana lagi.

“Emm… Sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan padamu.” Jawabnya.

Mwoya?” Siwon menghentikan langkahnya. Nana juga ikut berhenti lalu menatap Siwon. Siwon lalu membelokkan badannya menghadap Nana.

“Ehm..” Ia membersihkan tenggorokannya yang terasa kering.

2 detik…

5 detik…

7 detik…

Siwon masih terdiam memandang Nana.

“Siwon-ssi, katakan saja…”

“Atau kalau kau masih belum siap, tidak apa-apa. Lain kali, kalau kau sudah siap, kau bisa mengatakannya padaku…” Nana menepuk bahu Siwon lalu tersenyum hangat padanya.

Kajja kita pulang.” Nana melangkah mendahului Siwon.

Grep.

Nana membeku di tempatnya saat ia merasakan sepasang tangan kekar tengah melingkar di pinggangnya, dan badan seorang namja menempel di punggungnya.

“Im Nana, menikahlah denganku!” ucap Siwon cepat dan tegas.

Ya Tuhan, jantung Nana belum stabil karena pelukan Siwon yang tiba-tiba, kini ia harus mendengar pertanyaan, ani, itu lebih seperti perintah, dari Siwon untuk menikah dengannya. Padahal, di antara keduanya saat ini tidak ada hubungan apa-apa, hanya hubungan pertemanan, tidak lebih.

“Ma…  Maksudmu?” Tanya Nana dengan suara bergetar.

“Aku mencintaimu. Aku ingin kau menikah denganku, menjadi istriku, menjadi ibu dari anak-anakku, dan menua bersama…”

“Im Nana, aku tau, caraku ini sangat jauh dari kata romantis seperti yang diharapkan oleh kebanyakan wanita, dan selama ini, kita hanya berteman. Tapi aku sungguh-sungguh dengan perasaanku… Sudah sejak lama aku memendamnya, aku mencintaimu, aku… menginginkanmu…”

Tes.

Setitik air mata mengalir di pipi Nana.

“Tapi,bukan itu, kau tau masa laluku…” Ucap Nana dengan suara pelan dan bergetar.

“Im Nana, aku tau kau memiliki trauma mengenai pernikahan karena kondisi kedua orang tuamu, tapi aku berjanji, kita akan bersama-sama, aku tidak akan pernah meninggalkanmu…”

“Mungkin, aku tidak akan selalu membuatmu bahagia, mungkin dalam perjalanan kita nanti akan ada duka, namun, jika kita bersama, kita akan mampu melewatinya. Dan aku berjanji, aku tidak akan membiarkanmu melewatinya sendiri…”

Ya, selama ini Nana mengalami trauma karena keadaan orang tuanya. Ayahnya suka mabuk dan sering melakukan kekerasan pada ibunya. Ayahnya juga sering membawa pulang wanita ke rumah. Saat itu Nana masih berusia sekita 10 tahun. Namun ia sudah bisa memahami apa yang terjadi dan sakit melihat ibunya yang begitu terpuruk. Ketika ia SMP, ayahnya meninggalkan mereka. Nyonya Im begitu mencintai suaminya, walaupun perilaku suaminya seperti itu. Menginjak tingkat dua SMA, Nyonya Im meninggal karena sakit-sakitan akibat depresi. Saat itu ia semakin membenci ayahnya. Menurutnya, ayahnyalah yang telah membunuh ibunya. Hingga saat ini, ia cenderung menutup diri dari laki-laki. Hal itu yang membuat Siwon harus berjuang selama setahun terakhir untuk mendekatinya  dan meyakinkannya, bahwa tidak semua lelaki itu seburuk ayahnya.

Siwon bahkan rela menunggu dan berjuang selama  ini. Padahal, jika ia mau, ia bisa saja dengan  sangat mudah mendapatkan wanita yang ia inginkan. Ia seorang yang sangat tampan dan CEO sebuah perusahaan ternama di Korea. Tentu saja, banyak gadis yang rela mengantri untuk mendapatkannya. Namun, yang ia inginkan hanyalah Nana. Gadis yang “hanya” berprofesi sebagai guru sekolah dasar. Dan saat ini, ia sudah tidak sanggup menahan perasaannya. Tidak peduli bahwa selama ini hubungan mereka hanya sebatas teman, tidak lebih.

Siwon menenggelamkan wajahnya di bahu Nana. Entah mengapa, ketakutan menghantam dirinya. Kini ia sangat takut, takut Nana menolaknya. Lebih dari itu, ia takut setelah ini, sikap Nana akan berubah padanya, menjauhinya.

Nana menempatkan kedua tangannya di atas kedua tangan Siwon. Ia lalu melepaskan pelukan Siwon dan berbalik menghadapnya. Nana kemudian meletakkan kedua tangannya di dada bidang Siwon.

Deg.

Deg.

Deg.

Terdengar suara detak jantung Siwon yang bertalu-talu, seirama dengannya. Siwon memejamkan matanya. Hatinya berdebar tak karuan, seakan menanti hakim menjatuhkan vonis padanya.

“Siwon-ssi…” Ucap Nana menggantung.

“Apa kau yakin?…”

“… Apa kau yakin dengan ucapanmu? Kau mau menikahiku? Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya seorang guru sekolah dasar dengan latar belakang yang…” Nana menghela nafas.

“Perbedaan kita terlalu jauh. Kau berasal dari keluarga terhormat. Apakah orang tuamu akan menerimaku nantinya?  Apa kata dunia jika kau menikahi wanita sepertiku? Heemm?”

Orang tua. Bisa di hitung dengan jari berapa kali dalam setahun mereka bertemu. Siwon memang berasal dari keluarga chaebol, dan orang tuanya begitu sibuk dengan segala urusan bisnisnya. Sejak kecil Siwon dirawat oleh Jung Ahjumma, kepala pelayan di rumah Siwon dan kakak perempuannya. Merasakan kasih sayang dan kehangatan dari orang tua, bagaikan sebuah mimpi baginya. Orang tuanya hanya memberikan berbagai macam hadiah pada Siwon dan menuruti segala keinginannya, sebagai bentuk “ungkapan kasih sayang”. Tentu saja bukan hanya itu yang ia butuhkan. Ia membutuhkan kasih sayang dan kehangatan yang sesungguhnya.

Pengalaman masa kecilnya ini membuat Siwon tumbuh menjadi pribadi yang keras, namun rapuh. Ia berusaha mencari-cari kasih sayang yang ia butuhkan. Ia banyak mengenal wanita dan berharap akan mendapatkan hal yang ia butuhkan. Namun gagal. Wanita yang ia kenal malah hanya bisa merayu dan menggelayut manja padanya. Mereka juga mengejar-ngejar Siwon, membuat Siwon jengah. Namun berbeda dengan Nana. Sisi gelap dirinya seolah diterangi oleh Nana. Sejak pertama bertemu, ia melihat raut wajah keibuan, sabar, dan penyayang di wajah Nana. Ia melihat bagaimana Nana mengobati luka Minjee, begitu lembut, seperti seorang ibu yang tulus mengobati anaknya. Ketika ia mencoba mendekati Nana, wanita itu malah menjauh dengan teratur darinya. Itu membuat Siwon penasaran dan tentu saja, merindukannya. Ia berusaha keras mendekati Nana. Ia berusaha mengosongkan jadwal meeting di sore hari, demi menjemput Minjee di sekolahnya, ani, demi bertemu Nana saat menjemput Minjee. Ia juga rela melukai tangannya agar Nana mengobatinya, demi bisa berbicara dengannya. Ia juga menyogok Minjee dengan es krim dan coklat agar Minjee mau membujuk Nana agar pulang bersama mereka. Dan entahlah, hal-hal bodoh apa lagi yang telah dilakukan seorang Choi Siwon. Im Nana, yang telah terbiasa dengan kehadiran Siwon pun akhirnya mulai terbuka dan bersedia menjalin hubungan pertemanan dengannya.

Selama ini Siwon tidak pernah berani mengungkapkan perasaannya secara langsung pada Nana. Ia selalu menunggu saat yang tepat. Selama ini, ia merasa nyaman dengan kehadiran Nana. Ia merasa dihargai. Hanya kepada Nana, ia menunjukkan sisi dirinya yang sebenarnya. Nana  bisa memahaminya. Jika ia mengungkapkan perasaannya yang sesungguhnya, ia takut Nana akan menjauh dan sikapnya berubah. Namun sekarang, ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Tidak ada waktu yang tepat, semua tergantung pada kemauan kita.

Grep.

Siwon membuka mata kaget mendapati Nana memeluknya. Terdengar isak tangis keluar dari bibir Nana.

“Baiklah, kita akan mencobanya…” Kita? Apakah ini berarti Nana menerimanya?

“Kau menerimaku?” Nana mengangguk. Seulas senyum terukir di bibir Siwon.

_oOo_

Will you stay awake for me?

I don’t wanna miss anything

I don’t wanna miss anything

I will share the air I breathe,

I’ll give you my heart on a string,

I just don’t wanna miss anything.

“Selamat sore, Sayang…” Siwon masuk dengan sebuket lily putih di tangannya. Ia lalu berjalan mendekati istrinya yang tengah berbaring di ranjang. Ia mengecup kening istrinya dan memasukkan bunga itu ke dalam vas, di nakas samping ranjang.

“Bagaimana keadaanmu? Maaf aku tadi pergi agak lama karena mendadak ada urusan yang harus aku tangani di kantor. Bukankah ada Minjung nuna yang menjagamu selama aku pergi? Apa yang kalian bicarakan? Hemm?” Siwon menatap wajah istrinya yang tetap terpejam. Ia menghela nafas. Pandangannya menyusuri setiap jengkal tubuh istrinya yang dibalut seragam pasien berwarna biru muda. Hatinya sesak melihat alat-alat medis yang menempel di tubuh istrinya.

***

“Aaaarrggghhhh…” Nana mengejan, mendorong bayi itu keluar dari rahimnya. Keringat bercucuran di seluruh wajahnya. Dadanya naik turun menstabilkan nafas.

“Ya, sedikit lagi, tarik nafas, keluarkan…” dokter memberikan instruksi. Siwon yang mengenggam tangan istrinya dan menyeka keringat di wajah Nana.

“bertahanlah Sayang, sedikit lagi. Kau pasti bisa. Kau wanita yang hebat, kau pasti bisa..” Bisik Siwon, memberikan semangat.

Oppaaaaa… Aaarrghhh…” Nana kembali mengejan. Ia mencengkeram  erat segala benda yang bisa ia gapai. Air mata mengalir di pipinya. Ia teringat ibunya.

Eommaeomma…” ucapnya lirih.

Siwon menggenggam tangan Nana. Ia kembali mengecup istrinya.

“Sayang, ada aku di sini… Suamimu…” Nana memejamkan matanya. Ia kembali menarik nafas dan mulai mendorong bayinya.

Oppaaaa… aarghh…” Air mata Siwon mengalir melihat Nana. Ia bersumpah, ia tidak akan pernah menyakiti Nana. Sebisa mungkin, ia akan membuat istrinya selalu bahagia. Melihat istrinya kini, sedang bertaruh nyawa, berjuang demi melahirkan buah cinta mereka ke dunia. Jika saja ia bisa, ia bersedia menukarnya. Biarkan ia yang merasakan kesakitan itu, jangan Nana.

“Nana… Nana…!!!” Siwon memanggil Nana dengan suara panik, mendapati Nana yang tiba-tiba terdiam. Dokter dan para perawat segera mengambil peralatan medis dan melakukan pertolongan dengan cara yang tidak Siwon mengerti.

Uisanim, apa yang terjadi? Ada ada dengan istri saya?” Siwon bertanya dengan panik. Airmata mengalir di pipinya.

“Saya mohon Anda tenang, kami sedang mencoba menolongnya. Kami harus melakukan operasi caesar pada istri Anda untuk menolong bayinya. Tekanan darah istri Anda mendadak tinggi sehingga ia pingsan. Kami akan melakukan yang terbaik.”

***

Rentetan kejadian itu kembali berputar di memori Choi Siwon. Seminggu. Sudah seminggu Nana koma, sejak kelahiran bayi pertama mereka.

Siwon meraih tangan Nana dan mengecupnya.

“Sayang, ku mohon bangunlah, tetaplah bertahan untukku, untuk putri kita. Aku membutuhkanmu, sangat membutuhkanmu. Aku tidak mau melewati hidup ini tanpamu. Aku tidak bisa… aku tidak bisa…” Siwon menggelengkan kepalanya. Air mata kembali mengalir dimatanya.

“Maukah kau tetap bertahan untukku?”

_oOo_

 

I’m trying real hard not to shake. I’m biting my tongue,

but I’m feeling alive and with every breathe that I take,

I feel like I’ve won. You’re my key to survival.

Yeobo, lihatlah, putra kita tampan kan? Matanya mirip denganmu, dan tentu saja tampan sepertiku.” Siwon mengepalkan kedua tangannya. Ia sakit hati dan iri mendengar sepasang suami istri yang berdiri tidak jauh darinya tengah bercakap bahagia tentang putra mereka yang tengah berada di ruang rawat bayi. Ia juga ingin seperti itu. Ia ingin melihat putri pertamanya dengan Nana. Namun apa yang terjadi? Ia ingin marah, tapi pada siapa?

***

Oppa, jika menurutmu, anak kita laki-laki atau perempuan?” Siwon mengelus perut Nana yang sudah mulai membuncit, karena usia kehamilannya sudah menginjak enam bulan.

“Hmm… Aku yakin ia perempuan.”

Mwo? Mengapa kau seyakin itu?”

“Karena kau bertambah cantik saat mengandung, Chagi…” Nana tersipu. Siwon mengacak puncak kepalanya.

Oppa, mengapa kita tidak menanyakan jenis kelaminnya saat USG saja?”

Andwe, aku tidak mau. Biar menjadi kejutan saat ia melahirkan nanti. Bukankah hal itu yang menjadi pertanyaan paling besar saat seseorang melahirkan? Hemm?” Nana mengangguk.

Araseo. Oppa, bolehkah melahirkan dengan normal?” Siwon mengerutkan keningnya.

“Kau yakin?”

Ne. Hasil pemeriksaanku selama ini menunjukkan aku baik-baik saja, kan?”

“Tapi Yeobo, kau memiliki riwayat hipertensi. Kau tau kan kalau itu berbahaya?”

“Aku tau Oppa. Tapi sudah sangat lama aku mengalaminya. Lagipula, aku selalu menjaga pola makanku selama ini. Bukankah kau ingin merasakan perasaan mendebarkan ketika menunggu anak pertamamu dilahirkan? Aku juga Oppa… Aku juga ingin merasakan perjuangan seorang ibu yang sedang melahirkan anaknya di dunia.”

“Kau yakin?” Nana mengangguk mantap.

“Baiklah. Kita akan mengonsultasikannya dengan uisanim. Jika ia mengijinkan, aku juga akan mengijinkanmu.”

Gomawo Oppa…” Nana mengecup pipi Siwon lalu melingkarkan tangannya di pinggang suaminya itu. Siwon tersenyum simpul.

“Aku hanya ingin yang terbaik bagimu Sayang. Aku akan selalu mendampingimu melewati semuanya. Aku akan menemanimu selama persalinan nanti dan bersama-sama merawat anak kita. Aku juga tidak mau anak kita kekurangan kasih sayang…” ucap Siwon pelan. Namun Nana dapat mendengarnya dengan jelas dan mengangguk.

Gomawo Oppa…” Siwon mengecup puncak kepala Nana lalu memeluknya erat. Dalam hatinya ia sangat bersyukur Tuhan telah menghadirkan Nana dalam hidupnya. Dengan adanya Nana disisinya, ia merasa telah memiliki dunia. Ditambah lagi dengan hadirnya calon bayi mereka. Kini, Nana dan buah hati mereka adalah kunci kehidupan dan kebahagiaan bagi Siwon.

***

“Maafkan Appa, Nak…”

Appa belum bisa memenuhi janji Appa untuk memberikan kasih sayang yang utuh padamu…” Siwon menunduk, membiarkan air mata yang telah menggenang di pelupuk matanya mengalir. Ia lalu mengangkat kepalanya kembali, memandang bayi kecilnya yang tengah tertidur di dalam box kaca di ruang rawat bayi.

“Maafkan Appa, kau bahkan belum merasakan pelukan hangat pertama dari Eommamu…”

­_oOo_

And if it’s a hero you want,

I can save you. Just stay here.

Your whispers are priceless.

Your breathe, it is dear. So please stay near.

“Nana… Im Nana…” Nana menoleh begitu mendengar suara seorang lelaki tengah memanggilnya. Keningnya sedikit berkerut begitu ia melihat sesosok pria setengah baya tengah berjalan ke arahnya.

“Maaf, apakah Anda memanggil saya?”

Ne, kau Im Nana bukan? Anak perempuan Im Kyubok?” Nana sedikit menggeram mendengar nama ayahnya. Sudah sangat lama Nana berusaha melupakan nama itu.

Ne. Waeyo?”

“Hahahaa… Akhirnya aku menemukanmu. Aku datang karena ayahmu. Ia memiliki hutang padaku dan ia tidak bisa membayarnya. Ia menyuruhku memintanya pada istrinya atau padamu.”

Mwo? Dimana ia sekarang?”

“Hmmm… Kurasa, ia sudah menjadi gelandangan. Ah, apa peduliku? Yang aku perlukan adalah uangku kembali.”

“Aku sudah lama tidak bertemu dengannya. Yang berhutang adalah dia, jadi mintalah padanya. Aku tidak akan membayarkan hutangnya.”

“Hahahaaa… ternyata kau adalah wanita yang keras ya… hei, kau tidak bisa seperti itu. Ia telah menandatangani pernyataan bahwa kau adalah ahli warisnya, dan aku berhak menagih hutangnya padamu…”

“Jika aku tidak mau?”

“Jika kau tidak mau membayarnya, maka aku akan menuntutmu atau…” Nana bergidik ngeri menyadari ahjussi itu tengah menatapnya liar.

“Hmmm… Kau sangat cantik. Jika kau bekerja di klubku, kau pasti laris… Hahahaaa…”

“Hentikan. Cepat katakan, berapa banyak yang harus aku bayar!” Nana mulai jengah dengan tingkah lelaki tua itu.

“ 2,5 juta Won.”

“Mwo? Kau gila?”

“Hahaaa… bukan aku yang gila, tapi ayahmu sayang…”

“Baiklah, beri aku waktu.”

“Hmmm… aku tunggu sampai besok lusa.”

Mwo? Darimana aku mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu tiga hari?”

“Itu masalahmu. Semua pilihan berada di tanganmu Nona manis…” lelaki itu menyeringai lalu pergi meninggalkan Nana.

***

Agasshi, kau sudah dibebaskan.” Nana segera berdiri begitu mendengar kabar itu.

Mwo? Bagaimana bisa?” polisi itu mengangkat bahunya.

“Ia sudah menunggumu di lobi.” Ia? Siapa yang dimaksud polisi ini?

Sesampainya di lobi, Nana melihat sesosok pria yang sangat dikenalnya tengah duduk gelisah, raut wajah cemas terukir jelas di wajahnya.

“Im Nana…” lelaki itu segera bangkit melihat Nana dan langsung memeluknya. Nana hanya terpaku.

“Im Nana, apa yang terjadi? Mengapa kau tidak menceritakannya padaku? Jika kau menceritakannya, semua ini tidak akan terjadi…”

“Kau tau, aku sangat khawatir…” lelaki itu terus berbicara tanpa melepaskan pelukannya. Ia lalu mengangkat wajah Nana dengan kedua tangannya.

“Katakan, apa kau baik-baik saja? Apa yang ia lakukan padamu? Apa yang mereka lakukan padamu? Heh?” air mata kembali keluar dari mata Nana yang memang sudah sembab karena menangis.

“Nana-ya, gwaenchanayo?”

Ne, nan gwaenchana. Kau tidak seharusnya melakukan ini…” Ucap Nana lirih.

“Maksudmu?”

Prok prok prok.

Terdengar suara tepukan dan kekehan seorang pria tua.

“Wah, wah wah… Adegan yang sangat romantis. Hmm… Seorang gadis biasa yang diselamatkan sang pangeran. Eoh, aku kira itu hanya ada di negeri dongeng, ternyata… hahahaa…”

“Katakan Im Nana, apa yang kau berikan padanya hingga ia rela melunasi hutang dan mengeluarkanmu dari sini? Tubuhmu?”

“Siwon-ssi, jebal. Jangan dengarkan dia…” Nana mengelus lengan Siwon dan menggenggam tangannya yang telah kaku, mengepal, menahan amarah. Ia tersinggung Nana direndahkan seperti itu.

“Heheheee… terima kasih anak muda…” lelaki tua itu mengibas-ngibaskan amplop berisi uang dan melenggang pergi.

***

Nana meletakkan secangkir kopi hangat di meja depan Siwon lalu duduk didepannya.

“Siwon-ssi, Kau tidak seharusnya melakukan itu. Itu adalah masalahku, aku akan mengatasinya sendiri” Siwon menarik nafas, menenangkan dirinya. Ia paham sikap Nana. Selama ini ia telah terbiasa berjuang sendiri, dan tidak mudah baginya untuk menerima bantuan seseorang begitu saja.

“Nana-ya, aku sangat khawatir begitu mendengar kau ditahan…”

“Tunggu, darimana kau tau bahwa aku di tahan?”

“Minjee menelfonku begitu melihat kau pergi dengan kawalan polisi….” Ya, begitu mendengar berita itu, Siwon langsunng mencari Nana di kator polisi dan menghubungi pengacaranya. Ia kemudian membayar hutang Nana dan jaminan Nana.

“Hmmm… tentang uang itu…”

“Kau tidak usah memikirkannya.” Potong Siwon.

Mwo? Tidak bisa…!!! Aku akan menggantinya.”

“Nana-ya, jika kau menganggapku temanmu, ku mohon, lupakanlah masalah ini…”

“Siwon-ssi, jika kau menganggapku temanmu, ku mohon, biarkan aku membayarnya…” Siwon melihat sorot mata Nana yang bersungguh-sungguh. Ya, inilah Nana.

Siwon menghela nafas.

“Baiklah, dengan satu syarat.”

Mwoya?”

“Berhenti memanggilku dengan embel-embel  ‘-ssi’…!!!”

Mwo?” Ucap Nana kaget.

“Ayolah, itu bukan syarat yang sulit bukan?!” Siwon menggerak-gerakkan alisnya.

“Hmmhh… aku tidak bisa. Aku sudah nyaman dan terbiasa memanggilmu seperti itu…” Siwon memasang wajah cemberut. Nana terkikik geli melihatnya. Sangat tidak pantas seorang lelaki maskulin seperti Siwon memasang mimik muka cemberut seperti itu.

“Aigoo… ayolah, jangan merajuk seperti murid-muridku. Jika kau seperti ini, kau sama saja dengan Minjee…” Siwon akhirnya tergelak karena tidak tahan.

“Hmmm… Araseo. Kau boleh memanggilku dengan sebutan apapun yang kau suka…”

Nana tersenyum lebar. Senyuman yang menular pada Siwon.

“Nana-ya, semua yang baru saja aku lakukan, tidak ada artinya dibanding keselamatan dan kebahagiaanmu. Jika seorang pahlawan yang kau butuhkan, aku bersedia menjadi pahlawan itu. Kehadiran dan senyum kebahagiaan di wajahmu, hanya itu yang aku butuhkan. Tidak lebih.” Ucap Siwon dalam hati.

_oOo_

Say my name. I just want to hear you.

Say my name. So I know it’s true.

You’re changing me. You’re changing me.

You showed me how to live.

So just say. So just say,

Nana sedang menyiapkan baju untuk Siwon ketika Siwon keluar dari kamar mandi.

“Oh, Kau sudah selesai?” Nana mengalihkan pandangan pada Siwon.

Pipi Nana memerah ketika mendapati Siwon hanya memakai handuk yang dililitkan di pinggangnya. Cepat-cepat ia menundukkan kepalanya.

“Ini, sudah kusiapkan bajumu.” Siwon tersenyum melihat Nana yang sedikit salah tingkah. Ia mendekati Nana, ingin sedikit menggoda wanita yang beberapa jam lalu resmi menjadi istrinya.

“Untuk apa baju itu? Bukankah begini lebih baik?” Siwon merentangkan tangannya, menunjukkan ukiran sempurna di tubuhnya.

Mwo?” Nana melotot kaget.

Wae? Apa aku salah? Ini kan malam pertama kita?”

“Iya, tapi… Aish, Choi Siwon, kenakan pakaianmu…!” Nana terlihat mati kutu dan meninggalkan Siwon dan merapikan pakaian yang baru dibawanya di lemari. Siwon terkikik geli melihat tingkah istrinya itu.

Tok tok tok.

Nana bergegas membuka pintu dan nampak seorang pelayan. Mereka bercakap-cakap sebentar.

“Bergegaslah, Eomoni dan Aboeji menunggu kita. Kata pelayan tadi ada yang ingin mereka bicarakan.” Nana mendekat pada Siwon dan membantu memasang kancing baju Siwon.

“Aish, ada apalagi dengan orang tua itu? Seenaknya saja mengganggu malam pertamaku…!!!” Siwon berdecak kesal.

Oppa, jaga ucapanmu! Mereka adalah orang tuamu!”

“Apa?”

“Jaga ucapanmu, hormati mereka!” Nana mengulangi kalimatnya.

“Bukan, kau memanggilku apa tadi? Oppa?” Nana mengernyit.

Ne, waeyo? Kau tidak suka? Araseo, aku tidak akan memanggilmu dengan sebutan itu…”

Aish, mengapa kau sensitif sekali? Ani, aku sangat menyukainya. Bisakah kau mengulanginya?”

Mwo?”

“Ayolah, katakan saja, aku ingin mendengarnya…” rengek Siwon.

“Aigoo, Kau suka merengek seperti anak kecil…” Nana menggelengkan kepalanya. Tiba-tiba Nana berjinjit dan mengecup pipi Siwon.

“Kau masih mau merajuk?” Siwon masih terpaku tidak percaya. Ia melihat sisi lain seorang Nana. Di balik sikap dinginnya selama ini, ternyata ia sangat romantis. Walaupun hanya hal kecil seperti itu, cukup membuat dada Siwon berdebar dan berbunga-bunga.

Siwon tersenyum lalu meraih pinggang Nana, lalu mengecup keningnya lama.

“Kalau dengan merajuk aku bisa mendapatkan ciumanmu, aku akan melakukannya setiap waktu…”

“Yak…!” Nana memukul dada Siwon gemas. Sedangkan Siwon hanya tertawa.

“Hahahaa… I love you, my wife…!!!”

***

Eomoni…” Nana memanggil Nyonya Choi dengan sedikit pelan. Setelah seminggu pernikahannya, ia masih sedikit canggung dengan mertuanya itu. Tentu saja, pertemuan mereka bisa di hitung dengan jari. Mereka tidak pernah bercakap-cakap lama sebelumnya. Nyonya Choi disibukkan dengan berbagai aktivitasnya sebagai seorang sosialita dan pebisnis.

“Eoh, Nana-ya, kemari duduklah!” Nyonya Choi menjawab dengan ramah dan menunjuk sofa kosong di sampingnya. Nana menurut.

“Maaf, Ada keperluan apa Eomoni memanggil Saya? Apakah ada yang ingin dibicarakan?”

“Aigo, kau tidak usah berbicara seformal itu denganku. Kau adalah menantuku, bukan karyawanku. Anggap saja aku ibumu.” Nyonya Choi berusaha mencairkan suasana.

“Ah, nde Eomoni.” Ucap Nana, seraya menundukkan badannya. Nyonya Choi hanya tersenyum. Ia meraih secangkir teh di depannya lalu menyesapnya.

“Bagaimana kabarmu dan Siwon selama ini?” Tanyanya sambil meletakkan cangkirnya kembali.

“Baik, Eomoni. Dua hari setelah upacara pernikahan, Siwon Oppa kembali bekerja. Bagaimana dengan Eomoni dan Aboeji?”

“Yah, baik, seperti yang kau lihat. Oya, lalu apa kesibukanmu saat ini?”

“Saya mengajar seperti biasa.”

“Eoh? Kau seorang guru?” Ny. Choi tampak kaget.

Nde.” Nana menjawab singkat dan tetap mempertahankan senyumnya.

“Hmm… Sepertinya Siwon pernah mengatakannya padaku. Aigooo, mengapa aku bisa lupa?! Maaf Nana-ya…”

Gwaenchanayo, Eomoni…”

“Ehm, Nana-ya, apa kau tau mengapa aku memanggilmu kesini?”

Aniyo, Eomoni…” Ny. Choi tersenyum lalu menghela nafas.

“Nana-ya, tanpa kau ceritakan, kau pasti tau bagaimana hubunganku dan suamiku dengan Siwon…”

“Sebenarnya, sewaktu Siwon kecil, kami cukup dekat. Saat itu, Ayah Siwon adalah seorang pegawai kecil di sebuah perusahaan. Kami masih belum punya apa-apa saat itu. Bisa dikatakan, kami hidup susah. Gaji yang diterima, tidak cukup memenuhi kebutuhan kami. Suatu hari, Ayah Siwon memutuskan berhenti dari pekerjaannya dan membuka sebuah usaha kecil-kecilan dengan modal pinjaman. Menginjak akhir pertengahan sekolah dasar, usaha Ayah Siwon berkembang pesat dan membutuhkan banyak perhatian. Aku juga harus turun tangan membantunya saat itu. Kami berusaha keras memanfaatkan segala kesempatan yang ada, hingga…”

“Kami mengabaikan anak-anak kami. Saat itu sudah memiliki penghasilan yang cukup untuk membayar seorang pelayan. Tugas pengasuhan Siwon dan kakaknya, jadi diambil alih olehnya. Sebenarnya, Minjung sudah cukup besar untuk bisa mengerti keadaan kami. Oleh karenanya, kami masih memiliki hubungan baik sampai sekarang. Sedangkan Siwon…”

“ Saat itu ia masih sangat kecil dan butuh banyak perhatian. Tapi kami malah mengabaikannya. Sebagai permintaan maaf kami, kami selalu memenuhi segala keinginannya…”

Nana mengangguk paham. Ya, ia dapat melihat bahwa apa yang diinginkan Siwon selalu terpenuhi. Apapun, termasuk saat Siwon mengatakan ia ingin menikahi Nana, orang tuanya langsung setuju. Padahal mereka belum pernah bertemu sebelumnya.

“Nana-ya, menginjak dewasa, kami mulai merasakan bahwa Siwon mulai menjauh. Sangat jelas terlihat tembok pembatas antara kami. Selain itu, ia nampaknya tumbuh menjadi lelaki yang dingin…” Ny. Choi menghela nafas, mencoba menenangkan hatinya. Ia berusaha keras menahan air mata yang telah menggenang di pelupuk matanya.

“Nana-ya, setelah melihatnya bersamamu, kami merasa bisa melihat Siwon kecil kami. Siwon yang ceria, cerewet, berani, namun suka merajuk…” Ny. Choi sedikit tersenyum mengingat kenangan itu.  Setetes airmata mengalir di pipinya. Namun ia buru-buru menghapusnya.

“Nana-ya, aku tau, tanpa kami memintanya, kau akan menjaga uri Siwon. Namun, kami membutuhkan bantuanmu…” Nana menatap Ny. Choi, menunggu kalimat selanjutnya.

“Kami mohon, tolong jelaskan pada Siwon bahwa kami tidak bermaksud mengacuhkan dan membuangnya, seperti pemikirannya selama ini. Kami melakukan semua demi dirinya. Kami tidak mau uri Siwon menderita dan hidup susah. Kami ingin Siwon menjadi lelaki yang hebat, hidup tanpa kekurangan , dan hidup bahagia. Kami tidak mau ia melalui masa-masa sulit seperti kami dulu… Hiks… hiks… hiks…” Akhirnya, pertahanan Ny.Choi runtuh. Ia tidak mampu terlihat kuat lagi. Wanita mana yang tidak sedih mendapati putranya menjauh?

Nana mendekat dan memeluk Ny. Choi dan mencoba menenangkannya.

“Nde, Eomoni. Saya akan berusaha. Saya akan berusaha…” Ucap Nana berkali-kali, mencoba meyakinkan mertuanya itu.

***

“Sayang, mengapa kau terlihat murung, hemm?” Siwon mendekati Nana yang tengah duduk di sofa lalu duduk di sampingnya.

“Aku merindukan Eomma…” Siwon menghela nafas lalu meraih Nana ke dalam pelukannya.

“Aku mengerti.”

“Seandainya aku masih bisa bertemu dengannya…”

“Hmm… Bagaimana jika kita ke makam Eomoni? Aku akan menemanimu…”

Eoh? Apa kau punya waktu? Makam Eomma di Busan, Oppa…”

“Hmm… Akhir minggu, ku rasa bisa.”

Jinjja?” Nana menengadahkan kepalanya dan melihat Siwon. Siwon mengangguk.

Gomawo Oppa…”

Oppa, bukankah ulang tahun Eomoni bulan ini?” Lanjut Nana, lalu melepas pelukan Siwon.

Mwo?” Siwon mengernyit.

“Tanggal berapa? Bagaimana jika kita menyiapkan surprise untuknya?” Siwon tidak menjawab. Ia malah merebahkan dirinya, meletakkan kepalanya di pangkuan Nana dan memejamkan mata.

“Aku lupa.” Jawab Siwon malas.

“Ayolah Oppa, kau tidak seharusnya bersikap seperti ini pada Eomoni dan Aboeji. Mereka melakukan semua ini untukmu, untuk memenuhi kebutuhanmu. Mereka hanya ingin kau mendapatkan yang terbaik dan bahagia. Bukankah itu juga yang ingin kau lakukan untuk anak-anakmu kelak?” Siwon menghela nafas. Kata-kata Nana mengusiknya. Ia tahu, apa yang dilakukannya selama ini keliru. Orang tuanya memang berusaha keras untuk membangun perusahaannya selama ini, untuk ia dan kakaknya. Tapi egonya berkata lain, tetap menyalahkan orang tuanya. Bagaimanapun, yang ia butuhkan adalah kasih sayang, bukan materi semata.

Ne, tapi aku tidak akan meninggalkan anak-anakku hanya demi karier dan membiarkan mereka terlantar tanpa kasih sayang.”

Araseo. Aku tahu itu. Kau akan menjadi sesosok ayah yang hebat, yang menyayangi keluarga. Itu jugalah yang dipikirkan oleh Eomoni dan Aboeji. Mereka ingin memberikan yang terbaik bagimu, menjadi sosok orang tua yang hebat, yang bisa mewujudkan seluruh keinginan anaknya. Ya, meskipun ku akui, bahwa mereka kurang memberikan perhatian padamu dan Minjung Eonni. Tetapi, pernahkah kau berfikir jika berada di posisi mereka saat ini? Bagaimana perasaanmu jika dijauhi oleh anak kandungmu sendiri?” Siwon terdiam.

Oppa, seharusnya kau bersyukur, masih memiliki orang tua yang sangat menyayangimu. Kau masih bisa bertemu atau mendengar suaranya. Sedangkan aku?” Nana tercekat. Siwon bangkit lalu memeluk istrinya. Ia mengerti, pembicaraan tentang orang tua merupakan pembicaraan yang sensitif untuk istrinya, dan tentu saja, juga untuk dirinya sendiri.

Oppa, berjanjilah kau akan berubah. Berusahalah menjadi anak yang hebat untuk Eomoni dan Aboeji. Jika tidak, jadilah lelaki yang hebat untukku. Lelaki yang hebat, yang bisa memaafkan kesalahan orang lain dengan tulus dan ikhlas. Jebal…”

Siwon menghela nafas.

Ne, aku berjanji…”

***

Siwon menolehkan pandangannya pada ponsel begitu mendengar intro lagu She oleh DBSK yang menjadi nada dering khusus untuk panggilan dari istrinya. Bergegas ia meraih ponsel dan menjawab telfonnya.

Yeoboseyo…”

Ne, Yeobo. Ada apa?”

Eopseo. Aku hanya ingin mengingatkanmu tentang makan malam nanti. Oya, kau sudah membeli kado untuk Eomoni?”

Kado? Ya, hari ini adalah ulang tahun Ny. Choi dan mereka ingin memberikan sedikit surprise.

“Eoh? Belum. Nanti akan ku cari.”

Ah, nde. Oya, kau sudah makan siang?”

“Belum. Nanti saja, masih banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan.”

Mwo? Oppa, makanlah! Jagalah kesehatanmu. Jika kau sakit, kau tidak akan bisa bekerja…”

Gwaenchana, percayalah…”

Oppa, ku mohon makanlah… Jangan membuatku khawatir…”

“Aku masih malas keluar, Chagiya…”

“Eoh, Araseo…”

Flip. Nana tiba-tiba mematikan ponselnya. Siwon menatap ponselnya bingung. Apakah Nana marah?

“Masuk.” Jawab Siwon mendengar suara pintunya diketuk.

“Maaf Sajangnim. Ada kiriman makan siang untuk Anda.” Siwon mengernyit bingung. Ia hanya menganggukkan kepala sebagai isyarat menerima makanan itu. Petugas delivery itu lalu meletakkan makanan di meja.

Tak lama kemudian, ponsel Siwon bergetar lagi. Sebuah pesan masuk.

From: My Nana

Makanlah!

Maaf aku tidak bisa mengantar makan siang untukmu.

Aku harus mengajar sekarang.

Sampai jumpa nanti malam.

^_^

***

Nana menata berbagai makanan di meja makan mereka. Ini adalah makan malam istimewa, untuk merayakan ulang tahun Nyonya Choi yang ke 51 tahun. Ia yang merancang makan malam ini, dalam rangka menyatukan kembali Siwon dengan orang tuanya. Ia sengaja memilih makan malam di rumah agar suasana lebih hangat dan rasa kekeluargaan lebih terasa.

Oppa, Kau sudah menelfon Kwon Ahjussi? Mereka sudah sampai dimana?” Nana menyambut Siwon dengan pertanyaan begitu melihat lelaki itu muncul di ruang makan.

“Sudah. Kira-kira 15 menit lagi mereka sampai.” Kwon ahjussi adalah seorang supir yang sedang menjemput Tuan dan Nyonya Choi di bandara. Mereka baru saja pulang dari Jepang.

“Wah, kita harus segera bersiap-siap. Bagaimana penampilanku Oppa? Sudah rapi?” Siwon mengangguk. Ia terlihat sedikit pendiam kali ini. Ia lalu menarik kursi lalu duduk. Ia menarik Nana ke dalam pangkuannya ketika wanita itu berjalan melewatinya.

“Aigoo, Oppa… Kau mengagetkanku.” Nana ingin bangkit namun Siwon menahannya.

Waeyo Oppa? Hemm?” Nana mengelus pipi Siwon lembut. Siwon hanya terdiam. Saat ini ia hanya gugup. Sudah sangat lama ia tidak makan malam dan bercengkerama dengan orang tuanya. Sudah sangat lama ia bersikap dingin pada orang tuanya. Namun malam ini, ia tiba-tiba harus memberikan kado kepada ibunya. Lebih dari itu, ia juga harus minta maaf atas sikapnya selama ini.

“Kau gugup?” tanya Nana. Siwon mengangguk.

“Tenanglah, aku di sampingmu.” Nana tersenyum lembut.

***

Saengil chukhahamnida

Saengil chukhahamnida

Saranghaneun Eomoni,

Saengil Chukahamnida…

Nyonya Choi tersenyum sumringah mendapati kejutan yang ia terima. Begitu ia turun dari mobil, Nana menyambutnya dengan kue ulang tahun yang dihiasi lilin, dengan di dampingi Siwon. Beberapa pekerja di rumah itu juga ikut di belakangnya. Nyonya Choi menutup mulutnya dengan kedua tangan, tak percaya. Sudah sangat lama ia tidak merayakan ulang tahunnya, karena kesibukan.

“Buatlah permohonan!” Bisik Nana. Nyonya Choi mengangguk lalu memejamkan mata sebentar.

Wuuussshhh… Nyonya Choi pun meniup lilin itu.

“Selamat ulang tahun Eomoni…” Ucap Nana sambil memeluk mertuanya itu. Nyonya Choi membalas pelukan Nana.

Gomawo Nana-ya, jeongmal gomawo…” bisik Ny. Choi.

Nde, Cheonmaneyo, Eomoni.”  Nana lalu melepaskan pelukannya. Ia lalu melirik pada Siwon. Lelaki itu tampak kaku dan bingung apa yang harus ia lakukan. Nana memegang lengan Siwon.

Eomoni, sebenarnya Siwon Oppa sudah menyiapkan kado untukmu.” Siwon menoleh pada Nana. Nana mengangguk. Ny. Choi yang melihat keraguan Siwon sedikit maklum namun sedih. Andai saja dulu ia bisa lebih memperhatikan Siwon, pasti saat ini Siwon tengah memeluknya dan mengucapkan selamat ulang tahun disertai do’a-do’a tulus seorang anak untuk orang tuanya.

“Ehm… Eomma… ini kado untukmu. Selamat ulang tahun.” Ucap Siwon. Kegugupan terdengar dari nada suaranya. Ny. Choi menerima kotak berukuran sedang yang diberikan Siwon. Ia tidak dapat menahan airmatanya. Ini pertama kali Siwon mengucapkan ucapan selamat padanya, dan ini juga kado pertama yang ia terima dari Siwon. Siwon tidak tau apa yang menggerakkan badannya. Ia meraih Ny. Choi ke dalam pelukannya.

Mianhae Eomma, jeongmal mianhae. Aku tidak seharusnya bersikap seperti ini padamu. Mianhae…” Air mata juga tumpah dari kedua mata Siwon. Ia benar-benar menyesal dengan sikapnya selama ini. Ia begitu merindukan pelukan ini, pelukan seorang ibu.

Ne, Eomma juga minta maaf padamu Siwonie… Eomma telah menelantarkanmu… Maafkan Eomma…” Siwon hanya mengangguk. Ia lalu melirik pada ayahnya yang sedang berdiri di belakang Eommanya. Lelaki tua itu nampak terdiam, meredam emosinya. Siwon lalu melepaskan pelukan Eommanya, lalu mendekat ke arah sang ayah.

Begitu ia berhadapan dengan tuan Choi, Siwon langsung memeluknya. Tak ada ucapan yang terucap. Walaupun begitu, semuanya sudah tau bahwa sebuah tembok es yang menggunung, kini telah mencair.

_oOo_

That you’ll stay awake for me.

I don’t wanna miss anything.

I don’t wanna miss anything.

I will share the air I breathe,

I’ll give you my heart on a string,

I just don’t wanna miss anything

Mentari pagi baru saja terbit. Cahayanya yang hangat menyeruak masuk ke dalam sebuah kamar, dan menerpa wajah seorang wanita yang tengah terpejam. Wanita itu menggerak-gerakkan kedua kelopak matanya, merasa terusik. Ia membuka mata dan menyesuaikan penglihatannya. Ketika ia pandangannya mulai fokus, ia melihat seorang lelaki tengah tidur di sisi kanannya. Lelaki itu meletakkan kepalanya di atas sebelah tangan yang bertumpu ke ranjang, tempat  wanita itu berbaring. Sedangkan sebelah tangannya lagi, menggenggam tangan wanita itu.

Yeoja bangkit lalu menggerak-gerakkan tangannya yang sedang berada dalam genggaman lelaki itu. Merasa ada yang bergerak, lelaki itu terjaga. Ia mengernyitkan dahinya melihat sosok seorang yeoja tengah menatap dirinya. Ia mencoba memfokuskan pandangannya. Ketika ia yakin apa yang ia lihat, ia menganga tidak percaya.

“Nana-ya, kau sudah sadar?”

_oOo_

END

 

Wooaaa… akhirnya selesai juga ni FF…

Pertama kalinya nih bikin FF oneshoot…

Ditunggu responnya ya readers… 🙂

Advertisements

20 thoughts on “Awake (Oneshoot-Songfic)

    1. Hello… I has seen the picture and the ff.
      Yes, that picture is mine. I made it by myself (of course i got their photos from google 😁). He cut my logo which is in the bottom.
      Actually, I was kinda dissapointed. But, if it could increase NaWon lovers, then it’s okay. 😄:)

      I am very grateful because you told me about this, and for read my blog. Kamsahamnida :).

      By the way, where are you from? You aren’t from Indonesia, are you?
      I want to know if there are international readers.

      I’m sorry if my english is not good. I hope you can understand it, hehee.. 😂😂😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s