Created For Me (Part 3)

 

created for me siwon nana

  • Main Casts      : Choi Siwon, Im Nana
  • Support Casts  : Choi Jiwon, Lee Juyeon, Tuan & Nyonya Choi, Tuan & Nyonya Im, etc.
  • Author             : Choi Nawon
  • Length             : Chaptered
  • Genre              : Romance, Married life
  • Rating              : 17+
    • Disclaimer       : Kalau ada hal-hal yang mungkin ga sesuai dengan kenyataan, anggap saja sesuai… hehee… ^_^ kalau ada kritik dan saran, silakan, den gan senang hati saya terima. Malah butuh…

Siwon and other casts adalah milik yang punya. Maaf pada Siwon and family, ELF, Siwonest, kalau saya buat ceritanya seperti ini. Mianhae, Jeongmal Mianhae

And the last, Happy reading, Hope you like it ^_^v

Last part

“Im Nana-ssi, Kami dengar ayah Anda adalah salah satu pegawai penting di perusahaan keluarga Choi. Apakah Anda dijodohkan dan dipaksa menerimanya? Apakah pernikahan ini ada kaitannya dengan kepentingan bisnis?”

Deg.

 Im Nana membeku di kursinya. Pertanyaan wartawan itu benar-benar mengena. Ia melirik sekilas pada namja yang duduk di samping kanannya. Terlihat namja itu menegang.

            “Benar…”

_oOo_

            “Dosakah aku yang dengan egoisnya menahan dirimu?

            Selama aku masih bernafas,

            Selama itu pula aku tidak akan melepasmu.

            Maafkan aku yang terlalu mencintaimu…”

_oOo_

 Part 3

Siwon POV

“Benar…”

Aku terperangah. Apa yang dikatakannya barusan? Apa maksudnya? Apa dia terpaksa menerima lamaran ini? Aiiissshh… Mengapa aku tidak pernah menanyakan padanya?

Aku menghirup nafas sebanyak-banyaknya. Sekuat tenaga mengendalikan emosi dan perasaanku yang berdebar tak karuan.

“Benar, ayah saya bekerja di perusahaan keluarga Choi. Kami memang diperkenalkan oleh keluarga. Tetapi, mengenai pernikahan ini, tidak ada faktor paksaan di dalamnya. Pernikahan ini juga tidak ada sangkut-pautnya dengan kepentingan bisnis.”

Fiiuuuuuhhh

Aku menghela nafas lega mendengar penjelasan Nana. Aku meraih tangan Nana yang ia letakkan di pangkuannya dan meremasnya lembut.

“Baiklah, sesi tanya jawab sudah selesai. Sekarang kami persilakan para wartawan mengambil gambar Siwon-ssi dan calon istrinya,”

Aku bangkit dan membantunya berdiri. Kurengkuh pinggangnya yang ramping dengan sebelah tanganku. Dia tertegun. Ini yang aku heran darinya. Tubuhnya selalu membeku saat ku sentuh.

Ia mengangkat kepala, menatapku. Aku membalas menatap mata indahnya. Tatapan kami bertemu. Sungguh, hatiku berdesir.

Chuup.

Tanpa ku sadari bibirku telah mendarat di keningnya.

_oOo_

            “Im Nana, kau benar-benar luar biasa… Lihat, para netizen, pers, bahkan  media social ramai membicarakanmu… Aiiiisshh jinja…!!!”

“Sudahlah Eonni, jangan berlebihan begitu, mereka bukan membicarakanku, tapi Choi Siwon…” Nana beranjak dari kursi lalu bangkit menuju ruang tidurnya.

“Yaa, Im Nana…!!! Juyeon berteriak dan bergegas mengejar Nana.

“Sama saja… Choi Siwon adalah calon suamimu dan media membicarakan pernikahan kalian. Ditambah lagi ia mencium keningmu saat konferensi pers… aigooo…” Nana tidak memedulikan sepupunya itu yang masih terus mengoceh.

“Hei-hei….Jangan katakan kau telah jatuh cinta padanya?! Bagaimana bisa seorang Im Nana diam saja saat seorang namja yang baru dikenal menciumnya di depan umum?”

“Dia calon suamiku, Eonniiiii…”

Omoooo…!!! Bahkan sekarang kau membelanya? Dan mengakuinya sebagai calon suamimu? Nana-ya, apa yang terjadi padamu?”

Aiiisssshhh, Eonni… Apa yang harus ku lakukan agar kau berhenti menggodaku, hahh?” Nana mendesah frustasi lalu menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Sedangkan Juyeon hanya tertawa melihat sepupunya ini bersungut-sungut kesal.

“Nana-ya, gwaenchanhayo? Apa tidak ada yang ingin kau ceritakan padaku, hemmm???” Juyeon bertanya dengan halus sambil membelai rambut Nana yang berbaring membelakanginya. Ia tau, Nana sedang tidak baik-baik saja. Ia hafal betul sifat sepupunya itu.

“Nana-ya…”

Perlahan Nana berbalik dan menatap Juyeon. Ia sadar, ia tak akan mampu membohongi Juyeon. Nana bangkit lalu memeluk Juyeon. Juyeon membelai lembut punggung Nana yang sedang terisak. Terasa bahunya basah akibat air mata Nana.

“Nana-ya, apa yang terjadi? Kau bisa menceritakannya padaku…”

Tak ada jawaban keluar dari bibirnya, kecuali isakan. Juyeon membiarkan Nana menangis sepuasnya, menumpahkan segala beban yang menghimpit dadanya.

Eonni-ya…”

“Ya, Sayang…” Juyeon menjawabnya lembut.

Nana mengangkat kepalanya dari bahu Juyeon. Tangisnya mulai reda.

Eonni, apakah jalan yang aku pilih ini benar?”

“Maksudmu?”

“Mereka terlalu baik, Eonni… Mereka sangat baik padaku, pada keluarga kita… Mereka menerimaku dengan sangat baik…” Juyeon mengerti yang dimaksud Nana adalah keluarga Choi.

“ Dan namja itu…” Im Nana menggantung kalimatnya, membiarkan setetes air mata mengalir di pipi mulusnya.

“Aku melihat kilatan cahaya berbeda di matanya saat ia menatapku. Senyuman hangat dan tulus selalu terukir di wajahnya. Ia berbicara dengan sangat lembut. Ia selalu berusaha membuatku nyaman di sisinya…” Juyeon menggenggam tangan dan mengelus punggung Nana dengan lembut.

“Aku takut Eonni… Aku takuuuut…” Nana kembali terisak. Juyeon meraih tubuh Nana dan memeluknya.

“Aku takut rasa itu mulai tumbuh di hatinya, sedangkan aku…” Nana menggantung kalimatnya.

“Aku takut ia terluka karenaku, Eonniii… Aku takut menyakitinya… ”

“Katakan Eonni, Adakah perbuatan yang lebih jahat daripada membiarkan seseorang jatuh cinta pada kita, sedangkan kita tidak berniat menangkapnya???”

_oOo_

            Seorang namja menatap lurus jalanan di depannya.  Sedangkan yeoja yang duduk di samping namja itu, mengetuk-ngetukkan jari-jari di pangkuannya. Sunyi. Tampaknya tidak ada yang bermaksud membuka percakapan.

Nana POV

Aku telah memantapkan hati untuk jujur pada Siwon Oppa. Aku tak ingin melangkah terlalu jauh lalu menyakiti hati lembutnya. Walaupun aku tau, perbuatan ini sangat keterlaluan. Bagaimana mungkin aku mengatakan bahwa sebenarnya aku keberatan mengenai perjodohan ini sedangkan pelaksanaan pernikahan tinggal menghitung hari?

Oppa…”

“Ya..?!”

“Bolehkah aku menjelaskan sesuatu padamu?”

“ Tentang apa?”

“ Tentang perjodohan ini… dan, pertanyaan wartawan tempo hari…” aku menggigit bibir bawahku. Berusaha mengumpulkan keberanian.

“ Sebelumnya aku memohon maaf padamu. Sebenarnya aku… aku…”

Drrrrrttt… Drrrrrttt…

Siwon POV

Aku melirik pada ponselku di dashboard, memasang earphone, lalu menjawab panggilan masuk yang ternyata dari Yesung-hyeong. Hyeong, kau benar-benar penyelamatku. Kau menelfon di saat yang tepat.

Ya, aku sebenarnya dapat menebak apa yang akan dikatakan Nana. Aku tau, dia masih ragu dan mungkin… terpaksa. Walaupun ia selalu bersikap baik pada kami dan seakan-akan menerima perjodohan ini, namun matanya tak dapat berbohong. Memang, dulu aku telah dibutakan oleh rasaku sendiri. Aku tidak pernah bertanya padanya tentang perjodohan ini. Namun, sejak konferensi pers itu, aku mulai memperhatikannya dengan detail. Berusaha mencari jawaban di matanya. And finally, I found it.

Aaahh… Im Nana, Mianhae, jeongmal mianhae… Biarkan kali ini aku bersikap egois. Dirimu telah menjadi oksigenku. Bagaimana mungkin aku sanggup bernafas tanpamu? Tak apa jika kau belum bisa menerimaku sekarang. Namun, aku yakin, seiring berjalannya rasa ini akan berbalas. Dan aku akan selalu di sini, di sisimu, sampai aku mendapatkan jawaban untuk memilikimu, memiliki hatimu.

…..

Nana POV

“Jjaaa… Kita sudah sampai…”

Tepat beberapa saat setelah Siwon Oppa memutuskan sambungan telfonnya, kami tiba di butik busana pengantin tujuan kami. Aahh, kesempatanku hilang untuk mengutarakannya pada Siwon Oppa.

Ia menggenggam tanganku lalu melangkah masuk. Senyuman tidak pernah lepas dari wajahnya. Dan senyuman itu mampu membuat lidahku gugup tak bergerak. Tuhan, apakah setelah ini aku masih sanggup berkata jujur pada Siwon Oppa? Apakah aku sanggup merelakan senyumnya, yang entah sejak kapan, mampu membuatku merasakan kehangatan?

Siwon POV

Nana mengikuti langkahku yang berjalan memasuki butik sambil menggenggam tangannya. Tampaknya kali ini dia sudah mulai biasa dengan sikapku yang tiba-tiba menyentuhnya. Aku hanya ingin menunjukkan bahwa dia milikku, dan aku takkan pernah melepasnya. Sudah ku katakan bukan, bahwa kali ini aku akan bersikap egois?

Beberapa pelayan butik itu langsung menyambut kami. Aku mempersilakan Nana memilih gaun yang ia suka. Ia tampak serius memilih gaun-gaun yang ditunjukkan sang pelayan.

Oppa, menurutmu di antara ini, mana yang lebih bagus? Aku bingung memilihnya…”

Aku memperhatikan  dua gaun berwarna putih yang ia tunjukkan. Gaun pertama modelnya seperti dress panjang. Terdapat tali lebar namun menyempit tepat di bahu. Yang kedua bermodel korset tanpa tali, roknya semakin kebawah, semakin melebar, namun tidak kaku. Nampaknya jika dikenakan, akan menjuntai agak panjang ke belakang.

“Hmm… bisakah kau mencobanya dulu?”

Ne…”

Sementara itu, beberapa pelayan yang lain menunjukkan beberapa koleksi jas pengantin padaku. Tidak perlu lama, aku memilih setelan jas berwarna putih dengan sedikit aksen batu-batu Kristal di kerahnya. Simple.

Oppa…” Aku berbalik mendengar suara harus Nana memanggil.

Oh God… Apa yang kulihat? Seorang bidadarikah?

“Bagaimana?”

“Eoh, coba balikkan badanmu…”

Aigoooo… Ternyata bagian punggung gaun itu terbuka dan sukses mengekspos punggung putih mulus milik Nana… Aiiisshhh… Tidak… tidak… Bagaimana mungkin aku membiarkan orang lain bebas melihat tubuh indah istriku?

“Ehmmm… Coba yang satunya…” Nana menurut.

Beberapa waktu kemudian ia muncul.

“Kalau yang ini bagaimana?” Tanpa ku minta, dia berbalik, menunjukkan bagian-bagian lain gaun yang tengah melekat di tubuhnya. Hmmm… kurasa ini lebih baik. Terlihat anggun, pas, simple dan tentu saja, tidak memamerkan tubuh indah calon istriku ini…

“Aku lebih suka yang ini…”

“Baiklah, kalau begitu, kita ambil yang ini saja?!” Ia menoleh padaku, meminta persetujuan. Aku mengangguk mantap.

_oOo_

Beberapa pekerja menundukkan kepala ketika berpapasan dengan mobil mewah yang sudah tidak asing lagi yang melintas membelah halaman, ani, taman yang luas. Mereka adalah para pekerja di rumah Choi Siwon dan pengendara mobil itu, tentu saja Sang pemilik rumah dan calon istrinya, Im Nana. Setelah melakukan fitting baju pengantin, Choi Siwon mengajak Im Nana mengunjungi rumahnya, rumah yang akan mereka huni setelah menikah.

“Bagaimana? Kau suka?” Choi Siwon bertanya pendapat istrinya

“Ah, nde?” Nana menoleh pada Siwon yang tengah berdiri di belakangnya.

“Apakah kau menyukai rumah ini?”

“ Tentu saja, Oppa… Ini sangat bagus.” Nana menjawab seraya tersenyum.

“Ayo kita lihat ruangan lain…!”

Nana mengikuti Siwon menyusuri ruangan demi ruangan di dalam rumah itu. Jujur, Nana memang menyukai model rumah seperti ini. Minimalis namun mewah.

Oppa, apakah kau yang mendesain rumah dan interior ini?”

Aniyo… Aku hanya berdiskusi dan mengatakan keinginanku pada arsitek rumah ini. Ia yang merancangnya. Selanjutnya, aku hanya mengecek apakah sudah sesuai dengan yang aku inginkan.” Nana mengangguk-anggukkan kepalanya. Hmmm… dengan kata lain, rumah ini sudah dibangun sesuai dengan keinginan Siwon. Ternyata ia memiliki selera yang sangat bagus.

“Nah, ini kamarku…” Siwon mempersilakan Nana masuk, melihat kamar tidur utama yang ditunjuk calon suaminya itu. Nana masuk dan menatap kagum melihat desain kamar itu. Warna putih, abu-abu dan coklat tanah yang dominan menghiasi kamar itu membuat suasana itu terasa hangat. Sebuah kasur berukuran king size terletak di tengah-tengah ruang itu. Siwon berjalan melewatinya, menyibak tirai yang menutupi dinding kaca di sebelah kanan ranjang, terlihat rerumputan hijau dan beberapa tempat duduk santai, sedangkan dinding kaca di bagian depan ranjang, menghubungkan langsung dengan kolam renang. Benar-benar tempat yang nyaman…

“Dinding ini terbuat dari kaca riben pilihan, menghalangi pandangan dari luar, namun tidak mengurangi tingkat kejelasan pandangan kita dari dalam.” Nana mengangguk ringan mendengar penjelasan Siwon.

Siwon melangkah menuju dua buah pintu berdampingan, di sebelah kiri ranjang.

“Nah, sebelah kiri kamar mandi dan yang ini..” Siwon membuka pintu di depannya

“… Wardrobe dan ruang make up” Nana berjalan melewati Siwon yang berdiri di samping pintu. Nana melihat lemari-lemari besar berjejer, meja rias dengan cermin besar, beberapa laci kaca yang berisi koleksi dasi, jam tangan, ikat pinggang dan accessories lainnya. Nana semakin tersadar dengan siapa ia akan menikah.

“Nana-ya…” Nana berbalik mendengar Siwon memanggilnya. Sedangkan Siwon menegakkan tubuhnya yang bersandar pada lemari lalu berjalan mendekati Nana. Ia lalu meletakkan kedua tangannya pada bahu Nana.

“Mulai besok, kau bisa memindahkan barang-barangmu kesini. Ruang ini, kamar ini, dan rumah ini, bahkan diri ini, adalah milikmu, calon istriku…” Nana tertegun dengan kalimat yang disampaikan Siwon dengan  suara sangat halus itu. Apakah namja itu telah… jatuh cinta padanya? Ia mengangkat kepalanya, dan ternyata, ini adalah keputusan yang salah. Kini wajahnya sangat dekat dengan wajah Siwon. Nana dapat merasakan hangat nafas Siwon yang menerpa wajahnya. Jarak antara mereka semakin menipis, lalu…

Tokk… tokk… tokk…

Suara itu menghentikan gerakan wajah Siwon yang saat ini sangat dekat dengan wajah Nana. Siwon mengangkat wajahnya dan menghela nafas.

“Sebentar…” Ia lalu bergegas membuka pintu kamar, menemui pelayan yang sedang membawa nampan berisi minuman dan beberapa makanan kecil. Mereka nampak berbicara sebentar lalu Siwon menyuruh pelayan itu meletakkan nampan itu di meja sofa yang terletak di depan ranjangnya.

Choi Siwon melihat Nana yang telah berdiri di depan dinding kaca, dengan kedua tangan terlipat di perut . Gadis itu terlihat sedikit menunduk, menatap air kolam yang berkilauan karena pantulan mentari senja. Siwon mendekati gadis itu, lalu memeluknya dari belakang.

Siwon POV

Aku memeluk tubuhnya dari belakang, lalu mengecup puncak kepalanya.

Oppa, mengapa kau masih tinggal di apartemen sedangkan kau memiliki rumah sebesar ini?”

“Aku tidak ingin tinggal sendiri di rumah ini, sayang…”

“Bukankah ada banyak pekerja di rumah ini?”

“Mereka tidak tinggal di sini, Mereka tinggal di beberapa pavilion yang terpisah dengan rumah ini.” Nana mengangguk.

“Lagipula…” aku meletakkan daguku pada bahunya.

“Aku ingin rumah ini hanya diisi oleh keluargaku, yaitu kita dan anak-anak kita nantinya…” aku mengatakannya dengan suara halus, setengah berbisik.

“Ehm..” Di berdeham pelan dan sedikit menggerakkan tubuhnya yang kurasa, sempat membeku.

Oppa… Mengenai pernikahan ini…” jantungku berdebar menunggu kalimatnya. Chagiya, jebal, jangan katakan kau ingin…

“Bolehkan aku tau, mengapa engkau menerima perjodohan ini?” Oh, jika ku katakan yang sebenarnya, bahwa hatiku telah jatuh padamu, apakah kau akan percaya? Padahal saat perjodohan itu dilaksanakan, kita baru bertemu sekali? Ah,  Ani, bagiku itu adalah yang kedua…

Aku membalikkan badannya. Mengangkat wajahnya dengan kedua tanganku. Di matanya aku melihat keraguan, ketakutan dan kekhawatiran…

“Im Nana, calon istriku, apapun alasannya, aku akan tetap menjalani pernikahan ini, bersamamu.”

“ Dan ku harap, kau pun begitu.” Aku melanjutkan kalimatku dengan tegas.

Ya, mungkin jawabanku ini terdengar egois. Im Nana, tak banyak yang ku minta. Kau hanya perlu menerima kehadiranku di sampingmu. Dan kau tak harus memaksakan rasa itu tumbuh. Biar saja waktu yang menjawabnya.

Ku dekatkan bibirku pada keningnya, mengecupnya selama beberapa detik. Hidungku bergerak menyusuri hidungnya, hingga bibirku sukses  mendarat pada bibir tipisnya. Melumatnya pelan, menyalurkan emosi dan perasaanku. Im Nana, maafkan aku, maafkan keegoisanku… Karena aku… aku mencintaimu… terlalu mencintaimu…

_oOo_

Nana POV

“ Im Nana, calon istriku, apapun alasannya, aku akan tetap menjalani pernikahan ini, bersamamu.”

“ Dan ku harap, kau pun begitu.” Mataku menatap manik mata Siwon Oppa, mencoba mencari keraguan atau kebohongan di dalamnya. Tapi tak kutemukan. Yang ada hanyalah keyakinan dan keseriusan. Ya, ini bukan harapan, tapi perintah.

Tak lama kemudian aku merasa benda lembut itu menempel di keningku. Mataku perlahan terpejam saat hidungnya bergerak turun menyusuri hidungku. Hangat nafasnya yang menderu kembali ku rasa menerpa wajahku dan akhirnya…

Tubuhku membeku ketika bibir lembutnya menyapu permukaan bibirku. Aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan. Yang jelas, aku merasaka sentuhannya yang sarat akan emosi dan perasaan…

_oOo_

            Semburat lembayung senja mengantarkan perjalanan sepasang pengantin yang baru saja diresmikan dalam sebuah tali pernikahan menuju kediaman baru mereka. Sang namja menggandeng tangan istrinya yang masih mengenakan gaun pengantin, membantunya keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu masuk rumah itu. Beberapa pelayan berseragam mengangkat ujung gaun yang panjang menjuntai ke belakang. Tak beberapa lama kemudian, terlihat dua buah mobil beriringan juga mengantar pengantin itu. Mereka adalah keluarga Choi dan keluarga Im.

_oOo_

Nana POV

Chagiya, sekarang kau telah menjadi seorang istri. Berbaktilah pada suamimu, bahagiakanlah ia, ikuti apa yang ia katakan, penuhi permintaannya. Jangan sekali-kali membuatnya susah. Ingat, sejak saat ini kalian telah bersatu.” Ya, beberapa jam yang lalu aku telah resmi menyandang nama “Choi”…

“ Benar apa yang dikatakan Appamu, Sayang. Bersikap baiklah pada suamimu.  Sedihnya adalah sedihmu, bahagianya adalah bahagiamu. Jadilah istri yang baik, anakku…”

“Nde, Eomma.” Tuhan, bantulah aku melaksanakan nasehat Eomma dan Appa…

Aku memeluk erat Eomma dan Appa, sebelum mereka meninggalkanku di rumah ini, rumah yang akan aku huni bersama suamiku… Choi Siwon.

Siwon POV

“Siwon-ssi, tolong, jagalah Nana. Ia sudah cukup menderita sebelumnya. Jika dia bersikap kaku padamu, tolong mengertilah. Dulu, dia yeoja yang ceria dan hangat, tidak kaku dan dingin seperti sekarang. Tapi sejak… ah, Aku tidak berhak bercerita padamu…”

“Siwon-ssi, aku yakin kau bisa membuatnya bahagia dan kau bisa mengembalikan Nana yang dulu. Ia hanya butuh waktu…”

Pesan yang disampaikan oleh Lee Juyeon tadi, ketika resepsi pernikahanku dan Nana,  terus mengganggu pikiranku. Apa yang terjadi pada Nana sebenarnya?

Oppa, aku sudah selesai.” Aku menoleh pada Nana yang baru keluar dari kamar mandi lalu berjalan dengan santai sambil mengeringkan rambutnya. Ia mengenakan hotpants berwarna krem dan kaos putih yang kebesaran ditubuhnya.

Oppa, kau tidak mandi?”

“Ah, Ne…” aku beranjak menuju kamar mandi

_oOo_

Nana POV

Aku tersenyum pada Siwon Oppa yang baru keluar dari wardrobe.

Oppa, duduklah.” Aku yang sedang duduk bersandar pada headboard ranjang menepuk ruang kosong di depanku. Ia berjalan mendekatiku lalu duduk di tempat yang aku tunjukkan.

Waeyo?”

“Aku membuatkan susu hangat untukmu. Minumlah…!!” aku menyerahkan segelas susu hangat padanya.

Gomawo..!!” Siwon Oppa kemudian meminumnya sampai habis. Aku meraih gelas kosong di tangannya dan meletakkannya pada nakas di sebelah kiriku.

Aigooo… kau minum seperti anak kecil…” aku tertawa melihat banyak susu menempel di sekitar bibirnya. Tangan kananku bergerak membersihkannya.

Deg.

Hatiku berdesir ketika jemariku menyentuh bibirnya. Cuplikan memori tentang sore itu, saat pertama kali benda ini menyapu hangat bibirku, terlintas dengan jelas.

Tanpa ku sadari tangan kirinya tengah menggenggam tanganku yang berada di wajah, ani, di bibirnya, lalu mengecupnya pelan. Wajahnya perlahan mendekatiku. Kini, dapat kurasakan hidungnya bergesekan dengan hidungku dan tak lama kemudian…

Ku rasakan benda lembut itu kembali menyentuh bibirku. Melumatnya lembut dan perlahan. Ku rasakan ada muatan perasaan di dalamnya. Beberapa saat kemudian ia melepas pagutannya. Aku tertegun, entah sejak kapan tubuh kami menempel. Ya, saat ini tidak ada jarak lagi di antara tubuh kami.

Sebelum aku pulih dari rasa keterkejutanku, bibir kami telah bersatu kembali. Kelembutan dari ciuman sebelumnya telah berubah lebih dalam dan …

            “Oppa, geumanhae…” Aku tersentak dari sentuhannya yang telah membuaiku ketika kurasakan tangan kekarnya membelai lembut kulit pinggangku. Ya, tangannya telah berhasil menyelusup melalui bagian bawah kaos yang ku kenakan.

“Waeyo, Chagi?”

Aku menundukkan kepalaku, menghindari tatapan matanya yang penuh tanya. Tidak, ini tidak boleh terjadi. Aku tau ini adalah malam pertama kami. Sebagai suami, ia seharusnya mendapatkan haknya, tapi aku… hatiku masih belum bisa menyerahkannya… Tidak…

Mianhae OppaMianhaeJeongmal mianhae… Aku… Aku…” ku rasakan tangannya kini merengkuh tubuhku dalam pelukan hangatnya.

Gwaenchanayo… tidak masalah jika kau belum siap, aku tidak akan memaksa.” Entah mengapa, hatiku sesak mendengarnya. Ia selalu mengerti keadaanku. Tanpa kurasa, air mataku mengalir begitu saja.

“ Hei… Hei… Hei… Mengapa kau menangis, Chagiya? Uljima…”

“aku… Seharusnya malam ini…, Oppa… aku…”

“Ssssttt…. Aku menikahimu bukan untuk itu, sayang… Sekarang, lebih baik kita tidur. Kajja…!!” Ia membimbingku untuk berbaring di ranjang sedangkan ia berbaring di sisi kanan. Lalu ia menarik selimut untuk kami.

Jaljayo…” Ia mengecup pelan keningku, lalu mengusap kepalaku lembut. Aku hanya menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.

Oh, God!!! Aku semakin merasa bersalah. Sampai kapan aku akan bersikap seperti padanya? Pada suamiku? Ini sungguh tidak adil baginya. Apakah aku harus menceritakan semua padanya sekarang? Tak tau apa yang menggerakkan tubuhku, tiba-tiba aku memeluknya erat. Ku rasa ia hanya membeku. Beberapa detik kemudian, ia membalas pelukanku, lalu membelai lembut punggungku.

Oppa, ada yang ingin aku ceritakan padamu…” Ya, aku harus menceritakannya sekarang! Malam ini atau tidak sama sekali…!!!

“Heemmm?? Tentang apa?”

“Tentang… Masa laluku…”

To be Continued

 

Tinggalkan jejak please… ^^

Advertisements

18 thoughts on “Created For Me (Part 3)

  1. Ahh keromantisan mereka dapet bgt ! Walaupun nana masih kaku dan bahkan belum bisa menerima sepenuhnya…

    Ternyata semua yg terjadi sama nana saat ini karena masa lalu nya? Huaa penasaran…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s