Created For Me (Part 5)

  • Title                 : Created for Me Part 5
  • Main Casts      : Choi Siwon, Im Nana
  • Support Casts  : Choi Jiwon, Lee Juyeon, Tuan & Nyonya Choi, Tuan & Nyonya Im, etc.
  • Author             : Shelly Diah Anggraeni
  • Length             : Chaptered
  • Genre              : Romance, Married life
  • Rating              : 17+
    • Disclaimer       : Kalau ada hal-hal yang mungkin ga sesuai dengan kenyataan, anggap saja sesuai… hehee… ^_^ kalau ada kritik dan saran, silakan, dengan senang hati saya terima. Malah butuh…

Siwon and other casts adalah milik yang punya. Maaf pada Siwon and family, ELF, Siwonest, kalau saya buat ceritanya seperti ini. Mianhae, Jeongmal Mianhae

And the last, Happy reading, Hope you like it ^_^v

 

Last part

“Be… Benarkah Eomma? Bagaimana mungkin?” Siwon bingung melihat istrinya tiba-tiba menangis.

            “Ne… Ne Eomma… Araseo…” Nana memutuskan sambungan telefonnya. Ia menundukkan kepalanya. Air mata terus mengalir di pipinya.

            “Chagiya waeyo? Apa yang terjadi?” Nana tidak menjawab pertanyaan Siwon. Ia menghambur dalam pelukan Siwon dan menangis terisak, membuat suaminya semakin bingung.

_oOo_

Bagaimana mungkin aku tak menyadari bahwa kini kau telah menggenggam hatiku, dan kau telah mengukir namamu di dalamnya?”

_oOo_

Part 5

HalmeoniHalmeoni meninggal…” Nana terisak dalam pelukan Siwon. Siwon mengelus punggung Nana, berusaha menenangkannya.

“Sssssttt… Tenanglah sayang… Besok pagi kita ke sana… Bagaimana?” Nana menggelengkan kepalanya.

“Aku mau malam ini juga kita kesana, Oppa…”

“Tapi jika kita berangkat malam ini, kemungkinan kita akan sampai lewat tengah malam. Cuaca malam yang dingin tidak baik untuk kesehatanmu, chagi-ya…” Nana menggeleng, bersikeras pada keinginannya. Siwon menghela nafas.

“Baiklah… Kalau begitu, tenangkanlah dirimu. Setelah itu kita bersiap-siap, Ok?” Siwon mengangkat wajah Nana lalu menghapus airmata yang mengalir di wajah istrinya.

_oOo_

            Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 4 jam, akhirnya Nana dan Siwon tiba. Suasana duka menyelimuti kediaman Im Soo Ri, Nenek Choi Nana. Nana melangkahkan kaki memasuki rumah neneknya itu, sedangkan Siwon mengikutinya dari belakang. Begitu melihat jasad sang Nenek yang telah di baringkan dalam peti jenazah, air mata langsung mengalir deras di pipinya.

Halmeoniiihalmeoniii…” Nana menghambur mendekati peti jenazah sang nenek. Tidak ada kata-kata lain yang keluar dari bibir Choi Nana. Nyonya Im mendekati Nana untuk menenangkannya. Ia membelai punggung Nana dengan lembut.

“Sudahlah Chagiya… relakan Nenekmu. Biarkan ia tenang di alam sana.” Tidak ada tanggapan dari Nana. Hanya airmata yang mengalir deras.

Nana memang sangat dekat dengan neneknya. Sejak suaminya meninggal, Nyonya Im Soo Ri tinggal bersama orang tua Nana. Saat itu Nana masih balita. Namun, sejak 2 tahun yang lalu, karena kondisi yang semakin tua dan mulai sakit-sakitan, Ny. Im Soo Ri memutuskan kembali ke kampung halamannya dan tinggal bersama anak bungsunya, Tuan Im Sun Woo. Ia ingin menghabiskan masa tua di tempat itu, tempat yang dipenuhi kenangan-kenangan antara ia dan suaminya. Setiap ada waktu libur, Nana mengunjungi neneknya. Tentu saja wafatnya sang Nenek menimbulkan kesedihan yang mendalam dalam hati Nana.

“Nana-yaUljima… Jika kau menangis seperti ini, Nenekmu akan bersedih…” Kini Tuan Im yang berusaha menenangkan Nana. Namun, Nana tetap mematung di tempatnya. Tuan Im menoleh pada Siwon yang tengah berdiri di belakangnya. Siwon mengerti maksud mertuanya itu. Siwon berjalan mendekati Nana, merengkuhnya dalam pelukan. Tidak ada yang ia lakukan selain memeluk Nana, membelai lembut punggung dan rambut istrinya. Setelah dirasa tangis Nana mereda, ia mulai berbicara dengan halus pada Nana.

Chagiya, Uljima… Jangan membuat Halmeoni bersedih melihat keadaanmu. Lebih baik, kita berdoa untuknya. Hemm?” Nana masih terisak pelan.

“Sayang… Kau mau kan berdoa untuk Halmeoni?” Nana mengangguk dalam dekapan Siwon.

_oOo_

Matahari yang baru saja naik berusaha menghangatkan suasana dingin yang menyelimuti prosesi pemakaman Nyonya Im Soo Ri. Terdengar derai tangis dari keluarga yang ditinggalkan, terutama dari seorang yeoja, Choi Nana yang kini tengah berdiri di dampingi suaminya. Sang suami, Choi Siwon berusaha menenangkan istrinya dengan  merangkul dan membelai lengannya. Ketika tanah mulai ditaburkan untuk menguburkan peti jenazah itu, tangisan Nana semakin menjadi. Siwon segera merengkuh Nana dalam dekapannya. Tanpa diduga, Nana malah merosot jatuh pingsan. Siwon segera membawa sang istri ke dalam mobilnya yang terparkir tidak jauh dari lokasi pemakaman, diikuti Lee Juyeon. Lee Juyeon membantu membukakan pintu mobil. Siwon mendudukkan istrinya di jok penumpang.

“Nana… Nana-ya…” Siwon menepuk-nepuk pipi istrinya pelan. Tidak ada respon. Seingatnya, Nana belum makan dari pagi. Ia sangat panik. Sebelumnya, ia tidak pernah mendapati Nana seperti ini.

“Juyeon-Ssi, Aku akan membawa Nana pulang.”

Ne, Aku ikut.” Siwon mengangguk. Juyeon langsung menghampiri mobilnya. Ia tidak mungkin semobil dengan Siwon, karena mobil Siwon hanya cukup untuk dua orang.

_oOo_

            Bulu mata lentik Nana bergerak-gerak, seiring dengan matanya yang mengerjap beberapa kali, berusaha menyesuaikan cahaya yang mulai  masuk ke retinanya.

Oppa…”gumamnya, lirih, setelah berhasil mengenali namja yang kini tengah duduk di sampingnya.

“Kau sudah sadar, Chagi-ya?” Siwon langsung memeluk Nana.

“Kau mau minum?” Nana mengangguk pelan. Siwon mengambil gelas berisi air di nakas samping tempat tidur lalu membantu Nana minum. Nana meminum air itu hingga tersisa setengah gelas.

Gomawo, Oppa…”

“Bagaimana keadaanmu? Sudah membaik?”

Ne Mianhae, aku merepotkanmu…” Nana menundukkan wajahnya.

“Heii… Siapa yang mengatakan kalau kau merepotkanku? Hemm?” Siwon menatap Nana lembut.

“Aku… aku terlalu cengeng… Tidak seharusnya aku seperti ini…” Nana mulai berkaca-kaca. Siwon menangkupkan kedua tangannya pada wajah Nana, lalu mengangkatnya.

Chagiya, aku mengerti… Kau begitu menyayangi Halmeoni. Pasti sangat menyakitkan jika kita ditinggal oleh orang yang kita sayangi…”

“Tapi, kita tidak boleh larut dalam kesedihan. Kau harus kuat. Jangan membuat Halmeoni tidak tenang karena melihatmu sedih seperti ini. Percayalah, jika kau bahagia, pasti Halmeoni juga akan tersenyum bahagia dari surga.” Nana mengangguk pelan. Siwon mengecup kening Nana sebentar, lalu tersenyum hangat.

Gomawo, Oppa. Oya, sekarang jam berapa?”

“Jam 1 siang. Waeyo?”

“Bukankah kita akan pulang malam ini? Besok kau akan ke Hongkong, kan?”

“Ah, Ne. Tapi aku akan pulang sendiri. Kau pulang besok saja bersama Lee Juyeon, ne?”

Mwo? Waeyo?” Nana menatap Siwon bingung.

“Lebih baik kau istirahat dulu. Aku tidak mau kau kelelahan lalu jatuh sakit.”

Andwaeyo…!!! Aku akan ikut pulang bersamamu.”

“Tapi Sayang, Kau baru saja pingsan. Bagaimana mungkin aku membiarkanmu menempuh perjalanan jauh dengan kondisimu seperti ini?”

Nan gwaenchanayo, Oppa… Percayalah…!!!” Nana memegang kedua tangan Siwon dan berusaha meyakinkannya.

Oppa… Jebaaaal…!!!” Siwon menghela nafas. Nana memang selalu bisa memenangkan hatinya.

Joha… tapi sekarang kau harus istirahat.”

“Tapi Oppa, aku baru saja bangun…”

“Eiiits, tidak ada penolakan.” Ucap Siwon sambil menggelengkan kepalanya. Nana menuruti kata suaminya itu. Siwon lalu membenarkan letak selimut Nana dan mengecup keningnya. “Tidurlah…!” Nana tersenyum lalu menutup matanya. Beberapa saat Siwon menunggui Nana. saat ia rasa Nana sudah terlelap, Siwon beranjak pergi. Namun langkahnya terhenti saat Nana meraih tangannya.

“Oppa, jangan pergi… temani aku di sini…” Pinta Nana.

“Aku kira kau sudah tertidur, Sayang…” Ucap Siwon lembut seraya duduk di samping Nana kembali. Namun, Nana malah menggeser posisinya ke samping, menyisakan ruang kosong antara ia dan suaminya.

“Tidurlah di sini…” Nana menepuk tempat kosong di sampingnya. Siwon terlihat sedikit ragu.

Waeyo Oppa?”

“Jika aku tidur, siapa yang akan menjagamu?” Nana terkekeh mendengar jawaban Siwon.

Oppa, aku baik-baik saja. Sekarang lebih baik kau tidur. pasti kau sangat lelah.” Nana menarik tangan Siwon mendekat. Siwon akhirnya menurut, berbaring di samping Nana lalu memiringkan badannya menghadap Nana.

“Sekarang tidurlah…” Ucap Siwon. Tubuh Siwon seketika membeku ketika Nana mengecup dagunya lalu memeluknya. Ini pertama kalinya Nana menciumnya terlebih dulu dan perlakuan Nana ini sukses membuat jantung Siwon bekerja lebih keras. Entahlah, rasanya berbeda ketika Nana yang melakukannya lebih dulu.

Siwon seakan tersadar ketika Nana melesakkan kepalanya ke dada bidang Siwon. Siwon lalu membalas pelukan Nana dan membelai punggungnya lembut.

_oOo_

Nana POV

Kali ini aku meminta Siwon Oppa menemaniku tidur. Aku tidak tau apa yang terjadi padaku. Saat ini, yang ku tau, aku hanya ingin ia berada disisiku.

Ia selalu menemaniku dalam segala keadaan. Kehadirannya, kata-katanya, tatapannya, dan sentuhannya mampu membuat hatiku yang kacau menjadi tenang, mampu meyakinkan hatiku bahwa semua akan baik-baik saja. Bahkan, ketika berada dalam pelukannya, aku merasa berada di tempat yang paling nyaman, tenang, aman, dan hangat. Dan benar saja, ketika aku memeluknya, seluruh beban dan lara di hatiku mulai berkurang.

_oOo_

Hujan turun dengan sangat deras, seakan ditumpahkan dari langit. Petir dan kilat menari-nari di langit yang kelam. Angin bertiup sangat kencang. Pepohonan tinggi di sisi jalan membuat suasana semakin mencekam. Kondisi ini membuat para pengemudi yang melintasi jalanan itu harus mengerahkan tenaga ekstra.

Siwon menghentikan mobilnya ketika melihat mobil di depannya berhenti.

Chagi-ya, gwaenchanayo?” Siwon menoleh pada Nana sebentar dan menanyakan kondisinya, karena sejak tadi Nana hanya diam.

Nde…” Nana menjawab pelan. Siwon menggerakkan sebelah tangannya, menyentuh tangan Nana.

“Kau kedinginan?” Nana mengangguk. Siwon lalu menaikkan suhu penghangat di mobilnya.

“Bagaimana? Lebih baik?” Nana mengangguk lagi. Terlihat raut khawatir dan ketakutan di wajahnya.

Sudah hampir setengah jam mereka menunggu, namun tidak ada mobil yang bergerak sama sekali. Sepertinya memang benar-benar stuck.

Chagi-ya, aku keluar sebentar.”

“Kau mau kemana, Oppa?” Siwon menunjuk seorang namja menggunakan jas hujan berwarna orange yang sedang berdiri di sisi kiri jalan. Sepertinya salah satu petugas lalu lintas.

“Tapi Oppa, diluar hujan sangat deras…”

Gwaenchana… Paling tidak kita harus tau apa yang sedang terjadi. Kau tidak apa-apa ku tinggal sebentar?” Nana mengangguk. Siwon mengambil payung lipat di laci dashboardnya.

“Aku akan segera kembali.” Pandangan Nana mengikuti gerakan tubuh Siwon yang berjalan membelah hujan. Ia terlihat bercakap-cakap sebentar dengan orang itu. Tak lama ia pun kembali.

Chagiya, sepertinya kita harus putar balik dan mencari penginapan.” Siwon menjelaskan sambil mengeringkan tubuhnya yang sedikit basah dengan handuk kecil yang ada di mobilnya.

“Eoh? Waegeure?”

“Di depan ada pohon besar tumbang. Butuh waktu lama untuk menyingkirkannya. Bukan pilihan yang baik jika kita menunggu di sini. Lihatlah di luar, badai yang sedang terjadi bisa saja menumbangkan pohon-pohon yang lain…”

“… Ku rasa, lebih baik kita menginap. Aku tidak mau mengambil resiko mengemudi di tengah badai besar seperti ini…”

Geundae, bukankah besok kau harus berangkat ke Hongkong?”

“Jika kita berangkat pagi, kemungkinan siang kita sudah tiba di Seoul. Keberangkatanku pukul 5 sore. Jadi, masih ada waktu. Bagaimana?”

“Eoh… Ok…!”

_oOo_

            Klik.

Siwon menyalakan lampu kamar hotel yang ia pesan. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kamar. Sebuah ranjang ukuran double size terletak di tengah-tengah ruangan itu. Di depan ranjang terdapat sebuah TV flat berukuran sedang. Di sebelah kanan ranjang terdapat dinding kaca besar dengan satu set sofa di depannya. Cukup nyaman.

Siwon berjalan dan meletakkan tas kecil berisi pakaiannya di sebuah kursi tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang.

Chagiya, aku mandi dulu.” Nana yang sedang melepaskan mantelnya menoleh sebentar lalu mengangguk.

_oOo_

            Nana terus mengubah saluran TV dengan remote control di tangannya. Tidak satu pun program menarik perhatiannya. Sebenarnya, hal ini lebih disebabkan karena suasana hatinya yang sedang tidak baik. Ya, dia tidak suka suasana seperti ini. Hujan, badai, angin, dan dingin. Dia sangat benci udara dingin.

Ceklek.

Pintu terbuka dan menampakkan tubuh Siwon yang dibalut celana pendek dan kaos berwarna putih dengan rambut yang masih agak basah. Ia berjalan mendekati Nana lalu duduk di sampingnya.

“Kau tidak mandi, Chagiya?”

“Ah, Ne…” Nana beranjak turun dari ranjang dan bergegas menuju kamar mandi.

Tak berapa lama kemudian, Nana membuka pintu kamar mandi lalu melongokkan kepalanya.

Oppa, Oppa…” Siwon menoleh saat Nana memanggilnya.

“Eoh, ada apa?”

“Bolehkah aku meminjam pakaianmu? Bajuku jatuh dan basah, sedangkan tas yang berisi pakaian tertinggal di mobil…” Siwon sedikit terkejut dengan permintaan Nana. Tetapi ia langsung mengambil sehelai kemeja putih lalu menyerahkannya pada Nana.

Gomawo, Oppa…” Nana meraih pakaian yang diberikan Siwon dan langsung menutup pintunya kembali.

_oOo_

            “Oppa, Kau sedang menonton apa?” Nana bertanya pada Siwon yang tengah duduk di ranjang sambil menonton TV.

“Siaran berita, mengenai laporan cu…”

Siwon POV

Kalimatku terhenti ketika pandanganku menangkap sosok Nana sedang berjalan mendekat. Bukan apa-apa, saat ini ia hanya memakai sehelai kemeja putihku yang tentu saja kebesaran dan hanya mampu menutupi setengah pahanya. Di tambah lagi ia sedang mengeringkan rambutnya yang basah sehabis keramas. Ia mengumpulkan seluruh rambutnya ke bagian kiri, sehingga leher putihnya terlihat jelas. Aaargh, mengapa tiba-tiba aku merasa udara sedikit panas?!

Author POV

Nana membenamkan dirinya dalam selimut. Sepertinya ia akan segera tidur.

“Kau mau tidur?” Nana mengangguk ringan.

Jalja…” Siwon mengecup singkat kening Nana, kebiasaan yang selalu ia lakukan saat Nana akan tidur.

Siwon kemudian beralih lagi pada siaran TV di depannya. Ia mengecilkan volume TV, agar tidak mengganggu tidur Nana.

Oppa…”

“Hemmm?” Siwon menoleh ketika suara halus Nana memanggilnya.

“Kau tidak tidur?”

“Belum. Waeyo?”

“Dingin…” Siwon mengerutkan keningnya bingung.

“Aku kedinginan, Oppa…” Seakan mengerti kebingungan Siwon, Nana menjelaskan maksudnya. Ah, iya, Nana benci dingin. Siwon mengetahui hal ini pertama kali saat hujan turun dengan lebat. Nana tidak bisa tidur. Ia hanya membenamkan diri dalam selimut dan bergerak-gerak gelisah. Siwon lalu merengkuh Nana dalam pelukannya, baru istrinya itu bisa tidur.

Siwon mematikan TV dan lampu, menyisakan cahaya remang dalam ruangan itu. Lalu ia menarik selimut dan ikut berbaring bersama istrinya. Ia merengkuh tubuh ramping Nana dan mendekapnya erat. Nana membenamkan kepalanya pada dada bidang Siwon lalu melingkarkan tangannya di pinggang suaminya itu, menghapus jarak antara keduanya.

“Bagaimana? Sudah lebih baik?” Nana mengangguk dalam pelukan Siwon. Siwon mengecup puncak kepala Nana. Wangi aroma shampoo yang Nana gunakan menyeruak, memenuhi rongga penciuman Siwon.

Oppa, gomawo.” Nana berbicara dengan tetap mempertahankan posisinya yang nyaman.

“Untuk?” Siwon bertanya tidak mengerti.

“Untuk semua yang telah kau berikan untukku. Saat aku sendiri, saat aku membutuhkan seseorang di sampingku, saat aku… membutuhkanmu, kau selalu ada.”

“…Terima kasih kau telah menguatkanku…”

“Dan…”

“…Terima kasih, karena kau telah hadir dalam hidupku…” Perasaan hangat menyeruak di dada Siwon mendengar kalimat-kalimat tulus yang terucap dari bibir Nana.

Oppa, …” Nana menggantung kalimatnya. Ia menghela nafas dalam.

“…Saranghae!!!

Tubuh Siwon membeku, jantungnya berdebar tak karuan mendengar pernyataaan cinta dari bibir Nana. Walaupun Nana mengucapkannya dengan suara pelan, ia dapat mendengar dengan jelas.

“Nana… Apa… Apa maksudmu?”

Ne,Oppa… Aku… mencintaimu…”

Siwon mengangkat wajah Nana dengan sebelah tangannya. Ia mengecup kening Nana dengan penuh perasaan. Setelah itu, kecupannya beralih pada mata, hidung, lalu pipi sang istri. Sebelum bibir mereka bertemu, Siwon menghentikan gerakannya. Ia menatap kedua mata Nana yang tengah menatapnya sayu.

“Terima kasih karena kau bersedia menjadi istriku dan menerimaku, Choi Nana…”

Siwon mengecup bibir Nana berulang kali. Namun akhirnya berubah menjadi lebih intens. Nana memberanikan diri membalas perlakuan suaminya. Siwon semakin menempelkan tubuh kekarnya pada tubuh ramping Nana. Ia lalu menggulingkan tubuh Nana sehingga kini ia berada di atas tubuh sang istri. Sejenak ia melepaskan pagutannya, lalu memperhatikan wajah Nana yang tengah terpejam dengan bibir sedikit terbuka. Siwon menyingkirkan beberapa helai rambut yang sedikit menutupi wajah cantik Nana, lalu menyampirkannya ke belakang telinga. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Nana lalu berbisik halus,

Nan jeongmal saranghaeyo, Choi Nana…”

Siwon mengecup telinga Nana, lalu turun menyusuri leher jenjang milik istrinya. Hingga kini wajahnya terbenam di antara bahu dan leher Nana. Menghirup aroma tubuh sang istri yang bagaikan candu baginya. Melepas dahaga seluruh  indera di tubuhnya yang haus akan kehadiran Choi Nana, wanita yang sangat ia cintai. Mengungkapkan seluruh cinta yang bergemuruh di hatinya dengan bahasa yang tak terungkapkan melalui kata-kata. Sedangkan Choi Nana hanya menerima setiap perlakuan suaminya, lelaki yang pertama kali menyentuhnya, yang ternyata tanpa ia sadari, telah mampu melumpuhkan seluruh otak, saraf bahkan akal sehatnya. Lelaki yang tanpa ia sadari kini telah berhasil menggenggam hatinya.

_oOo_

Siwon keluar dari wardrobe sambil mengenakan kemejanya. Nana menghampiri Siwon lalu memasang kancing kemeja yang dikenakan suaminya itu.

“Bagaimana perjalananmu di Hongkong, Oppa? Menyenangkan?”

Siwon tidak menjawab pertanyaan istrinya. Ia malah menarik pinggang Nana hingga menempel pada tubuhnya, membuat Nana menghentikan aktivitasnya sejenak. Ia lalu menempelkan keningnya dengan kening Nana.

“Kau baik-baik saja selama ku tinggal?”

“Tentu saja…”

Geurae? Ah, tapi sepertinya aku tidak baik-baik saja…”

“Eoh? Waegeurae? Kau sakit?” Nana menatap Siwon khawatir.

“Aku tidak bisa bernafas dengan normal jika tiada kau di sisiku, chagiya…”

Aigooo… Rupanya suamiku ini sudah pintar menggombal ya?” Nana menyubit kedua pipi Siwon gemas.

Thats true, Honey… Sejak kau hadir dalam hidupku, kau telah menjadi oksigenku. Bagaimana seorang manusia bisa bernafas tanpa oksigen, hemm?” Blush… Semburat rona  merah menghiasi wajah Nana mendengar ucapan Siwon. Siwon terkekeh pelan. Ia gemas melihat reaksi Nana. Ia lalu memeluk Nana erat dan mencium keningnya lama.

I Love you…” Nana hanya diam menunduk dan tersenyum simpul.

“Kau tidak menjawabnya? Kau tidak mengatakan ‘I Love you too’?” Siwon menggoda Nana.

Drrrttt Drrrttt

Oppa, Jawablah telfonmu.” Nana mendorong tubuh Siwon menjauh. Ia mendesah lega karena panggilan itu berhasil menyelamatkannya. Jika terus seperti ini, ia bisa mati muda karena sakit jantung. Bisa-bisanya Siwon menggodanya habis-habisan seperti itu. Tidak taukah ia bahwa malam itu Nana harus mengumpulkan seluruh tenaga dan keberanian untuk menyatakan cinta padanya? Malam itu? Tiba-tiba tubuh Nana meremang mengingat apa yang telah mereka lakukan malam itu.

_oOo_

 “Eoh…” Siwon melirik Nana yang sedang duduk di ranjang sambil membaca buku.

“…”

Nde, Araseo. Aku akan segera menghubungimu.”

Flip.

Siwon memutuskan sambungan telefonnya.

Ia lalu mendekati Nana dan duduk di sampingnya. Raut sedih terlihat di wajahnya.

Oppa, waegeurae? Mengapa kau terlihat sedih?”

Chagiya, Maukah kau membantuku?” Siwon bertanya dengan wajah serius. Membuat Nana semakin panik.

“Tentu… Tentu saja, Oppa… Apa yang terjadi? Apa yang bisa ku lakukan untukmu?”

Siwon mengalihkan wajahnya ke arah lain sambil menghela nafas frustasi, kemudian menunduk. Nana menangkupkan kedua tangannya pada wajah Siwon, lalu mengangkatnya, membuat wajah Siwon berhadapan langsung dengan wajahnya.

Oppa, marhaebwa…! Apa yang terjadi? Apa yang harus ku lakukan untukmu?”

To be Continued

Tinggalkan jejek please…. J

Advertisements

14 thoughts on “Created For Me (Part 5)

  1. sy suka saya suka, baca ff yg genrenya married life dan romance 😁😁😁
    itu ad apa lagi coba😕😕😕😕

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s