Created For Me (Part 7)

Created For Me Part 7

created for me siwon nana

  • Title                : Created for Me Part 7
  • Main Casts      : Choi Siwon, Im Nana
  • Support Casts            : Lee Sun Gyu, Lee Juyeon, Lee Donghae, etc.
  • Author            : Shelly Diah Anggraeni
  • Length                        : Chaptered
  • Genre              : Romance, Married life
  • Rating             : 17+
    • Disclaimer      : Kalau ada hal-hal yang mungkin ga sesuai dengan kenyataan, anggap saja sesuai… hehee… ^_^ kalau ada kritik dan saran, silakan, dengan senang hati saya terima. Malah butuh…

Siwon and other casts adalah milik yang punya. Maaf pada Siwon and family, ELF, Siwonest, kalau saya buat ceritanya seperti ini. Mianhae, Jeongmal Mianhae

And the last, Happy reading, Hope you like it ^_^v

 

Last Part

 “ Jelaskan ini…!!!” Ucap sang manajer, datar.

Siwon meraih tabloid yang ditunjukkan manajernya. Matanya terbelalak membaca headline-nya.

“Hyeong, aku akan  menghubungimu nanti. Aku harus pergi sekarang…” Siwon bergegas mengambil tasnya dan berlari meninggalkan para member lainnya yang tenga menatapnya tak mengerti.”

_oOo_

“Tidak ada artinya cinta tanpa kepercayaan…”

_oOo_

Siwon segera memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Yang ada dalam pikirannya hanya satu, Choi Nana, istrinya. Bagaimana jika Nana telah mendengar berita tentang dirinya? Apa yang akan dipikirkan Nana? Apa yang akan dilakukan wanita itu? Apakah Nana akan percaya padanya?

Siwon memarkirkan mobilnya sembarangan di halaman rumahnya. Ia berlari memasuki rumahnya. Ia mengedarkan matanya ke seluruh penjuru ruangan, mencari sosok sang istri. Kosong. Bergegas ia masuk kekamarnya. Hatinya mencelos mendapati Nana tengah meringkuk di lantai, di sebelah ranjangnya, dengan tubuh bergetar.

Siwon mendekat, menyentuh puncak kepala Nana dan memanggilnya pelan.

Chagiya…” Tidak ada respon darinya. Siwon berjongkok dan memanggilnya lagi.

Chagiya…”

Chagiya, bicaralah… ku mohon…” Nana tetap tidak merespon. Siwon meraih tubuh Nana, bermaksud memeluknya.

“Jangan sentuh aku…!!!” Siwon terkejut mendengar teriakan dan penolakan Nana.

Chagiya, ada apa denganmu?” Siwon mencoba mendekati Nana yang telah bangkit dan berjalan menjauh darinya.

“Ada apa? Kau masih bertanya ada apa?” Nana berbalik dan menatap Siwon tajam. Siwon hanya diam, tidak mampu menjawab. Kondisinya yang sedang kalut, ditambah lagi dengan melihat kondisi Nana yang begitu kacau, dengan airmata yang berlinang di pipinya, membuat Siwon kehilangan kemampuan berpikirnya.

“Ini…!!! Kau lihat ini…!!!” Nana meraih tabloid yang ada di meja sampingnya lalu melemparkannya ke arah Siwon, tabloid yang sama dengan yang ditunjukkan manajer Siwon tadi.

Chagiya, aku dapat menjelaskannya. Ini tidak seperti yang kau lihat, tidak seperti yang kau pikirkan…”

“Baik, lalu seperti apa?” Tantang Nana dengan nada dingin dan sinis.

“Kau tau, saat pesta kru film kemarin, ia mabuk. Ia adalah aktris baru, lawan mainku di film terbaruku. Ia memintaku mengantarnya…”

“Dan kau bersedia…” sindir Nana.

Chagiya, bagaimana mungkin aku menolak…”

“Ya, bagaimana mungkin kau menolak seorang wanita cantik yang menawarkan dirinya padamu, hah?! Dasar lelaki…!!!” Siwon terpaku di tempatnya. Hatinya terasa terbakar mendengar kata-kata dari Nana. Bagaimana bisa Nana berpikir seperti itu? Sedangkan selama ini yang ada dalam hati dan pikiran Siwon hanya ada Nana, Nana, dan Nana? God….!!!

Siwon mengejar Nana yang masuk ke wardrobe room. Ia segera menarik tangan Nana yang tengah mengeluarkan koper.

Chagiya, apa yang kau lakukan?” Tanya Siwon, gusar.

“Lepaskan…” Nana berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Siwon.

“Dengarkan penjelasanku dulu…”

Oppa, lepaskan…” Nana masih mengacuhkan Siwon dan terus berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman kuat Siwon.

“IM NANA, TIDAK BISAKAH KAU MENDENGAR PENJELASANKU DULU, HAH?!” Nana terkesiap mendengar Siwon berteriak padanya. Ia menatap Siwon dengan tatapan tidak percaya.

Mi… Mianhae… aku tidak bermaksud berteriak padamu…” Siwon mengucapkannya dengan nada menyesal. Nana mengalihkan pandangannya dari Siwon dan menyentakkan tangannya dari cengkeraman Siwon hingga terlepas.

“Katakan…” Ucap Nana dingin, tanpa melihat Siwon.

“Aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Aku tidak tau bagaimana bisa ada foto itu dan sampai ke media. Dia mabuk, aku mengantarnya sampai ke apartemennya. Kami hanya berciuman…” Nana beralih, menatap Siwon tajam, membuatnya terdiam.

“Hanya berciuman?” Ulang Nana dengan sinis dan penuh penekanan.

“Dia yang memulainya dulu…”

“Dan kau tidak menolaknya…” potong Nana dingin. Airmata kembali mengalir di pipinya. Siwon menghela nafas frustasi. Bagaimana ia bisa menjelaskan yang sebenarnya jika sejak tadi Nana selalu menyanggahnya?

“Nana-ya, itu tidak seperti yang kau pikirkan. Aku sudah berusaha menolaknya…”

“Oh, begitu? Lalu bagaimana dengan foto-foto kalian yang lain?” Siwon kaget dan bingung.

“Foto apalagi maksudmu?”

“Kau pikir aku akan sekacau ini jika hanya melihat foto kalian yang ‘hanya berciuman’ itu? Bagaimana dengan bekas lipstick dan aroma parfum wanita lain di kemejamu? Hah?” Suara Nana terdengar serak, sarat akan emosi. Airmata juga tak henti mengalir di pipi halusnya.

“Apa maksudmu? Foto-foto apa?” Nana mengarahkan pandangannya kearah ruang tidur mereka. Siwon bergegas menuju kamar tidurnya. Ia mencari-cari foto yang dimaksud Nana. Pandangannya terpaku mendapati beberapa foto berserakan di ranjangnya, dekat tempat Nana menangis tadi.

Segera ia meraih foto-foto itu dan melihatnya satu per satu. Beberapa foto menunjukkan foto ciuman Siwon dengan aktris baru itu di depan pintu apartemen. Foto selanjutnya, Siwon tengah menggendong wanita itu masuk ke dalam apartemen. Lalu, foto Siwon merebahkan tubuh wanita di atas sofa. Beberapa foto lagi menunjukkan tubuh Siwon menimpa wanita itu. Dan beberapa foto terakhir, wanita itu yang berada di atas tubuh Siwon.

Siwon segera mengalihkan pandangannya begitu mendengar langkah Nana yang tergesa-gesa disertai suara roda koper yang bergesekan dengan lantai. Siwon segera menahan Nana.

“Nana-ya, apa yang kau lakukan? Kau mau kemana?”

“Biarkan aku pergi, Oppa. Aku butuh waktu…”

“Pergi? Butuh waktu? Butuh waktu untuk apa? Kau tidak perlu pergi. Kita bisa menyelesaikannya. Aku bisa menjelaskannya padamu…” Siwon menarik koper Nana kembali.

Mianhae Oppa… Aku harus pergi. Aku butuh waktu untuk memikirkan semuanya…”

Mwo? Apa maksudmu dengan memikirkan semuanya? Ayolah, jangan hanya karena berita murahan itu membuatmu meninggalkanku…” God, bahkan mereka baru saja merasakan kebahagiaan sebagai pasangan yang saling mencintai, tapi sekarang?

“Berita murahan? Oppa, selama ini aku telah tersakiti dan sangat sulit membangun kembali kepercayaanku pada seseorang. Setelah sekian lama, kau yang berhasil menumbuhkannya kembali. Aku meletakkan seluruh kepercayaanku padamu, aku menyerahkan diriku padamu dalam pernikahan ini, bahkan, aku telah menyerahkan seluruh… seluruh hati dan cintaku padamu. Namun apa yang kau lakukan? Kau menghempaskan semuanya… Hiks… Hiks….” Nana menunduk. Tubuhnya bergetar karena tangis. Siwon merengkuh tubuh Nana dalam pelukannya. Sakit dalam hati Siwon bertambah parah seiring isakan Nana yang semakin menjadi.

“Sakit Oppaaa… Sakiiiiiittt….” Nana meremas kaos Siwon yang kini telah benar-benar basah oleh airmatanya.

Chagiya, ku mohon, jangan pergi… aku bisa membuktikan padamu yang sebenarnya. Aku tidak pernah dan tidak akan pernah mengkhianatimu. Aku sangat mencintaimu. Kau tau benar hal itu…” Nana menggeleng dalam pelukan Siwon dan melepasnya.

Mianhae Oppa… Mungkin kau bisa memberikan alasan yang bisa meyakinkan logikaku. Tapi hatiku… kepercayaan yang aku berikan padamu bukan hanya sekedar datang dari pikiranku Oppa, tapi dari hati…”

Chagiya…” Siwon memandang Nana dengan pandangan memelas. Nana menarik kopernya dan keluar kamar.

“Ya, Choi Nana, aku suamimu. Aku melarangmu meninggalkan rumah ini!” Nana menghela nafas sebentar lalu berbalik menatap Siwon.

Oppa, jika kau mencintaiku, ku mohon, izinkan aku pergi. Aku butuh waktu untuk memikirkannya, aku butuh waktu untuk menenangkan diri… jebal…” Siwon menatap punggung Nana yang kian menjauh sampai hilang dari penglihatannya.

“Aaaaarrrggghhhh…!!!” Siwon memukulkan tangannya pada dinding yang dekat dengannya.

_oOo_

Rintik hujan, kilat, dan petir bersahutan di luar sana. Udara dingin menyeruak ke dalam kamar. Sang pemilik kamar rupanya juga enggan sekedar menyalakan lampu untuk menerangi ruangan. Ia membiarkan dirinya tenggelam di dalamnya. Sungguh, dia tidak suka kondisi ini. Dingin, ia tidak suka dingin. Namun rasa tidak suka itu rupanya semakin bertambah. Ya, suasana ini terus menambahkan rasa sakit di hatinya, karena mengingatkannya pada sosok Choi Siwon, suaminya. Lelaki yang telah menjadi dunianya, telah menjadi segalanya baginya. Lelaki yang bisa mengembalikan sosok Im Nana yang sempat hilang, lelaki yang sangat ia cinta. Yang biasanya, dalam kondisi hujan dan dingin seperti ini, ia akan menghangatkan Nana dalam pelukannya, sehingga ia enggan untuk pergi dari zona nyamannya itu.

Namun apa yang terjadi sekarang? Ia hanya meringkuk dalam gelap dan airmata yang terus mengalir di pipinya. Sudah 5 hari ia meninggalkan Choi Siwon, karena kasus foto-foto itu. Saat ini ia tinggal di apartemen Juyeon, sepupunya. Karena ia yakin, jika ia tinggal di rumah orang tuanya, Siwon akan dengan mudah menemuinya. Dan ia, tak akan sanggup untuk menolaknya. Sungguh, Nana sangat merindukan pria itu. Merindukan segalanya tentang pria itu, senyumannya, suaranya, aroma tubuhnya, pelukannya, semuanya. Sejak ia pergi dari rumah mereka, Nana tidak pernah mau berbicara atau bertemu dengan Siwon. ia mematikan ponselnya, bahkan menolak berbicara ketika Siwon menelepon pada Juyeon untuk berbicara pada Nana.

Cklek.

Terdengar suara knop pintu kamarnya terbuka. Kemudian seberkas cahaya masuk namun terhalang oleh sosok perempuan.

“Ya Tuhaan… Im Nana… apa yang kau lakukan?” Juyeon menyalakan lampu lalu bergegas mendekati Nana, sedangkan yang ditanya hanya diam.

“Nana-ya, kau sudah makan?” Lagi, Nana mengacuhkannya.

“Nana-ya, makanlah. Kau harus menjaga kesehatanmu. Akhir-akhir ini kau sering mual dan muntah-muntah ‘kan? Aku sudah membelikan ayam panggang kesukaanmu. Ayo kita makan!” Juyeon menarik tangan Nana untuk bangkit. Nana hanya mengikutinya dengan enggan.

“Jja… makanlah…” Juyeon menyerahkan seporsi makanan pada Nana lalu duduk di depannya. Nana mulai makan dengan enggan. Pandangannya kosong. Juyeon terus memperhatikan gerak-gerik sepupunya itu. Ia sangat prihatin melihat kondisi Nana yang seperti mayat hidup ini. Peristiwa beberapa tahun lalu kembali terjadi. Ani, sekarang kondisi Nana lebih parah.

“Nana-ya, Paman dan Bibi Im selalu menanyakanmu. Mereka ingin bertemu denganmu. Mereka sangat khawatir. Namun aku bilang kau baik-baik saja, seperti yang kau minta…” Juyeon menghentikan kalimatnya, melihat ekspresi Nana. Datar.

“Nana-ya, kapan kau akan menemui dan berbicara dengan suamimu?” Juyeon mendapati Nana sejenak terpaku, namun kembali melanjutkan makannya.

“Nana-ya, kau harus membicarakan masalah ini dengannya. Dengarkan penjelasannya, berpikirlah secara logis, jangan mendahulukan emosimu. Masalah tidak akan selesai hanya dengan kau pergi darinya. Tidakkah kau memikirkan bagaimana keadaan dan perasaannya selama ini?” Juyeon menghela nafas sebentar lalu melanjutkan kalimatnya.

“Nana-ya, aku memang tidak begitu mengenal suamimu. Tapi dari seluruh sikapnya, aku tau bahwa ia sangat mencintaimu. Lihatlah, ia selalu ada di saat kau membutuhkannya, ia selalu memberikan apa yang kau butuhkan dan kau inginkan, bahkan ia rela menunggu sampai kau menerimanya. Im Nana, ani, CHOI Nana, Andai kau tau betapa paniknya ia saat melihatmu sakit dan pingsan saat pemakaman Halmeoni…”

“Nana-ya, Ia seorang public figure, cobalah mengerti keadaannya. Bagaimana jika kau berada di posisinya? Saat ini, Ia harus berjuang sendiri di tengah badai yang tengah menimpanya. Pekerjaan yang telah membesarkan namanya, pekerjaan yang sangat ia cintai tengah dipertaruhkan. Namun, apa yang kau lakukan?” Nana menunduk.

“Bahkan, dalam kondisi seperti ini ia masih saja mengkhawatirkanmu. Tak terhitung berapa kali ia menghubungiku, menanyakan kondisimu, memohon untuk dapat menemuimu…” Nana membiarkan air mata kembali jatuh di pipinya. Namun Juyeon berusaha tidak mempedulikannya. Ya, ia harus membuka mata Nana. Nana harus menyelesaikan masalahnya, bukan lari seperti ini.

“Nana-ya, ingatlah, kalian sudah terikat dalam ikatan suci pernikahan. Kau sendiri dengan sukarela menerima pernikahan ini. Dan kau telah berjanji di hadapan Tuhan akan selalu berada di sisinya dalam keadaan suka maupun duka. Dia telah membuktikannya, lalu bagaimana denganmu? Nana-ya, jika kau tidak bisa membantunya, paling tidak, jangan menambah masalahnya…”

“Nana-ya, kau lebih mengenal suamimu, dan kau bisa menilai, siapa yang bisa kau percaya…”

_oOo_

“Aaargghhh…” Siwon mengerang frustasi dan memukul kemudinya. Ia baru saja menemui manajernya, mengurus masalah foto-foto itu. Sampai saat ini masih belum ada titik terang mengenai masalah itu. Ia benar-benar kacau sekarang. Ia harus memikirkan bagaimana menyelesaikan masalah ini agar ia bisa bertemu Nana dan membawanya kembali. Sungguh, Ia sangat merindukan wanita itu.

Dddrrrt… dddrrrt….

Ia melihat ponselnya bergetar. Lee Juyeon, sebuah nama tertera di layarnya. Ia segera menjawab telfonnya.

Yeoboseyo…”

“…”

Mwo? Baik, dimana? Aku segera kesana…” Siwon segera menyalakan mobilnya dan memacunya dengan kecepatan tinggi.

_oOo_

3 jam yang lalu…

Sore itu Juyeon sedang ada janji dengan sunbaenya ketika SMA, sekaligus rekan bisnisnya saat ini. Ia setengah berlari masuk ke sebuah restoran karena ia sudah terlambat.

Annyeong haseyo Sunbaenim…” sapanya pada Lee Donghae. Ya, orang yang ia maksud adalah Donghae Super Junior. Saat menghadiri pernikahan Siwon-Nana, mereka berbincang-bincang dan baru menyadari, mereka berasal dari SMA yang sama.

Annyeong, Ya, Juyeon-ah, kau terlambat 17 menit. Jadi kau harus membayar semua makananku…”

Aigoo… aku bahkan belum duduk, kau telah meminta macam-macam. Sunbae, mestinya kau yang mentraktirku. Gajimu pasti sangat besar sebagai seorang selebriti yang telah mendunia…” ujar Juyeon dengan mempoutkan bibirnya.

“Aiisshhh… kau berlebihan. Oya, tolong jangan memanggilku Sunbae. Rasanya terlalu formal. Panggil saja Oppa, seperti Nana…” ucap Donghae, diiringi senyum khasnya.

“Hmmm… Algetseumnida…” jawab Juyeon sambil membungkukkan badannya dengan formal, menggoda Donghae.

Waktu satu jam telah mereka lalui dengan membicarakan kerjasama bisnis mereka. Donghae ingin membuka usaha seperti member yang lain. Ia ingin membuka resto atau café di Mokpo, dan ia ingin mengadopsi konsep café Juyeon, yang memadukan konsep nuansa dan kuliner khas korea dengan konsep modern. Saat tengah asyik berbicara, tiba-tiba Juyeon menangkap sosok pria yang telah lama menghilang, tengah berjalan memasuki restoran tempatnya sekarang, lalu mendekati sebuah meja, dimana seorang wanita tampak sedang menunggunya.

“Juyeon-ah, bagaimana?”

“Ah, eoh? Maksudmu?” Juyeon tersentak dengan pertanyaan Donghae yang tiba-tiba.

Mwo? Jadi kau tidak mendengarkanku? Aiishh…”

Mianhae Oppa, aku sedang memperhatikan sesuatu…”

Mwo?”

Oppa, kau mengenal wanita itu?”

“Wanita? Yang mana?”

“Itu..” Juyeon menunjuk wanita itu dengan pandangannya. Donghae memperhatikan wanita yang dimaksud Juyeon.

“Sepertinya tidak asing. Hmmm… bukankah ia…wanita dalam foto-foto Siwon?” Juyeon mengangguk.

“Dan lelaki itu…” Donghae berpikir sejenak.

“Kau mengenalnya?” Tanya Juyeon, penasaran.

“Kalau tidak salah namanya Lee Sun Gyu. Siwon pernah mengenalkannya padaku. Perusahaannya adalah sponsor utama film terbarunya saat ini.”

Mwoya?”

Waegeurae?”

“Ia adalah mantan kekasih Nana. Nana yang meninggalkannya… Jangan-jangan…” pandangan Juyeon bertemu dengan Donghae. Sepertinya apa yang ada di pikiran mereka sama.

_oOo_

Donghae mengantar Juyeon pulang ke apartemennya. Ia juga ingin bertemu Nana, membicarakan masalah Siwon. Sebenarnya ia tidak mau ikut campur. Tapi, setelah Juyeon menceritakan apa yang terjadi pada Nana, dan melihat keadaan Siwon yang menyedihkan, Donghae akhirnya memberanikan diri. Lagipula, Juyeon bersedia bekerja sama dengannya.

Juyeon menekan kombinasi angka untuk membuka apartemennya. Ia lalu mempersilakan Donghae masuk.

“Kau mau minum apa, Oppa?”

“Hmm… kopi saja.”

“Baiklah, tunggu sebentar.” Juyeon segera menuju dapur. Ia terkesiap melihat sosok Nana tengah tergeletak di lantai dapur.

“Nana…” Pekik Juyeon. Donghae yang mendengar suara Juyeon bergegas menghampirinya.

“Nana…” Gumam Donghae, terkejut.

“Kita bawa Nana ke rumah sakit sekarang, aku akan menggendongnya…” Ucap Donghae.

Ne…”

_oOo_

Siwon berlari di koridor rumah sakit. Ia segera mencari kamar 323, kamar Nana di rawat. Setelah menemukannya, dengan tergesa ia membuka pintu. Ia mendapati Nana tengah berbaring dengan selang infus yang menggantung di sisi kirinya. Juyen yang sedang duduk di kursi samping ranjang Nana, menoleh.

“Siwon-Ssi…”

“Bagaimana keadaannya? Apa yang terjadi?” tanya Siwon gusar.

“Aku juga tidak tahu. Saat aku pulang, aku menemukannya tergeletak di dapur. Ia masih belum siuman sampai sekarang. Tapi tenanglah, dokter telah memeriksanya.” Siwon mengangguk menerima penjelasan Juyeon.

“Duduklah, aku akan pergi sebentar.” Juyeon mempersilakan Siwon duduk di tempatnya tadi. Ia mengerti, mereka butuh waktu berdua.

Siwon lalu duduk dan memperhatikan Nana. wajahnya pucat dan tampak lelah. Kantung matanya terlihat jelas. Tubuhnya terlihat lebih kurus. Choi Nana, wanita  yang selalu terlihat cantik dan segar itu terlihat sangat berbeda.

Tok tok tok.

Ketukan pintu terdengar, kemudian pintu terbuka dan menampakkan sosok perawat.

“Maaf, apakah Anda keluarga Nyonya Choi?” Tanya perawwat itu dengan sopan.

“Ya, aku suaminya.”

Uisa-nim ingin berbicara dengan Anda mengenai Nyonya Choi.”

“Eoh, baiklah.”

Siwon kemudian bangkit dan mengikuti perawat itu.

_oOo_

“Anda harus memperhatikan kondisi istri Anda, baik fisik maupun psikisnya. Jangan sampai ia merasa stress atau tertekan, karena itu akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janinnya.”

“Janin? Jadi istriku…”

“Ya. Mungkin masih terlalu dini untuk menyimpulkannya, mengingat usia janinnya masih 3 minggu. Pada fase ini merupakan fase terpenting dalam proses pertumbuhan dan perkembangan janin. Jadi kondisi sang ibu harus benar-benar diperhatikan. Tapi sepertinya akhir-akhir ini Nyonya Choi sedang berada dalam kondisi psikis yang tidak baik, selain itu, kondisi fisiknya juga lemah. Jika tidak benar-benar dijaga, akan sangat membahayakan ibu dan calon bayinya.”

_oOo­_

To Be Continued

Oya, ditunggu responnya ya, Chingu.. ^_^

Gomawo… ^_^

Advertisements

11 thoughts on “Created For Me (Part 7)

  1. Ahhh sung gyu jahat ! Dan artis yeoja itu juga jahat, mau aja di peralat !

    Aigoo, semoga cepat selesai masalahannya… Nana hamil.. Dan siwon sepertinya harus semakin berusaha agar nana percaya sama dia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s